MEMPELAJARI SANSKERTA, MENDAPATKAN BERBAGAI PENGETAHUAN DARI VEDA

Kontemplasi Bubuksah-Gagak Aking: Pemaknaan Perbedaan Keyakinan dalam Lontar Bubuksah

Oleh: IGN.Suardeyasa

Sinopsis Lontar Bubuksah
Lontar Bubuksah di tulis pada Wadoprana Aburih, wuku Kurantil, pada hari kesembilan bulan terang, menjelang bulan (sasih) Jyesta (bulan sebelas) tahun saka 1619. Kemudian di gubah pada Menail Umanis, bulan Kartika, hari ke dua belas bulan gelap tahun saka 1811.
Diceritrakan dua bersaudara kakak beradik bernama Kebwamilir dan Kebwakraweg, para sanak keluarganya tidak menghendaki mereka ada di rumah bersama mereka terus-menerus. Mereka tidak diakui sebagai keluarga. Mereka berdua selalu membuat sedih para tetangga, karena mereka belum mengenal etika.
Mereka berdua lalu menuju Majalangu meninggalkan wilayah Kediri “lah ta mareng Majalangu nengghyana pandhita sakti kang sinengguh sang mahamuni nggonani angrungu sabdha sira sang siddha purusa”. Mereka menemui seorang pertapa suci, dari sanalah mereka lalu belajar tentang ajaran yang sangat rahasia, yakni ajaran keabadian.
Banyak hal yang diperoleh baik dari Rahulukembang salah saeorang murid dari pertapa suci itu. Kebwakraweg rupanya lebih menguasai ajaran etika yang mengutamakan filsafat tindakan, dan tidak semata-mata mengejar kelepasan.
Mereka juga belajar kepada Sang Jugulwatu, salah seorang dari putra sang mahamuni, yang telah berhasil dalam tahap ujian pantangan-pantangan, dikatakan berbadan gaib meski usianya masih muda, ia tidak ragu-ragu jika akan menemui ajalnya, dalam suatu hari lebih sepekan, badan beliau seperti mati tidak ada yang mengetahui kerahasiaan beliau, tubuhnya menebar keharuman “pati nira keh wong gawok dening anilih tan katon”. Wafat beliau sangat gaib oleh karena badan beliau tidak terlihat.
Karena ketulusan hati keduanya untuk berguru, mereka lalu didiksa, yang lebih tua bernama Gagak Aking sedangkan adiknya bernama Bubuksah. Mereka berdua mendapatkan petuah-petuah jalan menuju keabadian, jalan kelepasan.
Setelah mendengarkan petuah-petuah dari sang mahamuni, mereka berdua lalu ingin melakukan tapa brata di pegunungan, ketika Purnama Kapat (sekitar bukan September-Oktober) melangsungkan pertapaan suci.
Dalam perjalanan mereka beristirahat di sebuah balai, di balai tersebut terdapat lukisan wayang yang menceritrakan Sudamala. Di tempat itu pula mereka membersihkan diri, terlihat dari pegunungan itu daerah Jenggala dan Majapahit menghampar luas. Mereka lalu tiba di sebuah hutan yang menakutkan, banyak binatang buas. Sang Gagak Aking memutuskan untuk mengajak adiknya, membuat pertapaan di sana. Sang Gagak Aking di sebelah Barat sedangkan Sang Bubuksah di sebelah Timur-nya.
Sebelum membuat tempat pertapaan, mereka menuju ke sebuah pancuran air, dilihatlah sebuah patung yang menceritrakan lakon Arjuna Tapa, saat Arjuna melaksanakan tapa yang hebat, Sang Arjuna meskipun di goda oleh bidadari cantik nan molek Supraba, Gamarmayang, dan Tilotama namun tidak mengurungkan tapa semadinya.
Mereka melanjutkan tapa berata setiap harinya, mereka melaksanakan tapa brata yang agak berbeda. Gagak Aking menjalankan aliran Vegetarian dalam teks disebut sebagai amberawi (bherawi / aliran kanan), yakni tidak memakan daging dan segala yang berasal dari hewani, hanya tumbuhan yang dianggap makanan suci.
Sedangkan Bubuksah sangat berbeda jauh, dia melakukan tapa bratanya sangat aneh dan tekun, segala jenis makanan akan dimakannya, sesuai dengan janjinya, apapun yang terkena jebag yang dipasangnya akan dimakan habis, tidak saja kancil, hingga tikus, dan binatang lainnya juga dimakannya, dibuat menjadi olahan makanan, sambil menyanyikan kidung-kidung suci semalaman, menegag air nira (tuwak), aliran ini juga sangat strik dalam menjalankan tapa bratanya.
Bubuksah tidak kalah mengagumkan dalam menjalankan tapa bratanya, siang dan malam selalu ingat dengan makanannya, karena masakan yang dibuat harus habis, tidak tersisa sedikitpun. Aliran ini disebut ambherawa, kemungkinan besar aliran ini adalah aliran Bherawa (aliran kiri).
Pada suatu ketika, mereka terlibat dalam diskusi yang hangat, sang Gagak Aking memberi tahu kepada adiknya, “adinda, apakah yang adinda lalukan itu adalah suci, kenapa kita tidak menjalankan tapa brata yang sama saja, dengan memakan makanan yang suci”. Bubuksah rupanya tetap teguh dengan pendirian tapa bratanya, meski sang kakak menyatakan ajarannya keliru dan tidak akan dapat mencapai kesempurnaan batin.
Bubuksah tetap menjalankan tapa bratanya dengan tekun. Pada suatu ketika Bethara Guru (Dewa Siwa) berkehendak menguji kesetiaan dan keteguhan keduanya dalam menjalankan tapa brata. Di utuslah seekor harimau putih, yang segera menghampiri tempat pertapaan mereka.
Klimaksnya, Gagak Aking menyarankan agar harimau menghampiri adiknya, yang badannya gemuk, berbeda dengan dirinya yang berbadan kurus, mungkin tidak membuatnya kenyang. Gagak aking tidak rela jika dirinya, yang memakan makanan suci dimakan oleh binatang yang tidak suci.
Berbeda dengan Bubuksah, dia pemberani dan telah siap meskipun saat itu ajal menjemputnya. Dia meminta menunggu sebentar, selesai dia menyucikan tubuhnya dan melaksanakan japa, mempersilahkan kepada harimau putih itu untuk memakannya. Namun sang Harimau malah mengajak mereka berdua untuk terbang ke sorga loka, Bubuksah menunggangi harimau putih itu, sedangkan Gagak Aking diterbangkan menggelantung di ekornya.
Keduanya dapat mencapai kesempurnaannya, keduanya mendapatkan sorganya masing-masing. Kemudian Gagak Aking mendapatkan kesempurnaannya, sampai tidak ada satupun yang disayangi dari tubuhnya itu, hendaknya para pendeta memahami tentang rahasia keilahian dan rahasia kematian, tidak ada yang disayangi, tidak ada yang dibenci, berpendirian teguh. Gagak Aking mendapatkan sorga tingkat kelima sedangkan Bubuksah mendapatkan sorga tingkat ke tujuh.

Prilaku yang Menentukan, Bukan Janji sorga
Begitu rumitnya memahami isi dari Lontar Bubuksah, disamping karena bentuknya telah digubah ke dalam bentuk kidung, yang merupakan simpul-simpul yang memerlukan pengkajian hermeneutic-semiotic dan semantiknya. Namun penulis berusaha dalam beberapa waktu membaca dan memahami isinya, ternyata isinya menarik untuk dikaji.
Lontar Bubuksah lebih menekankan terhadap filsafat tindakan, Bubuksah yang melaksanakan tapa brata sangat hebat dan tekun. Dia memakan segalanya (sarwa baksa), apapun yang terkena jebag yang dipasangnya, akan disembelihnya untuk diolah menjadi makanan, ditemani dengan nira (tuwak). Namun sesungguhnya, banyak pantangan yang telah dilaksanakan dengan saksama oleh Bubuksah, dia sangat meyakini jalan yang dilakukannya, meskipun dinyatakan keliru oleh kakaknya.
Bubuksah tetap setia, jujur akan ketidak tahuannya tentang dunia kematian yang sama sekali belum pernah ditemuinya, dari pada mengatakan lebih tahu namun sesungguhnya belum pernah mencapainya, apalagi sampai menjanjikan sorga. Dan mengutuk neraka kepada yang tidak percaya akan ajarannya.
Keduanya menjalankan ajaran yang berbeda, Bubuksah menjalankan Bherawa (aliran kiri) sedangkan Gagak Aking menjalankan Bherawi (aliran kanan). Ketidak teguhan Gagak Aking dalam memegang teguh sasananya sebagai seorang pendeta suci, terutama saat urusan karma pribadi untuk mencapai jalan kelepasan.
Gagak Aking malah meminta kepada harimau putih untuk memakan adiknya Bubuksah, alasan harimau yang tidak suci tidak mungkin dapat menyucikan dirinya yang telah melakukan tapa brata yang hebat. Filsafat atman yang berasal dari yang satu (Hyang Tunggal), sehingga seluruh jiwatman dalam tubuh hewan dan tumbuhan adalah sama berasal dan akan kembali kepada Hyang Tunggal.
Sesungguhnya Gagak Aking adalah seorang pendeta yang sadu budhi, tidak menyukai dengan kekerasan, tidak senang menyakiti dengan membunuh binatang untuk kepuasan nafsu badaniahnya. Selalu memelihara kesucian lahir serta batiniahnya, ia terbiasa dengan cinta kasih, namun karena cinta kasihnya itu yang berlebihan sehingga hakihat sang diri tersamarkan.

Tentang Sinkretisme
Pada beberapa sumber, Lontar Bubuksah sering dikatakan sebagai sumber yang mendasari munculnya sinkretisme antara ajaran Siwa dan Budha di Jawa Timur. Dalam lontar Bubuksah disebut-sebut kerajaan Kediri dan Majapahit, kemungkinan besar pada waktu itu Kediri berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Bukti-bukti adanya sinkretisme Siwa-Budha terdapat dalam relief Candi Penataran yang merupakan salah satu peninggalan kuno kerajaan Majapahit yang utama di daerah Blitar.
Reliefnya mengisahkan kebesaran hati pengorbanan Bubuksah-Gagak Aking dalam menjalankan tapa bratanya. Keikhlasan, ketulusan hati yang menjadi topik utama, disamping juga terdapat relief kisah Sri Tanjung yang dipedomani masyarakat Hindu di Blitar.
Sisi lainnya, Sinkretisme Siwa-Budha semakin terlihat jelas pada ajaran yang dianut umat Hindu di Karangasem, seperti daerah Budha Keling dan Sidemen, dan daerah Tianyar-Kubu. Di daerah Budha Keling, terdapat Pedanda Budha dengan ciri-ciri yang berbeda dengan pedanda Siwa.
Jika Pedanda Budha tidak menggunakan prucut (gulungan rambut), Pedanda Siwa menggunakan prucut. Memegang sesananya masing-masing dan tata cara yang berbeda dalam muput pelaksanaan upacara. Pedanda Budha menggunakan Ketu, terutama saat memuput upacara, pedanda Siwa tidak menggunakan ketu.

• Penulis, Koresponden Media Hindu di Denpasar.
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 102, Agustus 2012, Hal. : 66-67.

SELAMAT HARI JADI PANDU NUSA

SELAMAT HARI JADI

PERKUMPULAN ACARYA HINDU NUSANTARA
[ PANDU NUSA ] 

22 MEI 2018

SEMOGA DAPAT MENINGKATKAN PROFESIONALISME

DALAM MENCIPTAKAN ANAK BANGSA

YANG BERBUDI LUHUR, CERDAS, DAN BERWAWASAN KEBANGSAAN.

Konsepsi Tradisi dalam Kebudayaan Bali

Menurut arti Kamus (Tim Penyusun, 2001:1208) kata tradisi diartikan sebagai 1) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 2) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Sedangkan kata tradisional sebagai bentukan kata dari “tradisi” artinya “sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun”.

Tradisi dalam bahasa Inggris disebutkan dengan tradition yang diartikan dengan kebiasaan, atau budaya. Kontjaraningrat (1985:1-2) menjelaskan bahwa budaya (tradisi) tersebut adalah seluruh (total) karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya, dan hanya dapat dicetuskan oleh manusia setelah melalui suatu proses belajar.

Koentjaraningrat (1985: 100) juga mengungkapkan bahwa wujud dari kebudayaan terdiri dari paling tidak tiga wujud yaitu: (1) kompleksitas dari gagasan, konsep dan pikiran manusia, (2) sebagai kompleksitas aktivitas dan, 3) berwujud sebagai benda. Demikian juga diungkapkan oleh Wiana (2002:10-11) tradisi dalam kitab suci Weda diartikan sebagai persepsi atau pandangan, patokan, patokan rohani atau juga berarti suatu wilayah. Dresta artinya persepsi yang sama mengenai patokan-patokan rohani dalam menata kehidupan dalam suatu wilayah tertentu. Secara sederhana disebutkan ada empat dresta yang telah dipegang oleh umat Hindu di Bali yakni; purwa dresta, loka dresta, desa dresta dan sastra dresta. Dalam istilah lain penggunaan dresta sering disebut dengan tri samaya yakni; atita, nagata dan wartamana. Atita adalah pandangan umat di masa lampau, nagata adalah harapan pada masa yang akan datang dan wartamana artinya prilaku yang harus diwujudkan sekarang. Di dalam kitab suci Manawa Dharmasastra, VII.10 juga dijelaskan:

Karyam so’veksya çaktimca

Deçakalañca tattvatah,

Kurute dharma siddhyartham

Viçvarupam punah punah

 

Terjemahan:

Setelah mempertimbangkan sepenuhnya tentang hakekat tujuan (Iksa), kekuatan/kemampuan (Sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan sastra yang dimiliki (Tattva) dia lakukan berbagai wujud perbuatan (Yajña) untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran) (Pudja & Tjok Rai Sudharta, 1997: 355).

Dharma yang melalui berbagai bentuk budaya umat, sehingga dharma tetap dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat. Berdasarkan atas sloka di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) iksa, berarti hakikat tujuan, aspek utama yang menjadi sasaran yang harus direalisasikan. Hakikat tujuan ini dikaitkan dengan tujuan beragama Hindu, sehingga tidak bertentangan dengan norma yang berlaku; (b) sakti merupakan kesadaran kemampuan, baik kemampuan Jñana (pengetahuan) maupun kemampuan BalaKosa (fisik – materiil) yang mendukung untuk merealisasikan cita – cita/tujuan itu; (c) desa, berarti tempat dimana suatu aktivitas dilaksanakan. Perbedaan tempat/daerah tentu akan mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama baik yang menyangkut tradisi maupun kaidah hukum positif yang berlaku; (d) kala, berarti waktu, sebagai aspek yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menerapkan ajaran agama sehingga tafsir terhadap ketentuan sastra tidak berlaku secara absolut dan tidak mengaburkan asas universal dari ajaran tersebut; (e) tattva, berarti filosofi atau pandangan/pengetahuan tentang kebenaran yang diyakini dan menjadi landasan sistem fikir dalam upaya pembudayaan ajaran agama yang dianut/diterapkan.

Tradisi diartikan sebagai prilaku atau kebiasaan masyarakat lokal yang dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu yang berlangsung lama, dan masih tetap diterima atau dilaksanakan hingga kini. Karena eksistensinya tersebut, sehingga bagi masyarakat setempat diyakini sebagai prilaku yang baik dan harus tetap dipertahankan, oleh karena sebagai ciri khas suatu daerah, selain itu juga oleh adanya nilai tertentu yang dianut oleh masyarakat pelaksana tradisi tersebut dalam hubungannya dengan prilaku, estetik, religius, pengetahuan, serta kreativitas berkesenian yang menjadi ciri khas kebudayaan mereka.

SOAL UTS SEMESTER GENAP Kls V (KTSP) MATERI CATUR GURU

OM Swastyastu,

Angayu bagia Bapak/Ibu Guru dan Siswa Hindu dimanapun berada, kali ini akan ditampilkan Contoh-contoh Soal Pendidikan Agama Hindu (KTSP) dengan materi Catur Guru; mengapa materi ini tetap Uptodate juga untuk Kurikulum 2013? karena materi ini juga terdapat di Kurikulum K13 Pendidikan Agama Hindu & Budi Pekerti.

nahh… jangan berlama-lama yaa… mari kita belajar bersama-sama…..

 

Mata Pelajaran   : Agama Hindu

Hari/Tanggal      : Senin, 23 Maret 2015

Waktu                : 90 Menit

Kelas                  : V

ULANGAN TENGAH SEMESTER GENAP

 

Pilihlah jawaban yang paling benar dengan memberikan tanda silang (X) pada pilihan a, b, c atau d.

 

 

1. Yang patut kita hormati dalam Catur Guru jumlahnya….
a. Dua c. Empat
b. Tiga d. Lima
2. Istilah Guru dalam catur Guru adalah….
a. Suara ringan c. Jelas
b. Tugas yang berat d. Berharga
3. Guru sejati adalah…
a. Wisesa c. Swadyaya
b. Pengajian d. Rupaka
4. Guru Rupaka disebut pula…
a. Orang tua c. Pemerintah
b. Guru Reka d. Pilihan a dan b benar
5. Karena jasanya Catur Guru patut di…
a. Hindari c. Jauhi
b. Hormati d. Benci
6. Guru di sekolah memberikan tugas untuk…
a. Melatih kecerdasan c. Hukuman
b. Bebas d. Mainan
7. Pak Polisi bertugas mengatur Lalu Lintas agar aman dan tata tertib. Pak Polisi termasuk guru…
a. Wisesa c. Swadyaya
b. Pengajian d. Rupaka
8. Ida Sang Hyang Widi Wasa menciptakan alam semesta dengan segala isinya yang dapat berguna bagi semua makhluk. Ida Sang Hyang Widi disebut guru….
a. Rupaka c. Wisesa
b. Pengajian d. Swadyaya
9. Mentaati peraturan Lalu Lintas di jalan raya adalah sangat penting manfaatnya untuk…
a. Keselamatan
b. Penghormatan kepada Polisi
c. Bergaya trek-trekan
d. Berusaha berbuat tertib
10. Menghormati orang tua di rumah adalah perbuatan yang mulia. Hal itu wajib dilakukan oleh setiap anak tujuannya adalah….
a. Berbhakti kepada orang tuanya
b. Agar disayangi
c. Agar diberi uang
d. Agar kelihatan baik
11. Salah satu cara menunjukkan sikap bhakti kepada Guru Pengajian adalah…
a. Berdoa sebelum memulai belajar
b. Berbaris dengan tertib
c. Memberikan sumbangan kepada guru
d. Membantu guru mengajak anaknya

12. Anugrah yang dapat mengakibatkan manusia cerdas, dapat membedakan yang baik dan yang buruk karena diberikan….oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa.
a. Ahangkara c. Cita
b. Budi d. Rajah
13. Jasa orang tua telah mengupacarai semasa kecil disebut dengan….
a. Anyangaskara
b. Menyiksa anak
c. Membantu mengerjakan PR
d. Mengajarkan etika
14. Manfaat upacara yang dilakukan baik pada waktu bayi baru lahir, sampai dewasa…adalah….
a. Mendoakan agar menjadi anak suputra
b. Tidak ada gunanya
c. Berkorban apa adanya
d. Menghindarkan dari sakit
15. Karena orang tua telah berbuat jasa, maka kita harus….
a. Menghargai dengan cara berbuat baik
b. Itu memang sudah tugas orang tua
c. Salah orang tua sendiri
d. Tidak usah dipikirkan
16. Rsi Byasa telah menerima dan mengumpulkan ajaran suci Veda yang disabdakan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa. Para Rsi yang telah menerima sabda suci Veda dapat disebut…
a. Guru Aji c. Guru Leluhur
b. Guru Pengajian d. Guru Sunya Loka
17. Leluhur yang sudah meninggal dapat kita hormati dengan cara….
a. Meniru prilaku yang baik
b. Menjual tanah untuk upacaranya
c. Menghina leluhur
d. Membagi warisan
18. Yang dipuja di Sanggah Kemulan di rumah masing-masing adalah….
a. Bhuta kala
b. Sang Hyang Kumara
c. Dewa Ganesha
d. Pitara yang sudah suci
19. Penghormatan terhadap Buta Kala dapat dilakukan dengan….
a. Mesaiban
b. Mandi tiga kali sehari
c. Makan dan minum sepatutnya
d. Tidur pada waktunya
20. Tuhan di dunia nyata yang disebut dengan Guru Tiga adalah….

a. Guru Rupaka, dan Guru Wisesa
b. Guru Pengajian
c. Guru Rupaka, Guru Pengajian dan Guru Wisesa
d. Guru Swadyaya
21. Seorang yang tidak patuh menjalankan petuah guru, disebut dengan…
a. Anak tiri c. Anak Yatim
b. Alphaka Guru d. Anak Sulung
22. Penghormatan kepada Guru Rupaka dapat dilihat pada Pepatah yang mengatakan, sorga ada di telapak kaki….
a. Bapak c. Ibu
b. Paman d. Ayah Angkat
23. Dalam ajaran Hindu sejak lahir sudah memiliki tiga hutang yang disebut dengan….
a. Tri Rna c. Tri semaya
b. Tri Sarira d. Tri Kaya Parisuda
24. Selain melahirkan orang tua di rumah juga telah berjasa karena telah….
a. Memberikan penghargaan
b. Memberikan semangat
c. Memberikan makan dan minum
d. Bersusah payah
25. Guru Wisesa dapat dihormati dengan …..
a. Membanggakan
b. Ikut bergotong-royong membenahi jalan raya
c. Berdiam diri
d. Tidak ikut kegiatan kedesaan
26. Guru Wisesa bertugas…..terhadap warga masyarakatnya.
a. Membimbing untuk mensejahterakan
b. Memeras rakyat
c. Memberikan pengobatan gratis
d. Membenahi jalan raya
27. Disamping menaati ajaran agama, umat Hindu juga patut taat dalam….
a. Menjalani hidup
b. Bersenang-senang
c. Berwarga negara
d. Partisipasi luar negeri
28. Umat Hindu hendaknya ikut serta untuk….
a. Menyukseskan pembangunan bangsa
b. Mengabaikan persoalan Negara
c. Membuat perpecahan
d. Membangkang terhadap negara
29. Yang dapat digolongkan sebagai guru Wisesa adalah….
a. Para pakar c. Petani
b. Gubernur dan Bupati d. Montir
30. Mempelajari ajaran suci Veda dengan baik adalah pengamalan dari hormat kepada….
a. Guru Rupaka c. Guru swadyaya
b. Guru Susrusa d. Guru bhakti
31. Jika pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua maka harus….
a. Acuh saja
b. Meminta maaf dan tidak mengulangi lagi
c. Mengakui kesalahan
d. Biarkan saja, nanti juga dimaafkan
32. Sebagai tanda penghormatan terhadap orang tua di rumah, Ni Luh Wati …..ketika akan berangkat ke sekolah.
a. Meminta bekal kepada ibu c. Ngambek

b. Mencium tangan ibu d. Tidak Peduli
33. Menjaga fasilitas sekolah seperti buku, alat-alat olah raga adalah salah tau sikap hormat kepada Guru Wisesa karena…
a. Pemerintah telah memberikan semuanya
b. Siswa hanya pandai merusak saja
c. Mengambil buku tanpa mengembalikan
d. Kesadaran diri
34. Ketika ada tamu yang datang ke sekolah, hendaknya anak-anak….
a. Membiarkan saja
b. Mengucapkan Panganjali
c. Ribut di dalam kelas
d. Berkeliaran
35. Kegunaan dari hormat kepada orang tua adalah…
a. Menumbuhkan sikap bhakti
b. Menjadi pandai
c. Menjadikan bijaksana
d. Semuanya benar

II. Isilah Titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar!
1. Nasehat orang tua harus di….
2. Di sekolah tidak boleh….
3. Kalau ada pelajaran yang sulit boleh ditanyakan kepada….
4. Kalau ada PR harus dikerjakan di….
5. Agar menjadi pandai, maka belajarlah yang….
6. Cara untuk menghormati Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan rajin….
7. Selain rajin sekolah, anak-anak harus rajin….
8. Guru mengajar anak harus….
9. Anak-anak harus patuh kepada….
10. Guru Reka juga disebut dengan guru….

III. Jawablah pertanyaan berikut ini!
1. Apakah yang dimaksud dengan Catur Guru?
2. Sebutkan bagian-bagian Catur Guru, jelaskan masing-masing!
3. Sebutkan 5 jasa orang tua kepada kita, seperti yang disebutkan dalam Lontar Nitisastra YANG DISEBUT DENGAN PANCA WIDA BAKTI!
4. Sebutkanlah sikap yang untuk menghormati Guru Wisesa!
5. Apakah yang dimaksud dengan tugas orang Tua di rumah sebagai Pangupadyaya!

 

* I Gst. Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H, adalah Tim Penyusun Naskah Soal sejak tahun 2010 .

Contoh RPP K 13 SD KLS V_Revisi 2017

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Satuan Pendidikan                  : SD

Nama Sekolah                         : ………………………………………………………………..

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

Kelas/semester                        : V ( Lima)/ 1(Ganjil)

Materi Pokok                          :  Kitab Suci Veda

Alokasi Waktu                        :  16 x 35 Menit ( 4 x Pertemuan)

 

LINK DOWNLOAD: 04 RPP_KLS V_SMT I_KITAB SUCI VEDA

TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

oleh: I Gusti Nyoman Suardeyasa *

(BAGI YANG MENG-COPY HARAP MENGKONFIRMASI KEPADA PENULIS, ARTIKEL INI MENJADI HAK MILIK BLOG INI. BAGI YANG MENJADIKAN SEBAGAI REFERENSI AHARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS DAN ALAMAT BLOG INI)

TRI PREMANA dalam artikel ini diformulasikan dengan teknik APA.

Teknik APA (Agama-Pratyaksa-Anumana) dalam artikel ini berasal dari ajaran Tri Premana yang terdiri dari Agama Premana (Sabda Premana), Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Teknik APA ini disusun berdasarkan tingkat kesesuaian dengan siswa di tingkat sekolah dasar, yakni Agama Premana teridiri dari kecakapan siswa untuk mendengarkan dan mempercayai ajaran suci yang berasal dari Rsi atau orang-orang suci dalam agama Hindu; Pratyaksa Premana terdiri dari kecakapan siswa untuk mengamati langsung maupun tidak langsung yang dikemas melalui model / gambar tentang materi yang diajarkan; dan Anumana Premana adalah kecakapan untuk melakukan pembuktian terhadap gejala-gejala yang terjadi, atau materi pembelajaran yang diajarkan. Pustaka Suci Manawa Dharma Sastra XII.105 disebutkan:

 

Ketiga cara pembuktian, pratyaksa, anumana, dan sastra yang merupakan lembaga dari berbagai kebiasaan dan aliran filsafat harus difahami benar-benar olehnya yang ingin sempurna tentang ketepatpengertian terhadap hukum suci.

Berdasarkan atas pustaka suci tersebut, ada tiga cara dalam menemukan kebenaran ajaran Weda, yang disebut dengan Pratyaksa, anumana dan sastra agama. Dalam penjelasan Adiputra (2003:9) disebutkan Tri Premana sebagai tiga ukuran atau cara untuk mengetahui kebenaran Weda, yaitu:

Pertama, agama premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan meyakini ajaran atau pemberitahuan orang yang patut dipercaya, agama premana dibedakan menjadi dua yakni: a) Wedika, mendapatkan kebenaran dengan cara mempelajari Weda sastra suci; b) Laukika, mendapatkan kebenaran dengan cara meyakini pemberitahuan orang yang dapat dipercaya dari orang suci atau guru suci. Kedua, Anumana Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara menarik kesimpulan dari suatu peristiwa; contohnya: adanya asap tentu ada api, ada dunia tentu ada penciptanya, ada anak tentu ada ayah dan ibunya. Ketiga, Pretyaksa Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara mengamati secara langsung melalui alat indra atau batin. Contohnya: api itu diketahui panas karena dapat dirasakan panasnya saat mengenai indra kulit; garam itu diketahui rasanya asin saat dikecap oleh lidah.

Namun cara yang kedua dan ketiga memerlukan analisis yang lebih tinggi dibandingkan dengan mempercayai ajaran suci Weda, yang dibutuhkan adalah membaca pustaka suci yang sudah diterjemahkan dan diterapkan dalam buku teks pelajaran agama Hindu; pada cara / teknik anumana premana, kesalahan persepsi bisa terjadi oleh karena logika yang keliru, itu sebabnya logika yang benar menentukan juga persepsi yang benar terhadap suatu kebenaran; pratyaksa premana merupakan teknik perbandingan, logika perbandingan juga tergantung dari kemampuan indra dalam menangkap fenomena alam yang terjadi, mengenai hal-hal abstrak misalkan: Angin tidak terlihat tapi dapat dirasakan: Tuhan tidak dapat dilihat tapi ada, namun cara mengetahuinya harus dengan cara yang benar, kebenaran ini juga kembali kepada teknik agama Premana mempercayai pustaka suci yang sudah teruji kebenarannya. Untuk hal-hal yang dapat dilihat dan dapat dibuktikan dengan indra, kebenaran yang diperoleh dari anumana dan pratyaksa merupakan kebenaran fakta.

Ajaran Nyaya tentang empat sumber untuk mendapatkan kebenaran disebutkan Pendit (2007:11) adalah: Pratyaksa (persepsi), anumana (kesimpulan), upamana (perbandingan dan persamaan), sabda (wewenang dan testimoni). Nala dan Wiratmadja (2004:71-80) juga merinci adanya empat cara untuk mendapatkan kebenaran dalam ajaran agama Hindu, yakni:

Agama Premana, adalah kebenaran yang diperoleh dari kitab suci, dengan meyakini hal yang disampaikan dalam kitab suci; pratyaksa pramana, cara pratyaksa ini demikian luhurnya, dengan cara menyaksikan langsung kebenaran Tuhan dengan cara melihat langsung ataupun mendengar sabda suci Tuhan; anumana premana dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan, dari gejala-gejala alam yang diketahui kebenarannya; upamana premana kebenaran diperoleh dengan melakukan perbandingan.

Ajaran Premana dari Filsafat Nyaya (Nyaya Darsana) Nyaya Darsana didirikan oleh Ashaka Gotama, Nyaya menempati urutan pertama dalam keseluruhan sistem falsafah ortodoks India, karena ia seolah-olah berperan sebagai pendahuluan atau pintu pertama memasuki keseluruhan sistem falsafah India (Sarva Darsana Samgraha). Didasarkan pada penalaran secara analitik. Sebagai sistem falsafah yang didasarkan pada kitab Veda, Nyaya terus berkembang hingga abad ke-20. Tidak mengherankan apabila bergitu banyak wacana tertulis dilahirkan dari para filosof Nyaya. Arti etimologis Nyaya, ialah ’kembali’, maksudnya mencari kembali kebenaran melalui argumentasi. Falsafah Nyaya bersifat intelektual dan analitis. Vatsyayana mengembangkan sistem ini berdasarkan ajaran Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dalam bukunya Aksapada dan Dirghatapas. Buku Vatsyayana yang memuat ajaran falsafah Nyaya ialah Nyaya Bhasya (Ulasan Tentang Nyaya) (Pendit, 2007:1). Ajaran Nyaya menjelaskan 16 substansi:

(1) Pramana, menetapkan metode pengetahuan yang benar; (2) Prameya, menetapkan obyek pengetahuan yang benar; (3) Samsaya, mengajukan keraguan pada sesuatu yang dianggap
benar; (4) Dsrtanta, mengemukakan contoh yang benar; (5) Prayojana, menetapkan tujuan pengamatan secara benar; (6) Tarka, menggunakan argumentasi/hujah yang benar; (7) Siddhanta, menegakkan ajaran dan pengetahuan; (8) Awayawa, menetapkan tahapan-tahapan pengetahuan; (9) Nimaya, membuat ketentuan yang sesksama; (10) Vada, melakukan diskusi yang mendalam; (11) Jalpa, membantah yang tidak benar; (12) Vitanda melakukan kritik secara cerdas; (13) Hetva-bhasa, mencela cacat dan kekurangan dari penalaran; (14) Cala, memuat argumentasi; (15) Jati, ketanpatujuan; (16) Nigraha-sthana, mengiritik secara tuntas pengetahuan yang diperoleh selama ini (Pendit, 2007:3-10).

Namun secara umum pengetahuan dalam ajaran Nyaya dapat diterima seperti yang dikembangkan tokoh utama falsafah Nyaya ialah Vatsyayana. Menurut filosof ini, dunia di luar manusia merupakan keberadaan yang terpisah dari pikiran. Pengetahuan tentang dunia diperoleh melalui pikiran, dibantu oleh pengamatan dan pencerapan indra. Pengetahuan dapat disebut benar atau salah tergantung pada sarana yang dipergunakan dalam mendapat pengetahuan. Secara sistematis pengetahuan menyatakan empat keadaan: (1) Pramata atau si pengamat, yaitu keadaan jiwa, pikiran dan kesadarannya; (2) Prameya atau obyek yang diamati; (3) Pramiti atau hasil dari pengamatan, yang ditentukan oleh keadaan si pengamat dalam hubungannya dengan obyek yang diamati; (4) Pramana atau cara, kaedah, metode pengamatan atau model pendekatan yang digunakan (Pendit, 2007:2).

Menurut Vatsyayana, dalam mencapai kebenaran rasional tentang sesuatu hal, diperlukan bantuan 4 atau empat kaedah pengamatan: (1) Pengamatan langsung (pratyaksa pramana); (2) Penyimpulan (anumana pramana); (3) Perbandingan (upamana pramana); dan (4) Penyaksian (sabda pramana).

Tingkat sekolah dasar dapat kiranya cara kerja Catur Premana dapat disederhanakan lagi menjadi tiga yakni Agama Premana, Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Pada tataran Agama Premana dipandang relatif mudah dibandingkan dengan tataran Pratyaksa oleh karena pada tahapan ini siswa sudah mulai diharapkan untuk mengamati dan melakukan pencatatan terhadap materi yang disajikan; sedangkan tataran Anumana Premana pada tataran ini siswa diharapkan sudah menggunakan analisis sebagai kecakapan yang lebih sulit dibanding tataran sebelumnya.

Diagram cara kerja teknik APA ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Pada Anumana Premana sudah dianggap analisis kritis secara logis terhadap suatu objek yang dikaji, sehingga aspek Anumana Premana merupakan penggabungan dari Anumana Premana dan Upamana Premana. Oleh karena kedua-duanya mendasarkan pada teknik analitik logis; Anumana Premana mendasarkan pada analisis hubungan sebab-akibat sehingga dapat diambil suatu kesimpulan dari hubungan sebab akibat tersebut; sedangkan upamana premana menerangkan kebenaran berdasarkan atas perbandingan atau perumpamaan, membandingkan antara satu objek dengan objek lainnya, sehingga dapat diumpamakan objek yang abstrak yang tidak dapat ditanggapi oleh alat indra biasa. Sehingga kedua-duanya dapat dikatakan sebagai teknik perbandingan, sebab membandingkan objek satu dengan objek lainnya, setelah itu diberikan argumentasi untuk mendapatkan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi.

Pada artikel ini, agama premana adalah sumber pertama yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjelaskan fenomena / gejala, sedangkan pratyaksa dan anumana adalah sumber kedua sebagai alat untuk menguatkan kebenaran yang ada dalam sastra-sastra agama, antara pratyaksa premana dan anumana premana satu sama lain sebagai teknik untuk memperoleh perbandingan-perbandingan sehingga ajaran agama dapat diterima secara logis dan analisis. Hal inilah yang disebut dengan Tri Premana dalam Artikel ini, Tri adalah tiga, premana adalah cara, artinya tiga cara untuk mendapatkan kebenaran, yang terdiri dari Agama Premana, dengan jalan mempercayai ajaran agama yang bersumber dari sastra-sastra suci, pratyaksa premana adalah teknik untuk mendapatkan kebenaran dengan cara mengobservasi kondisi suatu fakta, sedangkan anumana premana dilakukan dengan melakukan perbandingan, membuat kesimpulan dari hubungan sebab akibat, serta membandingkan objek satu dengan objek lainnya berdasarkan atas hukum yang berlaku umum di alam semesta.

* Penulis, I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H adalah salah satu Guru Agama Hindu di Kabupaten Buleleng.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, Rudia, 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. Jakarta: STAH Dharma Nusantara.

Nala, I Gusti Ngurah dan Adia Wiratmadja, 2004. Denpasar: Upada Sastra.

Pendit, S, 2007. Filsafat Hindu Dharma (Sad Darsana) Enam Aliran Astika (Orthodoks) Buku Kedua. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Pudja, I Gde, dan Tjok Rai Sudhartha, 2003. Manawa Dharma Sastra. Dirjen Bimas Hindu dan Budha Jakarta.

%d blogger menyukai ini: