Kontemplasi Bubuksah-Gagak Aking

Oleh: IGN.Suardeyasa

Sinopsis Lontar Bubuksah
Lontar Bubuksah di tulis pada Wadoprana Aburih, wuku Kurantil, pada hari kesembilan bulan terang, menjelang bulan (sasih) Jyesta (bulan sebelas) tahun saka 1619. Kemudian di gubah pada Menail Umanis, bulan Kartika, hari ke dua belas bulan gelap tahun saka 1811.
Diceritrakan dua bersaudara kakak beradik bernama Kebwamilir dan Kebwakraweg, para sanak keluarganya tidak menghendaki mereka ada di rumah bersama mereka terus-menerus. Mereka tidak diakui sebagai keluarga. Mereka berdua selalu membuat sedih para tetangga, karena mereka belum mengenal etika.
Mereka berdua lalu menuju Majalangu meninggalkan wilayah Kediri “lah ta mareng Majalangu nengghyana pandhita sakti kang sinengguh sang mahamuni nggonani angrungu sabdha sira sang siddha purusa”. Mereka menemui seorang pertapa suci, dari sanalah mereka lalu belajar tentang ajaran yang sangat rahasia, yakni ajaran keabadian.
Banyak hal yang diperoleh baik dari Rahulukembang salah saeorang murid dari pertapa suci itu. Kebwakraweg rupanya lebih menguasai ajaran etika yang mengutamakan filsafat tindakan, dan tidak semata-mata mengejar kelepasan.
Mereka juga belajar kepada Sang Jugulwatu, salah seorang dari putra sang mahamuni, yang telah berhasil dalam tahap ujian pantangan-pantangan, dikatakan berbadan gaib meski usianya masih muda, ia tidak ragu-ragu jika akan menemui ajalnya, dalam suatu hari lebih sepekan, badan beliau seperti mati tidak ada yang mengetahui kerahasiaan beliau, tubuhnya menebar keharuman “pati nira keh wong gawok dening anilih tan katon”. Wafat beliau sangat gaib oleh karena badan beliau tidak terlihat.
Karena ketulusan hati keduanya untuk berguru, mereka lalu didiksa, yang lebih tua bernama Gagak Aking sedangkan adiknya bernama Bubuksah. Mereka berdua mendapatkan petuah-petuah jalan menuju keabadian, jalan kelepasan.
Setelah mendengarkan petuah-petuah dari sang mahamuni, mereka berdua lalu ingin melakukan tapa brata di pegunungan, ketika Purnama Kapat (sekitar bukan September-Oktober) melangsungkan pertapaan suci.
Dalam perjalanan mereka beristirahat di sebuah balai, di balai tersebut terdapat lukisan wayang yang menceritrakan Sudamala. Di tempat itu pula mereka membersihkan diri, terlihat dari pegunungan itu daerah Jenggala dan Majapahit menghampar luas. Mereka lalu tiba di sebuah hutan yang menakutkan, banyak binatang buas. Sang Gagak Aking memutuskan untuk mengajak adiknya, membuat pertapaan di sana. Sang Gagak Aking di sebelah Barat sedangkan Sang Bubuksah di sebelah Timur-nya.
Sebelum membuat tempat pertapaan, mereka menuju ke sebuah pancuran air, dilihatlah sebuah patung yang menceritrakan lakon Arjuna Tapa, saat Arjuna melaksanakan tapa yang hebat, Sang Arjuna meskipun di goda oleh bidadari cantik nan molek Supraba, Gamarmayang, dan Tilotama namun tidak mengurungkan tapa semadinya.
Mereka melanjutkan tapa berata setiap harinya, mereka melaksanakan tapa brata yang agak berbeda. Gagak Aking menjalankan aliran Vegetarian dalam teks disebut sebagai amberawi (bherawi / aliran kanan), yakni tidak memakan daging dan segala yang berasal dari hewani, hanya tumbuhan yang dianggap makanan suci.
Sedangkan Bubuksah sangat berbeda jauh, dia melakukan tapa bratanya sangat aneh dan tekun, segala jenis makanan akan dimakannya, sesuai dengan janjinya, apapun yang terkena jebag yang dipasangnya akan dimakan habis, tidak saja kancil, hingga tikus, dan binatang lainnya juga dimakannya, dibuat menjadi olahan makanan, sambil menyanyikan kidung-kidung suci semalaman, menegag air nira (tuwak), aliran ini juga sangat strik dalam menjalankan tapa bratanya.
Bubuksah tidak kalah mengagumkan dalam menjalankan tapa bratanya, siang dan malam selalu ingat dengan makanannya, karena masakan yang dibuat harus habis, tidak tersisa sedikitpun. Aliran ini disebut ambherawa, kemungkinan besar aliran ini adalah aliran Bherawa (aliran kiri).
Pada suatu ketika, mereka terlibat dalam diskusi yang hangat, sang Gagak Aking memberi tahu kepada adiknya, “adinda, apakah yang adinda lalukan itu adalah suci, kenapa kita tidak menjalankan tapa brata yang sama saja, dengan memakan makanan yang suci”. Bubuksah rupanya tetap teguh dengan pendirian tapa bratanya, meski sang kakak menyatakan ajarannya keliru dan tidak akan dapat mencapai kesempurnaan batin.
Bubuksah tetap menjalankan tapa bratanya dengan tekun. Pada suatu ketika Bethara Guru (Dewa Siwa) berkehendak menguji kesetiaan dan keteguhan keduanya dalam menjalankan tapa brata. Di utuslah seekor harimau putih, yang segera menghampiri tempat pertapaan mereka.
Klimaksnya, Gagak Aking menyarankan agar harimau menghampiri adiknya, yang badannya gemuk, berbeda dengan dirinya yang berbadan kurus, mungkin tidak membuatnya kenyang. Gagak aking tidak rela jika dirinya, yang memakan makanan suci dimakan oleh binatang yang tidak suci.
Berbeda dengan Bubuksah, dia pemberani dan telah siap meskipun saat itu ajal menjemputnya. Dia meminta menunggu sebentar, selesai dia menyucikan tubuhnya dan melaksanakan japa, mempersilahkan kepada harimau putih itu untuk memakannya. Namun sang Harimau malah mengajak mereka berdua untuk terbang ke sorga loka, Bubuksah menunggangi harimau putih itu, sedangkan Gagak Aking diterbangkan menggelantung di ekornya.
Keduanya dapat mencapai kesempurnaannya, keduanya mendapatkan sorganya masing-masing. Kemudian Gagak Aking mendapatkan kesempurnaannya, sampai tidak ada satupun yang disayangi dari tubuhnya itu, hendaknya para pendeta memahami tentang rahasia keilahian dan rahasia kematian, tidak ada yang disayangi, tidak ada yang dibenci, berpendirian teguh. Gagak Aking mendapatkan sorga tingkat kelima sedangkan Bubuksah mendapatkan sorga tingkat ke tujuh.

Prilaku yang Menentukan, Bukan Janji sorga
Begitu rumitnya memahami isi dari Lontar Bubuksah, disamping karena bentuknya telah digubah ke dalam bentuk kidung, yang merupakan simpul-simpul yang memerlukan pengkajian hermeneutic-semiotic dan semantiknya. Namun penulis berusaha dalam beberapa waktu membaca dan memahami isinya, ternyata isinya menarik untuk dikaji.
Lontar Bubuksah lebih menekankan terhadap filsafat tindakan, Bubuksah yang melaksanakan tapa brata sangat hebat dan tekun. Dia memakan segalanya (sarwa baksa), apapun yang terkena jebag yang dipasangnya, akan disembelihnya untuk diolah menjadi makanan, ditemani dengan nira (tuwak). Namun sesungguhnya, banyak pantangan yang telah dilaksanakan dengan saksama oleh Bubuksah, dia sangat meyakini jalan yang dilakukannya, meskipun dinyatakan keliru oleh kakaknya.
Bubuksah tetap setia, jujur akan ketidak tahuannya tentang dunia kematian yang sama sekali belum pernah ditemuinya, dari pada mengatakan lebih tahu namun sesungguhnya belum pernah mencapainya, apalagi sampai menjanjikan sorga. Dan mengutuk neraka kepada yang tidak percaya akan ajarannya.
Keduanya menjalankan ajaran yang berbeda, Bubuksah menjalankan Bherawa (aliran kiri) sedangkan Gagak Aking menjalankan Bherawi (aliran kanan). Ketidak teguhan Gagak Aking dalam memegang teguh sasananya sebagai seorang pendeta suci, terutama saat urusan karma pribadi untuk mencapai jalan kelepasan.
Gagak Aking malah meminta kepada harimau putih untuk memakan adiknya Bubuksah, alasan harimau yang tidak suci tidak mungkin dapat menyucikan dirinya yang telah melakukan tapa brata yang hebat. Filsafat atman yang berasal dari yang satu (Hyang Tunggal), sehingga seluruh jiwatman dalam tubuh hewan dan tumbuhan adalah sama berasal dan akan kembali kepada Hyang Tunggal.
Sesungguhnya Gagak Aking adalah seorang pendeta yang sadu budhi, tidak menyukai dengan kekerasan, tidak senang menyakiti dengan membunuh binatang untuk kepuasan nafsu badaniahnya. Selalu memelihara kesucian lahir serta batiniahnya, ia terbiasa dengan cinta kasih, namun karena cinta kasihnya itu yang berlebihan sehingga hakihat sang diri tersamarkan.

Tentang Sinkretisme
Pada beberapa sumber, Lontar Bubuksah sering dikatakan sebagai sumber yang mendasari munculnya sinkretisme antara ajaran Siwa dan Budha di Jawa Timur. Dalam lontar Bubuksah disebut-sebut kerajaan Kediri dan Majapahit, kemungkinan besar pada waktu itu Kediri berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Bukti-bukti adanya sinkretisme Siwa-Budha terdapat dalam relief Candi Penataran yang merupakan salah satu peninggalan kuno kerajaan Majapahit yang utama di daerah Blitar.
Reliefnya mengisahkan kebesaran hati pengorbanan Bubuksah-Gagak Aking dalam menjalankan tapa bratanya. Keikhlasan, ketulusan hati yang menjadi topik utama, disamping juga terdapat relief kisah Sri Tanjung yang dipedomani masyarakat Hindu di Blitar.
Sisi lainnya, Sinkretisme Siwa-Budha semakin terlihat jelas pada ajaran yang dianut umat Hindu di Karangasem, seperti daerah Budha Keling dan Sidemen, dan daerah Tianyar-Kubu. Di daerah Budha Keling, terdapat Pedanda Budha dengan ciri-ciri yang berbeda dengan pedanda Siwa.
Jika Pedanda Budha tidak menggunakan prucut (gulungan rambut), Pedanda Siwa menggunakan prucut. Memegang sesananya masing-masing dan tata cara yang berbeda dalam muput pelaksanaan upacara. Pedanda Budha menggunakan Ketu, terutama saat memuput upacara, pedanda Siwa tidak menggunakan ketu.

• Penulis, Koresponden Media Hindu di Denpasar.
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 102, Agustus 2012, Hal. : 66-67.

4 Tanggapan

  1. om swastiastu
    ma’af sebelumnya , kenapa link downloadnya untuk kitab suci weda sudah mati ya? saya sangat ingin membaca kitab suci weda yg berbahasa indonesia. terimakasih

  2. # dude; perangkat yang kami gunakan, terindikasi sebagai prilaku yang senonoh oleh perangkat dan amunisi lainnya sehingga, lama tidak dapat kami bukak, dan tidak terkendali….biarkan saja sampai non aktif sendiri…kami akan berupaya untuk mengupload ulang dengan media dan perangkat yang baru…sukseme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: