SELAMAT HARI GURU NASIONAL

SELAMAT HARI GURU NASIONAL

25 NOVEMBER 2012

SEMOGA PARA GURU DAPAT MENINGKATKAN PROFESIONALISME

DALAM MEMBENTUK ANAK BANGSA YANG BERBUDI LUHUR, CERDAS DAN BERWAWASAN KEBANGSAAN

PGRI……! JAYA….!

SOLIDARITAS…..! YES….!

Bali Tolak RUU Porno Grafi

TBR/Bali

MENANGKAN JUDICIAL REVIEW ATAU
OTONOMI KHUSUS BAGI BALI


Tanggal 15 November 2008 aksi turun ke jalan dilakukan lagi oleh Komponen Rakyat Bali (KRB) kali ini benar-benar lebih banyak dari sebelumnya, kalangan masyarakat desa adat lebih hadir menolak dengan jumlah yang lebih besar lagi, paling tidak ribuan orang berkumpul di sebelah timur lapangan puputan Renon Denpasar.
Tema kali ini lebih cerdas lagi setelah disahkannya Rencana Undang-undang Pronografi yang dinilai oleh beberapa kalangan masih belepotan tersebut, “Menangkan Judicial Review atau Bali Otonomi Khusus Sekarang Juga”.

Judicial Review Segera Disiapkan
Ketika ditemui disela-sela aksi tersebut, Ngurah Harta menjelaskan bahwa “materi judicial review sudah kami disediakan, diungkapnya lebih jauh “hal itu tanpa harus menunggu pihak lain yang juga mengajukan materi judicial review”.
Akunya “biar saja lebih banyak yang mengajukan uji materi tersebut, ini akan membuktikan tidak layaknya undang-undang tersebut diterapkan di Negara Bhineka ini, seminggu setelah ini (aksi kali ini) uji materi (judicial review) akan diajukan ke Mahkamah Konstitusi”.
Lanjutnya “penggarapan uji materi ini tidak dilakukan oleh orang sembarangan, melibatkan orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya misalkan saja Dewa Gede Palguna yang mantan hakim di Mahkamah Konstitusi, sebab “hal ini tidak saja berasal dari analisis para akademisi saja”.

Jalannya Aksi
Aksi ini terbilang tertib dan aman, sesuai dengan harapan dari masyarakat Bali yang mengutamakan gerakan ahimsa (tanpa kekerasan). Dengan melakukan long mark dari lapangan Puputan Renon Denpasar menuju ke Utara di sebelah Timur TVRI Bali.
Berikutnya ke arah Timur menuju arah depan kantor majalah Sarad Bali, selanjutnya ke arah Utara dan ke arah Timur melewati jalan Merdeka, berikutnya ke arah Utara melewati jalan Hayam Wuruk depan kantor Dewata TV, lalu membelok ke arah Barat menuju ke arah pusat kota Denpasar.
Sampai di seputaran pasar Asoka Denpasar masuk melewati jalan Kapten Japa, terus menelusuri ke arah Selatan melewati kantor KPU Bali, kemudian meluruskan barisan di seputaran civik center, kantor Wilayah Bali Departemen Agama, dan beberapa dinas lainnya.
Setelah itu masuk ke arah Selatan menuju depan kantor DPRD Bali, berikutnya memasuki lingkaran di depan kantor Gubernur Bali yang tepat berada di sebelah Selatan monument perjuangan rakyat Bali Bajra Sandhi.

Tanggapan Parpol
Terkait dengan sisahkannya RUU APP beberapa minggu yang lalu masih menyisakan permasalahan pada penggarapan undang-undang tersebut. Di samping cacat hukum seperti yang dijelaskan dalam majalah ini pada edisi 57, dengan pemalsuan tanda tangan beberapa anggota fraksi sehingga dapat memenuhi quota pengesahan.
Padahal secara kenyataan pada rapat fraksi pada pembahasan Undang-undang tersebut, pengakuan ketua Partai Damai Sejahtera (PDS) Bali yang tegas menolak disahkannya RUU tersebut. Ungkapnya ‘dilihat banyak terjadi pemaksaan kehendak demi kepentingan segelintir orang saja’.
Berikutnya dari Fraksi Partai Demokrat I Wayan Gunarta yang menurut pengakuan Ngurah Harta turut serta dalam pengesahan RUU APP tersebut sengaja menghindar dan tidak memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan, dan selanjutnya kelimpungan tidak karuan jawabannya kilahnya ‘yang ikut mengesahkan bukan atas nama partai tapi atas nama pribadi, terbukti di daerah tidak diikutsertakan sama sekali’.
Berikutnya salah satu aanggota Komisi VI DPR-RI dan Panja RUU APP dari fraksi PDI-P Ni Gusti Ayu Eka Sukmadewi, S.H, menyuarakan sedari awal fraksinya menolak dengan tegas baik pembahasan dan penolakan RUU ini, karena ditengarai akan menimbulkan gejolak penolakan berkat ketidak jelasan aspek hukumnya.
Pasalnya seperti yang diuraikannya ‘ibu-ibu yang telanjang dada, masyarakat miskin yang tak berbaju akan dipenjarakan’ menurutnya ada beberapa hal kekeliruan dari disahkannya RUU yang cacat hukum ini yakni ‘setiap anggota seharusnya ada undangan ini tidak ada undangan dan pemberitahuan sama sekali jika akan di sahkan pada tanggal itu’.
Undangan untuk revisi datangnya terlambat yang cenderung dibuat-buat agar tidak sempat mencermatinya rancangan yang akan dibahas dalam sidang-sidang. Mungkin mereka tidak mengerti substansi hukum apa yang disahkan?’.
Demikian juga dari Golkar Bali Sumarjaya Linggih menjelaskan adanya cacat hukum seperti ‘pemalsuan tanda tangan Agung Sasongko tanda tangan dari Partai Demokrat’.
Sedangkan salah satu perwakilan Angota DPRD Papua Barat yang berkenan hadir pada saat itu Djimi Dimianus dengan tegas menyatakan kesalahan dalam konsiderat, disebutkan ‘pasal 29 dijadikan acuan untuk mengatur cara berpakaian, jelas-jelas padal tersebut mengatur kebebasan beragama’.
Dijelaskan juga bahwa ‘prilaku sesuai dengan budaya dan agama, budaya dan agama yang mana? Di negara ini ada beberapa agama, tentu ukurann budaya dan agama ini berbeda-beda. Jelasnya juga ‘ini ada kekuatan asing yang sengaja ingin memecah belah, yang tidak mengerti dengan akar sejarah Indonesia, perjuangan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke’.

PASCASARJANA IHD NEGERI DENPASAR AKREDITASI B

Gus Arde/Bali

Tanggal 09 sampai 16 Agustus 2008 pihak Dikti berkenan menurunkan tim asesor BAN (Badan Akreditasi Nasional) dalam rangka akreditasi Program Pascasarjana yang mengampu dua program studi yakni program studi Brahma Widya dan Dharma Acarya.
Hadir asesor Prof. Dr. Alef Thera Wasin, Drs. I Wayan Supartha, M.Hum, dan Drs. I Made Sutresna, M.A., setelah dimonitoring dan dinilai selama beberapa hari hasil-hasilnya kemudian diproses oleh pihak Dikti (Pendidikan Tinggi).
Bersamaan dengan IHD Negeri Denpasar menurut pengakuan Dr.Drs. I Nengah Duija, M.Si selaku sekretaris Program Pascasarjana ada beberapa perguruan tinggi yang sedang dalam proses akreditasi. Lanjutnya kedepannya sementara dipersiapkan dengan berbagai kajian batang keilmuan dengan cukup modal yang ada akan diprakarsai program doktor.
Selanjutnya pada tanggal 14 November 2008 bagai gayung bersambut, diterimalah hasil akreditasi terhadap dua program studi di IHD Negeri Denpasar dengan nilai B. Untuk menyambut hal itu dilaksanakan acara selametan di Aula IHD Negeri Denpasar.
Pengakuan Drs. I Ketut Widnya, M.A., M.Phil., Ph.D selalu Direktur Program Pascasarjana IHD Negeri Denpasar masih beruntung mendapatkan nilai B, sementara terdapat perguruan tinggi yang lain ada yang belum beruntung.
Ungkapnya lagi, kedepan Program Pascasarjana akan berbenah diri dalam infrastruktur dan suprastrukturnya sehingga bisa melangsungkan akreditasi dengan nilai yang lebih baik lagi.
Sementara Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag selaku Rektor IHD Negeri Denpasar menjelaskan mengenai aktivitas program pasca yakni melangsungkan program pendidikan kepada karyasiswa bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi yang ada di Bali, dalam bentuk dukungan dosen-dosen seperti UNUD (Universitas Udayana), UNDIKSA (Universitas Pendidikan Ganesha) Singaraja, UNHI (Universitas Hindu Indonesia), ISI (Institut Seni Indonesia) yang sebagian besar adalah profesor.
Hal itu dibenarkan I Ketut Widnya, Ph.D, aktivitasnya juga mendatangkan dosen-dosen yang ahli dalam bidang penelitian, bidang kajian pendidikan, dan filsafat seperti dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan pembicara dan theolog terkemuka nasional Ngakan Putu Putra, S.H., M.Hum yang rencananya akan dilaksanakan tanggal 25 November 2008 ini.
Menurut I Ketut Widnya, Ph.D juga bahwa batang keilmuan yang umum dalam Hindu adalah Brahma Widya, dari batang pokok ini lalu memiliki ranting-ranting seperti teologi, kemudian pendidikan Hindu. Namun pendidikan Hindu ini diberlakukan khusus karena alasan kebutuhan kekhususan keilmuan dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan Hindu itu sendiri.
Selain itu suksesnya acara akreditasi ini tidak lepas dari peranan out put Pasca yang banyak berkiprah dalam berbagai bidang, terdapat alumnus Pasca yang berkiprah sebagai pendarma wacana.
Begitu juga ada yang berkiprah sebagai sulinggih di masyarakat, sebagai penulis buku, hingga pengambil kebijakan yang terbilang berhasil di beberapa instansi baik di Bali maupun di luar Bali.
Inilah yang disebutkan oleh I Ketut Widnya, Ph.D sebagai dukungan yang terpenting yang membuktikan eksistensi Program Pasca Sarjana, lulusan yang memang mampu memasyarakat dan dibutuhkan oleh masyarakat baik masyarakat Hindu maupun non-Hindu.
Beberapa diantaranya yang menjadi lulusan terbaik berdasarkan data statistik Pascasarjana IHD Negeri Denpasar adalah Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag yang adalah rector IHD Negeri Denpasar hingga sekarang, yang memimpin institusi ini dengan penuh pengabdian dengan motto “Asih, Punia, dan Bhakti”.
Lain halnya dengan Drs. I Ketut Wiana, M.Ag beliau memang aktif sebagai penulis, penceramah nara sumber dari seminar lokal hingga internasional yang juga tidak kalah dipentingkan oleh umat Hindu.
Berikutnya predikat comlaude Drs. I Wayan Miartha, M.Ag sekarang sudah me-dwijati dengan nama bhiseka Sri Mpu Jaya Acaryananda yang juga tidak asing bagi masyarakat Hindu di Sulawesi Tenggara lantaran pengabdiannya selama berpuluh-puluh tahun di pulau tersebut.
Sementara di Mataram sana juga terdapat Drs. I Wayan Murba, M.Ag yang juga aktif dalam melakukan pembinaan disamping sebagai penyuluh, beliau juga aktif menulis buku-buku agama Hindu yang banyak dikonsumsi oleh umat Hindu di nusantara ini.
Dan juga adanya dengan Drs. I Ketut Donder, M.Ag yang satu ini memang memiliki basik ahli beton akan tetapi ahli juga dalam hal teologi Hindu yang pantas disejajarkan dengan teolog lain seperti Ngakan Putu Putra, yang juga banyak menulis buku-buku Hindu, dan baru-baru ini mendapatkan award untuk penulis buku terpopuler dan terlaris.
Karyanya yang paling monumental adalah “Brahma Widya, Teologi Kasih Semesta” yang diterbitkan oleh percetakan dan publisher Paramita Surabaya dan masih banyak lagi karya beliau baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan.
Kegiatan selametan ini dilakukan dengan pemotongan tumpeng oleh Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag selaku rector yang berkesempatan hadir pada saat itu, pemotongan tersebut disaksikan oleh pejabat struktural dan fungsional IHD Negeri Denpasar dan didampingi oleh Dorektur Program Pasca.

%d blogger menyukai ini: