Cara mengacak Opsi Pilihan Ganda

Cara mengacak Opsi Pilihan Ganda
oleh IGN. Suardeyasa

salam rahayu, tabe, kulo nuwun, sampurasun….
mudah-mudahan tiada halangan.

kali ini kita akan coba belajar bersama Pandu Nusa, mengenai cara acak Opsi Kunci Jawaban, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

pertama opsi Kunci jawaban agar tidak berderet, misalkan kunci jawaban nomer satu A, nomer dua A, nomer tiga A, nomer empat juga A,

kedua menyebar kunci jawaban, pada setiap opsi, sehingga opsi kunci jawaban memiliki validitas instrumen yang tinggi

ketiga mempersiapkan Kunci Jawaban sedari awal, mengandung unsur reliabel instrumen, selama ini biasanya kita bekerja menyusun kisi-kisi tidak disertai dengan Opsi Kunci Jawaban.

berikut cara acak opsi Kunci Jawaban

Jumlah SOAL Pilihan Ganda dibagi dengan jumlah opsi jawaban

contoh:
Masalah (Problem)

sebuah tes dibuat 40 soal, dengan opsi A, B, C, D sejumlah empat opsi.
berapakah jumlah opsi masing-masing?

penyelesaian (Solusi)
Jumlah soal 40 / 4 = 10

berarti setiap opsi akan mendapat peluang yang sama untuk dipilih, yakni:
A = 10 kali
B = 10 kali
C = 10 kali
D = 10 kali juga

inilah unsur keseimbangan / peluang opsi jawaban. Dengan plus minus 3 masing-masing opsi, tidak harus sama persis 10:10 antar Opsi.

terima kasih, semoga bermanfaat,
kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas
Buleleng, 5-12-18

Cliford Geertz: Setidak-tidaknya Masih Hindu

Oleh IGN.Suardeyasa
Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Media Hindu…C.Geertz seorang tokoh Antropologi Budaya pernah melakukan penelitiannya di beberapa tempat seperti di Jawa dan Bali, hasilnya cukup surprise, bagaimanapun orang Jawa masih tetap Hindu, ini dibuktikannya dengan “tradisi Hindu yang masih tetap dilakukan sampai sekarang ini”,…silahkan lengkapnya dapat didownload….

MODEL PEMBELAJARAN HINDU

Kajian Model Pembelajaran Tri Semaya pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar

Oleh: IGN.Suardeyasa

Abstrak

Latar belakang penelitian ini, seiring kondisi Bali yang telah mengalami krisis pada berbagai segi, berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang dicatat oleh WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) terjadi defisit air yang terus meningkat mencapai 7,5 miliar m3/tahun dan diperkirakan tahun 2015 mencapai 27,6 miliar m3/tahun. Bali krisis listrik, dengan kapasitas 450 MW dan dipasok 200 MW (44,14 %) dari Jawa, pemakaian beban listrik titik puncak 332 MW atau masih tersisa sekitar 118 MW lagi, namun pertumbuhan pemakaian mencapai rata-rata cukup tinggi pertahunnya yaitu 14,5 % sehingga kedepannya akan habis terpakai. Demikian juga dengan eksploitasi lahan, hutan, laut yang terpetak-petak dan pengrusakan alam yang semakin meraja lela, mengkhawatirkan bagi Bali, juga tingkat polusi udara, perubahan iklim (climate change) di Bali semakin tinggi yang segera harus mendapatkan resolusi, terutama dalam bidang pendidikan agama Hindu yang dapat mengendalikannya melalui aspek ajaran-ajarannya khususnya Tri Sëmaya yang dijadikan misi SMA Negeri 8 Denpasar, namun perlu dikaji terlaksananya dan digunakannya ajaran ini dalam mendesain pembelajaran di SMA Negeri 8 Denpasar.

Sehingga masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar?; (2) bagaimanakah kendala yang dihadapi dalam melaksanakan model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar? dan; (3) Bagaimanakah upaya yang dilakukan dalam menanggulangi kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar?

Teori untuk mengkaji permasalahan adalah teori konstruktivis, pembelajaran untuk membangun konsep awal siswa, siswa belajar bermakna, bekerja sama, dan belajar aktif serta kreatif, teori konvergensi, teori orientasi nilai untuk mengkaji kendala dan upaya-upaya pembenahan kualitas out put SMA Negeri 8 Denpasar. SMA Negeri 8 Denpasar sebagai lokasi penelitian, jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Jenis data penelitian terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif, yang bersumber dari data primer berasal dari data observasi, wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari data studi kepustakaan dan dokumentasi. Peneliti sendiri sebagai subjek penelitian dengan membuat instrument, kajian model pembelajaran Tri Sëmaya, dan SMA Negeri 8 Denpasar sebagai objek dipilih berdasarkan kajian empirik, informan ditentukan secara snow balling sampling, data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan coding, editing, klasifikasi, cross cek data, telaah, reduksi dan menyimpulkan data.

Hasil penelitian ini adalah: model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar, dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Pada tahapan perencanaan menyesuaikan kerangka Tri Sëmaya dengan materi pelajaran, menyesuaikan indicator keberhasilan, tujuan pembelajaran, sumber dan alat pelajaran, serta metode pembelajaran. Pada tahapan sintaks pembelajaran, guru memberikan informasi terkait dengan materi susila yang dibahas, siswa bekerja sama (cooperating) mencari konsep Tri Guna dan Dasa Mala dalam sumber-sumber susastra Hindu seperti Bhagawan Dhomya dan Bambang Ekalawya, menghubungkannya (relating) dengan kondisi kekinian (wartamana) berdasarkan pengalaman siswa sendiri (experiencing), mengaplikasikan (appliying) nilai-nilai Tri Guna dan Dasa Mala dalam ceritra tersebut, guru dapat menguatkan dan mentransfer pengetahuan tambahan untuk menuju masa depan (nagata) yang lebih baik. Tahapan evaluasi, soal-soal yang disediakan disesuaikan dengan materi untuk mengembangkan daya Tri Sëmaya siswa. Tahapan evaluasi, soal-soal yang disediakan disesuaikan dengan materi untuk mengembangkan daya Tri Sëmaya siswa.

Kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya di SMA Negeri 8 Denpasar (1) pada kendala internal jasmani siswa dan mental siswa seperti kurangnya motivasi, minat dan bakat siswa dalam belajar agama Hindu; dan (2) kendala eksternal adalah lingkungan dan alat belajar yang dialami oleh guru mata pelajaran pendidikan agama Hindu.Upaya dalam menanggulangi kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya di SMA Negeri 8 Denpasar, (1) pada tingkat kelas (pembelajaran) guru melakukan peningkatan motivasi siswa secara kontinyu, melakukan remedi, melaksanakan bimbingan dan konseling serta melakukan pelaporan terhadap pihak orang tua; (2) pada tingkat institusi, memberikan bea siswa meningkatkan prestasi guru mata pelajaran, dan merealisasikan program kerja tahunan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa pada tataran kognitif seperti dharma wacana (pidato keagamaan), cerdas cermat, olimpiade Hindu, pada tingkat psikomotor kematangan keterampilan keagamaan, dengan melihat celah-celah kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup masa depan sesuai dengan ajaran Tri Sëmaya.

Sumber:

Kajian Model Pembelajaran pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar, Thesis Pasca Sarjana IHD Negeri Denpasar, 2009.

PUPUH GINADA SIGARA PETAK

GINADA SIGARA PETAK

uduh bapa cingak tityang

dija bapa uling nguni

tityang ruruh meilehan

adoh driki jua ka panggih

durusang bapa cingak tityang

uli driki

pianak cucu menyantosang

8 Standar Pendidikan Nasional

Berdasarkan Undang-undang Nomer 20 tahun 2003 pemerintah Indonesia menetapkan dalam sebuah peraturan perundang-undangan yakni PP Nomer 19 Tahun 2005 (terutama pasal 2 ayat 1) tentang Standar Pendidikan Nasional, berikutnya menjabarkan PP ini Kementrian Pendidikan Nasional menjabarkan standar pendidikan menjadi 8 standar:
Pasal 2 PP 19 Tahun 2005.
(1) Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:
a. standar isi;
b. standar proses;
c. standar kompetensi lulusan;
d. standar pendidik dan tenaga kependidikan;
e. standar sarana dan prasarana;
f. standar pengelolaan;
g. standar pembiayaan;dan
h. standar penilaian pendidikan.
(2) Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi.
(3) Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

MEMPELAJARI SANSKERTA, MENDAPATKAN BERBAGAI PENGETAHUAN DARI VEDA

Kontemplasi Bubuksah-Gagak Aking: Pemaknaan Perbedaan Keyakinan dalam Lontar Bubuksah

Oleh: IGN.Suardeyasa

Sinopsis Lontar Bubuksah
Lontar Bubuksah di tulis pada Wadoprana Aburih, wuku Kurantil, pada hari kesembilan bulan terang, menjelang bulan (sasih) Jyesta (bulan sebelas) tahun saka 1619. Kemudian di gubah pada Menail Umanis, bulan Kartika, hari ke dua belas bulan gelap tahun saka 1811.
Diceritrakan dua bersaudara kakak beradik bernama Kebwamilir dan Kebwakraweg, para sanak keluarganya tidak menghendaki mereka ada di rumah bersama mereka terus-menerus. Mereka tidak diakui sebagai keluarga. Mereka berdua selalu membuat sedih para tetangga, karena mereka belum mengenal etika.
Mereka berdua lalu menuju Majalangu meninggalkan wilayah Kediri “lah ta mareng Majalangu nengghyana pandhita sakti kang sinengguh sang mahamuni nggonani angrungu sabdha sira sang siddha purusa”. Mereka menemui seorang pertapa suci, dari sanalah mereka lalu belajar tentang ajaran yang sangat rahasia, yakni ajaran keabadian.
Banyak hal yang diperoleh baik dari Rahulukembang salah saeorang murid dari pertapa suci itu. Kebwakraweg rupanya lebih menguasai ajaran etika yang mengutamakan filsafat tindakan, dan tidak semata-mata mengejar kelepasan.
Mereka juga belajar kepada Sang Jugulwatu, salah seorang dari putra sang mahamuni, yang telah berhasil dalam tahap ujian pantangan-pantangan, dikatakan berbadan gaib meski usianya masih muda, ia tidak ragu-ragu jika akan menemui ajalnya, dalam suatu hari lebih sepekan, badan beliau seperti mati tidak ada yang mengetahui kerahasiaan beliau, tubuhnya menebar keharuman “pati nira keh wong gawok dening anilih tan katon”. Wafat beliau sangat gaib oleh karena badan beliau tidak terlihat.
Karena ketulusan hati keduanya untuk berguru, mereka lalu didiksa, yang lebih tua bernama Gagak Aking sedangkan adiknya bernama Bubuksah. Mereka berdua mendapatkan petuah-petuah jalan menuju keabadian, jalan kelepasan.
Setelah mendengarkan petuah-petuah dari sang mahamuni, mereka berdua lalu ingin melakukan tapa brata di pegunungan, ketika Purnama Kapat (sekitar bukan September-Oktober) melangsungkan pertapaan suci.
Dalam perjalanan mereka beristirahat di sebuah balai, di balai tersebut terdapat lukisan wayang yang menceritrakan Sudamala. Di tempat itu pula mereka membersihkan diri, terlihat dari pegunungan itu daerah Jenggala dan Majapahit menghampar luas. Mereka lalu tiba di sebuah hutan yang menakutkan, banyak binatang buas. Sang Gagak Aking memutuskan untuk mengajak adiknya, membuat pertapaan di sana. Sang Gagak Aking di sebelah Barat sedangkan Sang Bubuksah di sebelah Timur-nya.
Sebelum membuat tempat pertapaan, mereka menuju ke sebuah pancuran air, dilihatlah sebuah patung yang menceritrakan lakon Arjuna Tapa, saat Arjuna melaksanakan tapa yang hebat, Sang Arjuna meskipun di goda oleh bidadari cantik nan molek Supraba, Gamarmayang, dan Tilotama namun tidak mengurungkan tapa semadinya.
Mereka melanjutkan tapa berata setiap harinya, mereka melaksanakan tapa brata yang agak berbeda. Gagak Aking menjalankan aliran Vegetarian dalam teks disebut sebagai amberawi (bherawi / aliran kanan), yakni tidak memakan daging dan segala yang berasal dari hewani, hanya tumbuhan yang dianggap makanan suci.
Sedangkan Bubuksah sangat berbeda jauh, dia melakukan tapa bratanya sangat aneh dan tekun, segala jenis makanan akan dimakannya, sesuai dengan janjinya, apapun yang terkena jebag yang dipasangnya akan dimakan habis, tidak saja kancil, hingga tikus, dan binatang lainnya juga dimakannya, dibuat menjadi olahan makanan, sambil menyanyikan kidung-kidung suci semalaman, menegag air nira (tuwak), aliran ini juga sangat strik dalam menjalankan tapa bratanya.
Bubuksah tidak kalah mengagumkan dalam menjalankan tapa bratanya, siang dan malam selalu ingat dengan makanannya, karena masakan yang dibuat harus habis, tidak tersisa sedikitpun. Aliran ini disebut ambherawa, kemungkinan besar aliran ini adalah aliran Bherawa (aliran kiri).
Pada suatu ketika, mereka terlibat dalam diskusi yang hangat, sang Gagak Aking memberi tahu kepada adiknya, “adinda, apakah yang adinda lalukan itu adalah suci, kenapa kita tidak menjalankan tapa brata yang sama saja, dengan memakan makanan yang suci”. Bubuksah rupanya tetap teguh dengan pendirian tapa bratanya, meski sang kakak menyatakan ajarannya keliru dan tidak akan dapat mencapai kesempurnaan batin.
Bubuksah tetap menjalankan tapa bratanya dengan tekun. Pada suatu ketika Bethara Guru (Dewa Siwa) berkehendak menguji kesetiaan dan keteguhan keduanya dalam menjalankan tapa brata. Di utuslah seekor harimau putih, yang segera menghampiri tempat pertapaan mereka.
Klimaksnya, Gagak Aking menyarankan agar harimau menghampiri adiknya, yang badannya gemuk, berbeda dengan dirinya yang berbadan kurus, mungkin tidak membuatnya kenyang. Gagak aking tidak rela jika dirinya, yang memakan makanan suci dimakan oleh binatang yang tidak suci.
Berbeda dengan Bubuksah, dia pemberani dan telah siap meskipun saat itu ajal menjemputnya. Dia meminta menunggu sebentar, selesai dia menyucikan tubuhnya dan melaksanakan japa, mempersilahkan kepada harimau putih itu untuk memakannya. Namun sang Harimau malah mengajak mereka berdua untuk terbang ke sorga loka, Bubuksah menunggangi harimau putih itu, sedangkan Gagak Aking diterbangkan menggelantung di ekornya.
Keduanya dapat mencapai kesempurnaannya, keduanya mendapatkan sorganya masing-masing. Kemudian Gagak Aking mendapatkan kesempurnaannya, sampai tidak ada satupun yang disayangi dari tubuhnya itu, hendaknya para pendeta memahami tentang rahasia keilahian dan rahasia kematian, tidak ada yang disayangi, tidak ada yang dibenci, berpendirian teguh. Gagak Aking mendapatkan sorga tingkat kelima sedangkan Bubuksah mendapatkan sorga tingkat ke tujuh.

Prilaku yang Menentukan, Bukan Janji sorga
Begitu rumitnya memahami isi dari Lontar Bubuksah, disamping karena bentuknya telah digubah ke dalam bentuk kidung, yang merupakan simpul-simpul yang memerlukan pengkajian hermeneutic-semiotic dan semantiknya. Namun penulis berusaha dalam beberapa waktu membaca dan memahami isinya, ternyata isinya menarik untuk dikaji.
Lontar Bubuksah lebih menekankan terhadap filsafat tindakan, Bubuksah yang melaksanakan tapa brata sangat hebat dan tekun. Dia memakan segalanya (sarwa baksa), apapun yang terkena jebag yang dipasangnya, akan disembelihnya untuk diolah menjadi makanan, ditemani dengan nira (tuwak). Namun sesungguhnya, banyak pantangan yang telah dilaksanakan dengan saksama oleh Bubuksah, dia sangat meyakini jalan yang dilakukannya, meskipun dinyatakan keliru oleh kakaknya.
Bubuksah tetap setia, jujur akan ketidak tahuannya tentang dunia kematian yang sama sekali belum pernah ditemuinya, dari pada mengatakan lebih tahu namun sesungguhnya belum pernah mencapainya, apalagi sampai menjanjikan sorga. Dan mengutuk neraka kepada yang tidak percaya akan ajarannya.
Keduanya menjalankan ajaran yang berbeda, Bubuksah menjalankan Bherawa (aliran kiri) sedangkan Gagak Aking menjalankan Bherawi (aliran kanan). Ketidak teguhan Gagak Aking dalam memegang teguh sasananya sebagai seorang pendeta suci, terutama saat urusan karma pribadi untuk mencapai jalan kelepasan.
Gagak Aking malah meminta kepada harimau putih untuk memakan adiknya Bubuksah, alasan harimau yang tidak suci tidak mungkin dapat menyucikan dirinya yang telah melakukan tapa brata yang hebat. Filsafat atman yang berasal dari yang satu (Hyang Tunggal), sehingga seluruh jiwatman dalam tubuh hewan dan tumbuhan adalah sama berasal dan akan kembali kepada Hyang Tunggal.
Sesungguhnya Gagak Aking adalah seorang pendeta yang sadu budhi, tidak menyukai dengan kekerasan, tidak senang menyakiti dengan membunuh binatang untuk kepuasan nafsu badaniahnya. Selalu memelihara kesucian lahir serta batiniahnya, ia terbiasa dengan cinta kasih, namun karena cinta kasihnya itu yang berlebihan sehingga hakihat sang diri tersamarkan.

Tentang Sinkretisme
Pada beberapa sumber, Lontar Bubuksah sering dikatakan sebagai sumber yang mendasari munculnya sinkretisme antara ajaran Siwa dan Budha di Jawa Timur. Dalam lontar Bubuksah disebut-sebut kerajaan Kediri dan Majapahit, kemungkinan besar pada waktu itu Kediri berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Bukti-bukti adanya sinkretisme Siwa-Budha terdapat dalam relief Candi Penataran yang merupakan salah satu peninggalan kuno kerajaan Majapahit yang utama di daerah Blitar.
Reliefnya mengisahkan kebesaran hati pengorbanan Bubuksah-Gagak Aking dalam menjalankan tapa bratanya. Keikhlasan, ketulusan hati yang menjadi topik utama, disamping juga terdapat relief kisah Sri Tanjung yang dipedomani masyarakat Hindu di Blitar.
Sisi lainnya, Sinkretisme Siwa-Budha semakin terlihat jelas pada ajaran yang dianut umat Hindu di Karangasem, seperti daerah Budha Keling dan Sidemen, dan daerah Tianyar-Kubu. Di daerah Budha Keling, terdapat Pedanda Budha dengan ciri-ciri yang berbeda dengan pedanda Siwa.
Jika Pedanda Budha tidak menggunakan prucut (gulungan rambut), Pedanda Siwa menggunakan prucut. Memegang sesananya masing-masing dan tata cara yang berbeda dalam muput pelaksanaan upacara. Pedanda Budha menggunakan Ketu, terutama saat memuput upacara, pedanda Siwa tidak menggunakan ketu.

• Penulis, Koresponden Media Hindu di Denpasar.
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 102, Agustus 2012, Hal. : 66-67.

%d blogger menyukai ini: