MASA DEPAN AGAMA: Pemikiran-Pemikiran Agama Hindu di Masa Depan

Oleh: Endah Widihastuti

NIM. 13.07.08.0526

Mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Pendidikan Agama Hindu 
Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar

 

Agama Hindu secara tradisional menyebut dirinya Sanatana Dharma atau jalan kekal kebenaran. Ia adalah perumusan suatu tradisi universal yang diadaptasikan secara lokal kepada kebutuhan individu dan komunitas. Dengan demikian, Agama Hindu mempunyai suatu visi yang luar biasa tentang masa depan dan memeluk semua waktu.

Masa depan Agama Hindu adalah visi universalnya, relevansi globalnya, dan perasaannya yang tak terhingga tentang yang suci. Suatu penghormatan kedewataan seperti itu dan satu penerimaan dari keseluruhan praktek rohani dan religius manusia adalah apa yang dibutuhkan oleh kemanusiaan dewasa ini untuk membawa kita keluar dari krisis global kita yang berakar dalam kepercayaan dan dogma-dogma yang berkonflik dan suatu jalan hidup tidak suci. Masa depan Agama Hindu adalah masa depan kemanusiaan.

Pankaj Jain menyatakan, ide-ide dan praktek-praktek Hindu pelan-pelan memasuki dan mentransformasi gaya hidup Barat. Orang-orang Hindu pada gilirannya menjadi lebih sadar akan permasalahan global seperti perubahan iklim. Ideal-ideal Agama Hindu, seperti pluralisme, dharma, rta, dan non-kekerasan adalah beberapa pelajaran penting untuk masa depan Agama Hindu khususnya dan untuk kemanusiaan secara umum.

Jika orang-orang Hindu masa kini dapat mengambil inspirasi dari ajaran-ajaran mereka, mereka dapat memastikan suatu masa depan makmur dan sehat bagi diri mereka, lingkungan mereka yang berbeda, dan sumber alam mereka. Christopher Chapple mengangkat studi Hindu di dunia akademis. Dia menyatakan studi dan praktek dari Agama Hindu telah mapan di dunia akademis dan di dalam kehidupan religius Amerika. Lebih dari 400 profesor dilatih sebagai spesialis-spesialis di India sekarang mengajar di seluruh A.S.

Para sarjana ini umumnya terlatih di dalam bahasa Sansekerta dan/atau suatu bahasa India modern dan mempunyai pengalaman dalam bidang yang luas di India. Spesialisasi mereka bervariasi secara luas. Para sarjana Agama Hindu ahli dalam berbagai bidang pemujaan atau dalam Yoga atau Vedanta atau di dalam salah satu dari aliran filsafat atau di dalam praktek ritual.

Ini menjadi tantangan menarik bagi masyarakat Hindu di Indonesia.
Chapple juga menyatakan, Agama Hindu di seluruh dunia menemukan dirinya sendiri menghadapi modernitas pembaharuan (mengatasi ilmu pengetahuan dan teknologi) dan pos-modernitas (erosi dari nilai-nilai tradisional disebabkan globalisasi). Namun, disebabkan oleh teologinya yang berpandangan terbuka, dan Hindu gemar menyerap dan menginterpretasikan kembali inovasi- inovasi baru, riset kontemporer ke dalam kosmologi, tidak mengancam kepercayaan-kepercayaan dasar seperti yang dialami oleh agama monoteisme kenabian yang mempercayai naratif Kitab Kejadian.

Ramdas Lamb menyatakan, Hindu memiliki konsep konsep pemersatu meliputi suatu kepercayaan akan karma dan reinkarnasi, pentingnya non-kekerasan, satu rasa hormat yang esensial akan kehidupan dalam banyak wujudnya, dan suatu kepercayaan dalam penerimaan dan toleransi dari kepercayaan religius berbeda sebagai jalan-jalan berbeda menuju gunung kesucian yang sama (hal ini menjadi perdebatan, red).

David Frawley menyatakan, Hindu adalah agama dan tradisi spiritual tertua di planet ini yang secara terus menerus dipraktekkan, dengan akar-akarnya yang berasal dari 5,000 tahun lampau. Agama Hindu adalah agama terbesar yang ketiga dari agama-agama utama dunia, dengan lebih dari suatu milyar penganut di seluruh dunia. Agama Hindu adalah terbesar dari tradisi- tradisi non-injili. Ia adalah agama terbaik yang menyelamatkan nyawa dari tradisi-tradisi agama asli yang besar yang pada suatu jaman mendominasi dunia dan jejak-jejaknya masih tetap ada di mana-mana.

Alasan konsep-konsep ini menjadi semakin tenar di Barat adalah bahwa mereka sejalan dengan pemikiran kontemporer dari banyak orang yang mencari suatu spiritualitas atau kerohanian yang melebihi ideologi-ideologi agama yang sempit. Di dalam proses itu, ada suatu perubahan persepsi tentang agama Hindu dalam pandangan banyak orang. Sekarang ini semakin banyak orang Barat memandang Hindu sebagai kedua-duanya menarik dan masuk akal bagi mereka. Ini tidak berarti akan ada sejumlah besar orang Barat masuk Agama Hindu dalam waktu dekat, tetapi itu menunjukkan efek yang penting bahwa pemikiran Hindu diterima di Barat.

Kehidupan modern hanya akan mempertimbangkan agama yang sesuai dengan ciri kehidupan tersebut. Yaitu agama yang dapat dipahami secara rasional, agama yang diperkenalkan secara fungsional, kontekstual, dan aktual, agama yang membawa rahmah. Bukan agama yang dipenuhi oleh ketegangan dan dipahami sebagai hitam-putih. Untuk tujuan tersebut, maka diperlukan pola pengembangan pemahaman keagamaan dengan langkah-langkah:

  1. Reinterpretasi ajaran-ajaran agama agar sesuai dengan kontekstual kebutuhan-kebutuhan riil masyarakat modern.
  2. Mengelola instansi-instansi dan lembaga-lembaga keagamaan/dakwah secara profesional dengan memperhatikan psikologi dan sosiologi masyarakat perkotaan.
  3. Memperkenalkan Islam kepada masyarakat modern melalui berbagai media yang memungkinkan secara arif dan persuasif, bukan hanya mengandalkan khutbah-khutbah, ceramah-ceramah di masjid.
  4. Meninggalkan struktur pemahaman masyarakat yang berpola pikir parsial, puritan mutlak dan primordial menuju ke arah transformasi masyarakat berpola pikir mendunia, bebas, dan universal.

Derasnya arus globalisasi yang ditandai oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi telah mengakibatkan reformasi dalam informasi dan cara manusia bekerja dan berinteraksi. Akibat perubahan pola dalam penyebaran informasi tersebut – termasuk penggunaan terknologi sebagai media penyiaran agama – mau tidak mau mempengaruhi cara masyarakat khususnya di perkotaan dalam menjalankan agamanya.

Bagaimanapun penggunaan teknologi modern dalam penyiaran agama tidak bisa dihindarkan, bahkan kalau perlu terus dikembangkan, dimodifikasi sepanjang tidak menyentuh masalah doktrin dan akidah. Oleh karena itu perlu dikembangkan pola pemahaman keagamaan yang baru, aktual, kontektual sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat kini. Sehingga agama sebagai petunjuk hidup tetap relevan, fungsional, dan senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat modern.

Para pemikir dunia sudah lama mengkaji masalah ini, Bertrand Russell, dalam salah satu kesimpulan di bukunya Religion and Science, menyatakan bahwa agama kini tidak lagi mempunyai pengaruh sebesar beberapa abad lalu. Russell menyatakan bahwa doktrin agama yang dulu dianggap sebagai kebenaran mutlak, yang mesti dipercaya apa adanya, seiring dengan perkembangan sains, sekarang menjadi tidak esensial lagi.

Banyak fenomena alam yang dulu dijawab oleh agama secara absurd, kini fenomena tersebut bisa dijelaskan oleh sains secara lebih detil. Dulu segala sesuatu yang tidak dijangkau oleh pengetahuan manusia, selalu disandarkan jawabannya pada doktrin-doktrin agama, kini sainslah yang menjadi panglima. Walau masih terbatas, sains terus berkembang untuk memenuhi kehausan hasrat manusia akan pengetahuan melalui aneka tanya.

Selain itu, agama di samping dianggap tidak kompatibel dengan sains masa kini, tak jarang dituding sebagai biang onar. AN. Wilson-seorang ilmuwan sekuler–dalam buku Against Religion: Why We Should Try to Live without It menulis “(Karl) Mark menggambarkan bahwa agama adalah candu rakyat, tetapi sesungguhnya agama jauh lebih berbahaya dari candu. Agama tidak membuat orang tertidur. Agama mendorong manusia saling menganiaya di antara sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim diri mereka sendiri sebagai pemilik kebenaran.”

Bagi orang beragama, tentu saja pendapat ini sangat berlebihan. Sisi baiknya, kita bisa menjadikannya alat koreksi atau instrospeksi bagi kita yang beragama. Sudah benarkah perilaku beragama kita? Sudahkah kita kaum beragama menjadi rakhmat bagi semesta atau baru sebatas rakhmat bagi kelompok atau diri sendiri saja?

Sekali lagi, kritikan ini bisa jadi alat bagi kita untuk merenung, benarkah asumsi-asumsi mereka itu? Sebelum ajal menjemput masih ada waktu untuk melakukan koreksi diri dan perbaikan diri.

Jadi, seperti apa agama yang akan eksis di masa depan? Agama masa depan adalah agama yang mampu menjadi pemecah masalah (problem solver) bukan pembuat masalah (problem maker). Agama masa depan adalah agama yang menentramkan bukan yang menggelisahkan. Agama masa depan adalah agama yang menghadirkan kenyamanan bukan yang menimbulkan konflik.

Agama masa depan adalah agama yang sudah melucuti dirinya dari anasir-anasir kekerasan, diskriminasi, dan kebencian. Agama masa depan adalah agama yang menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai, dan toleransi dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejarah manusia telah mencatat bahwa konsep tuhan datang dan pergi, ajaran agama juga datang dan pergi. Kita bisa mengamatinya secara jelas tanpa perlu alat bantu apapun. Lihatlah, manusianya tetap, kita-kita ini. Agama ada untuk melayani manusia bukan manusia ada untuk melayani agama.

Dengan sangat menyesal, agama yang tidak mengikuti perkembangan kemajuan budaya manusia akan secara perlahan dikirim ke museum, kemudian jadi pajangan yang hanya bisa dilihat dan dinikmati keantikannya, tanpa bisa dipegang apalagi dipeluk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: