Filsafat

filsafat pendidikan Hindu

22 Tanggapan

  1. FILSAFAT GAJAH MADA
    Oleh: IGN.Suardeyasa

    Ada satu yang harus diperhatikan, saya tidak mengatakan ini sebagai sebuah “kekeluruan”, akan tetapi mari bersama berpikir mendalam tentang kata “Gajah Mada” dan “Majapahit” nya. Bagi saya, gajah adalah ukuran tenaga yang kuat, sedangkan “mada” coba lihat ajaran Hindu, tri mala: Moha, mada, dan Kasmala. Mada, itu adalah kebingungan prilaku. Justru saya mengatakan sebaliknya, mada adalah kekuatan untuk mengingatkan agar kita tidak keliru dalam berprilaku, sekarang apa benar sejarah yang begitu besar itu kembali bertanya, apa benar “Gajah Mada” itu berwujud manusia super pada jamannya.

    Lalu bagaimana dengan “Majapahit”, jika dilihat dari asal katanya “Maja” dan “pahit”, maja jika dibilang orang Bali adalah bile, yang rasanya pahit, ini mencirikan sebuah rasa sakit yang mendalam, kerajaan yang sebesar itu bisa runtuh kropos dari dalam dirinya. Hancur lulus lantak..konon nama Majapahir adalah “Majalengka” (baca Sabdapalon Naya Genggong), Majakerja, maja disini dihubungkan dengan baja, yang artinya kuat, sedangkan lengka itu adalah sebutan untuk sebuah kerajaan contoh “Alengka” dalam kisah Ramayana.
    Tulisan ini juga diposting di: http://www.suardeyasasri.wordpress.com

    • Saya ingin mengomentari pendapat arde kemarin, sebenarnya nama Gajah adalah menunjukkan tingkatan jabatan seseorang pada jaman kerajaan hindu di jawa dulu. Nama-nama binatang sering dipakai untuk menentukan tingkatan jabatan seseorang di pemerintahan. Sebut saja, Gajah Para, Kebo Iwa, Lembu Sora, dllnya.

      Sedangkan untuk nama Mojopait, sebenarnya letak mojopait adalah di hutan Tarik dekat dengan aliran sungai brantas. Di hutan Tarik tersebut banyak sekali ditemui pohon Mojo. Orang-orang Mojopait dulu terpaksa memakan buah Mojo di sekitar hutan tarik tersebut dikarenakan belum adanya lahan pertanian dan masih hutan belantara.

      Sebenarnya nama resmi Mojopait pada saat itu adalah Wilwatikta, alasannya karena banyak sekali peninggalan- peninggalan sejarah seperti kitab Sutasoma dan kitab-kitab lainnya menyebut nama Wilwatikta sebagai nama dari Mojopait tersebut.

      Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penjelasan saya di atas. Jika ada teman-teman yang ingin memperjelas penjelasan saya di atas, saya persilahkan.

      Adi
      “I Ketut Adi Wibarddi”

  2. KEPERCAYAAN HINDU

    Beberapa kepercayaan Hinduism; – Hindu percaya akan yang dan semua yang Tertinggi dapat meresap menjadi kedua-duanya yang membangkitkan semangat dan tetap ada. – Hindus percaya akan ketuhanan dari empat Veda.- Hindu percaya bahwa alam semesta mengalami siklus ciptaan tak ada akhirnya, pemutusan dan pemeliharaan.- Hindu percaya akan karma, hukum penyebab dan efek.- Hindus percaya bahwa jiwa menjelma.- Hindu percaya bahwa mahluk Ilahi ada di dalam dunia tak terlihat.- Hindus percaya bahwa seorang guru diterangi, atau satguru adalah penting untuk mengetahui Kemutlakan.- Hindu percaya bahwa semua hidup suci, untuk; menjadi mencintai dan dipuja-puja, dan oleh karena itu praktek ahimsa, non-violence, dalam hati, perbuatan dan kata. – Hindu percaya bahwa tidak hanya satu agama memberi pengajaran satu-satunya cara ke keselamatan.
    Sumber: http://www.hindu.blogspot.com

  3. Ramalan Sabdo Palon (jawa)

    Sinom :
    1.
    Pada sira ngelingana,
    Carita ing nguni-nguni,
    Kang kocap ing serat babad,
    Babad nagri Mojopahit,
    Nalika duking nguni,
    Sang-a Brawijaya Prabu,
    Pan samya pepanggihan,
    Kaliyan Njeng Sunan Kali,
    Sabda Palon Naya Genggong rencangira.
    2.
    Sang-a Prabu Brawijaya,
    Sabdanira arum manis,
    Nuntun dhateng punakawan,
    “Sabda palon paran karsi”,
    Jenengsun sapuniki,
    Wus ngrasuk agama Rosul,
    Heh ta kakang manira,
    Meluwa agama suci,
    Luwih becik iki agama kang mulya.
    3.
    Sabda Palon matur sugal,
    “Yen kawula boten arsi,
    Ngrasuka agama Islam,
    Wit kula puniki yekti,
    Ratuning Dang Hyang Jawi,
    Momong marang anak putu,
    Sagung kang para Nata,
    Kang jurneneng Tanah Jawi,
    Wus pinasthi sayekti kula pisahan.
    4.
    Klawan Paduka sang Nata,
    Wangsul maring sunya ruri,
    Mung kula matur petungna,
    Ing benjang sakpungkur mami,
    Yen wus prapta kang wanci,
    Jangkep gangsal atus tahun,
    Wit ing dinten punika,
    Kula gantos kang agami,
    Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
    5.
    Sinten tan purun nganggeya,
    Yekti kula rusak sami,
    Sun sajekken putu kula,
    Berkasakan rupi-rupi,
    Dereng lega kang ati,
    Yen durung lebur atempur,
    Kula damel pratandha,
    Pratandha tembayan mami,
    Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.
    6.
    Ngidul ngilen purugira,
    Ngganda banger ingkang warih,
    Nggih punika medal kula,
    Wus nyebar agama budi,
    Merapi janji mami,
    Anggereng jagad satuhu,
    Karsanireng Jawata,
    Sadaya gilir gumanti,
    Boten kenging kalamunta kaowahan.
    7.
    Sanget-sangeting sangsara,
    Kang tuwuh ing tanah Jawi,
    Sinengkalan tahunira,
    Lawon Sapta Ngesthi Aji,
    Upami nyabrang kali,
    Prapteng tengah-tengahipun,
    Kaline banjir bandhang,
    Jerone ngelebne jalmi,
    Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
    8.
    Bebaya ingkang tumeka,
    Warata sa Tanah Jawi,
    Ginawe kang paring gesang,
    Tan kenging dipun singgahi,
    Wit ing donya puniki,
    Wonten ing sakwasanipun,
    Sedaya pra Jawata,
    Kinarya amertandhani,
    Jagad iki yekti ana kang akarya.
    9.
    Warna-warna kang bebaya,
    Angrusaken Tanah Jawi,
    Sagung tiyang nambut karya,
    Pamedal boten nyekapi,
    Priyayi keh beranti,
    Sudagar tuna sadarum,
    Wong glidhik ora mingsra,
    Wong tani ora nyukupi,
    Pametune akeh sirna aneng wana.
    10.
    Bumi ilang berkatira,
    Ama kathah kang ndhatengi,
    Kayu kathah ingkang ilang,
    Cinolong dening sujanmi,
    Pan risaknya nglangkungi,
    Karana rebut rinebut,
    Risak tataning janma,
    Yen dalu grimis keh maling,
    Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.
    11.
    Heru hara sakeh janma,
    Rebutan ngupaya bukti,
    Tan ngetang anggering praja,
    Tan tahan perihing ati,
    Katungka praptaneki,
    Pageblug ingkang linangkung,
    Lelara ngambra-ambra,
    Waradin saktanah Jawi,
    Enjing sakit sorenya sampun pralaya,
    12.
    Kesandung wohing pralaya,
    Kaselak banjir ngemasi,
    Udan barat salah mangsa,
    Angin gung anggegirisi,
    Kayu gung brasta sami,
    Tinempuhing angin agung,
    Kathah rebah amblasah,
    Lepen-lepen samya banjir,
    Lamun tinon pan kados samodra bena.
    13.
    Alun minggah ing daratan,
    Karya rusak tepis wiring,
    Kang dumunung kering kanan,
    Kajeng akeh ingkang keli,
    Kang tumuwuh apinggir,
    Samya kentir trusing laut,
    Seia geng sami brasta,
    Kabalebeg katut keli,
    Gumalundhung gumludhug suwaranira.
    14.
    Hardi agung-agung samya,
    Huru-hara nggegirisi,
    Gumleger suwaranira,
    Lahar wutah kanan kering,
    Ambleber angelebi,
    Nrajang wana lan desagung,
    Manungsanya keh brasta,
    Kebo sapi samya gusis,
    Sirna gempang tan wonten mangga puliha.
    15.
    Lindu ping pitu sedina,
    Karya sisahing sujanmi,
    Sitinipun samya nela,
    Brekasakan kang ngelesi,
    Anyeret sagung janmi,
    Manungsa pating galuruh,
    Kathah kang nandhang roga,
    Warna-warna ingkang sakit,
    Awis waras akeh kang prapteng pralaya.”
    16.
    Sabda Palon nulya mukswa,
    Sakedhap boten kaeksi,
    Wangsul ing jaman limunan,
    Langkung ngungun Sri Bupati,
    Njegreg tan bisa angling,
    Ing manah langkung gegetun,
    Keduwung lepatira,
    Mupus karsaning Dewadi,
    Kodrat iku sayekti tan kena owah.

    Bahan: “adi_wibardi”
    mahapatih_gajahmada@yahoogroups.com

  4. Ramalan Sabdo Palon
    ( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )
    1.
    Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
    2.
    Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
    3.
    Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
    4.
    Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
    5.
    Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
    6.
    Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
    7.
    Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
    8.
    Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
    9.
    Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
    10.
    Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.
    11.
    Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.
    12.
    Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
    13.
    Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
    14.
    Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
    15.
    Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
    16.
    Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

    Bahan:
    “adi_wibardi”
    mahapatih_gajahmada@yahoogroups.com

  5. Maaf, agak ooT diluar bahasan. Maaf baru sempat membalas jawaban dan pertanyaan Anda atas komentar saya di blog Anda.

    Memang saya bertanya berdasarkan perspektif saya karena saya tidak tahu perspektif Anda..

    1. Istilah agama yang saya maksud bukan secara bahasa tetapi secara istilah sebagaimana dipahami dalam negara kita, ada agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha. Lalu bisa saja karena perbedaan yang terlalu jauh antara kelompok dalam suatu agama maka kelompok lain mengeluarkannya dari agama itu, misalnya dalam Islam, akan dikeluarkan beberapa kelompok sehingga disebut agama Syi’ah dan agama Ahmadiyah.

    2. Apa tataran tata bahasa yang baku yang mengharuskan kata “siapa” hanya untuk mempertanyakan manusia? apakah bahasa Indonesia? maka saya tidak bermaksud seperti itu. Saya mencontoh bahasa Arab, kata siapa dalam bahasa Arab adalah “Man” dan digunakan tidak untuk manusia saja. Bisa digunakan untuk menanyakan tuhan, “Man Robbuka?” -siapa tuhanmu? atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi?

    Kata “tuhan” adalah kata dalam bahasa Indonesia yang paling mendekati arti kata “Robb” dalam bahasa Arab, dan selama ini sudah lazim digunakan. Kapan kata “tuhan” mulai digunakan dalam bahasa Indonesia maka saya tidak tahu, malah saya dengar asal katanya dari bahasa sansekerta yang berarti pemimpin dari para Dewa. Saya sendiri tidak tahu apa yang Anda maksud dengan Dewa? Saya juga tidak memaksudkan kata “tuhan” dengan kata “ITU” karena saya tidak tahu maksud kata “ITU”.

    Sedangkan kata “tuhan” yang saya maksud sebagai terjemahan dari kata bahasa Arab “robb” maka bernakna: Yang telah menciptakan alam semesta, menguasai, mengatur memelihara, memiliki, memberi rizki, dsb.

    3. Ya, nabi memang digunakan oleh kepercayaan Abrahamik. Nabi adalah seseorang yang diutus oleh Robbul’alamin (Tuhan seluruh alam) untuk menyampaikan pesan-Nya pada manusia.

    Lalu apa yang dimaksud Maha Rsi? apakah pengertiannya hampir sama dengan Nabi?

    4. Wahyu yang saya maksud adalah perkataan tuhan yang disampaikan pada nabi.

  6. Maaf, bagaimana tanggapan Anda tentang artikel ini, mungkin Anda baru mengetahuinya..

    NABI MUHAMMAD SAW DALAM KITAB SUCI UMAT HINDU

    Pundit Vedaprakash Upadhyay, professor beragama Hindu, dalam bukunya yang menghebohkan mengklaim bahwa “Avatar” yang tertera dalam Kitab Suci agama Hindu cocok dengan kepribadian Nabi Muhammad SAW. Di India buku tentang fakta itu telah dipublikasikan. Buku itu menjadi topik hangat diskusi dan isu di dalam negeri. Penulisnya adalah Pundit Vedaprakash Upadhyay yang merupakan seorang Profesor Hindu.

    Judul bukunya adalah Kalki Avatar. Pundit Vedaprakash Upadhyay adalah pemeluk Hindu Brahmin berasal dari Bengali. Dia merupakan peneliti di universitas Allahabad. Setelah bertahun-tahun meneliti kitab Veda, Purna and Upnishad dia mempublikasikan bukunya itu dan tidak kurang dari delapan orang pundit terkenal mengakui argumen-argumen yang disodorkannya. Menurut keyakinan Hindu, dunia Hindu sedang menanti kedatangan “seorang pembimbing sekaligus pemimpin” namanya Kalki Avatar. Diskripsi yang ada dalam teks agama Hindu hanya menerangkan nabi Muhammad SAW dari arab Saudi. Oleh karena itu umat Hindu si seluruh dunia tidak perlu menunggu kedatangan Kalki Avatar (sang Inspirasi) dan harus segera mengimani nabi Muhammad SAW sebagai Kalki Avatar. Ini merupakan fakta yang diakui oleh pundit-pundit terkenal. Apa yang penulis dapat katakan adalah siapapun yang masih menunggu kedatangan Kalki Avatar adalah menyiksa diri. Utusan Allah itu telah datang dan pergi pada empat belas abad yang lalu. Penulisnya mengutip keterangan dari kitab Veda dan Kitab Suci umat Hindu lainnya:

    1. Dalam Purana (kitab Hindu), dinyatakan bahwa Kalki Avatar adalah utusan Tuhan terkahir di dunia. Dia akan menjadi pembimbing bagi seluruh manusia di dunia.
    2. Menurut keyakinan hindu kelahiran Kalki Avatar akan terjadi di sebuah wilayah, yang menurut keyakinan Hindu sendiri adalah di wilayah Arab.
    3. Dalam kitab suci agama Hindu, nama ayah dan ibu Kalki Avatar adalah VISHNUBHAGAT dan SUMANI. Bila dicermati arti dari nama-nama itu kita akan sampai pada kesimpulan yang sangat menarik. VISHNU (artinya Allah) + BHAGAT (artinya Hamba). Hamba Allah = ABDULLAH (dalam bahasa Arab) adalah nama ayah rasulullah.SUMAANI (artinya damai atau ketenangan). Aminah (dalam bahasa Arab berarti Damai) adalah nama ibu rasulullah.
    4. Dalam kitab suci Hindu, disebutkan bahwa makanan pokok Kalki Avatar adalah kurma dan minyak zaitun dan dia merupakan orang paling jujur dan dapat dipercaya dalam agamanya. Tidak diragukan nabi Muhammad SAW memiliki sifat-sifat seperti itu.
    5. Dalam kitab Veda, Kalki Avatar akan terlahir dari sebuah suku terhormat. Kenyataannya nabi Muhammad lahir dari suku terhormat yaitu suku Quraysh.
    6. Tuhan mengajar Kalki Avatar melalui utusan-Nya (malaikat) dalam sebuah gua. Allah mengajarakan nabi Muhammad (SAW) melalui malaikat-Nya, Jibril, dalam gua yang terkenal dengan Gua Hira.
    7. Tuhan akan memberi Kalki Avatar kuda yang larinya kencang sehingga mampu melintasi dunia serta tujuh langit. Inilah yang kita kenal dengan Burraq dan Mi’raj (perjalan malam nabi Muhammad SAW melintasi tujuh langit).
    8. Tuhan akan menyediakan Kalki Avatar pertolongan gaib. Ini terjadi dalam peperangan Uhud.
    9. Satu keterangan luar biasa adalah disebutkan Kalki Avatar akan dilahirkan pada hari keduabelas di suatu bulan. Tepat sekali, nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabbiul Awwal (kalender Hijriah).
    10. Kalki Avatar memilki kuda bagus dan merupakan seorang mahir pedang.

    Di sini penulis menarik perhatian umat Hindu tentang hari dan kuda yang pada saat ini sudah tidak relevan. Sehingga sangat bodoh apabila orang berharap kedatangan Kalki Avatar, siapa lagi yang akan datang dengan kuda dan pedang? Sebenarnya dalam kitab itu, juga di Quran, terdapat sifat-sifat dan tanda-tanda Kalki Avatar yang merefleksikan sosok nabi Muhammad SAW.

    Dikutip dari: http://www.islam-christianity.com/articles/PBUH%20in%20Hidunism.rtf

    • muhamad bukan kalki…

    • kalau memang benar muhammad adalah kalki berarti kita semua harus kembali kepada hindu bukan berpaling dari hindu karena veda satu-satunya kitab hindu tiada yang lain kalki pembawa ajaran veda karma,atman,reinkarnasi,moksa dan lainnya seperti upacara yajna…

      • KALKI pengemban veda bukan merubah veda,KALKI penyelamat keterbatasan pikiran manusia bukan penghancur objek keterbatasan pikiran manusia… renungkan dengan baik….

    • KALKI pengemban veda….KALKI bukan penghancur atas keterbatasan pikiran manusia tetapi KALKI penguat keterbatasan pikiran manusia…KALKI tidak akan berbeda pengertian dan pendapat dengan veda…

    • KALKI pengemban veda bukan merubah ajaran veda…

  7. hindu beda pemahaman dengan muslim,kalaupun benar muhamad adalah kalki pertanyaannya adalah…kenapa tidak ritual pembakayaran mayat…? kenapa banyak arca di hancurkan…? jika muhamad adalah kalki pertanyaannya adalah…kenapa kita semua tidak kembali kepada hindu…kenapa harus mengajak untuk meninggalkan hindu…? kita semua tidak menunggu kalki tapi pernyataan veda seperti itu adanya tidak meninggalkan veda/hindu sedikitpun…

  8. dari awal kehancuran,yang saya maksud kehancuran adalah berpalingnya manusia dari veda,…KALKI pengemban veda bukan merubah pengetahuan veda…kalki bukan penghancur keterbatasan posisi pikiran manusia…

  9. Justru Sebaliknya; akan sangat kurang ajar jika “Pengikut yang percaya Muhammad-Kalki” melupakan Hindu….Lihat saja, agama-agama yang lebih mementingkan kekerasan, akan secepatnya ditinggalkan oleh pengikutnya… Agama yang akan di terima secara luas adalah agama yang hakiki, agama yang mencerdaskan bukan dengan membodohi, agama yang Membebaskan bukan dengan Janji-janji SORGA, tapi Pembebasan untuk lepas dari Sorga apalagi Neraka. Saya sependapat dengan DOGLAG….Sukseme, saya sudah baca blognya….Apik Sekali

  10. maaf beli,blognya hanya iseng-iseng saja semoga berguna bagi manusia-manusia hindu…sukseme beli…

  11. Whatever will be, will be,,,
    Jangan terjebak dengan apa yang namanya agama…
    satu hal yang pasti, this is my life and this is the way I am…
    ikutilah jejak leluhur karena mereka jauh lebih tau dari kita yg sekarang ini lebih banyak tidak tahunya,,,,

  12. Dalam Kerangka NKRI semestinya kita beragama….karena sudah diundang-undang-kan. Diatur, jika tidak orang tidak akan mendapatkan pelayanan dari pemerintah, lihat saja dalam membuat KTP sebagai kunci (key) dalam syarat pelayanan di masyarakat (instansi pemerintahan)….disebutkan “Agama…???”…kalau di Negara Barat seperti Soviet, mereka tidak mengenal agama….yah…begitulah….Terima Kasih banyak atas masukannya, untuk kita jadikan perbaikan di masa depan, untuk anak-anak kita…

  13. @dan
    bro, yang benar untuk ramalan nabi Muhammad berada disini, silahkan baca dan cermati :
    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/08/bhavisya-purana-purana-hindu-yang.html

    salam

  14. itu baru ramalan…..saya tidak percaya dengan ramalan….kadang dilebih-lebihkan….atau ada pengaruh campur tangan (non-Hindu) dalam purana-purana yang ditulis belakangan…….yang saya yakini betul 100% adalah Catur Veda…suci tidak ternoda……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: