HINDU-ISLAM SEBUAH DEBAT MASA LALU DARI RAMALAN SABDOPALON

Oleh IGN.Suardeyasa

Masih ingatkah dengan Babon Sabdopalon, informasinya sudah tersebar luas di internet, didiskusikan dalam berbagai milling list, frandster, hingga produk facebook. Perbincangan tentang Sabdopalon terus saja digali. Penulis tertarik dengan sesi terakhir, bagi penulis siapa penulis dari Ramalan Sabdopalon itu, ada beberapa versi ada yang menyebutkan, Rangga Lawe yang ngawi.
Bahasanya Jawa Kuna, sekarang hampir mirib dengan bahasa ngoko Jawa Tengahan. Babon ini banyak mengisahkan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Diantara diskusi yang ada, ada beberapa yang menarik, tapi ada juga yang ngawur, asal comot, tidak membaca teks asli Jawa Tengahannya, mencocokkan dengan babon-nya.
Mari lihat sesi terakhir, sewaktu Raja Brawijaya V melarikan diri hendak member kabar saudaranya di Bali, salah satu kumpi mendiang Air Langga yang memerintah di Gelgel, tapi kelakuan itu dicegah oleh Sunan Kalijaga, yang sengaja diutus oleh Raden Patah (beberapa sumber menyebutkan Raden Jin Bun sebagai keturunan dari Campa).
Kilas balik kembali, Brawijaya V sangat tergila-gila dengan putri Campa, dalam kisah Sabdopalon itu, setiap malam dikidungkan dawai-dawai Muslim sebagai ustad wanita. Dalam kisah itu memang aneh-aneh sekali politiknya, perempuan sebagai ustad (bagi raja), wayang dibolak-balik kisahnya, ditambahkan dengan ajaran Islam, dihilangkan yang berbau Hindu-Budha. Bahkan mengajarkan Islam melalui aksara Jawa.
Sebelum menggunakan peran budaya setempat dalam menyebarkan Islam, Islam masih seret perkembanganya, hanya dapat melakukan pemaksaan (konversi paksa besar-besaran) dengan melalui perang. Namun dengan bekal budaya yang melekat pada diri mereka, drastic orang Jawa banyak yang beragama qalam, Clifford Gertz membagi masyarakat Jawa dengan tiga rupa, Islam Santri, Islam Kejawen dan Islam Abangan.
Islam Santri, sebagai Muslim yang taat dengan ajaran agamanya sesuai persis dengan daerah asalnya Arab, Islam Kejawen sebagai Islam yang masih menggunakan budayanya sebagai pedoman hidupnya tapi KTP-nya beragama Islam, Islam Abangan sebagai orang Muslim yang beragama acuh, jarang sembahyang, makan daging babi, jarang puasa penuh saat Ramadhan.
Peristiwa inipun sudah diramalkan dalam Ramalan Jangka Jayabaya, wong Jawa akan terbagi-bagi kedalam berbagai kepercayaan agama.
Hal kisahnya, Brawijaya V yang sudah mabuk kasmaran ditambah lagi para Sunan yang mengasuh Raden Patah sudah tidak pernah lagi memberikan utpeti kepada Majapahit, berdasarkan kabar Kelenteng dari Palembang, dana itu digunakan untuk persiapan penyerbuan ke Majapahit, alasannya sang anak (Raden Patah) akan memberikan utpeti selama beberapa tahun terakhir yang belum terbayar, dan rindu kepada raja (ayahnya sendiri).
Tapi, awalnya yang manis berakhir duka, pasukan Banten yang sudah seluruhnya beragama Islam, ditambah lagi pasukan bantuan dari Tiongkok dan Palembang, didukung oleh para Sunan merayap dimalam hari membobol kerajaan, habis seluruhnya hingga kebangunannya, duh sayangnya tidak sampai kepondasinya di timbun, kini masih saja ada bukti bahwa di Trowulan adalah pusat kerajaan Hindu Majapahit.
Setelah ambruknya Majapahit, Raden Brawijaya V bersama Sabdopalon telah tahu dengan kondisi itu detik-detik terakhir, menyelinap menuju kea rah Timur Pulau Jawa. Aduh ternyata dicegat oleh Sunan Kalijaga, sewaktu Brawijaya V sedang memusatkan pikirannya pada kesucian Yang Esa, kehadiran Sunan Kalijaga mengejutkan.
Sunan Kali Jaga merayu Brawijaya V untuk segera kembali ke kerajaan untuk memerintah di Kerajaan Majapahit, padahal Kerajaan Majapahit sudah dikuasai Demak waktu itu. Brawijaya V yang sudah tidak asing lagi dengan ajaran Islam dengan mudahnya berindah agama, ternyata berbagai pertanyaan yang diberikan kepada Sunan Kali Jaga dapat dijawab dengan mudah; sebaliknya yang ditanyakan oleh Sunan Kalijaga kepada Brawijaya V saying sekali tidak dapat dijawab dengan baik, jawabannya selalu saja tidak sesuai dengan kunci jawaban yang disediakan.
Mula-mula Sunan Kali Jaga bersumpah dan menyembah-nyembah di depan Raden Brawijaya V untuk memohon agar diberikan untuk menyampaikan surat dari Raden Patah yang isinya meminta ayahnya untuk kembali, dan menyampaikan penyesalan Raden Patah atas semua yang terjadi. Tapi sayangnya surat itu rekayasa semata, Raden Patah tidak menyesal sedikitpun malahan sudah siap-siap berhadapan dengan Raden Pengging sebagai sentral pasukan Majapahit.
Sunan Kalijaga memberikan bukti akan kesetiaannya kepada Sang Raja dengan cara, memberikan kepalanya menyentuh kaki Sang Raja padahal dalam seorang Sunan dilarang menyembah seorang yang kafir.
Lalu membasuh kaki Sang Raja dengan air, untuk keabsahannya air basuhan itu diminum meyakinkan Sang Raja, barulah hati Sang Raja berkenan untuk menerima surat dari Raden Patah, setelah itu Sunan memberikan sepatah dua patah kata sebagai khotbah.
Pertanyaan pertama diberikan kepada raden Brawijaya, mengapa Sang Raja menyembah bangunan?, patung, arca, yang jelas-jelas benda mati? Mengapa tidak menyembah Tuhan yang memang benar-benar ada?
Pertanyaan pertama rupanya menjadi Sang Raja bulan-bulanan, ibaratkan bermain catur dalam tiga langkah sudah sekak-mat. Pertaaan itu sama sekali bisa dijawab Brawijaya V. Pertanyaan kedua, apa tujuan akhir dari kehidupan?, lagi-lagi pertanyaan yang menghayal bagi Brawijaya V, duh gimana menjelaskan hal yang sama sekali tidak pernah dilihat dengan mata kepala sendiri. Brawijaya V tidak benar-benar yakin dengan pencapaian muksha itu. Dia lebih percaya dengan sorga jika beralih agama menjadi Islam, dan siap-siap menyambut kiamat untuk mendapatkan sorga abadi, waduh enaknya ditemani dengan cewek-cewek cantik yang selalu perawan, buah-buahan yang enak-enak, apa saja dilakukan tidak ada yang melarang.
Pikir Brawijaya V, jika kembali dapat berkumpul dengan Raden Patah, toh masih anak meskipun sudah seperti anjing lari terkencing-kencing karena lari saat perang, pulang tanpa celana tanpa punggung dihina pengecut oleh rakyat, tapi setelah mati dapat sorga dan dapat yang diidam-idamkan, serba enak.
Dari pada tidak sama sekali, Brawijaya V meminta agar Sunan Kalijaga berjanji untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya leluhurnya, meskipun rakyatnya sudah beragama Islam, syarat yang mudah itu disanggupi saja; toh juga Brawijaya V sudah bukan raja lagi, sudah tua renta, dan tidak punya pengikut lagi (tidak punya pengaruh di rakyat) gampang saja dikelabui. Padahal di Jaw asana sedang terjadi pembumihangusan berbagai peninggalan kerajaan Majapahit, termasuk berbagai pustaka Hindu-Budha, untung saja sempat ada orang Bali yang menyimpannya sebagai lontar.
Dasar sudah kepincut (kangen) sama si putri Campa, Brawijaya V akhirnya dikhitan (sunat) sebagai bukti bahwa dia sudah beragama Islam, mengucapkan kalimat sahadat lima rakaat, jadi deh. Coba kalau Hindu!, mau masuk Hindu, mulai dari megedong-gedongan, penanaman ari-ari, lepas puser, ngerorasin, nelu bulanin, ngotonin, menek kelih, maligya (metatah), masuk desa adat kena peturunan, upacara sudiwidani, tidak bisa berbahasa Bali diejek, tidak tahu sembahyang tidak ada yang mengajarkan, mau menghadap kepada sulinggih dan mangku tidak bisa berbahasa halus, dan segudang permasalahan yang ada, wah belum tidak bisa bikin banten, lebih rumit lagi tuh, dan itu harus ditempuhnya, belum lagi kewajiban mengurus anak nantinya dan kewajiban sebagai sitri terhadap suami dan keluarga.
Setelah selesai khitanan, Sabdopalon dan Nayagenggong yang sedari tadi melakukan meditasi di sendang dalam meditasinya mereka juga mendengar debat antara Sunan Kali Jaga dengan Brawijaya V yang berakhir dengan 2:0, lalu menyelesaikan meditasinya.
Kenapa ya, sewaktu debat berlangsung Sang Sabdopalon dan Nayagenggong tidak menghentikan meditasinya lalu ikut dalam debat kan makin seru pasti. Kok sudah selesai kithan baru bangun, demikian jawab Sang Brawijaya V sewaktu ditanyakan “duh gusti kenapa lakukan ini?”, Sabdopalon dan Nayagengong sebagai orang yang diberikan tanggung jawab dalam membesarkan dan menasehati Brawijaya V diderai dengan penyesalan besar.
Menjawab semua pertanyaan Sunan Kali Jaga dengan gamblang, jawab Sabdopalon, yang di Tanah Arab sana belum tentu cocok di tanah Nusantara, tahu tidak di Negara Arab sana adalah daerah kering, mereka mencari penghidupan di Negara kita ini, karena sudah tidak dipakai lagi disana, tahu tidak jika Islam lebih baik, apakah disana tidak ada kejahatan, lebih banyak lagi den”, pandangan yang keliru terhadap Tuhan, akan menganggap patung, arca, bangunan lainnya itu adalah Tuhan, hamba sudah sering pergi ke Mekah den, yang disembah itu juga batu tidak jauh berbeda dengan bangunan-bangunan di Tanah Jawa ini den!, namanya saja keren Ka’bah.
Sambung Nayagenggong “menyembah Tuhan yang satu akan susah, akan ada Tuhan yang cemburu dengan Tuhan yang lain, meskipun dengan cara yang tidak terpuji sekalipun”. Tentang muksha waduh aden tidak usah ragu den, jika Islam memberikan sorga setelah kiamat, wah den kapan kiamatnya? Kapan aden tahu kalau akan datang kiamat?, paling-paling aden menunggu sampai jadi pocong di kuburan. Coba kalau Hindu, orang yang sudah berbuat baik, pasti dapat yang baik ingat karma phala den!, jika lebih banyak berbuat baik pasti sorga.
Sorga itu dalam Hindu masih ada lagi kelepasan tiada batas, manunggaling kawula lawan Gusti. Menyatu dengan Tuhan, bukan berasa disisi Tuhan jika berada di sorga abadi. Jika disisi Tuhan, segitu banyaknya manusia disi mananya lagi aden mendapatkan tempat? Sekian.

Penulis, Korenponden Media Hindu Denpasar.

Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 73, Maret 2010, Halaman 70-71.

Sorga Bagus Diarsa Kritik untuk Penjanji Sorga

Oleh: IGN.Suardeyasa

Catatan Kecil Gaguritan Bagus Diarsa
I Bagus Diarsa adalah seorang penjudi aduan ayam (cock fighting), akan tetapi memiliki sifat lugu dan baik hati. Tidak pernah menang dalam taruhan aduan ayam, karena selalu dapat diperdaya oleh lawan-lawan mainnya. Sampai pada suatu ketika Diarsa sudah tidak lagi memiliki uang untuk taruhan, sang istri Ni Sudadnyana merasa kebingungan, karena tumben suaminya tidak ikut dalam aduan ayam.
Istrinya seorang yang baik hati kepada suaminya, menggadaikan sejumlah barang-barang rumah tangganya untuk mendapatkan uang demi kesenangan suaminya. Kata Diarsa kepada istrinya ”dari pada aku harus mencuri, merampok”. Pada arena aduan ayam Diarsa juga mendapatkan kekalahan.
Uang yang digunakan untuk taruhan sudah hampir habis, Diarsa sudah merasa perutnya lapar dan minggir dari arena, menepi menuju warung nasi. Makananpun dipesannya, segera untuk melahap dengan nikmatnya. Seorang kakek tua peminta-minta datang, sambil membungkukan badan dan memohon belas kasihan agar diberikan sesuap nasi.
Badan si kakek tua ini penuh dengan luka bernanah hingga berbau yang tidak sedap, para penjual di areal tersebut menutup hidung dan memalingkan muka tidak mau melihat anggota badan orang tua tersebut. Diarsa tidak merasa jijik sama sekali dengan keadaan orang tua tersebut. Diarsa mengajak orang tua tersebut makan bersama, mengangkat badannya untuk duduk bersama-sama menikmati makanan hari itu.
Si kakek tua berkata, ”ah anak muda, badanku seperti ini, tidak layak rasanya aku makan bersama-sama, aku hanya ingin meminta makanan saja”. Tapi Diarsa tetap saja mengajak orang tua itu untuk makan dan duduk makan bersama. Makan bersama hari itu sudah selesai, ada satu permintaaan dari si kakek tua kepada Diarsa.
Kata si kakek tua ”anak muda, ini hari sudah malam, ada satu lagi permintaanku, mohon agar malam ini diberikan tempat untuk sekedar beristirahat”, Bagus Diarsa mengiyakan saja permintaan kakek tua itu dengan senang hati.
Setibanya di rumah, mengetahui ada tamu yang datang bersama suaminya, Ni Sudyadnyani bergegas membuatkan makan malam bersama-sama, tanpa pikir panjang lagi. Setelah makan malam, sekeluarga menemani si kakek tua bercerita entah panjang lebar, kadang menceritakan mengenai kehidupan mereka masing-masing yang sama-sama menjadi orang miskin.
Si kakek tua lagi mengajukan permintaan kepada Bagus Diarsa, ”aku ada satu permintaan lagi Diarsa, kalau engkau mengijinkan, aku akan mengajak anak mu si Wiracita, agar ada yang merawatku sampai akhir nafas nanti”. Bagus Diarsa juga meluluskan permintaan itu, Diarsa lalu memanggil anaknya I Wiracita untuk segera berkemas-kemas.
Pikir Bagus Diarsa bersama istrinya, agar si Wiracita anak mereka dapat belajar tentang kebijaksanaan bersama si kakek tua itu, dan dapat merawat kakek tua itu. Sampai larut malam, mereka beristirahat, si kakek tua serta merta memohon pamit pada pagi-pagi buta keesokan harinya, agar tiak ketinggalan hari.
Lama perjalanan itu, sampailah di tempat si kakek tua itu. Si Wiracita merasa terheran dengan kakek tua itu, seakan tidak merasa letih sedikitpun, padahal perjalanan cukup jauh. Sahut si kakek tua, sesungguhnya aku ini adalah Dewa Siwa yang turun untuk menguji prilaku ayahmu Diarsa. Si Wiracita berdatangsembah kehadapan Dewa Siwa, yang memperlihatkan diri sejati dihadapan Wiracita.
Tercerita kemudian Diarsa dipaksa oleh raja I Gusti Agung agar ikut serta dalam tarung yang pelaksanaannya diselipkan pada upacara Dewa Yadnya. Uang taruhan yang harus dikeluarkan cukup banyak, padahal Diarsa sudah tidak memiliki uang dan barang-barang yang bisa digadaikan.
Diarsa lalu mengikuti petunjuk si kakek tua, jika menemukan kesulitan agar menyusulnya ke arah Timur Laut, setelah lama melakukan perjalanan suci. Diarsa sampai di tempat yang sangat mengerikan, diantaranya banyak atman yang mendapatkan hukuman, tempat itu adalah neraka.
Perjalanannya kemudian diantarkan oleh Jogormanik menuju ke sorga Dewa Siwa, Diarsa dijemput senang oleh I Wiracita yang sudah menjadi widyadara di sorga Dewa Siwa. Sesampainya di sana, Diarsa bersembah bhakti kepada Dewa Siwa, dan menceritakan semua kejadian di desanya.
Dewa Siwa menasehati Diarsa agar mengikuti tarung kali ini, namun hendaknya jangan terikat pada hasil yang akan diperoleh. Diarsa dipersilahkan untuk turun ke dunia untuk menghentikan keangkuhan I Gusti Agung sesuai dengan titah Dewa Siwa.
Setelah puas mendapatkan wejangan dari Dewa Siwa, mengenai pedoman hidup, dan berbagai macam sorga para dewa. Diarsa meninggalkan sorga menuju ke rumahnya. Sang istri Ni Sudyadnyana yang tahu suaminya datang, segera memberikan air hangat dan ala kadarnya.
Diarsa menceritakan kepada istrinya tentang perjalanannya selama ini, dan bertemu dengan Dewa Siwa yang memberikan titah mulia, agar kembali untuk memberikan pelajaran berarti bagi seluruh rakyat. Ni Sudyadnyana mendengarkan dengan saksama kisahnya dan anak mereka yang menjadi widyadara di sorga.
Keesokan harinya, undangan dari kerajaan sudah datang agar Diarsa segera mendaftarkan diri dalam aduan itu. Diarsa menyanggupi undangan itu, dan menyerahkan biaya pendaftarannya beserta memperlihatkan ayam jago aduannya. Diarsa memperlihatkan uang taruhan yang berupa benda-benda bertuah seperti emas dan permata.
Prajurit segera melaporkan keadaan Diarsa yang tidak seperti biasanya, memiliki emas dan permata yang banyak kepada I Gusti Agung. Keadaan itu justru membuat I Gusti Agung senang dan menitahkan kepada prajurit agar mengatur aduan, agar Diarsa bisa kalah dalam taruhan itu.
Tiba saatnya aduan, ayam aduan I Gusti Agung kalah, sang raja murka dan mencoba membunuh ayam aduan milik Diarsa, sayang sekali ayam yang masih kalap dan gelap mata itu malah balik menyambar dan menerjang I Gusti Agung. Berkali-kali I Gusti Agung terketa pisau aduan (taji) ayam Diarsa, tim kesehatan kerajaan tidak mampu mengobati luka I Gusti Agung hingga beberapa hari kemudian I Gusti agung meragang nyawa.
Singkat cerita Diarsa yang tersohor kebajikannya dalam pengetahuan metafisika dan kenegaraan berkat tuntutan Dewa Siwa, beberapa rombongan Pandita penasehat kerajaan menjempur Diarsa, agar menjadi raja bagi rakyatnya, dan memerintah dengan bijaksana.
Diarsa mempertanyakan tentang dukungan dari para pelaksana pemerintahan, dewan dan segenap rakyat. Dukunganpun terus datang, permintaan itu disanggupi oleh Diarsa.
Abhiseka Diarsa kemudian menjadi Gusti Agung Nitigulati, memerintah dengan bijaksana, taat dengan aturan, pelaksanaan upacara yang semula dihentikan, dilaksanakan dengan saksama, aduan ayam yang diselipkan pada upacara-upacara dihentikan, peguruan-peguruan sebagai ciri pendidikan dimajukan olehnya, kepentingan kemakmuran rakyat diutamakannya.

Sorga dalam Hindu
Kisah Diarsa menggambarkan sorga-sorga dalam Hindu, semuanya sejajar, sesuai dengan karmanya masing-masing. Setiap Dewa dalam Hindu memiliki sorganya masing-masing. Ini menandakan sorga dalam penggambaran Hindu plural, mengakui perbedaan sorga-sorga. Dalam arti tidak ada monopoli kebenaran tentang sorga, Hindu memiliki sorganya sendiri.
Sesungguhnya dalam Bhagawadgita sudah disebutkan, jika memuja leluhur akan mencapai sorganya para leluhur, jika memuja para dewa akan sampai pada sorganya para dewa. Penggambaran sorga dalam teks-teks lontar juga serupa, misalkan saja dalam lontar Bhuwana Kosa, sorga terdiri dari sorganya para dewa.
Penjelasannya cukup detil dalam kisah Diarsa dan Lontar Bhuwana Kosa, semua sorga-sorga itu ada dalam satu kesatuan, seluruh penjuru mata angin digambarkan terdapat sorga sesuai dengan pengider bhuwana. Diarsa mencapai kesadarannya dari rasa bhaktinya kepada Dewa Siwa.
Sisi inilah yang kontroversial dari Diarsa yang awalnya seorang aduan ayam bisa mendapatkan sorga dengan mudahnya. Kisah ini dapat disejajarkan dengan kisah Lubdaka, yang secara tidak sengaja melakukan pemujaan di malam Siwa (Siwaratri), hingga mendapatkan perubahan total dalam dirinya dan menemukan Siwa sebagai guru abadi.
Diarsa diceritrakan adalah orang yang jujur, memiliki sifat asih terhadap sesama manusia, suka menolong orang yang kesusahan. Sisi buruk Diarsa dapat diimabanginya dengan perbuatan baiknya meski dalam keadaan miskin sekalipun.
Sifat karuna budi menjadi tumpunan Diarsa dipilih sebagai orang yang dapat merubah jalan hidupnya secara totalitas untuk menyatukan dirinya dengan Brahman. Perubahan hidupnya dari seorang penjudi menuju keseorang karmin yang bekerja tanpa mengharapkan hasilnya merupakan kata kunci Diarsa dalam mencapai sorganya Dewa Siwa.
Oleh karena itu hendaknya tidak tergiur dengan janji-janji sorga, sorga Hindu telah memiliki berbagai pilihan. Semuanya indah-indah, tujulah dengan selalu berbuat baik.

Tajen dalam Upacara Yadnya Tidak Pantas
Gaguritan I Bagus Diarsa disadur seperti terjemahan milik Depdikbud Jakarta tahun 1980 yang didokumentasikan di Pusdok Bali nomer Ci 169 c.2. Gaguritan I Bagus Diarsa disebutkan selesai di tulis tahun 1837 Caka atau 1915 Masehi.sisa lima tahun lagi sudah seabad lamanya.
Kidung ini memberikan kritik yang pedas terhadap pelaksanaan tajen (keklecan), taruhan cock fighting atau apapun namanya yang dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara dalam Hindu. Raja-raja yang membenarkan pelaksanaan yadnya ini dan membiarkannya tetap berlangsung, sudah sepantasnyalah dievolusi.

* Penulis, Koresponden Media Hindu di Denpasar
Sumber: Majalah Media Hindu edisi 82, Desember 2010 Halaman 58-59.

Harapan Dialog Hindu –Islam dalam Gaguritan Tamtam

Oleh: I GN. Suardeyasa

Sekilas Gaguritan Tamtam
Tercerita dua orang murid Sang Aji Saka bernama Ginal Ginul. Si Ginul lahir pada seorang petani miskin pada perkampungan seorang pasangan keluarga Hindu bernama Tamtam. Si Ginal lahir di Mesir Puri menjadi putri raja agung diberi nama Ni Diah Adnyaswari.
Sang raja mengadakan sayembara, untuk mengadu kemampuan dengan putri Ni Diah Tantri yang tersohor di bawah binaan Trana Windu Bagawanta, seorang penasehat kerajaan Mesir Puri. Jika mampu mengalahkan Ni Diah Adnyaswari maka akan dijadikan sebagai raja di Mesir dan Ni Diah Adnyaswari sebagai permaisuri. Jika rakyat biasa taruhannya adalah dihukum mati. Hampir sebagian besar kerajaan yang datang untuk mengadu kemampuan, semuanya kalah. Ada yang mengandalkan bagus rupa, ada pula yang menggunakan cara-cara tidak terhormat.
Raja Hindu tidak ada yang mengikuti sayembara itu, namun satu orang dari rakyat biasa mengikuti. Tamtam berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan Ni Diah Adnyaswari dengan baik, Yama-Niyama itu namanya, pengendalian diri pada tahapan jasmani dan rohani.
Tamtam bertanya ”Isin Telah”, disimpan di tempat yang besar akan memenuhi alam semesta beserta segala isinya, di tempat yang kecil akan longgar selalu. Pertanyaan ini membuat Ni Diah Adnyaswari kewalahan, hingga meminta tempo selama tiga hari untuk memikirkan jawabannya.
Lama sudah berpikir tapi tidak bertemu juag dengan jawabannya, timbulah niat Ni Diah Adnyaswari untuk memberikan minuman yang memabukkan kepada Tamtam agar dapat membuka rahasia. Ni Diah Adnyaswari datang ke pondokan Tamtam, untuk merayu Tamtam agar mau menerima persembahan dari istana.
Tamtam sadar dalam mabuk itu telah membuka seluruh rahasia pertanyaannya. Dia sadar sudah ditipu, dan cepat-cepat mengambil gelang perhiasan Ni Diah yang bergegas pergi. Tamtam mendapatkan perhiasan milik Ni Diah, untuk menyampaikan keberatan pada waktu sidang di istana nanti.
Pada saat disidangkan Ni Diah Adnyaswari menjawab dengan enteng. Tamtam mengajukan keberatannya dan peninjauan kembali untuk menunda hukumanya, selama beberapa saat untuk memberikan penjelasan kepada sang raja, tentang tipu daya yang dilakukan Ni Diah. Tamtam memberikan bukti Gelang milik Ni Diah yang berhasil dirampasnya, Ni Diah telah berupaya yang tidak baik untuk mendapatkan jawaban, datang di malam hari ke gubuk orang miskin tanpa pengawal berbusana kerajaan dan membawa minuman keras, merayu.
Sang raja menerima keberatan dan peninjauan kembali oleh Tamtam, sang raja sebagai hakim dalam sayembara bersama para menteri menyepakati Ni Diah telah kalah dalam sayembara. Tamtam menjadi raja di Mesir Puri bersama permaisuri Ni Diah Adnyaswari.

Dialog Sebuah Harapan di Masa Depan
Isin Telah, tidak mampu dijawab. ”Isin Telah”, itu tidak ada lain adalah ”pikiran”, di atas pikiran itu Sang Atma yang memberikan kehidupan. Ni Diah tidak faham pengetahuan tentang Sang Atma. Sang Atma yang berada dalam tubuh akan menjadi kecil dan sekecil-kecilnya, jika Dia di alam semesta akan mampu mengisi seluruh alam semesta ini. Itulah sifat Tuhan.
Latar belakang dari disusunya Gaguritan ini sesungguhnya mengharapkan sebuah dialog antara Hindu-Islam. Tidak dengan mengandalkan kekerasan fisik maupun mental dalam menyelesaikan permasalahan pembinaan umat.
Sang pencipta cerita ini tidak menyampaikan identitasnya dengan jelas, akan tetapi cerita Tamtam dominan berkembang di Buleleng, kemungkinan besar cerita ini merujuk pada situasi pertemuan antara masyarakat Hindu dengan masyarakat Islam di Buleleng lampau, Nabastala sebuah wilayah yang ditunjukkan pada sisi awal Gaguritan, seperti ciri mendasar dari sebuah Gaguritan.
Tentang latar belakang keberadaan Sang Aji Saka, tokoh ini dikenal oleh masyarakat Bali sebagai seorang yang menyampaikan ajaran Hindu menuju ke Bali. Pada cerita terwujudnya aksara Bali, yang jumlahnya 18 huruf, terdiri dari a, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa ja, ya, nya. Jika aksara tersebut digabungkan akan membentuk sebuah formasi kata-kata yang mengandung makna: ana-caraka-data-sawala-magabanga, pajayanya. Rupanya ini adalah Bahasa Jawa Kuno (Bahasa Kawi). Cerita tersebut akan lebih lengkap jiak dilihat dalam aksara Jawa, ada huruf yang tidak dibawa sampai di Bali, yakni: ha, na, ca, ra, kha, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.
Huruf Jawa memiliki kelebihan huruf seperti: kha, dha, tha, yang merupakan cara pengucapan (lidah Jawa) da (Bali), dha (Jawa), na (Bali) (diucapkan ne), na (Jawab) (diucapkan no). Ta (Bali) (seperti mendapatkan penekanan tt-dobel t), ta (Jawa) diucapkan tha (tho). Memang beralasan, dalam Gaguritan tersebut telah menyebutkan bahwa asal muasal cerita adalah dari Pulau Jawa.

sUMBER: mAJALAH mEDIA hINDU jAKARTA Edisi 80, Oktober 2010 Halaman 33.

%d blogger menyukai ini: