2,7 M untuk Rehabilitasi Pura Puseh Panjingan Desa Les

Rehabilitasi total Pura Puseh Panjingan di Desa Les menelan biaya 2,7 Milyar lebih, Pura yang disebutkan sebagai salah satu Pura Tri Sakti beberapa waktu lalu telah diresmikan oleh Gubernur Bali Drs.Pol.Made Mangku Pastika, yang disaksikan pula oleh Bupati Bangli dan Bupati Buleleng.

Pura Puseh Panjingan merupakan salah satu warisan budaya leluhur Bali dari jaman pendahuluan Bali, pura ini merupakan satu tali dengan Pura Desa Sukawana (Pura Pucak Peninjoan), Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan, ketiga pura ini disebut dengan Pura Tri Sakti.

Menurut Jro Penyarikan Nyoman Adnyana pada waktu memberikan sambutan saat peresmian dan penandatanganan prasasti Pura Puseh Panjingan, ”pura ini merupakan salah satu peninggalan leluhur jaman dahulu, di masa lalu Desa Les merupakan satu gugusan dengan wilayah Desa Sukawana saat ini, dan Pura Pucak Peninjoan di Sukawana sebagai Pura Desa/Bale Agung, Pura Panjingan di Desa Les sebagai Pura Puseh, dan Pura Balingkang sebagai Pura Dalem”.

Lanjut Jro Penyarikan Nyoman Adnyana, di masa lalu pendudukan Bali terdiri dari beberapa Kanca Satak yakni Kanca Satak Sukawana, Kanca Satak Kitamani, Kanca Satak Selulung, dan Kanca Satak Bantang. Kanca Satak Sukawana terdiri dari Gretek (Sambirenteng), Les, Pinggan, dan Siakin”.

Gugusan wilayah Sukawana di masa lalu mencapai Tejakula, Bondalem, hingga Julah, sedangkan di wilayah lain terdapat Sembiran, Subaya, wilayah Kintamani, Terunyan, Tenganan Pengringsingan, melingkupi juga bagian barat Kintamani seperti Selulung, bagian selatan melingkupi Bantang, barangkali juga sampai di Desa Sidetapa di bagian barat Buleleng sekarang ini. Namun lama-kelamaan, proses ini semakin memudar beberapa wilayah gugusan yang dinyatakan Gebog Domas (800 keluarga) yang datang sari Jawa Timur bersama Rsi Markandeya, Selulung dan Bantang menyatakan diri sebagai Kanca Satak tersendiri selain sisi Sukawana dan Kintamani.

Salah satu bukti yang menunjukkan adanya waktu yang sama antara sederetan arca yang ada di Pura Pucak Peninjoan, telah ditetapkan berasal dari masa yang sama dengan arca yang ada di peninggalan Pura Puseh Panjingan. Pura Puseh Panjingan kembali membuka lembaran lama. Desa Les sebagai wilayah yang masih mempertahankan tata desa adat tradisional sebagai ciri khas Kanca Satak Sukawana.

Diantaranya sistem penanganan mayat (sawa) yang tersebut kuno, tidak dibakar, seperti di Terunyan misal sawa hanya diletakkan begitu saja di atas tanah. Di Desa Les sawa di kubur, namun seperti dibuatkan lubang laci-laci, suatu waktu jika ada yang meninggal dapat dibuka kembali untuk disusun kembali, disampingnya di simpan sawa yang baru.

Purana Balingkang menyebutkan konon ”terdapat seorang raja bergelar Sri Maharaja Jaya Pangus yang bertahta di Balingkang, kerajaannya terlanda bencana alam, kerajaan lalu dipindahkan ke Jong Les”, wilayah Jong Les diperkirakan terletak di Banjar Panjingan Desa Les sekarang ini. Berdasarkan catatan dari Desa Les, menyebutkan Banjar Panjingan pernah berpindah ke wilayah Buhun (Buhu-sekarang) namun karena wilayahnya susah mendapatkan air sehingga kembali turun.

Konon Sri Aji Jayapangus memperistri seorang putri Tiongkok bernama Khan Cing Wie, prihal ini seorang pandita memberikan peringatan agar tidak mengambil permaisuri dari Tiongkok tersebut, namun tidak dituruti.

Pura Puseh Panjingan tercatat sebagai salah satu situs purbakala di Bali Utara, terang Gede Intaran selaku ketua panitia rehabilitasi dan ngenteg linggih, ”perencanaan rehabilitasi total Pura Puseh Panjingan sudah dilakukan sejak empat tahun lalu, dengan menelan biaya 2,7 Milyar, sisanya diutamakan untuk diisi dengan kegiatan pasraman dengan biaya 20 juta, sedangkan krama Desa Les dikenakan Peturunan diakumulasi sejumlah 1 milyar 180 juta”.

Gede Intaran juga mengatakan, ”Pura Puseh Panjingan sebagai salah satu bagian dari sebuah wilayah yang luas di masa lalu, menyimpan sejumlah pengetahuan bagi anak-anak dimasa mendatang, dengan kondisinya yang sudah tidak baik, maka Kanca Satak Sukawana merembugkan untuk melakukan perehaban total Pura Puseh Panjingan”.

Gubernur Bali Pastika menyambut baik pelaksanaan perehabatan Pura Puseh Panjingan, dengan mengajak bersama-sama untuk menggunakan Pura yang sudah dibangun sedemikian megahnya sebagai tempat pendidikan bagi generasi muda Hindu, tempat untuk menanamkan sraddha dan bakti umat.

Gubernur Bali Pastika juga mengungkapkan, ”Bali dikenal sebagai pulau seribu pura, juga menyisakan sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan solusi, namun jika melihat proposal pembangunan-rehabilitasi pura, besaran pengeluarannya semuanya di atas ratusan juta rupiah”.

Sumber: Majalah Media Hindu

6 Tanggapan

  1. timakasih saya sbagai putra LES bangga akan desa kami yg menjadi bagian sejarah bali mula!

  2. Wau,, 2,7 M…??

    Termasuk rajasika yadnya ato tamasika yadnya ato satwika yadnya ne??

  3. suksme mbok ampun ngaenang blog.. maju terus pembangunan pura (dalem ) yng sekarang..

  4. demikianlah Bali….seribu pura, pasti seribu pura itu memerlukan pemeliharaan..Pura Puseh Panjingan sudah sekian tahun lamanya tidak direhabilitasi total, dan mungkin sampai 50 tahun lagi baru di rehab…astungkara..karena bahan yang digunakan adalah batu vulkanik..tahan lama…saya tidak berusaha untuk memberikan penilaian Baik-Buruk, Rajas-atau Tamasika….

  5. mantap infonya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: