UPACARA PITRA YADNYA ALA TRADISI KUNO DI DESA LES

Oleh: IGN.Suardeyasa

Pengertian Ngaben

Secara umum Ngaben diartikan sebagai upacara pembakaran mayat (kremasi), namun Ngaben dapat dikatakan sebagai salah satu rangkaian upacara pitra yadnya yang paling terkenal diantara rangkaian upacara tersebut, seperti atiwa-tiwa, Ngaben, mamukur, ngelinggihang Dewa Hyang dan Maajar-ajar.

Lantaran aktivitas Ngaben demikian mencoloknya. Di beberapa tempat di Bali menggunakan Bade dengan tingkatannya, sampai tingkat sebelas. Inilah yang dapat menyedot perhatian khalayak ramai. Namun keseluruhan rangkaian upacara Pitra Yadnya tersebut di sebut dengan Ngaben.

Berdasarkan atas asal katanya, Ngaben berasal dari kata “ngabu”, yang dimaksudkan adalah mengembalikan raga sarira yang terdiri dari Panca Maha Buta yakni pertiwi, apah, teja, bayu dan akasa menjadi unsur yang lebih halus Panca Tan Matra yakni sadba, rupa, rasa, gandha, dan sparsa. Serta melepaskan unsur Dasendriya dari raga sarira.

Ngaben Sederhana

Banyak pertimbangan yang mendasari pelaksanaan Ngaben di beberapa tempat di Bali, menjadi semakin sederhana akan tetapi tidak mengurangi maknanya. Hanya saja hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah pergeseran cara pandang masyarakat, dari semula pelaksanaan Ngaben diartikan sebagai Ngabehin menjadi Ngabu.

Pelaksanaan Ngaben di beberapa tempat di Bali dilaksanakan secara massal , beberapa sawa pitara di aben sekaligus menjadi satu rangkaian. Satu keluarga paling sedikit mengeluarkan dana sampai lima juta rupiah. Hal ini jauh lebih menghemat biaya dibandingkan dengan Ngaben sendiri-sendiri.

Pelaksanaannya pun berbeda-beda, ada yang melaksanakan dengan ngebet/ngangkid petulangan di setra, ada pula yang ngebet/ngangkid petulangan secara simbolis. Bagi yang ngebet ngangkid dilangsungkan proses Ngaben (ngabu) membakar petulangan di setra. Sedangkan bagi yang menggunakan simbol, dilangsungkan upacara pitra yadnya lanjutan.

Upacara Metuun di Desa Les

Diantara beberapa desa Aga (Bali aga/Bali Mula) di Bali, desa Les masih melestarikan beberapa tradisi yang hingga kini masih tetap eksis. Tradisi ini berasal dari jaman permulaan Hindu ada di Bali, kelompok Gebog Domas Sukawana sebagian besar masih memegang teguh tradisi kuno ini. Namun beberapa desa sudah mengembangkan dan mengadopsi upacara Pitra Yadnya dengan menggunakan Bade.

Sekarang marilah melihat pelaksanaan upacara Metuun yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Les, atau masyarakat Desa Les yang telah merantau. Masyarakat desa Les yang telah merantau ke luar daerah Bali, juga masih memegang tradisi Metuun, tapi beberapa juga sudah mengadopsi upacara Ngaben yang dilangsungkan masyarakat Bali secara umum.

Penguburan di Desa Les

Penguburan sawa di Desa Les, hampir seluruhnya sama, namun ada tata cara yang berbeda. Jika mengubur dikaitkan dengan menanam sawa di tanah, maka di Desa Les penguburan sawa dapat dilangsungkan dalam satu tempat di setra, yang dimiliki oleh satu keluarga, boleh lebih dari satu sawa. Petulangan di dalam liang kubur dapat disisihkan ke samping, untuk selanjutnya ditaruh lagi sawa yang baru. Upacara di setra ini dihaturkan oleh Jro Balian yang khusus bertugas di setra Gremet, di Pura Dalem Gremet (Dalem Mrajepati Desa Les).

Bentuknya seperti gudang tertutup, dan suatu saat jika ada sawa baru, maka gudang itu di buka kembali, hal ini mungkin berlaku sampai enam bulan, atau paling tidak dalam kurun waktu satu tahun sudah dapat dibuka kembali, untuk diisi sawa baru keluarga yang meninggal. Dalam proses penguburan ini, dilakukan upacara sebelum penguburan, dan upacara penguburan.

Kemudian dilanjutkan dengan upacara tiga hari yang disebut upacara Nyubrama Daki, kemudian upacara dua belas hari disebut dengan upacara Nyubrama Telah. Entah apa makna dari upacara Nyubrama ini, masyarakat setempat mengartikannya sebagai upacara penyucian. Selanjutnya dalam kurun waktu satu bulan tujuh hari sudah dapat dilangsungkan upacara Metuun.

Bagaimana dengan Metuun?

Kata Metuun menurut masyarakat setempat diartikan sebagai “tuwun” mendapatkan awalan “ma” artinya marep tuwun (menghadap turun), dalam hal ini marep tuwun dimaksudkan adalah nguntul, tidak menoleh ke kanan-ke kiri, ke depan atau kebelakang. Maknanya adalah, dalam melaksanakan upacara ini ditekankan sesederhana mungkin, tidak ngabehin. Secukup pola-pali upacara saja.

Upacara metuun biasanya pengambilan waktu pelaksanaannya sama dengan dewasa Ngaben pada umumnya, hanya saja ada beberapa dewasa yang paling dihindari, seperti Dora (Pasah) dan Semut Sedulur. Setelah penentuan hari pelaksanaannya, kalurga pelaksana upacara matur piuning di pekarangan rumah.

Kemudian tiga hari sebelum Metuun, Jro Mangku yang diminta untuk menghaturkan upacara memohon tirta di Pura Griya Desa Les. Menurut keyakinan masyarakat setempat, Pura Griya sebagai Pendeta dari Niskala, Pendetanya para Dewa di sorga. Dalam Weda disebutkan Agni sebagai pendetanya para Dewa. Berikutnya, Jro Mangku menghaturkan puja di Sanggah Kemulan, matur piuning sekaligus ngelinggihang hyang pitara di simbol Jemekan, tirta dari Pura Griya digunakan untuk memerciki pralingga hyang pitara.

Mulai hari itu juga keluarga yang bersangkutan telah nyebel (sebel). Namun jika keadaan yang tidak memungkinkan, maka nunas tirta di Pura Griya dilangsungkan pada pagi hari pelaksanaan Metuun.

Metuun, tidak Menggunakan Bade

Biasanya dini hari atau setelah pagi hari, keluarga yang bersangkutan mempersiapkan banten bebangkit, yang fungsinya untuk memanggil hyang pitara untuk hadir, karena akan dibuatkan upacara pebersihan (metuun).

Ciri utama dari banten metuun, adalah menggunakan celeng bebangkit muani (babi jantan), kemudian racikan jatah yang sejenis dengan sate isi, namun memiliki hitungan yang ganjil mulai dari hitungan tiga, lima, tujuh, sebelas, hingga tiga puluh tiga. Adalah simbol dari nawa dewata, sebagai saksi pelaksanaan upacara. Metuun tidak menggunakan Bade seperti Ngaben pada umumnya.

Memarek dan Ngelukat

Setelah Metuun, sedikit tidaknya sudah dapat dilaksanakan Memarek dan Ngelukat tiga hari setelah Metuun. Memarek dilakukan di pura-pura di Desa Les, seperti Pura Dalem Gremet (Dalem Mrajepati) memohon penyucian dari Dalem Merajepati sebagai Bethari Durga. Kemudian Memarek di Pura Dalem Suci (Dalem Pingit) memohon penyucian dihadapan Bethara Siwa, selanjutnya memohon penyucian di Dalem Suan Anyar, dan dilanjutkan dengan ngelukat ke segara, disimbolkan dengan perahu berlayar di segara dan melepas pitik selem (ayam hitam/putih) ke segara. Tiga hari setelah itu dilangsungkan ngelukar Jemekan (simbolis dewa pitara) di rumah.

Memarek mungkin dimaksudkan menurut persepsi masyarakat setempat adalah memohon agar hyang pitara dapat menjadi abdi Dalem, dapat melakukan bhaktinya terhadap Dewa Siwa dan Dewi Durga yang dimohonkan di Pura Dalem Gremet dan Dalem Suci.

Nebas, Ngelinggihang Dewa Hyang

Upacara terakhir adalah Nebas, dalam kurun waktu paling tidak satu tahun dari tegak upacara Metuun, sudah dapat dilaksanakan upacara Nebas, hal ini tergantung kemampuan keluarga yang bersangkutan untuk melaksanakan. Beberapa diantara keluarga di Desa Les, sudah ada yang melaksanakan upacara Metuun diikuti dengan upacara Nebas pada tiga hari setelah tegak upacara Memarek dan Metuun.

Upacara Nebas pelaksanaanya juga menggunakan dewasa Ngaben (Mitra Yadnya), sama seperti upacara Metuun. Upacara ini dimaksudkan untuk ngelinggihang Dewa Hyang di Kemulan masing-masing keluarga.

Upacara Nebas dilangsungkan dengan kembali memohon tirta di Pura Griya dan ngelinggihang pitara pada simbol Jemekan, selanjutnya diiring untuk penyucian di Dalem Gremet dan Dalem Suci, baru kemudian Jemekan dilinggihkan di sanggah Rerodan atau sanggah Kemulan bagi yang tidak memiliki sanggah Rerodan, dan tiga hari setelah itu jemekan sudah dapat dilukar pertanda upacara sudah berakhir.

Kemulan di Desa Les

Desa Les memiliki Sanggah Kemulan yang terbilang unik, desa tua ini hanya memiliki dua palinggih di Sanggah Kemulan. Yang terbuat dari dapdap sakti, yang diupayakan tetap hidup, jika dapdap yang digunakan sebagai palinggih sudah mati maka perlu dilangsungkan upacara untuk menancapkan lagi tiang-tiang palinggih.

Palinggih kemulan di Desa Les tidak berbentuk rong, seperti palinggih kemulan pada umumnya, bentuknya capah (datar), dan kurang jelas antara rong satu dan rong duanya serta rong tiga. Berdasarkan atas interpretasi, rong tiga dilinggihkan di setiap pura di Desa Les, misalkan di Dadia terdapat palinggih Kemulan Rong Tiga, dan telah digantikan oleh keberadaan sanggah rerodan sebagai sebuah kumpulan besar linggih Dewa Pitara.

Palinggih kemulan di Desa Les hanya menggunakan Sanggah Dapdap Sakti, selain alasan sejarah dalam babad Panjingan, yang menjelaskan adanya petaka di Desa Les yang mengakibatkan berpisahnya antara Desa Les dengan Penuktukan, Desa Les membawa delapan tiang palinggih kemulan dan desa Penuktukan membawa empat tiang palinggih Kemulan.

Namun Kemulan di Desa Les ditambahkan dengan penegteg berupa baru di bawah palinggih Kemulannya, sebagai simbol agar tegteg, tidak terjadi lagi petaka. Disamping itu, agar memelihara palinggihnya, dari daun dapdap berserakan, dibersihkan setiap hari. Dengan demikian akan membuat umat rajin ke sanggah kemulannya.

* Penulis, Koresponden Majalah Media Hindu di Denpasar.

Sumber: Majalah Media Hindu Nomer 96 Hal. 68-69, Edisi Februari 2012

Keterangan Gambar:

  1. Banten Bebangkit, Jemekan simbol pitara.
  2. Banten Upacara Metuun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: