Harapan Dialog Hindu –Islam dalam Gaguritan Tamtam

Oleh: I GN. Suardeyasa

Sekilas Gaguritan Tamtam
Tercerita dua orang murid Sang Aji Saka bernama Ginal Ginul. Si Ginul lahir pada seorang petani miskin pada perkampungan seorang pasangan keluarga Hindu bernama Tamtam. Si Ginal lahir di Mesir Puri menjadi putri raja agung diberi nama Ni Diah Adnyaswari.
Sang raja mengadakan sayembara, untuk mengadu kemampuan dengan putri Ni Diah Tantri yang tersohor di bawah binaan Trana Windu Bagawanta, seorang penasehat kerajaan Mesir Puri. Jika mampu mengalahkan Ni Diah Adnyaswari maka akan dijadikan sebagai raja di Mesir dan Ni Diah Adnyaswari sebagai permaisuri. Jika rakyat biasa taruhannya adalah dihukum mati. Hampir sebagian besar kerajaan yang datang untuk mengadu kemampuan, semuanya kalah. Ada yang mengandalkan bagus rupa, ada pula yang menggunakan cara-cara tidak terhormat.
Raja Hindu tidak ada yang mengikuti sayembara itu, namun satu orang dari rakyat biasa mengikuti. Tamtam berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan Ni Diah Adnyaswari dengan baik, Yama-Niyama itu namanya, pengendalian diri pada tahapan jasmani dan rohani.
Tamtam bertanya ”Isin Telah”, disimpan di tempat yang besar akan memenuhi alam semesta beserta segala isinya, di tempat yang kecil akan longgar selalu. Pertanyaan ini membuat Ni Diah Adnyaswari kewalahan, hingga meminta tempo selama tiga hari untuk memikirkan jawabannya.
Lama sudah berpikir tapi tidak bertemu juag dengan jawabannya, timbulah niat Ni Diah Adnyaswari untuk memberikan minuman yang memabukkan kepada Tamtam agar dapat membuka rahasia. Ni Diah Adnyaswari datang ke pondokan Tamtam, untuk merayu Tamtam agar mau menerima persembahan dari istana.
Tamtam sadar dalam mabuk itu telah membuka seluruh rahasia pertanyaannya. Dia sadar sudah ditipu, dan cepat-cepat mengambil gelang perhiasan Ni Diah yang bergegas pergi. Tamtam mendapatkan perhiasan milik Ni Diah, untuk menyampaikan keberatan pada waktu sidang di istana nanti.
Pada saat disidangkan Ni Diah Adnyaswari menjawab dengan enteng. Tamtam mengajukan keberatannya dan peninjauan kembali untuk menunda hukumanya, selama beberapa saat untuk memberikan penjelasan kepada sang raja, tentang tipu daya yang dilakukan Ni Diah. Tamtam memberikan bukti Gelang milik Ni Diah yang berhasil dirampasnya, Ni Diah telah berupaya yang tidak baik untuk mendapatkan jawaban, datang di malam hari ke gubuk orang miskin tanpa pengawal berbusana kerajaan dan membawa minuman keras, merayu.
Sang raja menerima keberatan dan peninjauan kembali oleh Tamtam, sang raja sebagai hakim dalam sayembara bersama para menteri menyepakati Ni Diah telah kalah dalam sayembara. Tamtam menjadi raja di Mesir Puri bersama permaisuri Ni Diah Adnyaswari.

Dialog Sebuah Harapan di Masa Depan
Isin Telah, tidak mampu dijawab. ”Isin Telah”, itu tidak ada lain adalah ”pikiran”, di atas pikiran itu Sang Atma yang memberikan kehidupan. Ni Diah tidak faham pengetahuan tentang Sang Atma. Sang Atma yang berada dalam tubuh akan menjadi kecil dan sekecil-kecilnya, jika Dia di alam semesta akan mampu mengisi seluruh alam semesta ini. Itulah sifat Tuhan.
Latar belakang dari disusunya Gaguritan ini sesungguhnya mengharapkan sebuah dialog antara Hindu-Islam. Tidak dengan mengandalkan kekerasan fisik maupun mental dalam menyelesaikan permasalahan pembinaan umat.
Sang pencipta cerita ini tidak menyampaikan identitasnya dengan jelas, akan tetapi cerita Tamtam dominan berkembang di Buleleng, kemungkinan besar cerita ini merujuk pada situasi pertemuan antara masyarakat Hindu dengan masyarakat Islam di Buleleng lampau, Nabastala sebuah wilayah yang ditunjukkan pada sisi awal Gaguritan, seperti ciri mendasar dari sebuah Gaguritan.
Tentang latar belakang keberadaan Sang Aji Saka, tokoh ini dikenal oleh masyarakat Bali sebagai seorang yang menyampaikan ajaran Hindu menuju ke Bali. Pada cerita terwujudnya aksara Bali, yang jumlahnya 18 huruf, terdiri dari a, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa ja, ya, nya. Jika aksara tersebut digabungkan akan membentuk sebuah formasi kata-kata yang mengandung makna: ana-caraka-data-sawala-magabanga, pajayanya. Rupanya ini adalah Bahasa Jawa Kuno (Bahasa Kawi). Cerita tersebut akan lebih lengkap jiak dilihat dalam aksara Jawa, ada huruf yang tidak dibawa sampai di Bali, yakni: ha, na, ca, ra, kha, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.
Huruf Jawa memiliki kelebihan huruf seperti: kha, dha, tha, yang merupakan cara pengucapan (lidah Jawa) da (Bali), dha (Jawa), na (Bali) (diucapkan ne), na (Jawab) (diucapkan no). Ta (Bali) (seperti mendapatkan penekanan tt-dobel t), ta (Jawa) diucapkan tha (tho). Memang beralasan, dalam Gaguritan tersebut telah menyebutkan bahwa asal muasal cerita adalah dari Pulau Jawa.

sUMBER: mAJALAH mEDIA hINDU jAKARTA Edisi 80, Oktober 2010 Halaman 33.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: