CATATAN TENTANG EDS (EVALUASI DIRI SEKOLAH)

EDS (EVALUASI DIRI SEKOLAH), sesungguhnya baik sekali untuk dikuasai oleh guru-guru. sebab didalamnya terdapat 26 penjabaran dari 8 Standar Pendidikan Nasional (Standar Isi, Proses, Kelulusan, Pendidik & Tenaga Kependidikan, Sarana & Prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan, serta standar Penilaian), selanjutnya dijabarkan ke dalam 62 Indikator lagi, dari masing-masing Standar tersebut.

Manfaatnya adalah, bagi guru-guru merupakan ringkasan seluruh harapan yang digariskan dalam PP 8 standar tersebut..seluruh aktivitas guru yang kurang, dapat terlihat jelas dalam penjabaran EDS ini, terutama dalam Penjabaran indikator EDS On line (off line).

misalkan Menguraikan RPP, sesuai dengan tuntutan standar isi, proses sudah dijabarkan dalam EDS sangat detil sekali…dan tahapan demi tahapan, guru akan mengetahui, seluruh kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri, tanpa harus membohongi diri sendiri.

Pikiran yang selalu tercekoki oleh prinsipASAL BAPAK SENANG, dalam EDS diupayakan agar dihapuskan saja.. sebab pengisian evaluasi diri erat kaitannya dengan keburukan dan kelebihan sekolah masing-masing. Namun hal inilah yang diupayakan oleh EDS agar seluruh lini yang berkepentingan dalam pendidikan merasa MEMILIKI dan BERPERAN DALAM PENDIDIKAN. BAIK ATAU BURUK ADALAH MILIK KITA!,

Salam Pendidikan!!

RPP AGAMA HINDU BERKARAKTER KELAS VII SMP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

Sekolah                                             :   SMP

Mata pelajaran                               :   Pendidikan Agama Hindu

Kelas/Semester                             :   VII/I

Standar Kompetensi                    :   Sradha

  1. Menyakini Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi sebagai Asta Iswarya

Kompetensi Dasar                        :   1.1 Menguraikan ajaran Asta Iswarya

1.2 Menyebutkan bagian-bagian Asta Iswarya

Alokasi Waktu                                 :   2 x 40 (1 x Pertemuan)

 

  1. A.      Tujuan Pembelajaran

Sistem pembelajaran siswa dapat:

*        Menguraikan pengertian Asta Iswarya

*        Menyebutkan bagian-bagian Asta Iswarya

A.1. Tujuan karakter

Siswa diharapkan :

–      Dapat dipercaya (trustworthiness)

–      Rasa hormat dan perhatian (respeet)

–      Tekun (diligence)

–      Berani (courage)

–      Ketulusan (honesty)

–      Peduli (caring)

–      Jujur (fairness)

  1. B.      Materi Pembelajaran :

Pengertian Asta Iswarya

Asta Iswarya berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari kata Asta         yang berarti delapan, dan        Iswarya yang berarti kemahakuasaan. Dengan demikian  Asta Iswarya berarti delapan  sifat           kemahakuasaan Tuhan ( Sang Hyang Widhi ) yang              merupakan sradha ( dasar keimanan dalam agama Hindu ).

Bagian – bagian Asta Iswarya:

1. Anima                              5.Prakamya

2. Lagima                             6. Isitwa

3. Mahima                           7. Wasitwa

4. Prapti                               8. Yatra Kama Wasayitwa

 

  1. Metode Pembelajaran : Model CTL

Metode  Diskusi kelompok

                                          

D.Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

  1. Kegiatan Pendahuluan ( 10 menit )

Motivasi  dan Apersepsi :

  • Salam panganjali umat Hindu “Om Swastyastu”
  • Absensi  siswa
  • Menceritakan  sedikit tentang keajaiban Kemahakuasaan Tuhan

 

  1. Kegiatan Inti ( 60 menit )

Eksplorasi

–          Guru membimbing peserta didik dalam membentuk kelompok belajar

–          Secara berkelompok, peserta didik mendiskusikan pengertian Asta Iswarya dan bagian – bagian Asta Iswarya.

Elaborasi

Peserta didik secara berkelompok mempresentasikan hasil         diskusinya secara bergantian.

 

Konfirmasi

Peserta didik ( dibimbing oleh guru ) menyimpulkan sementara hasil diskusi tentang pengertian dan bagian – bagian Asta Iswarya.

  1. Kegiatan Penutup ( 10 menit )

–          Guru memberikan tes lisan untuk mengetahui daya serap materi yang telah disampaikan.

–          Guru menyampaikan materi yang akan disampaikan pada pertemuan selanjutnya.

–          Pertemuan ditutup dengan Doa Penutup “ Om Santi Santi santi Om”.

 

Pertemuan Kedua:

  1. Kegiatan Pendahuluan ( 10 menit )

Motivasi  dan Apresiasi

  • Salam Panganjali umat “ Om Swastiastu “
  • Absensi siswa
  • Mengulangi pelajaran minggu lalu yaitu menceritakan tentang    Kemahakuasaan Tuhan.
  1. Kegiatan Inti ( 60 menit)

Eksplorasi

–          Guru kembali mengarahkan siswa duduk sesuai dengan    kelompoknya seperti minggu yang lalu.

Elaborasi

–          Peserta didik ( secara berkelompok ) bergiliran mempresentasikan hasil diskusinya.

Konfirmasi

–          Peserta didik ( dibimbing oleh guru ) setelah melakukan  diskusi kelas kemudian menyimpulkan hasil diskusi tersebut dan dicatat secara bersama- sama oleh peserta didik.

 

 

  1. Kegiatan Penutup ( 10 menit)

–          Guru memberikan tes ( evaluasi ) tertulis mengenai materi yang telah disampaikan.

–          Pertemuan ditutup dengan doa penutup “ Om Santi Santi Santi Om”

 

  1. D.      Sumber Belajar

1.Buku Pendidikan Agama Hindu Kelas VII

2. LKS dan Referensi yang terkait

Penilaian Hasil Belajar

Indikator

Penilaian

Tehnik Bentuk  Innstumen Contoh Instrumen
Mampu menguraikan pengertian Asta Iswarya. Tes tertulis Uraian Jelaskan pengertian Asta Iswarya

 

 

 

Mampu menyebutkan bagian – bagian Asta Iswarya Tes tertulis Uraian Sebutkan bagian – bagian Asta Iswarya dan artinya secara singkat

 

 

 

 

Cara Penskoran:

  1. Pengertian Asta Iswarya adalah berasal dari bahasa Sansekerta, yang   terdiri dari kata Asta berarti delapan dan Iswarya berarti kemahakuasaan, jadi Asta Iswarya adalah Delapan sifat kemahakuasaan Tuhan ( Ida Sang Hyang Widhi ).

Skor  : 5

  1. Bagian – bagian Asta Iswarya adalah terdiri dari

–          Anima artinya sifat Tuhan maha kecil

–          Lagima artinya sifat Tuhan maha ringan

–          Mahima artinya sifat Tuhan maha Besar

–          Prapti artinya Tuhan dapat menjangkau segala tempat

–          Prakamya artinya segala kehendakNya akan terwujud

–          Isitwa artinya Tuhan maha utama.

–          Wasitwa artinya sifat Tuhan maha kuasa

–          Yatra Kama Wasayitwa artinya tidak ada yang dapat menentang kodrat Tuhan.

Skor : 5

Nilai Akhir = E skor x 10

 

Program Remidi:

  • Apabila siswa tidak mencapai ketuntasan maka diadakan remidi dengan pemberian tugas seperti : Menggambarkan tentang Padma Asta Dala.

 

 

 

Mengetahui                                                 Karangasem, ………………………………

Kepala SMP.                                                   Guru mata pelajaran

 

 

 

(                                       )                           (                                            )

Nip:                                                                 Nip :

SILAHKAN DOWNLOAD DI LINK BERIKUT INI:

RPP AGAMA HINDU BERKARAKTER KELAS VII SMP

SMANSAKU Program Bulan Bahasa, Diisi Kegiatan Keagamaan

Memperingati bulan bahasa, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kubu (SMANSAKU) di Kecamatan Kubu Karangasem tanggal 25 sampai 28 Oktober 2010, diisi dengan kegiatan keagamaan, memilih kegiatan yang sudah langka ditemukan di masyarakat, seperti mesatua Bali, metembang (Dharma Gita), melukis dengan tema budaya Bali dan beleganjuran.

Dua diantaranya dilaksanakan dalam bentuk lomba pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Kegiatan seperti dipilih untuk dilombakan, mengingat sebagai tradisi Bali yang bernafaskan Hindu yang sudah langka ditemukan di masyarakat, halnya dengan mesatua Bali.

Menurut Diarsa selaku Kepala Sekolah mengatakan ”beberapa cabang tradisi Hindu dilombakan seperti satua Bali, metembang dan melukis, dengan harapan dapatmeningkatkan pemahaman terhadap budaya Bali dan melestarikan budaya yang sudah hampir punah ini”, ini sebenarnya sebagai wadah mengungkapkan kreatifitas siswa dalam bidang seni dan intelektual”.

Satua Bali terutama sebagai satu tradisi yang sudah jarang ditemukan, orang tua dari anak-anak Hindu memberikan ceritra kepahlawanan dalam satua Bali yang berisi berbagai petuah-petuah, dikemas dalam ceritra yang lucu dan cukup menarik perhatian. Dari pada dibiarkan anak-anak menonton televisi, dengan berita-berita yang kurang cocok untuk anak-anak usia dini.

Berbeda dengan metembang, siswa lebih suka dengan lagu-lagu barat dibandingkan dengan tembang-tembang sekar alit, atau sekar madya pada waktu persembahyangan di pura. Sehingga terlihat dari sekian perlombaan yang ada, lomba metembang paling sedikit pesertanya. Mungkin inilah yang membuat pihak SMANSAKU optimis untuk tetap melaksanakan perlombaan ini, bahkan akan memperluas kepada anak-anak Sekolah Dasar. Sebagai upaya menanamkan ajaran luhur agama Hindu mulai dari anak-anak usia dini, agar tidak tergerus oleh perkembangan jaman.

Berikutnya juga dilaksanakan beberapa perlombaan, seperti perlombaan story telling (pidato berbahasa Inggris) yang diikuti oleh SMAN 1 Kubu dan SMKN 1 Kubu, yang cukup menyedot perhatian siswa yang menjadi penonton pada waktu itu. Lomba mengekspresikan puisi diikuti oleh lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Kecamatan Kubu.

Selanjutnya, dilaksanakan lomba cerdas cermat yang skupnya se-kabupaten Karangasem. Agung Ariasa sebagai sekretaris pelaksana kegiatan ini, mengatakan, ”kedepannya kami akan mengadakan peningkatan kualitas pelaksanaan lomba ini, kemungkinan beberapa cabang lomba akan ditambahkan lagi, tentunya dengan menyedikan tantangan lebih, hadiah dan tropi yang lebih menarik lagi”.

Acara bulan bahasa ini dibuka pada tanggal 25 Oktober 2010 oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karangasem yang diwakili oleh kepala bidang Pendidikan Menengah Drs. I Ketut Sudana, M.Si, dihadiri pula oleh jajaran pemerintah Kecamatan Kubu dan Upt.Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Kubu.

Pada acara puncak bulan bahasa tanggal 28 Oktober 2010, siswa SMANSAKU menunjukkan berbagai kreatifitas, diantaranya yang menarik dan unik adalah kolaborasi beleganjuran dengan ekspresi puisi sebagai pemenang lomba pada waktu acara perlombaan beberapa hari sebelumnya.

Suara si pengekspresi seni puisi tersebut nyaring diikuti oleh suara beleganjuran yang bergemuruh rentak terdengar indah sekali. Menurut keterangan salah satu guru di SMANSAKU, aktivitas ini dilatih oleh guru di SMUNSAKU yang dipersiapkan beberapa hari lalu.

Ini merupakan hal yang unik dilakukan antara budaya pusi secara nasional dengan tradisi musik tradisional beleganjuran disanding dalam satu ekspresi, sebagai ciri kreativitas yang terungkapkan.

Pelaksanaan perayaan bulan bahasa ini telah dirintis semenjak SMUNSAKU berdiri di tahun 1990, dan cukup mendapat perhatian dari pihak pemerintahan Kubu dan beberapa donatur yang memberikan sumbangan dana untuk memperbesar kegiatan ini dengan cabang-cabang lomba dan kreativitas seni. Demikian halnya dengan dukungan dari Komite Sekolah SMUNSAKU yang memberikan dukungan penuh terlaksananya kegiatan ini.

Tari Teruna Jaya yang ditarikan pada waktu puncak bulan bahasa yang ditarikan oleh salah satu siswa SMANSAKU, cukup menarik perhatian dan menarik. Sebagai ciri dari kegesitan, kecerdasan, dan kelihaian dari para pemuda yang tangguh dalam bidangnya.

Pertunjukkan berbagai kreativitas siswa SMUNSAKU juga diberikan wadah, saat itu terlihat pertunjukkan disko, karaoke, pertunjukkan lawak penyanyi, yang membuat seluruh penonton keluarga besar SMANSAKU.

Sumber: Majalah Media Hindu

2,7 M untuk Rehabilitasi Pura Puseh Panjingan Desa Les

Rehabilitasi total Pura Puseh Panjingan di Desa Les menelan biaya 2,7 Milyar lebih, Pura yang disebutkan sebagai salah satu Pura Tri Sakti beberapa waktu lalu telah diresmikan oleh Gubernur Bali Drs.Pol.Made Mangku Pastika, yang disaksikan pula oleh Bupati Bangli dan Bupati Buleleng.

Pura Puseh Panjingan merupakan salah satu warisan budaya leluhur Bali dari jaman pendahuluan Bali, pura ini merupakan satu tali dengan Pura Desa Sukawana (Pura Pucak Peninjoan), Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan, ketiga pura ini disebut dengan Pura Tri Sakti.

Menurut Jro Penyarikan Nyoman Adnyana pada waktu memberikan sambutan saat peresmian dan penandatanganan prasasti Pura Puseh Panjingan, ”pura ini merupakan salah satu peninggalan leluhur jaman dahulu, di masa lalu Desa Les merupakan satu gugusan dengan wilayah Desa Sukawana saat ini, dan Pura Pucak Peninjoan di Sukawana sebagai Pura Desa/Bale Agung, Pura Panjingan di Desa Les sebagai Pura Puseh, dan Pura Balingkang sebagai Pura Dalem”.

Lanjut Jro Penyarikan Nyoman Adnyana, di masa lalu pendudukan Bali terdiri dari beberapa Kanca Satak yakni Kanca Satak Sukawana, Kanca Satak Kitamani, Kanca Satak Selulung, dan Kanca Satak Bantang. Kanca Satak Sukawana terdiri dari Gretek (Sambirenteng), Les, Pinggan, dan Siakin”.

Gugusan wilayah Sukawana di masa lalu mencapai Tejakula, Bondalem, hingga Julah, sedangkan di wilayah lain terdapat Sembiran, Subaya, wilayah Kintamani, Terunyan, Tenganan Pengringsingan, melingkupi juga bagian barat Kintamani seperti Selulung, bagian selatan melingkupi Bantang, barangkali juga sampai di Desa Sidetapa di bagian barat Buleleng sekarang ini. Namun lama-kelamaan, proses ini semakin memudar beberapa wilayah gugusan yang dinyatakan Gebog Domas (800 keluarga) yang datang sari Jawa Timur bersama Rsi Markandeya, Selulung dan Bantang menyatakan diri sebagai Kanca Satak tersendiri selain sisi Sukawana dan Kintamani.

Salah satu bukti yang menunjukkan adanya waktu yang sama antara sederetan arca yang ada di Pura Pucak Peninjoan, telah ditetapkan berasal dari masa yang sama dengan arca yang ada di peninggalan Pura Puseh Panjingan. Pura Puseh Panjingan kembali membuka lembaran lama. Desa Les sebagai wilayah yang masih mempertahankan tata desa adat tradisional sebagai ciri khas Kanca Satak Sukawana.

Diantaranya sistem penanganan mayat (sawa) yang tersebut kuno, tidak dibakar, seperti di Terunyan misal sawa hanya diletakkan begitu saja di atas tanah. Di Desa Les sawa di kubur, namun seperti dibuatkan lubang laci-laci, suatu waktu jika ada yang meninggal dapat dibuka kembali untuk disusun kembali, disampingnya di simpan sawa yang baru.

Purana Balingkang menyebutkan konon ”terdapat seorang raja bergelar Sri Maharaja Jaya Pangus yang bertahta di Balingkang, kerajaannya terlanda bencana alam, kerajaan lalu dipindahkan ke Jong Les”, wilayah Jong Les diperkirakan terletak di Banjar Panjingan Desa Les sekarang ini. Berdasarkan catatan dari Desa Les, menyebutkan Banjar Panjingan pernah berpindah ke wilayah Buhun (Buhu-sekarang) namun karena wilayahnya susah mendapatkan air sehingga kembali turun.

Konon Sri Aji Jayapangus memperistri seorang putri Tiongkok bernama Khan Cing Wie, prihal ini seorang pandita memberikan peringatan agar tidak mengambil permaisuri dari Tiongkok tersebut, namun tidak dituruti.

Pura Puseh Panjingan tercatat sebagai salah satu situs purbakala di Bali Utara, terang Gede Intaran selaku ketua panitia rehabilitasi dan ngenteg linggih, ”perencanaan rehabilitasi total Pura Puseh Panjingan sudah dilakukan sejak empat tahun lalu, dengan menelan biaya 2,7 Milyar, sisanya diutamakan untuk diisi dengan kegiatan pasraman dengan biaya 20 juta, sedangkan krama Desa Les dikenakan Peturunan diakumulasi sejumlah 1 milyar 180 juta”.

Gede Intaran juga mengatakan, ”Pura Puseh Panjingan sebagai salah satu bagian dari sebuah wilayah yang luas di masa lalu, menyimpan sejumlah pengetahuan bagi anak-anak dimasa mendatang, dengan kondisinya yang sudah tidak baik, maka Kanca Satak Sukawana merembugkan untuk melakukan perehaban total Pura Puseh Panjingan”.

Gubernur Bali Pastika menyambut baik pelaksanaan perehabatan Pura Puseh Panjingan, dengan mengajak bersama-sama untuk menggunakan Pura yang sudah dibangun sedemikian megahnya sebagai tempat pendidikan bagi generasi muda Hindu, tempat untuk menanamkan sraddha dan bakti umat.

Gubernur Bali Pastika juga mengungkapkan, ”Bali dikenal sebagai pulau seribu pura, juga menyisakan sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan solusi, namun jika melihat proposal pembangunan-rehabilitasi pura, besaran pengeluarannya semuanya di atas ratusan juta rupiah”.

Sumber: Majalah Media Hindu

KARAKTER KEBANGSAAN INDONESIA

18 Nilai Karakteristik KEbangsaan Indonesia: Religius, Semangat Kebangsaan, Menghargai prestasi, Cinta Tanah air, Bersahabat/Komunikatif, Disiplin, Peduli Lingkungan, Demokratis, Peduli sosial, Cinta Damai, Gemar Membaca, Mandiri, Rasa Ingin tahu, Toleransi, Jujur, Kreatif, Kerja Keras, Tanggung JAwab

%d blogger menyukai ini: