KEAGUNGAN KEPEMIMPINAN GANDHI

Gandhi Wajah Kepemimpinan Ideal
Oleh. IGN.Suardeyasa*

Judul : Keagungan Kepemimpinan Gandhi
Penulis : Pascal Alan Nazareth
Penerjemah : I Gede Swantana
Editor : BR.Indra Udayana
Tebal : i-269 halaman
Penerbit : Ashram Gandhi Puri Indra Udayana Institute of Vedanta
Tahun Terbit : 2013
IMG_4950
Gambaran Umum
Buku ini diterjemahkan oleh I Gede Swantana seorang lulusan Doktor Philosofi Burdwan University West Bengal India, penulis yang kesehariannya semenjak diketahui tahun 2000-an telah berkecimpung di Ashram Gandhi Puri Denpasar, yang diasuh sekaligus sebagai editor buku ini adalah Br.Indra Udayana, juga telah beberapa buku dihadirkan dihadapkan pembaca, buku yang ketiga inilah yang tidak kalah menarik untuk disimak.
Situasi pesta demokrasi yang berlangsung beberapa waktu lalu yakni pemilu Legislatif, sampai tulisan ini dirancang sedang Pemilu Presiden di pertengahan tahun 2014 ini. Kondisi ini juga yang menggagas buku ini untuk dengan penuh semangat menterjemahkan buku karya Pascal Alan Nazareth.
Sebuah kehormatan pula bagi penulis mendapatkan kepercayaan untuk meresensi buku ini, sungguhpun penulis merasa kecil dihadapan para intelektual lain yang lebih memahami nilai Gandhi baik dalam hal demokrasi, penghargaannya terhadap kaum terpinggirkan, maupun nilai-nilai kemanusiaan Gandhi yang belum terjangkau.
Bermodalkan yang cukup sedikit ini, dalam penelitian Gandhi pada tingkat Sarjana di sebuah universitas di Denpasar, dengan referensi autobiografi Mahatma Gandhi Ibu Gedong Bagoes Oka, From Yeravda Mandir, Standley Wolpert dalam bukunya Mahatma Gandhi Sang Penakluk Kekerasan Hidupnya dan Ajarannya, karya Ved Mehta dalam bukunya terjemahan Siti Farida Ajaran-ajaran Mahatma Gandhi Kesaksian Para Pengikut dan Musuh-musuhnya., James Mathews dalam bukunya The Matchless Weapon, Satyagraha.
Berikutnya dalam daftar bacaan re-viewer terjemahan Ngakan Putu Putra dan Sang Ayu Putu Reny dalam buku: Dialog Gandhi dengan Missionaris tentang Kristen dan Konversi” dan buku “10 Tokoh Pembaru dan Pemikir Hindu”, dan dua tulisan I Gede Swantana tentang Mahatma Gandhi. Serta daftar buku Gandhi Sutra di tulis DS Sharma dan a Thought for the Day ditulis Gangga Dewi.
Alih Bahasa buku Pascal Alan Nazareth setebal 261 halaman ini, pertama kali diterbitkan tahun 2006, kemudian diterbitkan lagi di tahun 2011, dan dalam edisi yang saudara pegang ini adalah terbitan dalam edisi berbahasa Indonesia. Penulis sebagai reviewer berusaha membarikan komentar-komentar dengan lepas sesuai dengan kemampuan penulis dalam menjabarkan “Kehebatan Gandhi” dalam hal menterjemahkan berbagai ajaran menjadi sebuah “pribadi yang unik”, dikenang sepanjang sejarah India, Inggris dan bahkan Dunia memberikan penghormatan terhadap jalan hidupnya.
Gandhi yang memiliki nama Mohandas Karamchand Gandhi diyakini nilai-nilai yang dilaksanakannya sanggup hidup dalam berbagai jaman, prinsip-prinsip Gandhi yang dipegang dengan kuat dan kesederhanaannya terhadap pembelaan kaum tertindas dengan cara-cara yang terhormat, negosiasi, persuasive dan elegan, hingga pembebasan India atas penindasan dan pendudukan Inggris atas negaranya.
Gandhi yang lahir dalam lingkungan keluarga Waisnawa yang tekun menjalankan ajaran Hindu, mampu menjadikan fondasi ke-Hinduannya yang kuat, mengiringi diskusi-diskusinya dengan agama-agama lain terutama Kristen pada masa itu, dalam hal mendiskusikan kebajikan masing-masing agama, serta keburukan dari prilaku ekslusif agama-agama lainnya, yang menganggap tiada kebenaran sedikitpun dalam ajaran agama lain.
Gandhi dengan perawakan yang kurus bertubuh yang kecil dalam pandangan umum pada waktu itu, imposible bagi kemerdekaan India. Namun Gandhi memiliki kekuatan alami yang dimiliki Karl Marx dalam hal ide menggerakkan rakyat bawah yang jutaan jumlahnya saat itu di India, akibat dari penjajahan Inggris yang memiskinkan India.

Sebuah Revolusi Mental India
Karl Marx yang kemudian di lanjutkan oleh Lenin menjadi kekuatan besar revolusi, membentuk sebuah grand desain perubahan melawan kaum Borjuis, dalam dua kategori masyarakat yang belum tercerahkan soal kemerosotan dalam hal kemanusiaan serta jajaran tengah yang faham dengan cara menjelaskan kemerosotan kemanusiaan itu terhadap masyarakat kelas bawah yang belum tercerahkan. Namun Lenin justru meninggalkan khasanah Kalr Marx dalam tujuan utamanya, Lenin justru menjadikan gerakan revolusi yang keras dan kejam yang Machiavellian, cenderung menjadi arogan dan anarkhis.
Gerakan Gandhi tidak menjadi seperti Lenin, gerakan itu sebagai sebuah instruksi dari gerakan Ahimsa dan Satyagraha. Dia memulainya dibagian Poenix Johannesburg, anak-anak India, tenaga kerja yang memiliki wujud rasa bhakti yang tinggi, turut membantu Gandhi dalam menyebarkan ide kreatifnya dengan surat kabar yang disebarkan keseluruh pelosok.
Semakin hari Relawan Ahimsa Satyagraha semakin bertambah, tidak saja kalangan bawah, namun sejumlah perusahaan besar yang diselesaikan sengekatanya di Afrika Selatan turut memberikan dukungan yang besar buat kesuksesan dari kampanye Ahimsa dan Satyagrahanya.
Sejumlah perlawanan dilakukan dengan melakukan debat kuat terhadap ide-ide yang berdampak buruk terhadap masyarakat India, diantaranya soal konsumsi makanan masyarakat India yang membandingkan dengan orang-orang Inggris yang bertubuh Tinggi besar dan atletis menjamin kuat. Namun India telah mempercayakan Gandhi dalam salt march (revolusi garam) dengan berjalan beribuan kilo, namun pribadi yang tercerahkan itu adalah pribadi yang kuat.

Memperjuangkan Nasionalisme Kelas Bawah
Tidak saja itu ide-ide berdikari (nasionalisme) India telah muncul dan berkembang, Diantaranya dengan pemintalan kapas untuk pakaian orang-orang India dan tidak lagi mengimport pakaian dari Inggris, sebagai wujud nasionalisme sejati.
Segala sesuatu yang harus diimport dari Inggris dikendalikan dalam gerakan besar Gandhi, warga Ashram di Santiniketan adalah sebuah perwujudan dari tekad yang bulat dalam Sariraasrama, ribuan hektar kapas ditanam, pemintalan kapas untuk membuat pakaian warga ashram inilah yang membuktikan betapa kuatnya keinginan dan dukungan masyarakat kelas bawah terhadap gerakan Gandhi dalam kepeloporannya.
Kegengsian masyarakat kelas bawah India untuk menggunakan Dhoti adalah ancaman bagi nasionalisme India, sehingga Gandhi memulainya dengan tepat sebagai tindakan yang besar dengan merekrut warga miskin terlantar yang tidak mendapatkan perhatian pemerintahan Inggris waktu itu. Dari yang tidak memiliki pakaian kemudian menggunakan Dhoti.
Segala kebutuhan pokok disuplai dari Ashram, makanan yang dikonsumsi sehari-hari dimulai dengan Vegatarian, yang menangkal adanya kekuatan pikiran dan kecerdasan bagi yang tidak memakan daging. Gandhi justru menjelaskan, konsumsi protein dan vitamin terdapat tidak saja dalam daging namun juga terdapat dalam vegeta.
Sehingga sejumlah daging yang diimport dari Inggris otomatis terkurangi dengan adanya gerakan Gandhi. Cinta kasih Gandhi terhadap golongan kelas bawah yang diperjuangkannya membuktikan bahwa masyarakat kelas bawah merupakan manusia yang perlu untuk diperhatikan, bukan dipolitisir namun diperjuangkan untuk penghidupan yang layak.
Gerakan Swadeshi ini menunjukkan pengaruhnya di Seluruh daratan India, karakter yang kuat pribadi yang utuh yang dapat diterima, dari yang tidak lazim dilakukan yakni “emoh bersentuhan” dengan masyarakat jelata yang terpinggirkan, kisah Harischandra yang memberikan dukungan penuh terhadap pengorbanan yang tulus dan ikhlas Gandhi menjadi sebuah tenaga positif yang menggerakkan sendirinya.
Nilai-nilai yang tertanam dalam pribadi Gandhi sangat mengagumkan, Gandhi akan menghukum dirinya dengan sangat keras apabila dia melakukan sebuah kesalahan. Seluruh masyarakat kelas bawah yang tidak tersentuh menjadi sahabat karib Gandhi, bukan sebuah gerakan revolusioner dengan senjata, namun gerakan “people power” menghendaki pemimpinya yang benar-benar dekat dihati semesta sesama ciptaan Tuhan.

Pandangan Pascal Alan Nazareth
Revolusi dari Gandhi memang benar-benar terjadi, namun Inggris awal mulanya menganggap bukan sebagai sebuah revolusi yang besar. Gerakan yang kuat, dari mobilisasi Peremajaan rakyat India menjadi sebuah kekuatan besar yang menggerakkan, nishkama karma sebagai metode cerdas sang Mahatma. Sebagian besar kebiasaan yang menjadi sumber dari pembodohan umat diinterpretasi kembali dalam realitas nyata dan bersumber dalam pustaka suci Hindu.
Kekerasan dari Inggris, namun dibalas dengan “tanpa kekerasan”, kemurahan hati, rela berkorban. Gerakan tanpa kekerasan “non violence” bukan gerakan merebut kekuasaan, tetapi sebuah transformasi hubungan yang berakhir dengan transfer kekuasaan secara damai. Gandhi melancarkan kritik-kritiknya terhadap pemerintahan Kolonial Inggris, namun cara yang digunakan Gandhi dengan tanpa membuat yang “dikritik” merasa sedang dikritik, justru merasa terhormat.
Gandhi menghapus status manusia “Kasta Paling Rendah” setiap masyarakat menjadi warga yang berkewajiban dan berkedudukan sama di hadapan Tuhan. Tugas-tugasnya sebagai pelaksana pekerjaan yang kasar keras dan sangat tidak layak bagi kemanusiaan menjadi “anak-anak Tuhan” Harijan, yang menjadi emansipasi mereka dalam perjuangan rakyat tertindas.

* Penulis, IGN.Suardeyasa adalah Koresponden Media Hindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: