TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

oleh: I Gusti Nyoman Suardeyasa *

(BAGI YANG MENG-COPY HARAP MENGKONFIRMASI KEPADA PENULIS, ARTIKEL INI MENJADI HAK MILIK BLOG INI. BAGI YANG MENJADIKAN SEBAGAI REFERENSI AHARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS DAN ALAMAT BLOG INI)

TRI PREMANA dalam artikel ini diformulasikan dengan teknik APA.

Teknik APA (Agama-Pratyaksa-Anumana) dalam artikel ini berasal dari ajaran Tri Premana yang terdiri dari Agama Premana (Sabda Premana), Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Teknik APA ini disusun berdasarkan tingkat kesesuaian dengan siswa di tingkat sekolah dasar, yakni Agama Premana teridiri dari kecakapan siswa untuk mendengarkan dan mempercayai ajaran suci yang berasal dari Rsi atau orang-orang suci dalam agama Hindu; Pratyaksa Premana terdiri dari kecakapan siswa untuk mengamati langsung maupun tidak langsung yang dikemas melalui model / gambar tentang materi yang diajarkan; dan Anumana Premana adalah kecakapan untuk melakukan pembuktian terhadap gejala-gejala yang terjadi, atau materi pembelajaran yang diajarkan. Pustaka Suci Manawa Dharma Sastra XII.105 disebutkan:

 

Ketiga cara pembuktian, pratyaksa, anumana, dan sastra yang merupakan lembaga dari berbagai kebiasaan dan aliran filsafat harus difahami benar-benar olehnya yang ingin sempurna tentang ketepatpengertian terhadap hukum suci.

Berdasarkan atas pustaka suci tersebut, ada tiga cara dalam menemukan kebenaran ajaran Weda, yang disebut dengan Pratyaksa, anumana dan sastra agama. Dalam penjelasan Adiputra (2003:9) disebutkan Tri Premana sebagai tiga ukuran atau cara untuk mengetahui kebenaran Weda, yaitu:

Pertama, agama premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan meyakini ajaran atau pemberitahuan orang yang patut dipercaya, agama premana dibedakan menjadi dua yakni: a) Wedika, mendapatkan kebenaran dengan cara mempelajari Weda sastra suci; b) Laukika, mendapatkan kebenaran dengan cara meyakini pemberitahuan orang yang dapat dipercaya dari orang suci atau guru suci. Kedua, Anumana Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara menarik kesimpulan dari suatu peristiwa; contohnya: adanya asap tentu ada api, ada dunia tentu ada penciptanya, ada anak tentu ada ayah dan ibunya. Ketiga, Pretyaksa Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara mengamati secara langsung melalui alat indra atau batin. Contohnya: api itu diketahui panas karena dapat dirasakan panasnya saat mengenai indra kulit; garam itu diketahui rasanya asin saat dikecap oleh lidah.

Namun cara yang kedua dan ketiga memerlukan analisis yang lebih tinggi dibandingkan dengan mempercayai ajaran suci Weda, yang dibutuhkan adalah membaca pustaka suci yang sudah diterjemahkan dan diterapkan dalam buku teks pelajaran agama Hindu; pada cara / teknik anumana premana, kesalahan persepsi bisa terjadi oleh karena logika yang keliru, itu sebabnya logika yang benar menentukan juga persepsi yang benar terhadap suatu kebenaran; pratyaksa premana merupakan teknik perbandingan, logika perbandingan juga tergantung dari kemampuan indra dalam menangkap fenomena alam yang terjadi, mengenai hal-hal abstrak misalkan: Angin tidak terlihat tapi dapat dirasakan: Tuhan tidak dapat dilihat tapi ada, namun cara mengetahuinya harus dengan cara yang benar, kebenaran ini juga kembali kepada teknik agama Premana mempercayai pustaka suci yang sudah teruji kebenarannya. Untuk hal-hal yang dapat dilihat dan dapat dibuktikan dengan indra, kebenaran yang diperoleh dari anumana dan pratyaksa merupakan kebenaran fakta.

Ajaran Nyaya tentang empat sumber untuk mendapatkan kebenaran disebutkan Pendit (2007:11) adalah: Pratyaksa (persepsi), anumana (kesimpulan), upamana (perbandingan dan persamaan), sabda (wewenang dan testimoni). Nala dan Wiratmadja (2004:71-80) juga merinci adanya empat cara untuk mendapatkan kebenaran dalam ajaran agama Hindu, yakni:

Agama Premana, adalah kebenaran yang diperoleh dari kitab suci, dengan meyakini hal yang disampaikan dalam kitab suci; pratyaksa pramana, cara pratyaksa ini demikian luhurnya, dengan cara menyaksikan langsung kebenaran Tuhan dengan cara melihat langsung ataupun mendengar sabda suci Tuhan; anumana premana dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan, dari gejala-gejala alam yang diketahui kebenarannya; upamana premana kebenaran diperoleh dengan melakukan perbandingan.

Ajaran Premana dari Filsafat Nyaya (Nyaya Darsana) Nyaya Darsana didirikan oleh Ashaka Gotama, Nyaya menempati urutan pertama dalam keseluruhan sistem falsafah ortodoks India, karena ia seolah-olah berperan sebagai pendahuluan atau pintu pertama memasuki keseluruhan sistem falsafah India (Sarva Darsana Samgraha). Didasarkan pada penalaran secara analitik. Sebagai sistem falsafah yang didasarkan pada kitab Veda, Nyaya terus berkembang hingga abad ke-20. Tidak mengherankan apabila bergitu banyak wacana tertulis dilahirkan dari para filosof Nyaya. Arti etimologis Nyaya, ialah ’kembali’, maksudnya mencari kembali kebenaran melalui argumentasi. Falsafah Nyaya bersifat intelektual dan analitis. Vatsyayana mengembangkan sistem ini berdasarkan ajaran Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dalam bukunya Aksapada dan Dirghatapas. Buku Vatsyayana yang memuat ajaran falsafah Nyaya ialah Nyaya Bhasya (Ulasan Tentang Nyaya) (Pendit, 2007:1). Ajaran Nyaya menjelaskan 16 substansi:

(1) Pramana, menetapkan metode pengetahuan yang benar; (2) Prameya, menetapkan obyek pengetahuan yang benar; (3) Samsaya, mengajukan keraguan pada sesuatu yang dianggap
benar; (4) Dsrtanta, mengemukakan contoh yang benar; (5) Prayojana, menetapkan tujuan pengamatan secara benar; (6) Tarka, menggunakan argumentasi/hujah yang benar; (7) Siddhanta, menegakkan ajaran dan pengetahuan; (8) Awayawa, menetapkan tahapan-tahapan pengetahuan; (9) Nimaya, membuat ketentuan yang sesksama; (10) Vada, melakukan diskusi yang mendalam; (11) Jalpa, membantah yang tidak benar; (12) Vitanda melakukan kritik secara cerdas; (13) Hetva-bhasa, mencela cacat dan kekurangan dari penalaran; (14) Cala, memuat argumentasi; (15) Jati, ketanpatujuan; (16) Nigraha-sthana, mengiritik secara tuntas pengetahuan yang diperoleh selama ini (Pendit, 2007:3-10).

Namun secara umum pengetahuan dalam ajaran Nyaya dapat diterima seperti yang dikembangkan tokoh utama falsafah Nyaya ialah Vatsyayana. Menurut filosof ini, dunia di luar manusia merupakan keberadaan yang terpisah dari pikiran. Pengetahuan tentang dunia diperoleh melalui pikiran, dibantu oleh pengamatan dan pencerapan indra. Pengetahuan dapat disebut benar atau salah tergantung pada sarana yang dipergunakan dalam mendapat pengetahuan. Secara sistematis pengetahuan menyatakan empat keadaan: (1) Pramata atau si pengamat, yaitu keadaan jiwa, pikiran dan kesadarannya; (2) Prameya atau obyek yang diamati; (3) Pramiti atau hasil dari pengamatan, yang ditentukan oleh keadaan si pengamat dalam hubungannya dengan obyek yang diamati; (4) Pramana atau cara, kaedah, metode pengamatan atau model pendekatan yang digunakan (Pendit, 2007:2).

Menurut Vatsyayana, dalam mencapai kebenaran rasional tentang sesuatu hal, diperlukan bantuan 4 atau empat kaedah pengamatan: (1) Pengamatan langsung (pratyaksa pramana); (2) Penyimpulan (anumana pramana); (3) Perbandingan (upamana pramana); dan (4) Penyaksian (sabda pramana).

Tingkat sekolah dasar dapat kiranya cara kerja Catur Premana dapat disederhanakan lagi menjadi tiga yakni Agama Premana, Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Pada tataran Agama Premana dipandang relatif mudah dibandingkan dengan tataran Pratyaksa oleh karena pada tahapan ini siswa sudah mulai diharapkan untuk mengamati dan melakukan pencatatan terhadap materi yang disajikan; sedangkan tataran Anumana Premana pada tataran ini siswa diharapkan sudah menggunakan analisis sebagai kecakapan yang lebih sulit dibanding tataran sebelumnya.

Diagram cara kerja teknik APA ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Pada Anumana Premana sudah dianggap analisis kritis secara logis terhadap suatu objek yang dikaji, sehingga aspek Anumana Premana merupakan penggabungan dari Anumana Premana dan Upamana Premana. Oleh karena kedua-duanya mendasarkan pada teknik analitik logis; Anumana Premana mendasarkan pada analisis hubungan sebab-akibat sehingga dapat diambil suatu kesimpulan dari hubungan sebab akibat tersebut; sedangkan upamana premana menerangkan kebenaran berdasarkan atas perbandingan atau perumpamaan, membandingkan antara satu objek dengan objek lainnya, sehingga dapat diumpamakan objek yang abstrak yang tidak dapat ditanggapi oleh alat indra biasa. Sehingga kedua-duanya dapat dikatakan sebagai teknik perbandingan, sebab membandingkan objek satu dengan objek lainnya, setelah itu diberikan argumentasi untuk mendapatkan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi.

Pada artikel ini, agama premana adalah sumber pertama yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjelaskan fenomena / gejala, sedangkan pratyaksa dan anumana adalah sumber kedua sebagai alat untuk menguatkan kebenaran yang ada dalam sastra-sastra agama, antara pratyaksa premana dan anumana premana satu sama lain sebagai teknik untuk memperoleh perbandingan-perbandingan sehingga ajaran agama dapat diterima secara logis dan analisis. Hal inilah yang disebut dengan Tri Premana dalam Artikel ini, Tri adalah tiga, premana adalah cara, artinya tiga cara untuk mendapatkan kebenaran, yang terdiri dari Agama Premana, dengan jalan mempercayai ajaran agama yang bersumber dari sastra-sastra suci, pratyaksa premana adalah teknik untuk mendapatkan kebenaran dengan cara mengobservasi kondisi suatu fakta, sedangkan anumana premana dilakukan dengan melakukan perbandingan, membuat kesimpulan dari hubungan sebab akibat, serta membandingkan objek satu dengan objek lainnya berdasarkan atas hukum yang berlaku umum di alam semesta.

* Penulis, I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H adalah salah satu Guru Agama Hindu di Kabupaten Buleleng.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, Rudia, 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. Jakarta: STAH Dharma Nusantara.

Nala, I Gusti Ngurah dan Adia Wiratmadja, 2004. Denpasar: Upada Sastra.

Pendit, S, 2007. Filsafat Hindu Dharma (Sad Darsana) Enam Aliran Astika (Orthodoks) Buku Kedua. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Pudja, I Gde, dan Tjok Rai Sudhartha, 2003. Manawa Dharma Sastra. Dirjen Bimas Hindu dan Budha Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: