Konsepsi Tradisi dalam Kebudayaan Bali

Menurut arti Kamus (Tim Penyusun, 2001:1208) kata tradisi diartikan sebagai 1) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 2) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Sedangkan kata tradisional sebagai bentukan kata dari “tradisi” artinya “sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun”.

Tradisi dalam bahasa Inggris disebutkan dengan tradition yang diartikan dengan kebiasaan, atau budaya. Kontjaraningrat (1985:1-2) menjelaskan bahwa budaya (tradisi) tersebut adalah seluruh (total) karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya, dan hanya dapat dicetuskan oleh manusia setelah melalui suatu proses belajar.

Koentjaraningrat (1985: 100) juga mengungkapkan bahwa wujud dari kebudayaan terdiri dari paling tidak tiga wujud yaitu: (1) kompleksitas dari gagasan, konsep dan pikiran manusia, (2) sebagai kompleksitas aktivitas dan, 3) berwujud sebagai benda. Demikian juga diungkapkan oleh Wiana (2002:10-11) tradisi dalam kitab suci Weda diartikan sebagai persepsi atau pandangan, patokan, patokan rohani atau juga berarti suatu wilayah. Dresta artinya persepsi yang sama mengenai patokan-patokan rohani dalam menata kehidupan dalam suatu wilayah tertentu. Secara sederhana disebutkan ada empat dresta yang telah dipegang oleh umat Hindu di Bali yakni; purwa dresta, loka dresta, desa dresta dan sastra dresta. Dalam istilah lain penggunaan dresta sering disebut dengan tri samaya yakni; atita, nagata dan wartamana. Atita adalah pandangan umat di masa lampau, nagata adalah harapan pada masa yang akan datang dan wartamana artinya prilaku yang harus diwujudkan sekarang. Di dalam kitab suci Manawa Dharmasastra, VII.10 juga dijelaskan:

Karyam so’veksya çaktimca

Deçakalañca tattvatah,

Kurute dharma siddhyartham

Viçvarupam punah punah

 

Terjemahan:

Setelah mempertimbangkan sepenuhnya tentang hakekat tujuan (Iksa), kekuatan/kemampuan (Sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan sastra yang dimiliki (Tattva) dia lakukan berbagai wujud perbuatan (Yajña) untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran) (Pudja & Tjok Rai Sudharta, 1997: 355).

Dharma yang melalui berbagai bentuk budaya umat, sehingga dharma tetap dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat. Berdasarkan atas sloka di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) iksa, berarti hakikat tujuan, aspek utama yang menjadi sasaran yang harus direalisasikan. Hakikat tujuan ini dikaitkan dengan tujuan beragama Hindu, sehingga tidak bertentangan dengan norma yang berlaku; (b) sakti merupakan kesadaran kemampuan, baik kemampuan Jñana (pengetahuan) maupun kemampuan BalaKosa (fisik – materiil) yang mendukung untuk merealisasikan cita – cita/tujuan itu; (c) desa, berarti tempat dimana suatu aktivitas dilaksanakan. Perbedaan tempat/daerah tentu akan mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama baik yang menyangkut tradisi maupun kaidah hukum positif yang berlaku; (d) kala, berarti waktu, sebagai aspek yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menerapkan ajaran agama sehingga tafsir terhadap ketentuan sastra tidak berlaku secara absolut dan tidak mengaburkan asas universal dari ajaran tersebut; (e) tattva, berarti filosofi atau pandangan/pengetahuan tentang kebenaran yang diyakini dan menjadi landasan sistem fikir dalam upaya pembudayaan ajaran agama yang dianut/diterapkan.

Tradisi diartikan sebagai prilaku atau kebiasaan masyarakat lokal yang dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu yang berlangsung lama, dan masih tetap diterima atau dilaksanakan hingga kini. Karena eksistensinya tersebut, sehingga bagi masyarakat setempat diyakini sebagai prilaku yang baik dan harus tetap dipertahankan, oleh karena sebagai ciri khas suatu daerah, selain itu juga oleh adanya nilai tertentu yang dianut oleh masyarakat pelaksana tradisi tersebut dalam hubungannya dengan prilaku, estetik, religius, pengetahuan, serta kreativitas berkesenian yang menjadi ciri khas kebudayaan mereka.

Daftar Pustaka

Koentjaraningrat, 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Pudja, Gede dan Tjok Rai Sudhartha, 1997. Kompendium Hukum Hindu, Manawa Dharma Sastra (Manu Smerti). Jakarta: Dirjen Bimas Hindu dan Buddha.

Wiana, I Ketut, 2002. Mengapa Bali di Sebut Bali?. Denpasar; Bali Post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: