Pendidikan Agama Hindu Menyongsong Kurikulum 2013

Oleh IGN.Suardeyasa*

Kurikulum KTSP
Kurikulum KTSP merupakan evolusi terbaru dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah ditetapkan Kementrian Pendidikan Nasional, yang pada intinya memberikan keluasan pengelolaan terhadap sekolah dalam hal memanagement pendidikan di satuan pendidikan yang bersangkutan.
Pada KTSP pemerintah pusat, memberikan rambu-rambu pelaksanaan pendidikan pada tingkat daerah melalui peraturan pemerintah dan peraturan mentri pendidikan nasional yang ditindak lanjuti oleh BNSP.
KTSP menyerap penuh kompetensi siswa sesuai dengan arah pengembangan pada mata pelajaran, dalam konteks pengembangan kompetensi tersebut, Permendiknas nomor 22 tahun 2006 menguraikan adanya Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada masing-masing jenjang-mata pelajaran.
Tingkat Sekolah Dasar untuk kelas I-III menggunakan strategi pembelajaran Tematik, pembelajaran menggunakan tema yang memenuhi berbagai kompetensi mata pelajaran. Strategi tematik ini bersifat integratif, dalam satu kali tatap muka guru dan siswa akan mempelajari berbagai sub tema (topik) berbagai mata pelajaran.
Satu kali tatap muka, dirancang pembelajaran dengan berbagai topik mata pelajaran, namun Pendidikan Agama dijadikan sebagai mata pelajaran khusus, sehingga tidak semuanya sekolah dapat mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain.
Pendidikan Agama Hindu seharusnya dapat menyeimbangkan antara eksat (sains) dengan pelajaran susila, sehingga terpenuhi tiga kecerdasan dasar yakni kecerdasan kognitif, apektif dan psikomotor.
Dalam tiga kategori yang sekiranya menyerap tiga rancangan teori Bloom tentang pembelajaran dewasa ini, bahwa pembelajaran (learning) seharusnya memenuhi tiga kecakapan yakni kognitif, apektif dan psikomotorik, lalu Bloom juga menjabarkan ketiga kecakapan tersebut ke dalam kategori-kategori sebuah taksonomi.
Untuk memenuhi berbagai kecerdasan anak didik, sebagian besar pendidik mengkolaborasikan berbagai teori yang dikemas dalam satu formula pembelajaran kontekstual (contextual teaching and leaning). Teknik pembelajarannya juga beragam dan menumbuhkan inovasi, baik bagi pendidik maupun anak didik, dengan menggunakan model (contoh/miniatur) atau dengan pembelajaran langsung, yakni dengan membuatkan contoh dari benda yang sebenarnya dan mengamati langsung benda sebenarnya (direct and indirect leaning).
Lalu bagaimana sistem pengelolaan sekolah dalam Kurikulum KTSP, pengelolaannya disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing daerah, sehingga hal-hal yang bersifat lokal dan khusus dapat tercerap dalam sistem sekolah, seperti jadwal yang tidak selalu sama antara berbagai provinsi bahkan satu sekolah dengan sekolah lainnya.
Sistem pengelolaan ini menyerap penuh hal yang disebut dengan management berbasis sekolah (MBS), sehingga dalam rangkaian tersebut Komite sekolah, dewan pendidikan, serta stakeholders sangat berperan penting dalam mewujudkan kwalitas pendidikan di sekolah.
Khususnya mata pelajaran agama Hindu, kementrian pendidikan nasional juga telah memberikan rambu-rambu yakni bersama-sama mata pelajaran lainnya telah diterbitkan Standar Kometensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), dalam kaitannya dengan MBS, pendidik memiliki tanggung jawab dalam menjabarkan SK-KD ini menjadi berbagai indikator sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran pendidikan agama Hindu.
SK-KD ini terutama pada jenjang pendidikan dasar (SD) terdiri dari berbagai ajaran yang terangkum dalam Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yakni tattwa, susila dan upacara, serta tambahan materi pelajaran Weda, kepemimpinan dan budaya. Tri Kerangka Dasar tersebut mendasari pola SK-KD.
Pada kelas I misalkan, selain materi Tattwa, Susila dan Upacara, terdapat tambahan tentang Weda, dan kelas III terdapat tambahan materi kepemimpinan. Pada materi budaya agama sesungguhnya dapat lebih banyak dijabarkan sesuai dengan kondisi lokal daerah masing-masing.
Budaya agama yang ditampilkan dalam materi pelajaran sekolah dasar adalah tentang Tari Kegamaan dan Kidung Keagamaan. Pada konteks multikultur Hindu di Indonesia, sekolah-sekolah dapat mereview Indikator pembelajaran, selain mengenal budaya agama yang berlaku secara nasional, juga memperkenalkan budaya agama pada tingkat lokal di daerah masing-masing.

Referensi KTSP
Sampai Juni 2013 ini, Kementrian Pendidikan Nasional telah menggulirkan akan per Juli 2013 sudah menerapkan Kurikulum 2013. Bagaimana konsep dasarnya dan implementasinya, akan diuji cobakan di beberapa provinsi, terutama pada tingkat sekolah dasar adalah kelas I dan kelas IV.
Catatan penting yang perlu dilihat kembali dalam Kurikulum KTSP. Khusus untuk tingkat Sekolah Dasar, jumlah jam ditingkat SD adalah 3 jam pada kelas IV-VI, dan 2 jam pada tingkat kelas I-III. Pada jenjang SMP/SMA-K dari kelas VII-XII adalah 2 jam. Dengan durasi waktu untuk SD 35 menit dan SMP 40 menit dan SMA-K 45 menit.
Kemudian dengan dikeluarkannya SKB 5 mentri yang mengatur tentang segala tugas guru serta hak-haknya, dalam perencanaan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menginginkan adanya pemetaan guru secara nasional.
Berdasarkan Peraturan tentang pembagian tugas guru dan pengawas, yakni pada intinya beban mengajar guru adalah 24 jam tatap muka, kemudian berkaitan dengan sertifikasi guru diupayakan dengan mengajar pada mata pelajaran yang linier sesuai dengan kelompok mata pelajarannya.
Jumlah jam pelajaran pada tingkat SMP/SMA-K 2 jam, maka satu sekolah harus ada 12 tingkat (kelas) untuk memenuhi 24 jam tatap muka. Jika kurang dari itu, maka logikanya guru agama Hindu akan kekurangan jam mengajar. Resikonya akan dapat menghambat untuk dapat tersertifikasi.
Selain itu guru dapat diberikan tugas tambahan, dengan jumlah 6 jam tatap muka bagi guru yang diberikan tugas tambahan sebagai kepala sekolah. 12 jam bagi guru yang diberikan tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan, 18 jam bagi guru yang ditugaskan sebagai kepala lab dan lainya.
Pada satuan pendidikan biasanya dan sudah umum ada lebih dari satu guru agama Hindu, sehingga dengan jumlah 12 kelas minimal bagi SMP/SMA-K, tentu akan kekurangan jam mengajar. Dapat juga mencari tambahan jam di luar satuan pendidikan, namun wajib mengajar 6 jam tatap muka pada satuan pendidikan induknya.
Selain itu Direktur Bimbingan Masyarakat Hindu yang mengeluarkan Surat Edaran, bagi guru agama untuk memenuhi 24 jam tatap muka, dapat mengajar budaya agama seperti Tari Keagamaan, Upakara, Dharma Gita, Yoga dan Bimbingan Persembahyangan, serta diakuinya jam mengajar di pasraman-pasraman (model sekolah Hindu) yang telah terjadwal.
Salah satu dari masalah lain yang dihadapi guru agama Hindu di lapangan, adalah berkenaan dengan belum terbitnya peraturan pemerintah tentang Pasraman yang memberikan dasar bagi pelaksanaan Pasraman sebagai Sekolah Hindu. Padahal menurut PP 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan telah memberikan ruang bagi Pasraman dan Pesantian.

Pendidikan Agama Hindu dalam Kurikulum 2013
Kurikulum memang harus adaptif terhadap perubahan jaman, agar pendidikan tersebut tetap dapat menyesuaikan dengan jamannya. Kebutuhan mendasar di era globalisasi ini adalah kesiapan peserta didik untuk dapat eksis sebagai manusia yang utuh, dan dapat bersaing pada dunia kerja dan dunia industri (DUDI).
Kecakapan mendasar yang disediakan seharusnya melingkupi soft skill dan hard skill, pelajaran agama Hindu memiliki sejumlah tantangan yang masih perlu untuk bersama-sama melakukan interpretasi dan pengkajian. Sehingga pelajaran agama Hindu dapat tampil menarik sebagai pengetahuan yang baru bagi siswa.
Kelemahan kurikulum KTSP terletak pada kemampuan dari pelaksana pendidikan untuk mengimplementasikan konsep dasar dari KTSP tersebut. Sehingga diharapkan pada Kurikulum 2013 ini, dapat dimimalisir. Anak didik direncanakan untuk menggunakan buku yang lebih simpel namun komplit, sehingga kemungkinan besar akan diadakan buku pedoman pelajaran yang berlaku secara nasional.
Mengenai jam pelajaran juga tetap menemukan titik terang, sebab pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulian terdiri dari mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti, sehingga guru agama Hindu juga dapat mengajar Budi Pekerti dengan jumlah jam 4 jam.
Seharusnya juga pembelajaran Agama Hindu lebih dipertimbangkan bandingan pendidiknya dengan jumlah peserta didik yang dihadapi (dibina), dengan tatap muka 24 jam, jumlah jam mengajar ditambah budi pekerti menjadi 4 jam, itu artinya satu sekolah harus ada satu guru agama Hindu.
Jika siswa satu kelas adalah 15-20 siswa, itu artinya guru membimbing siswa sejumlah 120 peserta didik dalam tiap minggunya. Mudah-mudahan pembinaan terhadap 90-120 siswa setiap minggunya ini dipandang efektif bagi guru agama Hindu dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Hindu.
Mengenai sekolah Hindu memang permasalahan besar yang sampai saat ini belum terselesaikan, alternatifnya diwujudkan dalam pasraman kilat dan pasraman mingguan. Belum lagi masalah peningkatan kualitas guru agama Hindu; selanjutnya perlu diteliti, aspek-aspek yang dapat meningkat dengan diberikannya tunjangan lebih bagi guru yang sudah tersertifikasi. Paling tidak yang dapat diukur adalah dengan meningkatkan kualifikasi dengan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi.

Penulis, Koresponden Media Hindu di Denpasar
(meng-copy milik orang lain/ dari blog ini: agar cantumkan alamat blog dan tanggal terbit, tanggal mengakses web blog ini: segala akibat dari tulisan ini, Penulis tidak bertanggung jawab,)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: