Konsepsi Ngaben

Konsepsi Ngaben

Jika dilihat dari pelaksanaannya yang berhubungan dengan Panca Yadnya, Ngaben merupakan salah satu dari lima jenis yadnya yang dilaksanakan, Oka Supartha (1978:16) menyebut Panca Yadnya yang terdiri dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Kelima yadnya tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, Dewa Yadya  adalah korban suci secara tulus ikhlas yang ditujukan kehadapan Hyang Widi Wasa dengan Segala manefestasinya yang dilaksnakan di tempat-tempat suci, seperti Sanggah atau Merajan, kahyangan Tiga, dang kahyangan Sad Kahyangan dan Kahyangan jagat. Kedua, Upacara Rsi Yajna adalah korban suci secara tulus ikhlas kepada Maha Rsi dengan jalan menobatkan seorang sulinggih atau pinandita dengan jalan melaksanakan upacara mediksa dan me-Dwijati, agar beliau dapat menjadi pemimpin agama yang bisa mengarahkan umatnya menuju kepada hal-hal yang positif, sesuai dengan ajaran agama Hindu. Ketiga, upacara pitra yajna adalah suatu korban suci secara tulus ikhlas kepada orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dengan melaksanakan upacara atiwa-tiwa, ngaben, mamukur, dan upacara ngeligihang  Dewa Hyang. Keempat, manusa yajna adalah suatu korban suci yang tulus ikhlas yang bertujuan untuk memarisudha dan membersihkan manusia secara lahir batin sejak manusia berada dalam kandungan sampai manusia meninggal dunia. Kelima, Bhuta Yajna adalah suatu korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas kepada para bhuta dalam wujud binatang dan tumbuh-tumbuhan serta terhadap makhluk yang dianggap lebih rendah daripada manusia agar tidak mengganggu manusia dalam kehidupannya atau dengan tujuan menjaga keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Secara umum di Bali dalam pelaksanaan Pitra Yadnya sering disebut dengan upacara Ngaben. Ngaben dalam pelaksanaan upacara Pitra Yadnya umat Hindu di Bali secara umum. Dalam menguraikan pengertian Ngaben perlu ditelusuri serta mengenai arti kata Ngaben. Di dalam istilah yang paling populer dari inti pelaksanaan upacara ini dikenal dengan sebutan upacara pengabenan. Interpretasi yang muncul terhadap kata ngaben sebagai bagian inti dari pelaksanaan Pitra Yadnya.

“Lontar Siwa Tattwa Purana” disebutkan “Atiwa-tiwa ingaranan Ngaben”. Artinya: atiwa-tiwa dinamai juga Ngaben. Kata ngaben menurut Kamus Bali Indonesia diartikan melaksanakan upacara pembakaran mayat untuk penyucian roh orang yang meninggal dan mengembalikan unsur-unsur badaniah kepada asalnya. Setelah mayat dibakar abunya dibawa ke laut (Tim Penyusun, 1993: 234). Istilah Ngaben dijelaskan sebagai berikut.

Ngaben sering pula disebut dengan atiwa-tiwa atau malebu, lebu artinya abu. Demikianlah ngaben berasal dari urat kata abu, kata abu mendapat akhiran “an” menjadi “abuan” menjadi “abon”, kemudian mengalami perubahan menjadi “ngabon”, untuk menghaluskan dengan eras onek (meta-mesis) untuk menghaluskan arti, “ngabon” menjadi “ngaben”. Upacara Ngaben pada umumnya dilakukan dengan membakar sawa sehingga menjadi abu, namun hakikat tujuannya tidak sekadar sampai hanya menjadi abu. Abu hanyalah wujud sekala (lahiriah) semata. Secara niskala (batiniah) Ngaben bertujuan untuk memusnahkan segenap jasad sawa sehalus-halusnya, sehingga wujud sawa dari benda yang wungkul menjadi unsur, elemen panca mahabhuta, yakni asal materi yang jauh lebih halus dari abu, terutama semua unsur mahabhuta kembali pada induk unsur masing-masing (Kaler, 1993 : 18-19).

Sedangkan pendapat lain mengungkapkan bahwa, Ngaben adalah merupakan upacara yang tergolong di dalam upacara Pitra Yadnya. Kalimat pitra yadnya terdiri dari suku kata pitra (pitara) dan yadnya. Pitra berarti bapak atau ibu leluhur yang terhormat. Yadnya berarti penyaluran tenaga atau dasar suci untuk keselamatan bersama atau pengorbanan. Jadi yang dimaksud pitra yadnya yaitu suatu penyaluran tenaga (sikap, tingkah laku, perbuatan) atau dasar ikhlas yang ditunjukkan kehadapan leluhur untuk keselamatan bersama (Putra, 1995 : 12).

Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa “ngaben” merupakan upacara pitra yadnya yang pada intinya dilakukan dengan membakar mayat orang yang meninggal dunia hingga menjadi abu, pengabuan tersebut dengan filosofi untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke bentuk yang lebih halus lagi yakni Panca Tan Matra dan bentuk yang lebih halus lagi.

Ngaben” yang dimaksud adalah kata “ngaben” yang merupakan Bahasa Bali berasal dari kata “Api”. kata api ini mendapat prefik sengau’ng’ dan sufik “an” sehingga kemudian menjadi “ngapian” Kata ngapian lalu menjadi sandi ngapen. Huruf P B W adalah satu warga sehingga berubah menjadi B. Dengan demikian kata ngapen menjadi ngaben yang artinya menuju api, api konkrit membakar jenazah (Wiana, 1998:33).

Ngaben secara umum diartikan sebagai proses mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta, dalam prosesnya terdapat pelaksanaan “ngabu” atau prosesi membakar sawa orang yang sudah meninggal. Mengenai jenis Ngaben dapat dibedakan menjadi tiga, yakni Sawa Wedana, Asti Wedana dan Atma Wedana. Pelaksanaan Sawa Wedana sering dikaitkan dengan upacara Ngaben dengan membakar langsung sawa setelah meninggal dunia; Asti Wedana merupakan upacara Ngaben yang dilakukan dengan mengubur terlebih dahulu atau serin disebut dengan mekingsan di Pertiwi, setelah itu baru dilakukan “ngasti” mengangkat kembali tulang yang masih tersisa di liang kubur untuk selanjutnya di bakar (dikremasi); atma wedana sering disebut sebagai upacara Ngaben dengan menggunakan simbol atma setelah pelaksanaan mengubur terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Kaler, I Gst Ketut, 1993. Ngaben: Mengapa Mayat Dibakar?. Yayasan Dharma Narada.

Mas Putra, Ny I Gusti A, 2001, Upacara Yadnya, Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Kehidupan Beragama Tersebar di Sembilan Kabupaten Dati II.

Tim Penyusun,1993. Kamus Bali-Indonesia. Pemda Bali.

Wiana, I Ketut, 1998. Berbakti pada Leluhur Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang. Surabaya: Paramitha.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: