ETIKA HINDU: jawaban atas Permasalahan Dewasa ini

TUGAS

MATA KULIAH ETIKA HINDU

DOSEN: DR.DRS. I WAYAN BUDI UTAMA, M.SI

OLEH

ENDAH WIDIHASTUTI
NIM. 13.07.08.0526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HINDU INDONESIA
DENPASAR
2014

TUGAS MATA KULIAH
ETIKA HINDU
DOSEN: DR.DRS.I WAYAN BUDI UTAMA, M.SI

1. Mengapa kita mesti mempelajari dan menerapkan etika dalam kehidupan!
Karena kehidupan memerlukan standar tentang sebuah penilaian, mana yang benar mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, mana harus dan mana yang tidak layak dilakukan. Atau mana yang boleh dilakukan untuk kepentingan sendiri, namun tidak dapat dibawa ke khalayak ramai.
Pada posisi ini etika sangat diperlukan, jika saja etika tidak ada maka kekacauan terhadap sebuah standar akan terjadi. Moralitas tidak dapat tercapai, oleh sebab standar dari perbuatan tidak ditemukan, atau tidak ditetapkan, sehingga antara manusia satu dengan yang lainnya memiliki sebuah kesepahaman dalam melangsungkan kehidupannya, dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan koridor yang diharapkan.
Standar etika perlu dipelajari, oleh sebab standar etika mencirikan sarana-sarana yang benar dan salah untuk mencapai kebahagiaan dan kesenangan, berdasarkan pada pikiran yang benar dan sehat serta berdasarkan pengalaman. Seorang yang tidak religius bisa menjadi benar-benar etis karena standar pikiran yang benar dan sehat itu. Menjadi etis adalah menjadi manusia sejati, yaitu manusia yang semata-mata tidak dikendalikan oleh instink.
Seorang manusia dengan pemikirannya yang begitu berkembang memiliki pilihan-pilihan dan merefleksikan akibat-akibat dari pilihan-pilihan itu. Kapasitas berpikir dan kebijaksanaan ini telah memberi kebangkitan dalam praktik memilih. Dengan demikian dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan secara moral. Tidak sama dengan binatang, yang terlepas dari standar benar dan salah, karena binatang tidak memerlukan standar etika itu. Tetapi manusia dapat memilih sarana-sarana yang salah atau keliru dalam usahanya mencapai tujuan, dengan pikiran yang rasional, ia selalu dapat menggunakan kebebasanya memilih; manusia dapat saja melalaikan pilihan yang benar dan sehat itu, namun dia tidak akan berperan lagi sebagai umat manusia dalam masyarakat. Dengan mempelajari etikalah seorang manusia dapat menjadi manusia yang etis, dapat menghindarkan dirinya dari kesewenang-wenangan terhadap orang lain, serta dapat menggunakan standar yang dapat diakui bersama secara umum.

2. Mengapa kita terhadap semua tindakan dapat dilakukan penilaian etis!
Karena pada dasarnya setiap tindakan memiliki dua sisi, antara perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah. Jika perbuatan dapat dinilai dengan menggunakan standar etika, bersama-sama dapat melakukan kewajiban serta memenuhi hak-hak secara adil.
Seekor binatang tidak dapat melakukan penilaian etis terhadap lingkungan sekitar, sedikit kesempatan untuk dapat melakukan kesalahan dalam persepsinya. Ia tidak tampak memiliki banyak kapasitas untuk kesadaran kritis tentang dirinya begitu juga terhadap makhluk lain. Kerbau misalnya tidak merana karena tidak mampu memberi susu sebanyak yang diberi oleh saudara betinanya pada kandang yang lainnya. Kucing yang pendek tidak merasakan tertekan untuk menjadi seekor anjing Buldog. Demikian juga dengan Kuda tidak berlama-lama di rerumputan untuk mencoba terbang.
Dengan tidak memiliki persepsi diri yang memungkinkan ia dapat membandingkan dan menilai dirinya sendiri, maka seekor binatang tidak memiliki dasar untuk memiliki kesalahan pokok tentang dirinya. Ia tampak bebas dari begitu banyaknya kerumitan yang mengganggu manusia. Akan tetapi, manusia tidak memiliki kapasitas untuk melakukan kesalahan seperti itu. Dengan kesadaran dirinya tentang dirinya sendiri dan lingkungannya, ia memiliki pusat yang dapat membuat kesalahan tentang dirinya sendiri. Apabila dalam upaya memahami dirinya sendiri tidak mampu mengenalnya maka ia menilai dirinya sebagai sesuatu yang lain dari yang sesungguhnya, ia tidak dapat mengenal dirinya sendiri.
Kemampuan manusia untuk memberikan perbandingan, kesadaran untuk mengetahui sebuah objek mengakibatkan manusia memungkinkan untuk melakukan penilaian etis terhadap objek. Ia melihat etis atau tidaknya suatu objek oleh adanya standar etis dalam dirinya, untuk mengetahui batasan-batasan etis dalam dirinya serta etis dan tidaknya dalam lingkungan itu.
Standar itu dapat berbentuk etis bagi dirinya sendiri, etis dalam sebuah kelompok, juga etis dalam suatu kondisi tertentu, serta etis dalam hal yang lebih luas lagi. Orang ke-Timuran memungkinkan memiliki nilai etis bagi masyarakatnya, misalkan dalam nilai etis masyarakat Bali dan Jawa pada saat “makan” tidak diperkenankan untuk membuang ludah, makan saat berdiri, atau kelompok lain makan dengan duduk sementara diri sendiri makan dengan berdiri. Penilaian etis bagi diri sendiri ditemukan dengan penilaian etis dalam kelompok itu.
Prilaku meludah saat sedang jamuan makan akan menjadi salah dalam prilaku etis, dengan demikian prilaku makan dalam kelompok tertentu dapat diberikan penilaian etis terhadap sikap dan prilaku makan dalam kelompok itu. Prihalnya, alasan yang mengakibatkan meludah saat dalam kelompok sedang jamuan makan, menimbulkan persepsi mengundang pengertian yang “jorok”, tidak sopan, kurang bertata krama.
Sementara meludah saat makan sendirian, mungkin tidak menjadi penilaian etis bagi dirinya sendiri. Bagi dirinya sendiri prilaku meludah saat sedang makan, mungkin karena kepentingan saat itu adalah terganggunya tenggorokan karena terjadi radang tenggorokan, sehingga perlu dengan segera untuk mengeluarkan ludah saat sebelum makan, supaya tidak tertelan ikut masuk larut dalam makanan. Disamping itu juga, keperluan kesehatan itu memberikan peluang untuk melakukan itu, sehingga tidak terjadi penilaian etis terhadap dirinya sendiri.

3. Coba jelaskan, mengapa kata hati bisa keliru dalam memberikan pertimbangan!
Sebab sebuah kata hati terkadang tidak dapat memberikan pemahaman terhadap sebuah benda atau suatu keadaan / masalah. Ketika melihat suatu benda / keadaan tapi tidak mengenalnya “apa itu”?, dapat mengambil benda tersebutuntuk sesuatu tujuan yang lain dari “apa itu”. Kegagalan dalam melihat objek “apa itu” menimbulkan kesalahan, demikian juga halnya dengan kesalahan memandang hakikat benda tersebut. Apabila Seluruh objek tidak dapat ditangkap dengan baik, maka hanya ketidak tahuan bukan sebuah kesalahan, kekurang sempurnaan melihat objek mengakibatkan sebuah kesalahan dalam memberikan pertimbangan. Objek yang tidak dapat seluruhnya ditangkap oleh panca indra tidak pernah menjadi sumber kesalahan atas pemahaman terhadap objek tersebut.
Contohnya ketika melihat benda dalam kegelapan atau keremangan senja hari, mengakibatkan gagal mengidentifikasikan bahwa objek yang dilihat adalah sebuah “daun pisang”, dengan menyimpulkan dalam persepsi sementara sebagai orang dengan bertubuh tinggi hitam dari kejauhan yang melambaikan tangannya. Memori yang tertanam dalam pikiran, mengakibatkan sebuah persepsi terhadap sebuah paranoid yang tidak beralasan. Oleh karena dapat melihat objek namun gagal mengidentifikasi objek sebagai benda yang tidak berbahaya atau yang tidak menakutkan, maka telah dimiliki sebuah kesalahan yang mengakibatkan sebuah persepsi rasa takut.
Sementara seseorang yang tidak memiliki penglihatan tidak cukup bagus dan orang yang memiliki penglihatan yang jelas, melihat benda yang sama sedikit memiliki kesalahan dalam persepsinya. Ia tidak mendapatkan kesulitan, bagi yang memiliki penglihatan yang tidak begitu bagus, tidak dapat melihat benda itu. Sebaliknya yang memiliki penglihatan yang jelas, dapat melihat benda dalam remang-remang mengakibatkan tidak mempersepsikan benda yang dilihat sebagai benda yang menakutkan, sehingga tidak perlu untuk melakukan aktivitas menghindar dari benda tersebut. Kedua-duanya memiliki sedikit kesalahan dalam mempersepsikan benda tersebut. Sangat sedikit pengaruhnya untuk memberikan kesalahan terhadap benda tersebut, ia tidak memiliki persepsi apa-apa tentang benda tersebut, jadi keduanya melewati sebuah benda dengan tanpa hambatan, yang satu dengan ketidaktahuan total yang satunya dengan pengetahuan total tentang benda tersebut.

4. Dalam kitab Sarasamuccaya terdapat beberapa sloka yang mendiskreditkan perempuan, seperti memilik nafsu seksual tinggi sering serong dan sebagainya. Mengapa bisa muncul Sloka seperti itu dan apa makna dibalik sloka maksud dilihat dari perspektif etika!
Kitab Sarasamuscaya adalah tuntunan bagi mereka yang sudah meliwati Grhasta Asrama, atau tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama, apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka.
Khusus mengenai wanita, demikian dianggap ‘berbahaya’ bagi kedua Asrama itu, misalnya seperti apa yang diuraikan dalam sloka: 424 sampai 442 Pustaka Sarasamuccaya. Sebagai berikut:

424. Ri sakwehing kinaragan, tan hana amadana stri, ring agong denya gawe kapapan, apayapan sangkaning hala ikang stri ngaranya, matangnyan singgahana ikang stri ngaranya, kangenangenanya tuwi, tinggalakena juga ya.
Diantara sekian banyak yang dirindukan, tidak ada yang menyamai wanita di dalam membuat kesengsaraan; apalagi memperolehnya dengan cara yang jahat; karenanya singkirilah wanita ini, meskipun hanya angan-angan, hendaklah ditinggalkan saja.

425. Apan ika gati rasika molah ring grama, stri hetunika, mangkana ikang krayawikrayagati masangbyawahara, dening stri jugeka, sangksepaniking stri ngaranya, sangkaning prihati juga ya, matangnyan haywa jenek irika.
Adapun mereka yang ingin berdiam di dalam desa, adalah wanita yang menyebabkannya demikian pula orang yang mau berjual beli dan berdagang, adalahwanita pula yang menyebabkannya; pendeknya yang disebut wanita itu merupakan pangkal prihatin saja; oleh karenanya, janganlah tertambat kepadanya.

426. Apan ikang stri teka asih agalak matanya, ling nikang kamuka, wastuning apusapus tambalung, sangkalaning mudha juga ya, kadyangganing jala, puket, payang, an hinanaken bandhana pangalap iwak, mwang kadi kurunganing manuk, an hinahaken panjaranikang manuk.
Sebab wanita itu, menyebabkan datangnya cinta, matanya yang galak-pikir doyan asmara; merupakan alat pengikat, rantai pembelenggu si bodoh; sebenarnya itu seperti misalnya jala, pukat, pajang, adalah diadakan untuk alat penangkap ikan, dan sangkar burung itu diadakan adalah untuk memenjarakan burung.

427. Nang pati, nang pracandanila, angin adrs tan pangkura, nang sang hyang mrtyu, nang wadawanala, apuy ahulu kuda, ri dasaring patala, nang landeping kuwakuwa, nang kalakuta wisa, nang wyalasarpa, nang prakupitagni, apuy dumilah katara, paturunan ika kabeh, yatika stri ngaranya, pilih salah sikinika kabeh, tattwanikang sinanggah stri.
Maut pracandanila, yaitu angin yang luar biasa kencangnya dewa maut wadawanala; yaitu api berkepala kuda di dasar bumi, tajamnya pisau cukur, bisa atau racun kalkula, ular berbisa, prakupitagni, yaitu api berkobar-kobar dengan dahyasnya; kesemuanya itu adalah wanita dinamakannya; pun salah satu dari kesemuanya itu sesungguhnya disebut pula wanita.

428. Tatan hana tan yogya parana, dening stri ngaranya, tan yogya mara irika, apan mamangke gatingku, kunang ika, mamangkana gatinya, mamangkana katwanganya, Tatan katekan wiweka mangkana, ikang stri ngaranya; mara jug aya, mwang tan wruh ta ya ring atuha rign anwam, tatan huninga ya ring surupa lawan wirupa, jalu-jalu ta pwa iki, mangkana juga lingnyan tetaken raganya.
Tidak ada yang tidak patut akan didatangi oleh wanita; tidak patut aku pergi kesitu, sebab keadaanku begini; akan dia itu, keadaannya begitu, patut dihormati; tidak mempunyai pertimbangan demikian wanita itu; sebaliknya dia pergi saja dan tidak memikirkannya, apakah sianu itu orang muda atau orang tua, ia tidak menghiraukannya, apakah tampan atau buruk, ah, laki-laki ini, demikian saja pikirnya, pada waktu nafsu berahi itu datang.

429. Sangksepaniking stri, durasara juga ya, tan kawenang sinengkeran, yadyapin sinengkeran, winarah ring maryada yakti, apan tan sangka ripamatihyan winarah, matangnyan anukula pakatonanya ri jalunya, kunang prasiddha karananya ri denyan tan kinarya juga, nora mujukmujuki ya, pilih dening takutnya kunang, pilih paribhawa kunang, karananyam mangkana.
Kesimpulannya, wanita itu umumnya bertingkahlaku buruk, tidak dapat dibatasi; meskipun telah dibatasi, dan kepadanya telah diberi ajaran-ajaran yang benar; namun sebab ia bukan karena patuh waktu dinasehati, hanya tampaknya saja tunduk terhadap suaminya; sebab sesungguhnya ia berbuat demikian agar dia jangan digarap (disakiti) lagi; juga sang suami jangan lagi membujuk-bujuknya; mungkin karena takut disiksa, maka ia berlaku demikian (terhadap suaminya).

430. Yadyapin ikang kawruh bhagawan sukra, mwang ikang aji kawruh bhagawan sukra, mwang ikang aji kawruh bhagawan Wrhaspati, dadya ika kalih memana kawasa niyatanika bhyasan, sarisari lolyan kayatnakena, kunang buddhining stri, wekasning durgrahya juga ya, tar kenenaku kakawasanya, yadyapin lolyan sarisari kayatnakena, hrtcalya mata sanghulun, umapa ta kuneng tekapan ika sang wwang rumaksa ya.
Biarpun Ilmu pengetahuan Bhagawan Sukra dan Bhagawan wrhaspati dapat keduanya itu, dengan tiada begitu sukar dikuasai dengan jalan mengulang-ulanginya, sehari-hari harus digiatkan dan diusahakan; sebaliknya pikiran wanita itu adalah sangat sulit untuk dimengerti, tidak dapat dipastikan bahwa ia akan datang dikuasai, biarpun sehari-hari dengan giat diusahakan; dengan penuh kekecewaan sesungguhnya hamba;apa nian cara orang menjaga akan dia.

431. Tan pakabsuran mata sang hyang apuy ngaranira, yadyapin sahananing kayu, satumuwuh ring bhurmandala, yan tibakena ri sira, iweng tan trptyanira, mangkin wrddhi uga dilahnira denika, mangkana tang tasik, tan pakawaregan uminum wwai ring lwah, mangkana sang hyang mrtyu, tan pakabsuran umangan huripning sarwabhawa, mangkana tikang stri ngaranya, tan pakabsuran juga raganya ring sargga.
Tidak ada puas-puasnya api itu, biarpun segala rupa pohon kayu, semua yang tumbuh dimuka bumi ini dijatuhkan kepadanya, pasti tidak akan menjadikan kepuasannya, bahkan semakin besar saja nyalanya, oleh kesemuanya itu; demikian pula laut itu tidak kenyang-kenyang meminum air dari sungai-sungai, demikian pula sang maut tidak puas-puasnya mencaplok jiwa semua makhluk; maka demikianlah si wanita itu tidak ada kepuasan nafsu birahinya akan persetubuhan.

432. Tan hentya mala dosanikang stri yan warnan, yadyapin hana wwang alidaha sewu, mayusa ta ya satus tahun, haywa ta ya salah gawe, dosaning stri kewala warnananya, iwong tan hentya, akantang katekan pati.
Tidak akan henti-hentinya jika dosa wanita itu diceritakan, bilamana ada orang yang berlidah seribu dan berusia seratus tahun serta tidak melakukan pekerjaan lain, melainkan hanya dosa wanita itu saja yang diceritakannya, pasti tidak akan berakhirceritanya sampaijangkanya datang dicaplok maut.
433. Lawan ikang stri ngaranya, apuy mangba padanya, kunang ikang jalu-jalu ngaranya, pada lawan minak ika, kalinganya yawat ikang jalu-jalu sakta aparek irikam niyata syuh drawa durbala ya, yapwan apageh ikang wwang ring sistacara; tan kawesa denikang stri, niyata nirwikara ya apageh ring hayu.
Dan wanita itu adalah bara sesamanya, sedang si pria itu sama halnya dengan minyak, artinya apabila birahi pria itu datang mendekat kepada si wanita, pasti akan hancur lebur, tidak bergaya; sebaliknya jika orang tetap berlaku arif bijaksana, tidak terkuasai hatinya oleh wanita, niscara ia tetap selalu dalam keadaan selamat.

434. Tattwanikang stri ngaranya, sulap, bancana juga ya, makawak krodha, kimburu, matangnyan dinohan ika de sang pandita, tan hana pahinya lawan amedhya, bibhatsa, wastu campur.
Sesungguhnya wanita itu tak ada lain dari pada sulap, berbahaya, berwujud kemarahan, cemburu; oleh karena itu maka dijauhkan oleh sang pandita, sebab tiada bedanya dengan sesuatu yang tidak suci (untuk digunakan kurban kebaktian), sesuatu yang menjijikkan, sesuatu yang kotor.

435. Swabhawaning strii ta kang magawe hala ring wwang, lara prihati pinuharanya, murungaken sarwakarya, enget pwa sang pandita, matangnyar yatna juga sira dumohing stri
Kebiasaan wanitalah yang berbuat bencana kepada orang; duka cita dan prihatin ditimbulkan olehnya serta membatalkan segala kerja; sadarlah sang pandita akan hal itu; karenanya, selalu berusaha menjauhi wanita.

436. Hana ta awayawa ngka rywakning stri, atyanta ring bibhatsa, wekasning kararemah, yogya kelika, yukti singgahana, haywa ta mangkanan, rapwa tan ya kajenek nikang wwang, harsa akung alulut juga ya irika, an mangkana ikang wwang, ndya ta kunang dumeh ya wairagya.
Adalah suatu alat pada tubuh si wanita sangat menjijikkan dan sangat kotor; mestinya dibenci, dan dijauhi, jangankan dapat demikian, untung sekali, jika orang yang tidak sampai lekat, rindu birahi dan cinta kasmaran pada alat tersebut; orang yang bersikap demikian, apakah mungkin tidak terikat pada asmara.

437. Apan ngke ring manusaloka, ika sang pandita, wicaksana tuwi, tan hana sira tan dine kasmala, kinawasaken denya awayawaning stri, kulit sasulpiting kidang, pramananya.
Sebab didunia ini sang pandita sungguhpun cukup bijaksana, tiada luput beliau dari pada noda, dikuasai oleh alat yang ada pada tubuh wanita, yaitu kulit yang berukuran sebesar jejak kaki kijang.

438. Ri tengah nikang kulit sasulitning kidang, hana ta kani, menga tan keneng waras, pinaka hnuning mutra, lawan rah, hibekan haringet, lawan sarwa mala, ya ta angdde wulangun iriking rat, muda wuta tuli ya denya.
Di tengah-tengah kulit sebesar kaki/kijang, terdapatlah luka menganga yang tak pernah sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni dan darah, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegilaan, buta dan tuli karenanya.

439. Ika tang kani, sinuhan sarisari, ndatan trbis juga ya, tan rubuh pinggirnya, tatan kena ring jero, kalih ikang anuhan juga durbala, hilang saktinya, hilang masnya.
Luka itu digangsir selalu, tapi tidak ada yang rapuh, tidak ambruk pinggirnya, malahan alat penggangsirnya yang menjadi lemah, hilang kekuatannya lenyap, kekayaannya.

440. Atyanta ring bibhatsa ikang kani ling mami, ametwaken sarwa malaning sarira, kawaranan dening kala marwuduk lwat-lwat, yatikamuhara kung trsna lulut irikang rat, ascarya mata kami, tan sipi karika bancananikang loka an mangkana.
Terlalu menjijikkan luka itu, menurut pendapat hamba; mengeluarkan segala macam kotoran badan; luka itu diselubungi oleh semacam jerat burung (bahasa Bali, Tampus) yang berlemak lagi a lot, itulah yang menyebabkan birahi, terikat cinta asmara di dunia ini; heran sesungguhnya hamba bukan alang kepalang bencana di dunia ini.

441. Matangnyandohana juga stri ikang ngaranya, tan rengon ujarujarnya, nguniweh tan pidengarakena sabisikbisiknya, hayweningetinget rupanya, nguniweh yan pamudagliga, apan kawulatanika, karengwani sabdanika, ya amuhara pangawesaning raga.
Oleh karena itu hendaklah dijauhi wanita itu; jangan didengarkan kata-katanya, apalagi segala bisik-bisiknya, jangan dipandang wajahnya, apalagi ia telanjang bulat, sebab akan tampak itu, dan terdengar perkataannya, itulah yang menyebabkan merasuknya nafsu birahi.

442. Haywa tatan yatna, haywa rakwa-rakwa angucapa rwarwan ibunta, wwang sanakta, anakta kuneng, apan aglis juga pangawecanikang indriyalolya ngaranya, yadyan sang pandita tuwi kakarsana sira denya.
Jangan tidak berhati-hati, jangan bersenda gurau, bercakap-cakap berduaan dengan ibu anda, saudara anda, anak anda, karena cepat benar menyusup pengaruh indriya (nafsu birahi itu) meski sang pandita sekalipun tertarik olehnya.

Jadi dapat diulas bahwa ajaran dalam Sarasamuccaya adalah jalan kelepasan yang tidak membenarkan seorang pandita untuk terikat oleh keduniawian, tresna terhadap wanita. Palagi cara memperoleh wanita itu dengan cara yang tidak baik, misalkan dengan cara memperkosa, mengambil istri orang lain, menggauli saudara kandung, ibu, bahkan anak perempuannya.
Berdasarkan atas pandangan etis-nya, etika seorang pandita yang menjaga kesucianya agar tetap memperhatikan standar yang diberikan dalam pustaka suci ini, sehingga dapat dengan teguh menjalankan dharmanya sebagai orang suci, orang yang disucikan dan sudah sepantasnya lepas dari ikatan keduniawian sebagai tujuan utama sang pandita.

Sedangkan untuk mereka yang akan menuju ke Grhasta Asrama, atau yang sudah berada di Grhasta Asrama, dalam memandang/ menilai seorang wanita, pedomannya adalah Manawa Dharmasastra Buku ke-3 (Tritiyo dhayah) mulai pasal 4 dst. Terutama pasal 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, di mana dinyatakan betapa mulia dan pentingnya peranan seorang wanita sebagai Ibu Rumah Tangga. Bahkan jika dalam keluarganya seorang wanita tidak dihargai, maka kehancuran akan melanda keluarga tersebut.
Oleh karena itu dalam proses belajar Agama, sebaiknya meminta tuntunan seorang Nabe (guru) yang mampu memberikan bahan-bahan pelajaran apa yang patut ditekuni, sesuai dengan tahapan kehidupan Catur Asrama.

5. Dalam kitab Bhagawad Gita juga ditemukan sloka dimana Kresna menganjurkan Arjuna membutuhkan saudara-saudaranya korawa termasuk gurunya. Apa maksud sloka dimaksud bila dilihat dari sudut pandang etika Hindu!
Latar belakang peperangan Brata Yudha dilalui dengan kisah yang panjang, tidak dengan serta merta melakukan perjanjian perang yang mengorbankan ribuan bala tentara dan harta kekayaan kerajaan. Pihak Korawa dan Pandawa sejak kecilnya telah dimulai bibit-bibit percekcokan, sering kali pihak Korawa berbuat yang ingin mencelakai pihak Pandawa, hingga pada peristiwa Rumah Kardus (laksa graham) yang sengaja dibuatkan dengan alasan untuk melaksanakan pemujaan terhadap leluhurnya Pandu di tempat tersebut. Peristiwa itu sangat menyedihkan para Pandawa, sebelumnya juga para pandawa dipermalukan dengan mempergunakan permainan dadu hingga Seluruh kerajaannya habis sebagai taruhan, termasuk dipermalukannya Drupadi istri para Pandawa di depan balairung kehormatan, sebagai ciri runtuhnya moralitas bangsa.
Perkataan Veda sebagai standar moralitas sudah tidak diindahkan lagi, banyak kejahatan terjadi, oleh karena tingkah polah para pimpinan mereka (Korawa) yang membuat cara yang tidak layak untuk mendapatkan kekuasaan, harta serta wanita. Kata-kata sang Rsi Bhisma, Dona, Kripa, widura dan penasehat kerajaan lainnya tidak diindahkan lagi, bahkan semakin meraja lela. Pesan terakhir untuk perdamaian telah disampaikan oleh Krisna sebagai penegak dan Kebenaran itu sendiri tidak juga diindahkan, sehingga peperangan tidak terelakkan lagi.
Meskipun pertempuran tersebut merupakan pertikaian antar dua keluarga dalam satu dinasti, namun juga melibatkan berbagai kerajaan di daratan India pada masa lampau. Pertempuran tersebut terjadi selama 18 hari, dan jutaan tentara dari kedua belah pihak gugur. Perang tersebut mengakibatkan banyaknya wanita yang menjadi janda dan banyak anak-anak yang menjadi anak yatim. Perang ini juga mengakibatkan krisis di daratan India dan merupakan gerbang menuju zaman Kaliyuga, zaman kehancuran menurut kepercayaan Hindu.
Pada bagian awal Bhagawadgita sebagai inti ajaran dari Mahabarata, menjelaskan “dharma Ksetre Kuru Ksetre”, bahwa medan daratan Kuru Ksetre adalah medan dimana dalam tujuan utamanya adalah menegakkan standar moralitas yang ada, menegakkan kebenaran di atas ketidak benaran yang dilakukan oleh Korawa, sehingga Kebenaran itu memang harus ditegakkan, meskipun sudah tidak ada jalan perdamaian / perundingan lagi, sebab memang jalan itu adalah jalan revolusi yang mengesankan sekaligus menyedihkan sepanjang jaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: