MEMPELAJARI SANSKERTA, MENDAPATKAN BERBAGAI PENGETAHUAN DARI VEDA

Tanggal 30 November 2011 lalu, Fakultas Brahma Widya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar mengadakan seminar Internasional dengan mendatangkan pembicara Prof. Gopalchandra Misra salah satu dosen di University of Rabindra Bharati Kolkata India. Seminar ini membahas pengaruh Bahasa Sansekerta dan manfaat mempelajari Bahasa Sanskerta, dengan tema “Importance of Learning Sankrit to Understanding Allkinds of Knowledge”.

Sebagai Keynote and Speakers seminar ini Prof.Dr.I Made Titib, Ph.D membawakan makalahnya berjudul “Sanskrit in Modern Indonesia”. Beberapa pemateri sebagai panel adalah Dr. I Made Suweta, M.Si yang juga Dekan Fakultas Brahma Widya ini membawakan materi “Worshipping God in Kajang Scripts (Vedic Implication on the Local Genius in Ngaben Ritual in Bali)”. Pembicara selanjutnya adalah salah satu mahasiswa Doktor (Ph.D) di University of Rabindra Bharati Kalkota India yang juga dosen di IHDN Denpasar, Drs. I Ketut Donder, M.Ag membawakan materi “Sekitar Kebenaran Sejarah India dan Agama Hindu”.
Gopalchandra Misra dalam makalahnya setebal 12 halaman dan diuraikannya begitu mengalir, ungkapnya “Sanskrit being one of the oldest language and literature towards different apects of world civilization”. We find utter surprise that Sanskrit has got a rich repository of culture in its pessesion from wich all the elevated to messages on human thoughts and feelings have been catered out for ages”.
Sanskerta menjadi salah satu bahasa tertua dan literatur untuk mengungkap dari aspek yang berbeda tentang peradaban dunia. Kita menemukan sebuah kejutan dalam Bahasa Saksekerta yang kaya dengan penyimpanan kebudayaan dalam posisinya itu menyampaikan pesan terhadap pemikiran manusia dan perasaan telah tersedia dalam berbagai jaman.
Pengetahuan yang diperoleh dalam Veda, seperti ajaran etika kehidupan. Melakukan pekerjaan sesuai dengan dharma, menghormati sesama, orang tua, Tuhan dan tamu sebagai Tuhan, Atithidevo bhavo adalah salah satu mantra Veda yang sangat khas dalam ajaran Hindu.
Sambung Gopalchandra, dalam Veda dapat ditemukan mantra yang universal yakni vasudhaiva kutumbhakam, “the value system which is essentially characterised by love, self-restraint and spirit of service declares”, dalam Hindu akan ditemukan sistem nilai sebagai karakter cinta, pengekangan diri, dan spirit dari sebuah pelayanan.
Kita juga akan menemukan para pembaru Hindu pada jamannya, seperti Sri Caitanya, Ramakrisna Paramahamsa, Swami Vivekananda, Rsi Aurobindo, Rabindranath Tagore dan putra besar India lainnya. Swami Vivekananda memperkenalkan cinta kasih dalam Hindu terhadap dunia Barat pada tahun 1893, Rsi Aurobindo sebagai salah satu resensi novel yang berisi esensi budaya Hindu, demikian juga Rabindranath Tagore sebagai pemenang nobel memperkenalkan kebebasan dalam spiritual.
Seminar ini tambah bermakna lagi dengan tampilan seminasi Dr. I Made Suweta yang mengungkapkan pengaruh Bahasa Sanskrta dalam aksara Kajang dalam Upacara Pengabenan di Bali. Suweta, menemukan bukti-bukti yang telah ada yakni tulisan huruf Pallawa di Penataran Sasih di Pejeng, sebagai prasasti yang lebih tua lagi penemuan prasasti di Sukawana.
Dalam aksara Kajang, akan ditemukan beberapa aksara yang dipetik dari huruf Devanegari seperti aksara “ang-ah”, berkembang menjadi aksara “ang, ong, mang”, “sang, bang, tang, ang, ing”. Dan akan ditemukan juga aksara yang sering dijadikan satu yakni aksara “ing-yang”, atau di tulis bersamaan “ing/yang”.
Aksara kajang juga memuat adanya ong kara amerta, ong kara merta tedong, dan ong kara sungsang. Ungkap Suweta, “anggapan masyarakat selama ini, ong kara merta tedong sebagai aksara yang lebih tinggi dari aksara ong kara merta (biasa-tidak memiliki tedong), sesungguhnya keduanya sama-sama melambangkan pencapaian kelepasan (moksa).
Selain itu,bagi masyarakat Bali harapannya tidak saja bersatu dengan Tuhan, akan tetapi juga bertemu/berkumpul dengan leluhurnya. Namun, leluhur adalah sisi kualitas di bawah dari kualitas Tuhan, leluhur tetap leluhur dan Tuhan sebagai yang maha kuasa dan tidak terbatas.
I Ketut Donder mengemukakan, tentang kebenaran sejarah India yang banyak dimanipulasi untuk tujuan konversi. Seperti maklumat Max Muller dan Williams John yang beranggapan “sungguh mustahil mengalihkan orang-orang India, sebab keyakinannya sangat kuat, caranya adalah hancurkan peradabannya dan putar balik pertalian sejarah bangsanya”.
Ketika di konfirmasi mengenai hal itu, Prof.Gopalcandra Misra menyatakan “tidak, kebudayaan India tidak berasal dari mana-mana, tapi budaya asli India. Tidak juga berasal dari Benua Artika, tapi Bahasa Sanskerta dan kebudayaan India berasal dari India sendiri.

Sumber: Majalah Media Hindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: