ADMINISTRASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI (SESUAI PERMENDIKBUD 37 TAHUN 2018 TERBARU)

OM Swastyastu,
Salam Pandu Nusa….!

sahabat Guru Agama Hindu Nusantara, perlu diketahui bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Peraturan nomer 35, 36 dan 37 tahun 2018. Yang terpenting diantaranya adalah Permendikbud 37 tahun 2018 yang isinya mengenai Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KI-KD) seluruh jenjang pendidikan.

maka dari itu perlu disambut baik perubahan dan penyesuaian yang dilakukan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebuah petikan dari Permendikbud Nomor 35 tahun 2018 tentang Kurikulum 2013 untuk jenjang SMP / MT:

“Penyempurnaan Pola Pikir
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir
sebagai berikut:
1) penguatan pola pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap
materi yang dipelajari dan gaya belajarnya (learning style)
untuk memiliki kompetensi yang sama;
2) penguatan pola pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta
didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya);
3) penguatan pola pembelajaran secara jejaring (peserta didik
dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang
dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet);
4) penguatan pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa
aktif mencari semakin diperkuat dengan pendekatan
pembelajaran saintifik);
5) penguatan pola belajar sendiri dan kelompok (berbasis tim);
6) penguatan pembelajaran berbasis multimedia;
7) penguatan pola pembelajaran berbasis klasikal-massal dengan
tetap memperhatikan pengembangan potensi khusus yang
dimiliki setiap peserta didik;
8) penguatan pola pembelajaran ilmu pengetahuan jamak
(multidisciplines); dan
9) penguatan pola pembelajaran kritis.

Berkenaan dengan menyerap kesembilan Pola Pikir di atas, dicoba disusun sebuah perencanaan Pembelajaran Jenjang SMP pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas VII sebagai berikut:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
(Dikembangkan Sesuai Permendikbud 37 tahun 2018)

Nama Sekolah : SMP ……………………..
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Kelas/Semester : VII/II
Materi Pokok : Sad Atatayi
Alokasi Waktu : 3 jam Pelajaran (1 x Pertemuan)

A.Kompetensi Inti (KI)

KI-1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI-2 : Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleran, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
KI-3 : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
KI-4 : Mencoba, mengolah, dan menyaji berbagai hal dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan dari berbagai sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

PERTEMUAN II

B.Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator

1.4 Menghargai orang yang dapat menghindari ajaran Sad Atatayi dalam kehidupan sehari-hari
1.4.3 Disiplin dalam Mengidentifikasi Bagian-bagian Sad Atatayi
2.4 menghargai hak orang lain sebagai wujud pengendalian diri untuk menghindari perilaku Sad Atatayi
2.4.3 Memiliki kemandirian dalam Mengidentifikasi Bagian-bagian Sad Atatayi
3.4 Memahami Sad Atatayi sebagai perbuatan yang harus dihindari dalam kehidupan
3.4.3 Mengidentifikasi Bagian-bagian Sad Atatayi
4.4 Menyajikan ceritera singkat perilaku terkait ajaran Sad Atatayi yang harus dihindari
4.4.3 Membuat daftar Bagian-bagian Sad Atatayi

C.Tujuan Pembelajaran
Dengan pendekatan Saintifik dan Penerapan Model siswa dapat :
1.4 Menghargai orang yang dapat menghindari ajaran Sad Atatayi dalam kehidupan sehari-hari
1.4.3 Disiplin dalam Mengidentifikasi Bagian-bagian Sad Atatayi
2.4 menghargai hak orang lain sebagai wujud pengendalian diri untuk menghindari perilaku Sad Atatayi
2.4.3 Memiliki kemandirian dalam Mengidentifikasi Bagian-bagian Sad Atatayi
3.4 Memahami Sad Atatayi sebagai perbuatan yang harus dihindari dalam kehidupan
3.4.3 Mengidentifikasi Bagian-bagian Sad Atatayi
4.4 Menyajikan ceritera singkat perilaku terkait ajaran Sad Atatayi yang harus dihindari
4.4.3 Membuat daftar Bagian-bagian Sad Atatayi

D.Materi pokok :

c.Bagian-bagian Sad Atatayi
1. Agnida
Agnida adalah cara membunuh orang dengan cara membakar rumahnya sehingga orang yang ada dalam rumahnya mati terpanggang. Para teroris yang melakukan pengeboman termasuk dalam kelompok Agnida.

2. Visada
Visada adalah membunuh dengan menebarkan racun pada makanan yang dikonsumsi oleh korban. Menurut kepercayaan masyarakat ada dua jenis racun, yaitu racun yang dapat dilihat dengan kasat mata berupa zat kimia dalam bentuk arsenik yang cepat larut dalam makanan atau minuman sehingga tidak dapat dilihat mata. Jenis racun yang kedua adalah racun yang bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu magic atau kekuatan supranatural. Di Bali, jenis racun semacam ini disebut dengan cetik. Ada beberapa macam cetik, seperti croncong polo dan cadang galeng. Korban yang diracun tidak menyadari dirinya diracun karena yang melakukan pembunuhan dengan cetik ini berada di rumahnya sendiri.
Veda sebagai Kitab Suci Hindu juga memberikan jalan agar umat manusia terhindar dari kejahatan pembunuhan dengan mempergunakan racun cetik. Secara umum cara yang paling utama dilakukan adalah dengan selalu berbuat baik secara tulus ikhlas, selalu menyebut nama Siwa atau kirtanam, olah raga yang teratur, mengonsumsi makanan secara seimbang dan istirahat yang cukup.

3. Atharva
Cara membunuh dengan kejam dalam sad atatayi adalah mempergunakan ilmu hitam. Secara antropologi fenomena ini ternyata ada di seluruh masyarakat dunia baik yang tergolong sudah mempunyai peradaban maju maupun yang masih tergolong primitif. Ada wacana santet di masyarakat, seperti adanya bendabenda kiriman berupa puluhan jarum di tubuh seorang wanita di Yogyakarta pada pertengahan tahun 2012. Hal ini membuktikan santet itu memang ada di masyarakat. Di Bali sendiri terkenal dengan ilmu leak, yang dipercayai dapat membunuh bayi yang masih dalam kandungan dan memakannya secara gaib.

4. Sastraghna
Sastragna adalah membunuh dengan cara membabi buta atau mengamuk. Tragedi pembunuhan siswa taman kanak-kanak beberapa kali di Amerika Serikat adalah contoh dari sastragna ini. Dalam Sarasamuscaya 324 ada disebutkan:
“Kunang ikang wwang gumawayaken ikang ulah papa,
tan masih mwk ngaranika, apayapan awaknya
gumawayikang kapapan, awaknya amukti phalanya dlaha”
Terjemahan
Adapun orang yang melakukan perbuatan jahat itu, dinamai
dengan orang yang tidak sayang dengan dirinya sendiri atau
karena dirinya sendiri berbuat kejahatan (karenanya) dirinya
sendiri yang akan mengalami akibatnya kelak.

5. Dratikrama
Dratikrama adalah membunuh dengan cara melakukan perbuatan asusila, sehingga menghancurkan masa depan seseorang. Selain itu, dapat merusak tatanan nilai yang hidup di masyarakat.

6. Raja Pisuna
Raja Pisuna adalah membunuh dengan cara melakukan fitnahan. Perbuatan memfitnah ini sesungguhnya lebih kejam dari melakukan pembunuhan. Mereka yang melakukan fitnah sampai menyebabkan orang lain meninggal dunia, maka kelak setelah mati, rohnya akan terlempar ke Neraka Niraya, yaitu neraka yang sangat panas menyiksa. Kelak setelah lahir kembali ke dunia, maka kelahirannya akan menjadi binatang anjing. Kalaupun masih mempunyai sisa karma baik dan dapat kembali terlahir menjadi manusia, maka sepanjang hidupnya akan selalu mendapat hinaan. Bukan itu saja, sepanjang hidupnya akan selalu dalam keadaan susah dan menderita.

E.Metode Pembelajaran
Pendekatan : Saintifik
Model : Model Penyingkapan (Discovery Learning)
berbantuan Mind Mapping, dan Fill the Blank
Metode : Tanya jawab, Diskusi, penugasan, Study Kasus

Mengetahui,
Kepala SMP…………

………………………………………………..
NIP…………………..

Tejakula, 9 Januari 2019
Guru Agama Hindu dan Budi Pekerti

I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H
NIP. –

Berkas dapat di Download pada Tautan berikut: 05 rpp sad atatayi 2

Penjelasannya:
pada RPP ini dilengkapi dengan rancangan Penilaian Observasi autentik Assesment yaitu, penilaian Diri, Penilaian antar Teman dan observasi oleh guru untuk menilai Sikap Spiritual, sikap Sosial siswa.

untuk Pembelajaran HOTS diisi dengan Maching test, Fill the Blank, Studi kasus, TTS, Maching Tabel,

untuk Penilaian Keterampilan siswa dalam pembelajaran dilaksanakan performace, penilaian Produk, Proyek dan Forto polio yang terprogram dan terukur berdasarkan atas Rubrik penilaian Keterampilan.

semoga bermanfaat…!

Penilaian Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kurikulum 2013 Otomatis

OM Swastyastu,

Salam Pandu Nusa!

rekan-rekan Guru Agama Hindu se Nusantara, tentunya akan sangat repot apabila saudara dalam membuat Administrasi, setiap blanko penilaian menulis nama-nama siswa yang akan dinilai, menulis manual indikator penilaian serta tata cara penilaiannya.
pada kesempatan kali ini dicoba untuk diberikan contoh penilaian pada Kompetensi Inti 1 (spiritual), Kompetensi Inti 2 (Sosial) , dan Kompetensi Inti 4 (Keterampilan) . Mengapa ketiga Kompetensi ini yang akan dibahas?
oleh karena ketiga kompetensi ini yang perlu banyak mendapatkan pengembangan dalam hal melaksanakan penilaiannya.
bahwa sebuah perubahan besar yang terjadi pada sistem pembelajaran di Indonesia dengan menerapkan Autentic Assesment, yang menginginkan menilai seluruh aspek siswa baik spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Pada dokumen KTSP penilaian aspek spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan di lakukan secara parsial (terpisah-pisah), dalam Kurikulum 2013 yang telah di revisi tahun 2016, memungkinkan guru untuk menilai siswa pada seluruh aspek tersebut pada pembelajarannya, baik pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas.

Contoh Penilaian ketiga aspek Spiritual, Sosial dan Keterampilan dapat di Download pada Link Berikut: 12 Penilaian Tari Sakral

Cara mengacak Opsi Pilihan Ganda

Cara mengacak Opsi Pilihan Ganda
oleh IGN. Suardeyasa

salam rahayu, tabe, kulo nuwun, sampurasun….
mudah-mudahan tiada halangan.

kali ini kita akan coba belajar bersama Pandu Nusa, mengenai cara acak Opsi Kunci Jawaban, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

pertama opsi Kunci jawaban agar tidak berderet, misalkan kunci jawaban nomer satu A, nomer dua A, nomer tiga A, nomer empat juga A,

kedua menyebar kunci jawaban, pada setiap opsi, sehingga opsi kunci jawaban memiliki validitas instrumen yang tinggi

ketiga mempersiapkan Kunci Jawaban sedari awal, mengandung unsur reliabel instrumen, selama ini biasanya kita bekerja menyusun kisi-kisi tidak disertai dengan Opsi Kunci Jawaban.

berikut cara acak opsi Kunci Jawaban

Jumlah SOAL Pilihan Ganda dibagi dengan jumlah opsi jawaban

contoh:
Masalah (Problem)

sebuah tes dibuat 40 soal, dengan opsi A, B, C, D sejumlah empat opsi.
berapakah jumlah opsi masing-masing?

penyelesaian (Solusi)
Jumlah soal 40 / 4 = 10

berarti setiap opsi akan mendapat peluang yang sama untuk dipilih, yakni:
A = 10 kali
B = 10 kali
C = 10 kali
D = 10 kali juga

inilah unsur keseimbangan / peluang opsi jawaban. Dengan plus minus 3 masing-masing opsi, tidak harus sama persis 10:10 antar Opsi.

terima kasih, semoga bermanfaat,
kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas
Buleleng, 5-12-18

Cliford Geertz: Setidak-tidaknya Masih Hindu

Oleh IGN.Suardeyasa
Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Media Hindu…C.Geertz seorang tokoh Antropologi Budaya pernah melakukan penelitiannya di beberapa tempat seperti di Jawa dan Bali, hasilnya cukup surprise, bagaimanapun orang Jawa masih tetap Hindu, ini dibuktikannya dengan “tradisi Hindu yang masih tetap dilakukan sampai sekarang ini”,…silahkan lengkapnya dapat didownload….

MODEL PEMBELAJARAN HINDU

Kajian Model Pembelajaran Tri Semaya pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar

Oleh: IGN.Suardeyasa

Abstrak

Latar belakang penelitian ini, seiring kondisi Bali yang telah mengalami krisis pada berbagai segi, berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang dicatat oleh WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) terjadi defisit air yang terus meningkat mencapai 7,5 miliar m3/tahun dan diperkirakan tahun 2015 mencapai 27,6 miliar m3/tahun. Bali krisis listrik, dengan kapasitas 450 MW dan dipasok 200 MW (44,14 %) dari Jawa, pemakaian beban listrik titik puncak 332 MW atau masih tersisa sekitar 118 MW lagi, namun pertumbuhan pemakaian mencapai rata-rata cukup tinggi pertahunnya yaitu 14,5 % sehingga kedepannya akan habis terpakai. Demikian juga dengan eksploitasi lahan, hutan, laut yang terpetak-petak dan pengrusakan alam yang semakin meraja lela, mengkhawatirkan bagi Bali, juga tingkat polusi udara, perubahan iklim (climate change) di Bali semakin tinggi yang segera harus mendapatkan resolusi, terutama dalam bidang pendidikan agama Hindu yang dapat mengendalikannya melalui aspek ajaran-ajarannya khususnya Tri Sëmaya yang dijadikan misi SMA Negeri 8 Denpasar, namun perlu dikaji terlaksananya dan digunakannya ajaran ini dalam mendesain pembelajaran di SMA Negeri 8 Denpasar.

Sehingga masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar?; (2) bagaimanakah kendala yang dihadapi dalam melaksanakan model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar? dan; (3) Bagaimanakah upaya yang dilakukan dalam menanggulangi kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar?

Teori untuk mengkaji permasalahan adalah teori konstruktivis, pembelajaran untuk membangun konsep awal siswa, siswa belajar bermakna, bekerja sama, dan belajar aktif serta kreatif, teori konvergensi, teori orientasi nilai untuk mengkaji kendala dan upaya-upaya pembenahan kualitas out put SMA Negeri 8 Denpasar. SMA Negeri 8 Denpasar sebagai lokasi penelitian, jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Jenis data penelitian terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif, yang bersumber dari data primer berasal dari data observasi, wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari data studi kepustakaan dan dokumentasi. Peneliti sendiri sebagai subjek penelitian dengan membuat instrument, kajian model pembelajaran Tri Sëmaya, dan SMA Negeri 8 Denpasar sebagai objek dipilih berdasarkan kajian empirik, informan ditentukan secara snow balling sampling, data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan coding, editing, klasifikasi, cross cek data, telaah, reduksi dan menyimpulkan data.

Hasil penelitian ini adalah: model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar, dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Pada tahapan perencanaan menyesuaikan kerangka Tri Sëmaya dengan materi pelajaran, menyesuaikan indicator keberhasilan, tujuan pembelajaran, sumber dan alat pelajaran, serta metode pembelajaran. Pada tahapan sintaks pembelajaran, guru memberikan informasi terkait dengan materi susila yang dibahas, siswa bekerja sama (cooperating) mencari konsep Tri Guna dan Dasa Mala dalam sumber-sumber susastra Hindu seperti Bhagawan Dhomya dan Bambang Ekalawya, menghubungkannya (relating) dengan kondisi kekinian (wartamana) berdasarkan pengalaman siswa sendiri (experiencing), mengaplikasikan (appliying) nilai-nilai Tri Guna dan Dasa Mala dalam ceritra tersebut, guru dapat menguatkan dan mentransfer pengetahuan tambahan untuk menuju masa depan (nagata) yang lebih baik. Tahapan evaluasi, soal-soal yang disediakan disesuaikan dengan materi untuk mengembangkan daya Tri Sëmaya siswa. Tahapan evaluasi, soal-soal yang disediakan disesuaikan dengan materi untuk mengembangkan daya Tri Sëmaya siswa.

Kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya di SMA Negeri 8 Denpasar (1) pada kendala internal jasmani siswa dan mental siswa seperti kurangnya motivasi, minat dan bakat siswa dalam belajar agama Hindu; dan (2) kendala eksternal adalah lingkungan dan alat belajar yang dialami oleh guru mata pelajaran pendidikan agama Hindu.Upaya dalam menanggulangi kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya di SMA Negeri 8 Denpasar, (1) pada tingkat kelas (pembelajaran) guru melakukan peningkatan motivasi siswa secara kontinyu, melakukan remedi, melaksanakan bimbingan dan konseling serta melakukan pelaporan terhadap pihak orang tua; (2) pada tingkat institusi, memberikan bea siswa meningkatkan prestasi guru mata pelajaran, dan merealisasikan program kerja tahunan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa pada tataran kognitif seperti dharma wacana (pidato keagamaan), cerdas cermat, olimpiade Hindu, pada tingkat psikomotor kematangan keterampilan keagamaan, dengan melihat celah-celah kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup masa depan sesuai dengan ajaran Tri Sëmaya.

Sumber:

Kajian Model Pembelajaran pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar, Thesis Pasca Sarjana IHD Negeri Denpasar, 2009.

PUPUH GINADA SIGARA PETAK

GINADA SIGARA PETAK

uduh bapa cingak tityang

dija bapa uling nguni

tityang ruruh meilehan

adoh driki jua ka panggih

durusang bapa cingak tityang

uli driki

pianak cucu menyantosang

8 Standar Pendidikan Nasional

Berdasarkan Undang-undang Nomer 20 tahun 2003 pemerintah Indonesia menetapkan dalam sebuah peraturan perundang-undangan yakni PP Nomer 19 Tahun 2005 (terutama pasal 2 ayat 1) tentang Standar Pendidikan Nasional, berikutnya menjabarkan PP ini Kementrian Pendidikan Nasional menjabarkan standar pendidikan menjadi 8 standar:
Pasal 2 PP 19 Tahun 2005.
(1) Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:
a. standar isi;
b. standar proses;
c. standar kompetensi lulusan;
d. standar pendidik dan tenaga kependidikan;
e. standar sarana dan prasarana;
f. standar pengelolaan;
g. standar pembiayaan;dan
h. standar penilaian pendidikan.
(2) Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi.
(3) Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

%d blogger menyukai ini: