Sorga Bagus Diarsa Kritik untuk Penjanji Sorga

Oleh: IGN.Suardeyasa

Catatan Kecil Gaguritan Bagus Diarsa
I Bagus Diarsa adalah seorang penjudi aduan ayam (cock fighting), akan tetapi memiliki sifat lugu dan baik hati. Tidak pernah menang dalam taruhan aduan ayam, karena selalu dapat diperdaya oleh lawan-lawan mainnya. Sampai pada suatu ketika Diarsa sudah tidak lagi memiliki uang untuk taruhan, sang istri Ni Sudadnyana merasa kebingungan, karena tumben suaminya tidak ikut dalam aduan ayam.
Istrinya seorang yang baik hati kepada suaminya, menggadaikan sejumlah barang-barang rumah tangganya untuk mendapatkan uang demi kesenangan suaminya. Kata Diarsa kepada istrinya ”dari pada aku harus mencuri, merampok”. Pada arena aduan ayam Diarsa juga mendapatkan kekalahan.
Uang yang digunakan untuk taruhan sudah hampir habis, Diarsa sudah merasa perutnya lapar dan minggir dari arena, menepi menuju warung nasi. Makananpun dipesannya, segera untuk melahap dengan nikmatnya. Seorang kakek tua peminta-minta datang, sambil membungkukan badan dan memohon belas kasihan agar diberikan sesuap nasi.
Badan si kakek tua ini penuh dengan luka bernanah hingga berbau yang tidak sedap, para penjual di areal tersebut menutup hidung dan memalingkan muka tidak mau melihat anggota badan orang tua tersebut. Diarsa tidak merasa jijik sama sekali dengan keadaan orang tua tersebut. Diarsa mengajak orang tua tersebut makan bersama, mengangkat badannya untuk duduk bersama-sama menikmati makanan hari itu.
Si kakek tua berkata, ”ah anak muda, badanku seperti ini, tidak layak rasanya aku makan bersama-sama, aku hanya ingin meminta makanan saja”. Tapi Diarsa tetap saja mengajak orang tua itu untuk makan dan duduk makan bersama. Makan bersama hari itu sudah selesai, ada satu permintaaan dari si kakek tua kepada Diarsa.
Kata si kakek tua ”anak muda, ini hari sudah malam, ada satu lagi permintaanku, mohon agar malam ini diberikan tempat untuk sekedar beristirahat”, Bagus Diarsa mengiyakan saja permintaan kakek tua itu dengan senang hati.
Setibanya di rumah, mengetahui ada tamu yang datang bersama suaminya, Ni Sudyadnyani bergegas membuatkan makan malam bersama-sama, tanpa pikir panjang lagi. Setelah makan malam, sekeluarga menemani si kakek tua bercerita entah panjang lebar, kadang menceritakan mengenai kehidupan mereka masing-masing yang sama-sama menjadi orang miskin.
Si kakek tua lagi mengajukan permintaan kepada Bagus Diarsa, ”aku ada satu permintaan lagi Diarsa, kalau engkau mengijinkan, aku akan mengajak anak mu si Wiracita, agar ada yang merawatku sampai akhir nafas nanti”. Bagus Diarsa juga meluluskan permintaan itu, Diarsa lalu memanggil anaknya I Wiracita untuk segera berkemas-kemas.
Pikir Bagus Diarsa bersama istrinya, agar si Wiracita anak mereka dapat belajar tentang kebijaksanaan bersama si kakek tua itu, dan dapat merawat kakek tua itu. Sampai larut malam, mereka beristirahat, si kakek tua serta merta memohon pamit pada pagi-pagi buta keesokan harinya, agar tiak ketinggalan hari.
Lama perjalanan itu, sampailah di tempat si kakek tua itu. Si Wiracita merasa terheran dengan kakek tua itu, seakan tidak merasa letih sedikitpun, padahal perjalanan cukup jauh. Sahut si kakek tua, sesungguhnya aku ini adalah Dewa Siwa yang turun untuk menguji prilaku ayahmu Diarsa. Si Wiracita berdatangsembah kehadapan Dewa Siwa, yang memperlihatkan diri sejati dihadapan Wiracita.
Tercerita kemudian Diarsa dipaksa oleh raja I Gusti Agung agar ikut serta dalam tarung yang pelaksanaannya diselipkan pada upacara Dewa Yadnya. Uang taruhan yang harus dikeluarkan cukup banyak, padahal Diarsa sudah tidak memiliki uang dan barang-barang yang bisa digadaikan.
Diarsa lalu mengikuti petunjuk si kakek tua, jika menemukan kesulitan agar menyusulnya ke arah Timur Laut, setelah lama melakukan perjalanan suci. Diarsa sampai di tempat yang sangat mengerikan, diantaranya banyak atman yang mendapatkan hukuman, tempat itu adalah neraka.
Perjalanannya kemudian diantarkan oleh Jogormanik menuju ke sorga Dewa Siwa, Diarsa dijemput senang oleh I Wiracita yang sudah menjadi widyadara di sorga Dewa Siwa. Sesampainya di sana, Diarsa bersembah bhakti kepada Dewa Siwa, dan menceritakan semua kejadian di desanya.
Dewa Siwa menasehati Diarsa agar mengikuti tarung kali ini, namun hendaknya jangan terikat pada hasil yang akan diperoleh. Diarsa dipersilahkan untuk turun ke dunia untuk menghentikan keangkuhan I Gusti Agung sesuai dengan titah Dewa Siwa.
Setelah puas mendapatkan wejangan dari Dewa Siwa, mengenai pedoman hidup, dan berbagai macam sorga para dewa. Diarsa meninggalkan sorga menuju ke rumahnya. Sang istri Ni Sudyadnyana yang tahu suaminya datang, segera memberikan air hangat dan ala kadarnya.
Diarsa menceritakan kepada istrinya tentang perjalanannya selama ini, dan bertemu dengan Dewa Siwa yang memberikan titah mulia, agar kembali untuk memberikan pelajaran berarti bagi seluruh rakyat. Ni Sudyadnyana mendengarkan dengan saksama kisahnya dan anak mereka yang menjadi widyadara di sorga.
Keesokan harinya, undangan dari kerajaan sudah datang agar Diarsa segera mendaftarkan diri dalam aduan itu. Diarsa menyanggupi undangan itu, dan menyerahkan biaya pendaftarannya beserta memperlihatkan ayam jago aduannya. Diarsa memperlihatkan uang taruhan yang berupa benda-benda bertuah seperti emas dan permata.
Prajurit segera melaporkan keadaan Diarsa yang tidak seperti biasanya, memiliki emas dan permata yang banyak kepada I Gusti Agung. Keadaan itu justru membuat I Gusti Agung senang dan menitahkan kepada prajurit agar mengatur aduan, agar Diarsa bisa kalah dalam taruhan itu.
Tiba saatnya aduan, ayam aduan I Gusti Agung kalah, sang raja murka dan mencoba membunuh ayam aduan milik Diarsa, sayang sekali ayam yang masih kalap dan gelap mata itu malah balik menyambar dan menerjang I Gusti Agung. Berkali-kali I Gusti Agung terketa pisau aduan (taji) ayam Diarsa, tim kesehatan kerajaan tidak mampu mengobati luka I Gusti Agung hingga beberapa hari kemudian I Gusti agung meragang nyawa.
Singkat cerita Diarsa yang tersohor kebajikannya dalam pengetahuan metafisika dan kenegaraan berkat tuntutan Dewa Siwa, beberapa rombongan Pandita penasehat kerajaan menjempur Diarsa, agar menjadi raja bagi rakyatnya, dan memerintah dengan bijaksana.
Diarsa mempertanyakan tentang dukungan dari para pelaksana pemerintahan, dewan dan segenap rakyat. Dukunganpun terus datang, permintaan itu disanggupi oleh Diarsa.
Abhiseka Diarsa kemudian menjadi Gusti Agung Nitigulati, memerintah dengan bijaksana, taat dengan aturan, pelaksanaan upacara yang semula dihentikan, dilaksanakan dengan saksama, aduan ayam yang diselipkan pada upacara-upacara dihentikan, peguruan-peguruan sebagai ciri pendidikan dimajukan olehnya, kepentingan kemakmuran rakyat diutamakannya.

Sorga dalam Hindu
Kisah Diarsa menggambarkan sorga-sorga dalam Hindu, semuanya sejajar, sesuai dengan karmanya masing-masing. Setiap Dewa dalam Hindu memiliki sorganya masing-masing. Ini menandakan sorga dalam penggambaran Hindu plural, mengakui perbedaan sorga-sorga. Dalam arti tidak ada monopoli kebenaran tentang sorga, Hindu memiliki sorganya sendiri.
Sesungguhnya dalam Bhagawadgita sudah disebutkan, jika memuja leluhur akan mencapai sorganya para leluhur, jika memuja para dewa akan sampai pada sorganya para dewa. Penggambaran sorga dalam teks-teks lontar juga serupa, misalkan saja dalam lontar Bhuwana Kosa, sorga terdiri dari sorganya para dewa.
Penjelasannya cukup detil dalam kisah Diarsa dan Lontar Bhuwana Kosa, semua sorga-sorga itu ada dalam satu kesatuan, seluruh penjuru mata angin digambarkan terdapat sorga sesuai dengan pengider bhuwana. Diarsa mencapai kesadarannya dari rasa bhaktinya kepada Dewa Siwa.
Sisi inilah yang kontroversial dari Diarsa yang awalnya seorang aduan ayam bisa mendapatkan sorga dengan mudahnya. Kisah ini dapat disejajarkan dengan kisah Lubdaka, yang secara tidak sengaja melakukan pemujaan di malam Siwa (Siwaratri), hingga mendapatkan perubahan total dalam dirinya dan menemukan Siwa sebagai guru abadi.
Diarsa diceritrakan adalah orang yang jujur, memiliki sifat asih terhadap sesama manusia, suka menolong orang yang kesusahan. Sisi buruk Diarsa dapat diimabanginya dengan perbuatan baiknya meski dalam keadaan miskin sekalipun.
Sifat karuna budi menjadi tumpunan Diarsa dipilih sebagai orang yang dapat merubah jalan hidupnya secara totalitas untuk menyatukan dirinya dengan Brahman. Perubahan hidupnya dari seorang penjudi menuju keseorang karmin yang bekerja tanpa mengharapkan hasilnya merupakan kata kunci Diarsa dalam mencapai sorganya Dewa Siwa.
Oleh karena itu hendaknya tidak tergiur dengan janji-janji sorga, sorga Hindu telah memiliki berbagai pilihan. Semuanya indah-indah, tujulah dengan selalu berbuat baik.

Tajen dalam Upacara Yadnya Tidak Pantas
Gaguritan I Bagus Diarsa disadur seperti terjemahan milik Depdikbud Jakarta tahun 1980 yang didokumentasikan di Pusdok Bali nomer Ci 169 c.2. Gaguritan I Bagus Diarsa disebutkan selesai di tulis tahun 1837 Caka atau 1915 Masehi.sisa lima tahun lagi sudah seabad lamanya.
Kidung ini memberikan kritik yang pedas terhadap pelaksanaan tajen (keklecan), taruhan cock fighting atau apapun namanya yang dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara dalam Hindu. Raja-raja yang membenarkan pelaksanaan yadnya ini dan membiarkannya tetap berlangsung, sudah sepantasnyalah dievolusi.

* Penulis, Koresponden Media Hindu di Denpasar
Sumber: Majalah Media Hindu edisi 82, Desember 2010 Halaman 58-59.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: