SELAMAT HARI JADI PANDU NUSA

SELAMAT HARI JADI

PERKUMPULAN ACARYA HINDU NUSANTARA
[ PANDU NUSA ] 

22 MEI 2018

SEMOGA DAPAT MENINGKATKAN PROFESIONALISME

DALAM MENCIPTAKAN ANAK BANGSA

YANG BERBUDI LUHUR, CERDAS, DAN BERWAWASAN KEBANGSAAN.

Konsepsi Tradisi dalam Kebudayaan Bali

Menurut arti Kamus (Tim Penyusun, 2001:1208) kata tradisi diartikan sebagai 1) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 2) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Sedangkan kata tradisional sebagai bentukan kata dari “tradisi” artinya “sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun”.

Tradisi dalam bahasa Inggris disebutkan dengan tradition yang diartikan dengan kebiasaan, atau budaya. Kontjaraningrat (1985:1-2) menjelaskan bahwa budaya (tradisi) tersebut adalah seluruh (total) karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya, dan hanya dapat dicetuskan oleh manusia setelah melalui suatu proses belajar.

Koentjaraningrat (1985: 100) juga mengungkapkan bahwa wujud dari kebudayaan terdiri dari paling tidak tiga wujud yaitu: (1) kompleksitas dari gagasan, konsep dan pikiran manusia, (2) sebagai kompleksitas aktivitas dan, 3) berwujud sebagai benda. Demikian juga diungkapkan oleh Wiana (2002:10-11) tradisi dalam kitab suci Weda diartikan sebagai persepsi atau pandangan, patokan, patokan rohani atau juga berarti suatu wilayah. Dresta artinya persepsi yang sama mengenai patokan-patokan rohani dalam menata kehidupan dalam suatu wilayah tertentu. Secara sederhana disebutkan ada empat dresta yang telah dipegang oleh umat Hindu di Bali yakni; purwa dresta, loka dresta, desa dresta dan sastra dresta. Dalam istilah lain penggunaan dresta sering disebut dengan tri samaya yakni; atita, nagata dan wartamana. Atita adalah pandangan umat di masa lampau, nagata adalah harapan pada masa yang akan datang dan wartamana artinya prilaku yang harus diwujudkan sekarang. Di dalam kitab suci Manawa Dharmasastra, VII.10 juga dijelaskan:

Karyam so’veksya çaktimca

Deçakalañca tattvatah,

Kurute dharma siddhyartham

Viçvarupam punah punah

 

Terjemahan:

Setelah mempertimbangkan sepenuhnya tentang hakekat tujuan (Iksa), kekuatan/kemampuan (Sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan sastra yang dimiliki (Tattva) dia lakukan berbagai wujud perbuatan (Yajña) untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran) (Pudja & Tjok Rai Sudharta, 1997: 355).

Dharma yang melalui berbagai bentuk budaya umat, sehingga dharma tetap dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat. Berdasarkan atas sloka di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) iksa, berarti hakikat tujuan, aspek utama yang menjadi sasaran yang harus direalisasikan. Hakikat tujuan ini dikaitkan dengan tujuan beragama Hindu, sehingga tidak bertentangan dengan norma yang berlaku; (b) sakti merupakan kesadaran kemampuan, baik kemampuan Jñana (pengetahuan) maupun kemampuan BalaKosa (fisik – materiil) yang mendukung untuk merealisasikan cita – cita/tujuan itu; (c) desa, berarti tempat dimana suatu aktivitas dilaksanakan. Perbedaan tempat/daerah tentu akan mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama baik yang menyangkut tradisi maupun kaidah hukum positif yang berlaku; (d) kala, berarti waktu, sebagai aspek yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menerapkan ajaran agama sehingga tafsir terhadap ketentuan sastra tidak berlaku secara absolut dan tidak mengaburkan asas universal dari ajaran tersebut; (e) tattva, berarti filosofi atau pandangan/pengetahuan tentang kebenaran yang diyakini dan menjadi landasan sistem fikir dalam upaya pembudayaan ajaran agama yang dianut/diterapkan.

Tradisi diartikan sebagai prilaku atau kebiasaan masyarakat lokal yang dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu yang berlangsung lama, dan masih tetap diterima atau dilaksanakan hingga kini. Karena eksistensinya tersebut, sehingga bagi masyarakat setempat diyakini sebagai prilaku yang baik dan harus tetap dipertahankan, oleh karena sebagai ciri khas suatu daerah, selain itu juga oleh adanya nilai tertentu yang dianut oleh masyarakat pelaksana tradisi tersebut dalam hubungannya dengan prilaku, estetik, religius, pengetahuan, serta kreativitas berkesenian yang menjadi ciri khas kebudayaan mereka.

SOAL UTS SEMESTER GENAP Kls V (KTSP) MATERI CATUR GURU

OM Swastyastu,

Angayu bagia Bapak/Ibu Guru dan Siswa Hindu dimanapun berada, kali ini akan ditampilkan Contoh-contoh Soal Pendidikan Agama Hindu (KTSP) dengan materi Catur Guru; mengapa materi ini tetap Uptodate juga untuk Kurikulum 2013? karena materi ini juga terdapat di Kurikulum K13 Pendidikan Agama Hindu & Budi Pekerti.

nahh… jangan berlama-lama yaa… mari kita belajar bersama-sama…..

 

Mata Pelajaran   : Agama Hindu

Hari/Tanggal      : Senin, 23 Maret 2015

Waktu                : 90 Menit

Kelas                  : V

ULANGAN TENGAH SEMESTER GENAP

 

Pilihlah jawaban yang paling benar dengan memberikan tanda silang (X) pada pilihan a, b, c atau d.

 

 

1. Yang patut kita hormati dalam Catur Guru jumlahnya….
a. Dua c. Empat
b. Tiga d. Lima
2. Istilah Guru dalam catur Guru adalah….
a. Suara ringan c. Jelas
b. Tugas yang berat d. Berharga
3. Guru sejati adalah…
a. Wisesa c. Swadyaya
b. Pengajian d. Rupaka
4. Guru Rupaka disebut pula…
a. Orang tua c. Pemerintah
b. Guru Reka d. Pilihan a dan b benar
5. Karena jasanya Catur Guru patut di…
a. Hindari c. Jauhi
b. Hormati d. Benci
6. Guru di sekolah memberikan tugas untuk…
a. Melatih kecerdasan c. Hukuman
b. Bebas d. Mainan
7. Pak Polisi bertugas mengatur Lalu Lintas agar aman dan tata tertib. Pak Polisi termasuk guru…
a. Wisesa c. Swadyaya
b. Pengajian d. Rupaka
8. Ida Sang Hyang Widi Wasa menciptakan alam semesta dengan segala isinya yang dapat berguna bagi semua makhluk. Ida Sang Hyang Widi disebut guru….
a. Rupaka c. Wisesa
b. Pengajian d. Swadyaya
9. Mentaati peraturan Lalu Lintas di jalan raya adalah sangat penting manfaatnya untuk…
a. Keselamatan
b. Penghormatan kepada Polisi
c. Bergaya trek-trekan
d. Berusaha berbuat tertib
10. Menghormati orang tua di rumah adalah perbuatan yang mulia. Hal itu wajib dilakukan oleh setiap anak tujuannya adalah….
a. Berbhakti kepada orang tuanya
b. Agar disayangi
c. Agar diberi uang
d. Agar kelihatan baik
11. Salah satu cara menunjukkan sikap bhakti kepada Guru Pengajian adalah…
a. Berdoa sebelum memulai belajar
b. Berbaris dengan tertib
c. Memberikan sumbangan kepada guru
d. Membantu guru mengajak anaknya

12. Anugrah yang dapat mengakibatkan manusia cerdas, dapat membedakan yang baik dan yang buruk karena diberikan….oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa.
a. Ahangkara c. Cita
b. Budi d. Rajah
13. Jasa orang tua telah mengupacarai semasa kecil disebut dengan….
a. Anyangaskara
b. Menyiksa anak
c. Membantu mengerjakan PR
d. Mengajarkan etika
14. Manfaat upacara yang dilakukan baik pada waktu bayi baru lahir, sampai dewasa…adalah….
a. Mendoakan agar menjadi anak suputra
b. Tidak ada gunanya
c. Berkorban apa adanya
d. Menghindarkan dari sakit
15. Karena orang tua telah berbuat jasa, maka kita harus….
a. Menghargai dengan cara berbuat baik
b. Itu memang sudah tugas orang tua
c. Salah orang tua sendiri
d. Tidak usah dipikirkan
16. Rsi Byasa telah menerima dan mengumpulkan ajaran suci Veda yang disabdakan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa. Para Rsi yang telah menerima sabda suci Veda dapat disebut…
a. Guru Aji c. Guru Leluhur
b. Guru Pengajian d. Guru Sunya Loka
17. Leluhur yang sudah meninggal dapat kita hormati dengan cara….
a. Meniru prilaku yang baik
b. Menjual tanah untuk upacaranya
c. Menghina leluhur
d. Membagi warisan
18. Yang dipuja di Sanggah Kemulan di rumah masing-masing adalah….
a. Bhuta kala
b. Sang Hyang Kumara
c. Dewa Ganesha
d. Pitara yang sudah suci
19. Penghormatan terhadap Buta Kala dapat dilakukan dengan….
a. Mesaiban
b. Mandi tiga kali sehari
c. Makan dan minum sepatutnya
d. Tidur pada waktunya
20. Tuhan di dunia nyata yang disebut dengan Guru Tiga adalah….

a. Guru Rupaka, dan Guru Wisesa
b. Guru Pengajian
c. Guru Rupaka, Guru Pengajian dan Guru Wisesa
d. Guru Swadyaya
21. Seorang yang tidak patuh menjalankan petuah guru, disebut dengan…
a. Anak tiri c. Anak Yatim
b. Alphaka Guru d. Anak Sulung
22. Penghormatan kepada Guru Rupaka dapat dilihat pada Pepatah yang mengatakan, sorga ada di telapak kaki….
a. Bapak c. Ibu
b. Paman d. Ayah Angkat
23. Dalam ajaran Hindu sejak lahir sudah memiliki tiga hutang yang disebut dengan….
a. Tri Rna c. Tri semaya
b. Tri Sarira d. Tri Kaya Parisuda
24. Selain melahirkan orang tua di rumah juga telah berjasa karena telah….
a. Memberikan penghargaan
b. Memberikan semangat
c. Memberikan makan dan minum
d. Bersusah payah
25. Guru Wisesa dapat dihormati dengan …..
a. Membanggakan
b. Ikut bergotong-royong membenahi jalan raya
c. Berdiam diri
d. Tidak ikut kegiatan kedesaan
26. Guru Wisesa bertugas…..terhadap warga masyarakatnya.
a. Membimbing untuk mensejahterakan
b. Memeras rakyat
c. Memberikan pengobatan gratis
d. Membenahi jalan raya
27. Disamping menaati ajaran agama, umat Hindu juga patut taat dalam….
a. Menjalani hidup
b. Bersenang-senang
c. Berwarga negara
d. Partisipasi luar negeri
28. Umat Hindu hendaknya ikut serta untuk….
a. Menyukseskan pembangunan bangsa
b. Mengabaikan persoalan Negara
c. Membuat perpecahan
d. Membangkang terhadap negara
29. Yang dapat digolongkan sebagai guru Wisesa adalah….
a. Para pakar c. Petani
b. Gubernur dan Bupati d. Montir
30. Mempelajari ajaran suci Veda dengan baik adalah pengamalan dari hormat kepada….
a. Guru Rupaka c. Guru swadyaya
b. Guru Susrusa d. Guru bhakti
31. Jika pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua maka harus….
a. Acuh saja
b. Meminta maaf dan tidak mengulangi lagi
c. Mengakui kesalahan
d. Biarkan saja, nanti juga dimaafkan
32. Sebagai tanda penghormatan terhadap orang tua di rumah, Ni Luh Wati …..ketika akan berangkat ke sekolah.
a. Meminta bekal kepada ibu c. Ngambek

b. Mencium tangan ibu d. Tidak Peduli
33. Menjaga fasilitas sekolah seperti buku, alat-alat olah raga adalah salah tau sikap hormat kepada Guru Wisesa karena…
a. Pemerintah telah memberikan semuanya
b. Siswa hanya pandai merusak saja
c. Mengambil buku tanpa mengembalikan
d. Kesadaran diri
34. Ketika ada tamu yang datang ke sekolah, hendaknya anak-anak….
a. Membiarkan saja
b. Mengucapkan Panganjali
c. Ribut di dalam kelas
d. Berkeliaran
35. Kegunaan dari hormat kepada orang tua adalah…
a. Menumbuhkan sikap bhakti
b. Menjadi pandai
c. Menjadikan bijaksana
d. Semuanya benar

II. Isilah Titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar!
1. Nasehat orang tua harus di….
2. Di sekolah tidak boleh….
3. Kalau ada pelajaran yang sulit boleh ditanyakan kepada….
4. Kalau ada PR harus dikerjakan di….
5. Agar menjadi pandai, maka belajarlah yang….
6. Cara untuk menghormati Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan rajin….
7. Selain rajin sekolah, anak-anak harus rajin….
8. Guru mengajar anak harus….
9. Anak-anak harus patuh kepada….
10. Guru Reka juga disebut dengan guru….

III. Jawablah pertanyaan berikut ini!
1. Apakah yang dimaksud dengan Catur Guru?
2. Sebutkan bagian-bagian Catur Guru, jelaskan masing-masing!
3. Sebutkan 5 jasa orang tua kepada kita, seperti yang disebutkan dalam Lontar Nitisastra YANG DISEBUT DENGAN PANCA WIDA BAKTI!
4. Sebutkanlah sikap yang untuk menghormati Guru Wisesa!
5. Apakah yang dimaksud dengan tugas orang Tua di rumah sebagai Pangupadyaya!

 

* I Gst. Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H, adalah Tim Penyusun Naskah Soal sejak tahun 2010 .

Contoh RPP K 13 SD KLS V_Revisi 2017

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Satuan Pendidikan                  : SD

Nama Sekolah                         : ………………………………………………………………..

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

Kelas/semester                        : V ( Lima)/ 1(Ganjil)

Materi Pokok                          :  Kitab Suci Veda

Alokasi Waktu                        :  16 x 35 Menit ( 4 x Pertemuan)

 

LINK DOWNLOAD: 04 RPP_KLS V_SMT I_KITAB SUCI VEDA

TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

oleh: I Gusti Nyoman Suardeyasa *

(BAGI YANG MENG-COPY HARAP MENGKONFIRMASI KEPADA PENULIS, ARTIKEL INI MENJADI HAK MILIK BLOG INI. BAGI YANG MENJADIKAN SEBAGAI REFERENSI AHARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS DAN ALAMAT BLOG INI)

TRI PREMANA dalam artikel ini diformulasikan dengan teknik APA.

Teknik APA (Agama-Pratyaksa-Anumana) dalam artikel ini berasal dari ajaran Tri Premana yang terdiri dari Agama Premana (Sabda Premana), Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Teknik APA ini disusun berdasarkan tingkat kesesuaian dengan siswa di tingkat sekolah dasar, yakni Agama Premana teridiri dari kecakapan siswa untuk mendengarkan dan mempercayai ajaran suci yang berasal dari Rsi atau orang-orang suci dalam agama Hindu; Pratyaksa Premana terdiri dari kecakapan siswa untuk mengamati langsung maupun tidak langsung yang dikemas melalui model / gambar tentang materi yang diajarkan; dan Anumana Premana adalah kecakapan untuk melakukan pembuktian terhadap gejala-gejala yang terjadi, atau materi pembelajaran yang diajarkan. Pustaka Suci Manawa Dharma Sastra XII.105 disebutkan:

 

Ketiga cara pembuktian, pratyaksa, anumana, dan sastra yang merupakan lembaga dari berbagai kebiasaan dan aliran filsafat harus difahami benar-benar olehnya yang ingin sempurna tentang ketepatpengertian terhadap hukum suci.

Berdasarkan atas pustaka suci tersebut, ada tiga cara dalam menemukan kebenaran ajaran Weda, yang disebut dengan Pratyaksa, anumana dan sastra agama. Dalam penjelasan Adiputra (2003:9) disebutkan Tri Premana sebagai tiga ukuran atau cara untuk mengetahui kebenaran Weda, yaitu:

Pertama, agama premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan meyakini ajaran atau pemberitahuan orang yang patut dipercaya, agama premana dibedakan menjadi dua yakni: a) Wedika, mendapatkan kebenaran dengan cara mempelajari Weda sastra suci; b) Laukika, mendapatkan kebenaran dengan cara meyakini pemberitahuan orang yang dapat dipercaya dari orang suci atau guru suci. Kedua, Anumana Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara menarik kesimpulan dari suatu peristiwa; contohnya: adanya asap tentu ada api, ada dunia tentu ada penciptanya, ada anak tentu ada ayah dan ibunya. Ketiga, Pretyaksa Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara mengamati secara langsung melalui alat indra atau batin. Contohnya: api itu diketahui panas karena dapat dirasakan panasnya saat mengenai indra kulit; garam itu diketahui rasanya asin saat dikecap oleh lidah.

Namun cara yang kedua dan ketiga memerlukan analisis yang lebih tinggi dibandingkan dengan mempercayai ajaran suci Weda, yang dibutuhkan adalah membaca pustaka suci yang sudah diterjemahkan dan diterapkan dalam buku teks pelajaran agama Hindu; pada cara / teknik anumana premana, kesalahan persepsi bisa terjadi oleh karena logika yang keliru, itu sebabnya logika yang benar menentukan juga persepsi yang benar terhadap suatu kebenaran; pratyaksa premana merupakan teknik perbandingan, logika perbandingan juga tergantung dari kemampuan indra dalam menangkap fenomena alam yang terjadi, mengenai hal-hal abstrak misalkan: Angin tidak terlihat tapi dapat dirasakan: Tuhan tidak dapat dilihat tapi ada, namun cara mengetahuinya harus dengan cara yang benar, kebenaran ini juga kembali kepada teknik agama Premana mempercayai pustaka suci yang sudah teruji kebenarannya. Untuk hal-hal yang dapat dilihat dan dapat dibuktikan dengan indra, kebenaran yang diperoleh dari anumana dan pratyaksa merupakan kebenaran fakta.

Ajaran Nyaya tentang empat sumber untuk mendapatkan kebenaran disebutkan Pendit (2007:11) adalah: Pratyaksa (persepsi), anumana (kesimpulan), upamana (perbandingan dan persamaan), sabda (wewenang dan testimoni). Nala dan Wiratmadja (2004:71-80) juga merinci adanya empat cara untuk mendapatkan kebenaran dalam ajaran agama Hindu, yakni:

Agama Premana, adalah kebenaran yang diperoleh dari kitab suci, dengan meyakini hal yang disampaikan dalam kitab suci; pratyaksa pramana, cara pratyaksa ini demikian luhurnya, dengan cara menyaksikan langsung kebenaran Tuhan dengan cara melihat langsung ataupun mendengar sabda suci Tuhan; anumana premana dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan, dari gejala-gejala alam yang diketahui kebenarannya; upamana premana kebenaran diperoleh dengan melakukan perbandingan.

Ajaran Premana dari Filsafat Nyaya (Nyaya Darsana) Nyaya Darsana didirikan oleh Ashaka Gotama, Nyaya menempati urutan pertama dalam keseluruhan sistem falsafah ortodoks India, karena ia seolah-olah berperan sebagai pendahuluan atau pintu pertama memasuki keseluruhan sistem falsafah India (Sarva Darsana Samgraha). Didasarkan pada penalaran secara analitik. Sebagai sistem falsafah yang didasarkan pada kitab Veda, Nyaya terus berkembang hingga abad ke-20. Tidak mengherankan apabila bergitu banyak wacana tertulis dilahirkan dari para filosof Nyaya. Arti etimologis Nyaya, ialah ’kembali’, maksudnya mencari kembali kebenaran melalui argumentasi. Falsafah Nyaya bersifat intelektual dan analitis. Vatsyayana mengembangkan sistem ini berdasarkan ajaran Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dalam bukunya Aksapada dan Dirghatapas. Buku Vatsyayana yang memuat ajaran falsafah Nyaya ialah Nyaya Bhasya (Ulasan Tentang Nyaya) (Pendit, 2007:1). Ajaran Nyaya menjelaskan 16 substansi:

(1) Pramana, menetapkan metode pengetahuan yang benar; (2) Prameya, menetapkan obyek pengetahuan yang benar; (3) Samsaya, mengajukan keraguan pada sesuatu yang dianggap
benar; (4) Dsrtanta, mengemukakan contoh yang benar; (5) Prayojana, menetapkan tujuan pengamatan secara benar; (6) Tarka, menggunakan argumentasi/hujah yang benar; (7) Siddhanta, menegakkan ajaran dan pengetahuan; (8) Awayawa, menetapkan tahapan-tahapan pengetahuan; (9) Nimaya, membuat ketentuan yang sesksama; (10) Vada, melakukan diskusi yang mendalam; (11) Jalpa, membantah yang tidak benar; (12) Vitanda melakukan kritik secara cerdas; (13) Hetva-bhasa, mencela cacat dan kekurangan dari penalaran; (14) Cala, memuat argumentasi; (15) Jati, ketanpatujuan; (16) Nigraha-sthana, mengiritik secara tuntas pengetahuan yang diperoleh selama ini (Pendit, 2007:3-10).

Namun secara umum pengetahuan dalam ajaran Nyaya dapat diterima seperti yang dikembangkan tokoh utama falsafah Nyaya ialah Vatsyayana. Menurut filosof ini, dunia di luar manusia merupakan keberadaan yang terpisah dari pikiran. Pengetahuan tentang dunia diperoleh melalui pikiran, dibantu oleh pengamatan dan pencerapan indra. Pengetahuan dapat disebut benar atau salah tergantung pada sarana yang dipergunakan dalam mendapat pengetahuan. Secara sistematis pengetahuan menyatakan empat keadaan: (1) Pramata atau si pengamat, yaitu keadaan jiwa, pikiran dan kesadarannya; (2) Prameya atau obyek yang diamati; (3) Pramiti atau hasil dari pengamatan, yang ditentukan oleh keadaan si pengamat dalam hubungannya dengan obyek yang diamati; (4) Pramana atau cara, kaedah, metode pengamatan atau model pendekatan yang digunakan (Pendit, 2007:2).

Menurut Vatsyayana, dalam mencapai kebenaran rasional tentang sesuatu hal, diperlukan bantuan 4 atau empat kaedah pengamatan: (1) Pengamatan langsung (pratyaksa pramana); (2) Penyimpulan (anumana pramana); (3) Perbandingan (upamana pramana); dan (4) Penyaksian (sabda pramana).

Tingkat sekolah dasar dapat kiranya cara kerja Catur Premana dapat disederhanakan lagi menjadi tiga yakni Agama Premana, Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Pada tataran Agama Premana dipandang relatif mudah dibandingkan dengan tataran Pratyaksa oleh karena pada tahapan ini siswa sudah mulai diharapkan untuk mengamati dan melakukan pencatatan terhadap materi yang disajikan; sedangkan tataran Anumana Premana pada tataran ini siswa diharapkan sudah menggunakan analisis sebagai kecakapan yang lebih sulit dibanding tataran sebelumnya.

Diagram cara kerja teknik APA ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Pada Anumana Premana sudah dianggap analisis kritis secara logis terhadap suatu objek yang dikaji, sehingga aspek Anumana Premana merupakan penggabungan dari Anumana Premana dan Upamana Premana. Oleh karena kedua-duanya mendasarkan pada teknik analitik logis; Anumana Premana mendasarkan pada analisis hubungan sebab-akibat sehingga dapat diambil suatu kesimpulan dari hubungan sebab akibat tersebut; sedangkan upamana premana menerangkan kebenaran berdasarkan atas perbandingan atau perumpamaan, membandingkan antara satu objek dengan objek lainnya, sehingga dapat diumpamakan objek yang abstrak yang tidak dapat ditanggapi oleh alat indra biasa. Sehingga kedua-duanya dapat dikatakan sebagai teknik perbandingan, sebab membandingkan objek satu dengan objek lainnya, setelah itu diberikan argumentasi untuk mendapatkan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi.

Pada artikel ini, agama premana adalah sumber pertama yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjelaskan fenomena / gejala, sedangkan pratyaksa dan anumana adalah sumber kedua sebagai alat untuk menguatkan kebenaran yang ada dalam sastra-sastra agama, antara pratyaksa premana dan anumana premana satu sama lain sebagai teknik untuk memperoleh perbandingan-perbandingan sehingga ajaran agama dapat diterima secara logis dan analisis. Hal inilah yang disebut dengan Tri Premana dalam Artikel ini, Tri adalah tiga, premana adalah cara, artinya tiga cara untuk mendapatkan kebenaran, yang terdiri dari Agama Premana, dengan jalan mempercayai ajaran agama yang bersumber dari sastra-sastra suci, pratyaksa premana adalah teknik untuk mendapatkan kebenaran dengan cara mengobservasi kondisi suatu fakta, sedangkan anumana premana dilakukan dengan melakukan perbandingan, membuat kesimpulan dari hubungan sebab akibat, serta membandingkan objek satu dengan objek lainnya berdasarkan atas hukum yang berlaku umum di alam semesta.

* Penulis, I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H adalah salah satu Guru Agama Hindu di Kabupaten Buleleng.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, Rudia, 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. Jakarta: STAH Dharma Nusantara.

Nala, I Gusti Ngurah dan Adia Wiratmadja, 2004. Denpasar: Upada Sastra.

Pendit, S, 2007. Filsafat Hindu Dharma (Sad Darsana) Enam Aliran Astika (Orthodoks) Buku Kedua. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Pudja, I Gde, dan Tjok Rai Sudhartha, 2003. Manawa Dharma Sastra. Dirjen Bimas Hindu dan Budha Jakarta.

Konsepsi Ngaben

Konsepsi Ngaben

Jika dilihat dari pelaksanaannya yang berhubungan dengan Panca Yadnya, Ngaben merupakan salah satu dari lima jenis yadnya yang dilaksanakan, Oka Supartha (1978:16) menyebut Panca Yadnya yang terdiri dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Kelima yadnya tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, Dewa Yadya  adalah korban suci secara tulus ikhlas yang ditujukan kehadapan Hyang Widi Wasa dengan Segala manefestasinya yang dilaksnakan di tempat-tempat suci, seperti Sanggah atau Merajan, kahyangan Tiga, dang kahyangan Sad Kahyangan dan Kahyangan jagat. Kedua, Upacara Rsi Yajna adalah korban suci secara tulus ikhlas kepada Maha Rsi dengan jalan menobatkan seorang sulinggih atau pinandita dengan jalan melaksanakan upacara mediksa dan me-Dwijati, agar beliau dapat menjadi pemimpin agama yang bisa mengarahkan umatnya menuju kepada hal-hal yang positif, sesuai dengan ajaran agama Hindu. Ketiga, upacara pitra yajna adalah suatu korban suci secara tulus ikhlas kepada orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dengan melaksanakan upacara atiwa-tiwa, ngaben, mamukur, dan upacara ngeligihang  Dewa Hyang. Keempat, manusa yajna adalah suatu korban suci yang tulus ikhlas yang bertujuan untuk memarisudha dan membersihkan manusia secara lahir batin sejak manusia berada dalam kandungan sampai manusia meninggal dunia. Kelima, Bhuta Yajna adalah suatu korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas kepada para bhuta dalam wujud binatang dan tumbuh-tumbuhan serta terhadap makhluk yang dianggap lebih rendah daripada manusia agar tidak mengganggu manusia dalam kehidupannya atau dengan tujuan menjaga keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Secara umum di Bali dalam pelaksanaan Pitra Yadnya sering disebut dengan upacara Ngaben. Ngaben dalam pelaksanaan upacara Pitra Yadnya umat Hindu di Bali secara umum. Dalam menguraikan pengertian Ngaben perlu ditelusuri serta mengenai arti kata Ngaben. Di dalam istilah yang paling populer dari inti pelaksanaan upacara ini dikenal dengan sebutan upacara pengabenan. Interpretasi yang muncul terhadap kata ngaben sebagai bagian inti dari pelaksanaan Pitra Yadnya.

“Lontar Siwa Tattwa Purana” disebutkan “Atiwa-tiwa ingaranan Ngaben”. Artinya: atiwa-tiwa dinamai juga Ngaben. Kata ngaben menurut Kamus Bali Indonesia diartikan melaksanakan upacara pembakaran mayat untuk penyucian roh orang yang meninggal dan mengembalikan unsur-unsur badaniah kepada asalnya. Setelah mayat dibakar abunya dibawa ke laut (Tim Penyusun, 1993: 234). Istilah Ngaben dijelaskan sebagai berikut.

Ngaben sering pula disebut dengan atiwa-tiwa atau malebu, lebu artinya abu. Demikianlah ngaben berasal dari urat kata abu, kata abu mendapat akhiran “an” menjadi “abuan” menjadi “abon”, kemudian mengalami perubahan menjadi “ngabon”, untuk menghaluskan dengan eras onek (meta-mesis) untuk menghaluskan arti, “ngabon” menjadi “ngaben”. Upacara Ngaben pada umumnya dilakukan dengan membakar sawa sehingga menjadi abu, namun hakikat tujuannya tidak sekadar sampai hanya menjadi abu. Abu hanyalah wujud sekala (lahiriah) semata. Secara niskala (batiniah) Ngaben bertujuan untuk memusnahkan segenap jasad sawa sehalus-halusnya, sehingga wujud sawa dari benda yang wungkul menjadi unsur, elemen panca mahabhuta, yakni asal materi yang jauh lebih halus dari abu, terutama semua unsur mahabhuta kembali pada induk unsur masing-masing (Kaler, 1993 : 18-19).

Sedangkan pendapat lain mengungkapkan bahwa, Ngaben adalah merupakan upacara yang tergolong di dalam upacara Pitra Yadnya. Kalimat pitra yadnya terdiri dari suku kata pitra (pitara) dan yadnya. Pitra berarti bapak atau ibu leluhur yang terhormat. Yadnya berarti penyaluran tenaga atau dasar suci untuk keselamatan bersama atau pengorbanan. Jadi yang dimaksud pitra yadnya yaitu suatu penyaluran tenaga (sikap, tingkah laku, perbuatan) atau dasar ikhlas yang ditunjukkan kehadapan leluhur untuk keselamatan bersama (Putra, 1995 : 12).

Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa “ngaben” merupakan upacara pitra yadnya yang pada intinya dilakukan dengan membakar mayat orang yang meninggal dunia hingga menjadi abu, pengabuan tersebut dengan filosofi untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke bentuk yang lebih halus lagi yakni Panca Tan Matra dan bentuk yang lebih halus lagi.

Ngaben” yang dimaksud adalah kata “ngaben” yang merupakan Bahasa Bali berasal dari kata “Api”. kata api ini mendapat prefik sengau’ng’ dan sufik “an” sehingga kemudian menjadi “ngapian” Kata ngapian lalu menjadi sandi ngapen. Huruf P B W adalah satu warga sehingga berubah menjadi B. Dengan demikian kata ngapen menjadi ngaben yang artinya menuju api, api konkrit membakar jenazah (Wiana, 1998:33).

Ngaben secara umum diartikan sebagai proses mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta, dalam prosesnya terdapat pelaksanaan “ngabu” atau prosesi membakar sawa orang yang sudah meninggal. Mengenai jenis Ngaben dapat dibedakan menjadi tiga, yakni Sawa Wedana, Asti Wedana dan Atma Wedana. Pelaksanaan Sawa Wedana sering dikaitkan dengan upacara Ngaben dengan membakar langsung sawa setelah meninggal dunia; Asti Wedana merupakan upacara Ngaben yang dilakukan dengan mengubur terlebih dahulu atau serin disebut dengan mekingsan di Pertiwi, setelah itu baru dilakukan “ngasti” mengangkat kembali tulang yang masih tersisa di liang kubur untuk selanjutnya di bakar (dikremasi); atma wedana sering disebut sebagai upacara Ngaben dengan menggunakan simbol atma setelah pelaksanaan mengubur terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Kaler, I Gst Ketut, 1993. Ngaben: Mengapa Mayat Dibakar?. Yayasan Dharma Narada.

Mas Putra, Ny I Gusti A, 2001, Upacara Yadnya, Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Kehidupan Beragama Tersebar di Sembilan Kabupaten Dati II.

Tim Penyusun,1993. Kamus Bali-Indonesia. Pemda Bali.

Wiana, I Ketut, 1998. Berbakti pada Leluhur Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang. Surabaya: Paramitha.

 

Konsepsi Tradisi dalam Kebudayaan Bali

Menurut arti Kamus (Tim Penyusun, 2001:1208) kata tradisi diartikan sebagai 1) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 2) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Sedangkan kata tradisional sebagai bentukan kata dari “tradisi” artinya “sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun”.

Tradisi dalam bahasa Inggris disebutkan dengan tradition yang diartikan dengan kebiasaan, atau budaya. Kontjaraningrat (1985:1-2) menjelaskan bahwa budaya (tradisi) tersebut adalah seluruh (total) karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya, dan hanya dapat dicetuskan oleh manusia setelah melalui suatu proses belajar.

Koentjaraningrat (1985: 100) juga mengungkapkan bahwa wujud dari kebudayaan terdiri dari paling tidak tiga wujud yaitu: (1) kompleksitas dari gagasan, konsep dan pikiran manusia, (2) sebagai kompleksitas aktivitas dan, 3) berwujud sebagai benda. Demikian juga diungkapkan oleh Wiana (2002:10-11) tradisi dalam kitab suci Weda diartikan sebagai persepsi atau pandangan, patokan, patokan rohani atau juga berarti suatu wilayah. Dresta artinya persepsi yang sama mengenai patokan-patokan rohani dalam menata kehidupan dalam suatu wilayah tertentu. Secara sederhana disebutkan ada empat dresta yang telah dipegang oleh umat Hindu di Bali yakni; purwa dresta, loka dresta, desa dresta dan sastra dresta. Dalam istilah lain penggunaan dresta sering disebut dengan tri samaya yakni; atita, nagata dan wartamana. Atita adalah pandangan umat di masa lampau, nagata adalah harapan pada masa yang akan datang dan wartamana artinya prilaku yang harus diwujudkan sekarang. Di dalam kitab suci Manawa Dharmasastra, VII.10 juga dijelaskan:

Karyam so’veksya çaktimca

Deçakalañca tattvatah,

Kurute dharma siddhyartham

Viçvarupam punah punah

 

Terjemahan:

Setelah mempertimbangkan sepenuhnya tentang hakekat tujuan (Iksa), kekuatan/kemampuan (Sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan sastra yang dimiliki (Tattva) dia lakukan berbagai wujud perbuatan (Yajña) untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran) (Pudja & Tjok Rai Sudharta, 1997: 355).

Dharma yang melalui berbagai bentuk budaya umat, sehingga dharma tetap dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat. Berdasarkan atas sloka di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) iksa, berarti hakikat tujuan, aspek utama yang menjadi sasaran yang harus direalisasikan. Hakikat tujuan ini dikaitkan dengan tujuan beragama Hindu, sehingga tidak bertentangan dengan norma yang berlaku; (b) sakti merupakan kesadaran kemampuan, baik kemampuan Jñana (pengetahuan) maupun kemampuan BalaKosa (fisik – materiil) yang mendukung untuk merealisasikan cita – cita/tujuan itu; (c) desa, berarti tempat dimana suatu aktivitas dilaksanakan. Perbedaan tempat/daerah tentu akan mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama baik yang menyangkut tradisi maupun kaidah hukum positif yang berlaku; (d) kala, berarti waktu, sebagai aspek yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menerapkan ajaran agama sehingga tafsir terhadap ketentuan sastra tidak berlaku secara absolut dan tidak mengaburkan asas universal dari ajaran tersebut; (e) tattva, berarti filosofi atau pandangan/pengetahuan tentang kebenaran yang diyakini dan menjadi landasan sistem fikir dalam upaya pembudayaan ajaran agama yang dianut/diterapkan.

Tradisi diartikan sebagai prilaku atau kebiasaan masyarakat lokal yang dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu yang berlangsung lama, dan masih tetap diterima atau dilaksanakan hingga kini. Karena eksistensinya tersebut, sehingga bagi masyarakat setempat diyakini sebagai prilaku yang baik dan harus tetap dipertahankan, oleh karena sebagai ciri khas suatu daerah, selain itu juga oleh adanya nilai tertentu yang dianut oleh masyarakat pelaksana tradisi tersebut dalam hubungannya dengan prilaku, estetik, religius, pengetahuan, serta kreativitas berkesenian yang menjadi ciri khas kebudayaan mereka.

Daftar Pustaka

Koentjaraningrat, 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Pudja, Gede dan Tjok Rai Sudhartha, 1997. Kompendium Hukum Hindu, Manawa Dharma Sastra (Manu Smerti). Jakarta: Dirjen Bimas Hindu dan Buddha.

Wiana, I Ketut, 2002. Mengapa Bali di Sebut Bali?. Denpasar; Bali Post.

%d blogger menyukai ini: