Teori

teori-teori pendidikan

8 Tanggapan

  1. APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PENDIDIKAN HINDU
    Oleh: IGN.Suardeyasa

    Teori Behavioristik

    Ada beberapa penteorisi yang menjadi tokoh dalam prakarsa Teori Behavioristik, diantaranya Pavlov. Untuk selanjutnya, para Pavlovianis memandang bahwa “belajar itu terjadi karena ketersediaan lingkungan”, dalam penelitiannya, preposisi logika Stimulus-Respon gaya Pavlov, menguji cobakan dengan menyediakan lingkungan belajar buat sapi, sapi itu disediakan tempat (rumah sapi), kemudian setiap kali memberikan makanan atau minuman dibunyikan bel. Begitu seterusnya, awalnya sapi itu belum faham, hingga akhirnya didepan mulutnya disediakan makanan akan tetapi dihindarkan, pelan-pelan air liur sapi tersebut keluar, ini tandanya ada reaksi (respon) terhadap stimulus (makanan) yang diberikan.

    nah..menurut logika Pavlovianis, proses belajar terjadi antara stimulus dengan respon, guru memberikan pelajaran-siswa menerima pelajaran sesuai dengan kondisi yang disediakan oleh guru. Namun akhir-akhir ini, pendapat PAvlov banyak menuai protes terutama di era tahun 1940-an, diantaranya reaksi dari para kognitifis dan humanistik, ala Garger, Gagne, Bloom, Vigotsky dan sederetan faham lainnya seperti JJ.Rouseau, Carl Roger, sebagian berpendapat bahwa teori ini hanya akan mengakibatkan manusia seperti hewan, karena tidak bebas, sementara manusia menurut faham Carl Roger, begitu juga MAslow, manusia adalah mahluk yang bebas dan eksis, untuk menjaga eksistensinya ini manusia yang memiliki sejumlah potensi berusaha untuk mengarah ke hal yang positif.

    Aplikasi dalam Pendidikan Agama Hindu

    Meskipun teori stimulus respon Pavlov banyak menuai protes, sebagai penteorisi behavioristik awal, agaknya para pendidik Hindu perlu memperhatikan preposisi teori dasar stimulus respon Pavlov. Pada pendidikan Hindu dapat saja diwujudkan dengan menyediakan instansi pendidikan, menyediakan lingkungan belajar, dengan menggunakan alat pendidikan yang tidak harus memperlakukan manusia (siswa) seperti hewan, yang dicucuk hidungnya.

    Untuk lebih sempurnanya faham Pavlov ini, dapat dilinierkan dengan teori taksonomi Bloom, yang menjelaskan bahwa tujuan yang semestinya harus dicapai dalam pembelajaran begitu juga dalam pembelajaran Hindu adalah kognitif, afektif dan psikomotor. Kaitanya dengan ajaran Hindu, dijabarkan untuk penguasaan tattwa agama Hindu, kemudian susila sebagai aspek wiweka mengerti yang baik dan buruk, serta aspek tindakan kearah positif sebagai keterampilan keagamaan yang menyebabkan adanya Tri Kona, utpetti (menciptakan ide), sthiti (memelihara yang sudah ada) dan memodifikasi yang sudah usang dengan ide-ide yang baru.
    selamat mencoba

  2. SEJARAH SINGKAT PENDIDIKAN
    Oleh: IGN.SUARDEYASA

    Permasalahan pendidikan agama Hindu tidak dapat dipisahkan dengan kajian histori dari pada sekolah tersebut, dalam kajian ini meskipun dalam ajaran Hindu terdapat sistem parampara yang sekarang lebih terkenal dengan sampradaya, namun istilah yang lebih umum digunakan adalah sekolah, seperti diungkapkan Wibowo (2008:1-2) bahwa:

    “Institusi sekolah saat ini merupakan wahana yang dipergunakan sebagai tempat berlangsungnya proses pemupukan pengetahuan, keterampilan dan sikap guna mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seseorang. Sekolah tidak serta merta muncul dari ruang hampa, tetapi menjelma melalui pergulatan panjang dengan sosio-historisnya”.

    Kata sekolah atau school, sejatinya berasal dari Bahasa Latin “scola” atau “scolae” yang dipergunakan sekitar awal abad XII, secara harafiah yang artinya waktu luang. Konon dahulu Yunani kuno menggunakan waktu luangnya untuk mengunjungi tempat para cerdik pandai atau orang yang memiliki hikmah (wisdom) yang dalam, guna menanyakan hal ikhwal kehidupan. Mulai dari permasalahan sosial, agama (kepercayaan), ilmu bahasa dan berpidato (orator), sastra, teknik perang dan segala macam pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Istilah yang dipergunakan adalah leisure devote to learning (waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar). Entah mengapa lama-kelamaan pelafalan schola bisa menjadi school dan dalam Bahasa Indonesia menjadi sekolah.

    Selanjutnya dijelaskan Wibowo (2008:2-3) sebagai berikut:
    “Sekolah modern pertama kali didirikan di Mesir Kuno sekitar tahun 3.000 hingga 500 BCE (Before Common Era), dilihat dari modelnya masih dalam bentuk yang sederhana, kegiatan pembelajaran tidak dilakukan di ruang-ruang kelas seperti sekolah modern sekarang, akan tetapi dilaksanakan di lapangan terbuka mirip kampanye atau rapat akbar saat ini. Sekolah di Mesir Kuno dipergunakan untuk mendidik calon-calon pegawai kerajaan dan para pendeta agama sang raja. Sekolah di Mesir Kuno ini bertahan cukup lama.

    Selanjutnya sekolah modern di India berdiri sekitar tahun 1200 BCE, pengajar di sekolah tersebut adalah para pendeta agama Hindu dan Buddha, sementara materi yang diajarkan adalah Kitab Weda, ilmu pengetahuan, tata bahasa dan filsafat, bentuk sekolah pada masa itu tidak jauh beda dengan model sekolah di Mesir Kuno.

    Di China sekolah formal pertama kali diperkirakan muncul pada masa kekuasaan Dinasti Zhou (770-250 BCE), pada masa itu pula muncul beberapa mahaguru ternama sekaligus para filosof Timur seperti Konfusius, Mesius, Laotzu dan sebagainya.

    Sayangnya di Yunani lama-kelamaan semakin menyusut pengetahuannya dan menjadi ajang bisnis, karena ada penyelewengan dari kaum sofis yang difitnah menjual pengetahuannya, oleh karena itu sofis sekelas Socrates. Setelah itu Plato (387 BCE) murid Socrates mendirikan sistem pendidikan di kota Athena yang disebut Academy. Diikuti oleh Aristoteles dengan nama Lyceum, berikutnya Isocrates mengembangkan metode pendidikan yang diperuntukkan bagi para calon orator…”.

    Kaum Yahudi tidak mau ketinggalan dengan kemajuan Yunani, kemudian mendirikan persekolahan disebut Sinagoga, dengan materi Kitab Taurat. Setelah Kristen di Yunani berkuasa menggunakan bangunan greja sebagai tempat pengajaran…, sekitar abad X-XI kaum Muslim mulai mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, dan filsafat dari persinggungan perdagangan dengan Bangsa Barat…”.

    Sedangkan Ngurah (1997:22-23) menjelaskan sebagai berikut:
    Menurut penelitian para ahli, secara umum dapat dikatakan bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia berasal dari India, berlangsung secara damai dan bertahap melalui kontak perhubungan dan perdagangan. Proses tersebut berlangsung dalam kurun waktu waktu yang amat panjang. Diawali dengan tukar menukar barang dagangan, kemudian kontak kebudayaan yang menyebar secara perlahan-lahan dari daerah pesisir hingga sampai masalah agama dengan mendirikan kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

    Pidarta (1997:123,125,127)juga menjelaskan sebagai berikut:
    “…pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan zaman penjajahan, sampai dengan pendidikan pada zaman kemerdekaan…pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan, yang berjuang melalui pendidikan. Mereka membina anak-anak dan para pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh pendidikan itu adalah Mohamad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan.

    Moh. Syafei mendirikan sekolah INS (Indonesisch Nederlandse School) di Sumatra Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayu Tanam. Maksud sekolah ini adalah mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa merdeka. Dengan berdirinya sekolah ini berarti ia menentang sekolah-sekolah Hindia Belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk menjadi pegawai-pegawai mereka saja.

    “….tokoh pendidikan nasional berikutnya adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Sifat, sistem, dan metode pendidikannya diringkas ke dalam empat kemasan, yaitu azas Taman Siswa, Panca Dharma, adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang…”.

    “…tokoh ketiga adalah Ahmad Dahlan yang mendirikan Organisasi Agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada perkembangan agama Islam…” perjuangan itu berlanjut hingga munculnya Dr. Wahidin dengan mendirikan organisasi Budi Utomo…”.

    Pada masa reformasi tentu tidak harus meninggalkan idiologi pendidikan yang dititipkan oleh sejarah hingga muncullah Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional seperti dijelaskan oleh Nurdin (2005:2) sebagai berikut:

    “…Tahun 1989…diberlakukan oleh pemerintah secara resmi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989, tentang sistem pendidikan nasional (UUSPN) yang telah disahkan dan diundangkan pada tanggal 27 Maret 1989 yang kemudian dijabarkan menjadi Surat Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara (Men-PAN) nomor 26 tahun 1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru dan lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah diumumkan secara resmi pada tanggal 15 Mei 1989. Dalam perkembangan sistem pendidikan nasional berikutnya kemudian lahit UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003…”.

    Pada dasarnya Undang-undang sistem Pendidikan Nasional sebagai payung dari peraturan yang lainnya dan masih bersifat umum, dengan demikian dapat dijabarkan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini pemerintah dan pemerintah daerah dalam hal peningkatan mutu pendidikan.

    Stop Pembajakan Karya
    Sumber: http://www.suardeyasa.blogspot.com

  3. TEORI KONSTRUKTIVIS APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
    OLEH; IGN.SUARDEYASA

    Teori yang banyak berpengaruh akhir-akhir ini adalah teori belajar bermakna, Ausubel, Novak, dan Hanesian dalam Suparno (1997:53) menjelaskan ada dua jenis belajar, yakni: belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna menghubungkan informasi baru dihubungkan dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila anak berusaha menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan (change) konsep yang telah dimiliki”. Pembelajaran bermakna Ausubel seperti dikutip oleh Holil (sumber, http: // pkab. wordpress. com) sebagai berikut:

    Pembelajaran bermakna bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi, bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi organisasi terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide, atau membagi ide-ide menjadi subset yang lebih kecil. Pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Ausubel menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pembelajaran adalah yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa…

    Belajar bermakna bagi anak berdasarkan konsepsi di atas sudah jelas, bahwa anak akan belajar dengan fenomena yang baru, mencari makna pada materi yang baru. Dengan demikian memungkinkan bagi siswa untuk membentuk konsepsi dalam dirinya, dan mensosialisasikannya kepada orang lainnya. Memaknai berarti memberi arti pada segala sesuatu hal yang terjadi, sehingga anak akan siap menghadapi permasalahan kehidupannya sekarang.
    Berikutnya untuk mengaplikasikan teori tersebut dalam pembelajaran berdasarkan data slide Departeman Pendidikan Nasional (2007:16-23) menjelaskan ada tujuh komponen pembelajaran kontekstual (contekstual teacing and learning) yakni:

    (1) Konstruktivis, membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan; (2) Inquiry proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis; (3) Questioning, kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa serta bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry; (4) Learning Community sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar, bekerja sama dengan orang lain lebih baik dari pada belajar sendiri memungkinkan untuk tukar pengalaman dan berbagi ide; (5) Modeling, dilakukan dengan proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar. Siswa aktif mengerjakan tugas; (6) Reflection cara berpikir tentang apa yang telah dipelajari, mencatat apa yang telah dipelajari, membuat jurnal, karya seni, dan diskusi kelompok; (7) Authentic Assessment, mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa, penilaian produk (kinerja), tugas-tugas yang relevan dan kontekstual (sumber, http:www.depdiknas.go.id/pembelajaran-kontekstual).

    Konstruktivis mulanya dilancarkan oleh Jean Piaget dengan teorinya yang terkenal dengan nama teori adaftasi intelek. Piaget seperti diungkapkan Shymansky begitu juga Von Glasersveld dalam Suparno (1997:33) “belajar (mengerti) sebagai sebuah proses adaptasi intelektual, pengalaman-pengalaman dan ide-de baru diinteraksikan dengan yang sudah diketahui oleh seseorang yang sedang belajar untuk membentuk struktur pengertian yang baru”.

    Sistem pemikiran Piaget dalam Suparno (1997:35) “menuntut seorang anak untuk bertindak aktif terhadap lingkungannya, jika perkembangan kognitifnya jalan. Perkembangan kognitif hanya berjalan bila anak itu mengasimilasikan dan mengakomodasikan rangsangan dalam lingkungannya, sehingga pandangannya dianggap sebagai konstruktivis personal”. Setelah Piaget, muncullah kritikan kepadanya, Matthews begitu juga dengan Loughlin dalam Suparno (1997:41) mengatakan teori Piaget lebih mengutamakan pembangunan pengetahuan secara pribadi, terlalu subyektif, dan kurang mempertimbangkan aspek sosial.

    Belakangan muncul teori konstruktivis sosiokultural yang ditokohi oleh Vygotsky, bagi Vygotsky dalam Suparno (1997:46) “pengetahuan terbentuk karena adanya hubungan dialektik antara individu dengan masyarakat. Pengetahuan pada anak tidak datang dalam bentuk yang sudah jadi. Akibat dari interaksi sosial, bahasa dan budaya dalam proses belajar anak, sehingga belajar merupakan proses perkembangan anak, sehingga Vigotsky dianggap sebagai teori yang mengadopsi antara pembentukan pengetahuan aktif dari dalam diri siswa dengan proses sosial”.

    Berdasarkan perangkat preposisi teori di atas, dapat dikatakan teori konstruktivis sosiokultural berpandangan bahwa organisme selalu beradaptasi dengan lingkungannya dengan cara berproses aktif membentuk (konstruk) dalam dirinya sendiri. Adanya prilaku aktif pada siswa untuk menciptakan pemahaman baru untuk menjawab tantangan yang baru, tantangan, pengalaman, gejala baru, dan skema yang telah dimiliki ditantang untuk memberikan tanggapan untuk dapat eksis, meskipun tidak dapat disangkal ada beberapa ciri masyarakat terhadap pembaharuan, tipe konservatif protektif cenderung menolak perubahan, asimilasi sebagai penerimaan yang bersyarat, dan menerima sepenuhnya perubahan. Aplikasinya dalam penelitian ini dengan merujuk pendapat Crawford (2001: 2) menjelaskan lebih rinci terkait dengan strategi yang bersifat konstruktif sebagai berikut:

    in constructivist classrooms engage students actively. Students are more likely to discuss with other students their strategies for solving a problem instead of having the right strategy told to them by the teacher. They are more likely to be working cooperatively in small groups as they shape and reformulate their conceptions, rather than practicing skills silently at their seats, and to be engaged in hands-on activities. Teachers establish in students a sense of interest and confidence and a need for understanding.

    kelas constructivist melibatkan para siswa dengan aktip. Siswa lebih mungkin untuk mendiskusikan dengan siswa lain tentang strategi mereka untuk pemecahan suatu masalah sebagai ganti strategi yang diberitahu oleh guru. Mereka lebih mungkin bekerja sama di dalam kelompok kecil, membentuk dan merumuskan kembali konsepsi mereka, dan mulai beraktivitas langsung. Guru menumbuhkan interest dan minat untuk pemahaman.
    Berikutnya dijelaskan juga tentang kondisi konstruktivis yang sudah ada pada guru-guru yang diamati, meskipun mereka tidak faham dengan prinsip-prinsip pembelajaran konstruk, Crawford (2001: 3) menjelaskan:

    Although many of them are unaware of cognitive science research findings and do not know the definition, their classrooms were and are models of constructivism. Each of these teachers is unique, and each uses diverse methods. But we have observed five teaching strategies used by all these teachers. We call them contextual teaching strategies: relating, experiencing, applying, cooperating, and transferring.

    Walaupun banyak di antara mereka acuh pada teori penelitian dan ilmu pengetahuan serta tidak mengetahui definisi, kelas mereka adalah model constructivism. Sebagian guru memiliki keunikan, dan sebagian menggunakan metoda berbeda. Tetapi lima strategi yang digunakan oleh semua para guru ini. Disebut dengan strategi pengajaran kontekstual: menghubungkan, mencoba/mengalami, menerapkan, bekerja sama, dan memindahkan.

    Pada tataran aplikasi teori konstruktivis yang ditawarkan oleh Crawford menguraikan bahwa sesungguhnya para guru yang diamati sebagian besar telah melaksanakan strategi konstruktivis meskipun sebelumnya tidak mengetahui secara mendasar terkait dengan teori konstruktivis.

  4. TEORI-TEORI PENDIDIKAN DAN
    IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA HINDU
    OLEH: IGN.SUARDEYASA

    PENDAHULUAN
    Perlunya memahami berbagai macam teori dalam pendidikan,sehingga menuntut para pendidik untuk mempelajarinya dengan saksama, dengan demikian hal ini sangat penting baik bagi pola laku pendidikn yang bersangkutan, dapat berupa bagaimana guru menghadapi siswanya di dalam kelas; hingga ke pendesainan pembelajaran.

    Sehingga dengan mempelajari sejumlah teori pendidikan, seorang pendidik mengerti perbedaan antara “mengajar” dan “mendidik”.

    TEORI PENDIDIKAN
    Ada beberapa teori pendidikan yang berpengaruh khususnya bagi pendidikan Indonesia, meskipun secara filosofis arah dan tujuan pendidikan di Indoensia dengan arah dan tujuan pendidikan di luar negeri.

    Akan tetapi begitu besarnya sumbangan teori-teori pendidikan yang berasal dari luar negeri itu, sehingga patut untuk dipelajari. Seperti, teori nativisme; teori empirisme; dan konvergensi. Sedangkan jika dilihat dari sifat dan keungulan masing-masing teori dikenal ada teori behavioristik dan teori kognitifistik dan teori humanistik.

    TEORI BEHAVIORISTIK
    faham behavioristik, dipelopori oleh beberapa ahli, seperti PAvlopp; dalam proposisi penelitianya, jika hewan dikondisikan dengan keadaan tertentu akan dapat menjadi kondisi tertentu yang diinginkan, ini tergantung pada pembiasaan yang diberikan, dan faktor-faktor yang berpengaruh didalamnya, seperti faktor stimulus dan respons.

    Faham ini juga dianut oleh Thorndike, yang dikenal dengan teori pengkondisian; kemudian teori operant conditioning oleh Skinner, sebagai teori pendidikan pengkondisian yang bersyarat;

    TEORI KOGNITIFISME
    faham kognitifisme dianut oleh Gagne, yang menjelaskan bahwa hal yang patut ditumbuhkan dalam diri manusia adalah latar kognitif manusia; sehingga bukan saja sikap yang perlu untuk ditumbuhkan pada anak didik. Faham ini kemudian menggunakan skemata, bagan, diagram, dan media lainnya untuk memudahkan pemahaman terhadap sesuatu ide-ide yang kompleks dan rumit.

    TEORI HUMANISTIK
    Faham ini disebut-sebut sebagai faham yang ketiga (third force), inti dari faham ini sebenarnya menggunakan ide untuk memanusiakan manusia. tidak seperti teori-teori sebelumnya yang menganggap manusia seperti mesin generator yang siap diisi, dipenuhi dengan sejumlah pelajaran, akan tetapi hasilnya menjadi manusia yang egois dan mementingkan kepentingan sendiri, tercerabut dari akar budayanya.

    Menurut Suparno beberapa teori yang bermuara dari humanistik adalah faham Vigotsky, yang mencetuskan teori konstruktivisme sosiokultural. faham ini juga akhirnya memunculkan faham-faham pendidikan konstruktivistik, multikultural, dan kontekstual yang banyak dielu-elukan dewasa ini.

    APLIKASI TEORI DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU
    Pemahaman terhadap siswa yang beraneka ragam inilah yang memunculkan teori yang beraneka ragam. Prof.Bawa Atmaja banyak mengungkapkan faham multikultural dewasa ini di Indonesia sudah semestinya diprakarsai.

    Wiana, dengan merujuk kepada berbagai upacara manusia yadnya di Bali, mengatakan bahwa upacara manusia yadnya sebagai salah satu cara untuk memanusiakan manusia, hal ini sesuai dengan faham humanistik, seperti diungkapkan Budiningsih, bahwa teori humanistik dapat menggunakan teori apa saja untuk memanusiakan manusia.

    Sementara teori behavioristik dalam aplikasi pendidikan agama Hindu, ditujukan untuk mengkondisikan prilaku anak pada tingkat Sekolah Dasar, sebabnya belum layak menggunakan teori lainnya untuk mengajak perhatian siswa agar mau belajar, terang saja guru sebagain besar yang berbicara.

    Prilaku siswa yang baik akan diberikan penguatan sedangkan prilaku yang salah diupayakan untuk dikurangi, dengan berbagai alat pendidikan, misalnya teguran dan sebagainya.

    Namun tidak lupa juga guru berpikir tentang faham humanistik, bahwa manusia tidak layak disamakan dengan hewan yang dapat dikondisikan sedemikian rupa; manusia adalah makhluk yang berpikir dan bebas, sehingga memungkinkan ada tingkat ketiga yang akan terjadi dari hasil belajar.

    Teori kognitifisme, lebih mengutamakan prose berpikir. Layaknya seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab Hindu, bahwa pikiranlah yang mengendalikan segala-galanya, oleh sebab itu diupayakan agar pikiran terkonsentrasi, pada pengaturan kognitif.

    Faham ini sesungguhnya ditutupi oleh teori Taksonomi Bloom, yang mengutarakan segi tiga hasil belajar, yakni kognitif, apektif dan psikomotorik. kognitif sebagai usaha yang berjenjang untuk memahami, menghayati, dan menganalisis.

    Sedangkan apektif sebagai usaha untuk menirukan, memodifikasi konsep-konsep pemikiran, untuk kemudian menuju kepada hasil yang nyata dalam bentuk psikomotorik yakni keterampilan baik keterampilan dalam berpikir yang benar, mampu bertanya kritis, bersikap yang benar, dan terampil membuat alar-alat upacara jika pembelajaran menuntut untuk berbasis budaya lokal.

    PENUTUP
    Teori pendidikan pada dasarnya bermacam-macam, tergantung dari kematangan seorang guru dalam menentukan teori mana yang digunakan dalam pembelajaran; terdapat teori behavioristik, teori kognitifistik, dan teori humanitistik.

    Dengan faham terhadap teori-teori ini, hendaknya seorang guru memperhatikan betul teori apa yang mendasari tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, serta bimbingan konseling yang diberikan kepada siswa.

    DAFTAR PUSTAKA
    Suparno, Paul, 1997. Filsafat Konstruktivisme.
    Budiningsih, C, Asri, 2001. Belajar dan Pembelajaran.
    Muchith, Saechan, 2008. Pembelajaran Kontekstual.
    Wiana, i Ketut, 2008. Upacara Manusia Yadnya.

    Sumber: http://www.suardeyasa.blogspot.com

  5. Sangat Berguna bagi saya…Terimakasih Acarya…….

  6. sekali-sekali jadi kontributor juga….kirimkan tulisan…ke webs kami…sukseme

  7. sangat berguna bagi saya terima kasih bagi penerbit

    • salam kenal, inggih, tetap optimis, meskipun dalam upaya pengembangan ini tidak beitu banyak yang bisa kita bagikan ke teman-teman lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: