REALITAS SOSIAL PERKAWINAN BEDA AGAMA

Oleh: IGN.Suardeyasa
Dipertemukan dengan berbagai agama, secara inflisit memastikan dan mencermati kondisi sosial masyarakat sekitar tersebut, pelan-pelan terekam dalam memori otak, suatu ketika akan menjadi sebuah pengetahuan tersendiri.
Salah satu yang mencengangkan dewasa ini adalah permasalahan perkawinan, penulis sudah mengadakan pengamatan di berbagai keluarga. Ada yang memilih untuk tetap menjadi Hindu meskipun istri/suaminya berbeda agama, ada yang memilih untuk memeluk agama suami, tapi diantara perkawinan “paid bangkung” yang paling menyedihkan, paling tidak punya jati diri.
Ada sebuah keluarga yang ujung-ujungnya cerai karena meskipun pada sebuah perkawinan dilangsungkan secara Islam, akan tetapi para keluarga Hindu tetap melakukan upacara secara Hindu “agar adil” katanya dan dapat mepamit di singgah kemulan.
Duduk persoalannya, sang perempuan memang sudah pernah melakukan perkawinan dengan seorang yang bergama Islam sedangkan dirinya beragama Kristen. Setelah memiliki anak dua, karena tidak mampu mempengaruhi agama sang laki, memilih untuk mencari pasangan lain meski masih terikat hubungan dengan suaminya.
Seorang pria Hindu, perpisahan melanda keluarga yang berlatar belakang Islam dan Kristen, kedua-duanya tetap berkeinginan agar anak-anak mereka memeluk agama mereka masing-masing, toh akhirnya kedua anak mereka dilarang berat untuk pergi bersembahyang ke Greja, diantara yang pengaruhnya paling kuat adalah dari paman-pamannya yang beragama Islam dan cukup rajin dalam mengaji.
Dikemudian hari, anak-anak mereka tumbuh besar, setelah dua puluh tahun mereka menapaki perkuliahan terbebas dari kungkungan orang tua, tapi tetap saja mereka pulang dipaksa untuk mengaji di Mushola. Kini kedua-duanya tidak terurus, apalagi yang lahir bontot, sering mabuk-mabukan, di suruh kuliah enggan, lebih memilih untuk tinggal di kota, sabu-sabu-pun diganyang juga.
Bahkan demi melihat anak-anak mereka Yani dan Herwin memeluk agama Kristen pernah mengirim mereka berdua untuk bersekolah SMA di Sulawesi Tengah, setamat itu kembali lagi menjadi Islam, ini baru betul-betul seorang bapak yang kuat dalam memegang agama. Tiga tahun mengenyam pendidikan kekristenan, bisa kembali lagi menjadi Islam.
Sayang pada akhirnya, si Yani memilih untuk memeluk Kristen sampai akhirnya melangsungkan perkawinan, sedangkan si Herwin tidak begitu fanatik dengan agama, malah mencaci kedua orang tua mereka karena sering bertengkar mengenai agama mereka. Sang ibu semakin pusing dibuatnya, hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai.
Kini dia bersama-sama dengan lelaki Hindu, lima tahunan tidak dianugrahi seorangpun anak, laki-laki yang berasal dari keturunan Sang mungkin bosan dengan tiap hari diceramahi terus, diajak untuk memeluk Kristen, dirayu agar mau pergi ke Greja sembahyang sekali saja. Lima tahun setelah itu, Sang menjadi kalaf dan pergi ke Bali dengan alasan dipanggil keluarga di Bali.
Tahun 2007 kini sudah, si Sang tidak kunjung pulang ke Sulawesi, sampai sang istri (Kristen) mencarinya ke Bali. Dua tahunan tidak pulang si Sang rupanya sudah memperistri seorang wanita dari Bali yang lebih ayu dan memang bernama Ayu, rupanya jalan yang ditempuh ini diberikan oleh seorang Parisada di Sulawesi sana; yang pernah dimintai solusi agar pergi ke Bali.
Diketahui suaminya sudah melakukan perkawinan lagi, sang ibu ini melaporkan tindakan ini ke Pengadilan Bangli, tapi lama mendapatkan tanggapan, lantaran kasusnya sebagaian besar terjadi di Sulawesi, Pengadilan Bangli memutuskan untuk menyerahkannya kepada Pengadilan di Sulawesi. Perkara dimenangkan oleh sang ibu (Kristen), tapi si Sang tetap menjadi seorang Hindu diantara keluarga Ayu di Bali, sebagai jaminan Gono-gini lahan warisan si Sang jatuh ke tangan si ibu ini.
Kenekatan ibu ini dalam menyebarkan Kristen di Desa transmigrasi yang memang sudah terikat oleh adat, sangat menyedihkan sekali, sepuluh tahun lebih baru hanya mendapatkan pengikut satu orang, itupun lantaran terikat perkawinan, seorang putri Bali berpindah agama, seorang laki-laki suku asli yang sudah beragama Kristen meminangnya.
Proses peminangannya berlangsung alot, Parisada Desa dan Pengurus Adat yang sudah tahu akan terjadi hal pindah agama, kompak mengadakan perombakan awig-awig terutama tentang pindah agama, setiap orang yang berpindah agama akan dikenakan denda adat sebesar lima juta rupiah, bila meninggal dunia, tidak akan mendapatkan lahan kuburan sedikitpun, penguburannya diserahkan ke agama yang bersangkutan.
Hendaknya pengurus adat di Bali sesegera perombakan awig-awig, agar tidak memang sudah sepantasnya di isi tentang perpindahan agama, bukan hanya perpindahan penduduk saja.

Penulis, Koresponden Media Hindu Denpasar
Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 76, Juni 2010, Halaman 43.

3 Tanggapan

  1. Suksma Pupuhnya…..

  2. Kalau masalah aturan, saya tidak begitu banyak memahaminya…

  3. aturannya ada undang-undang tahun 1974 tentang perkawainan atau undang-undang perkawainan. PErkawinan dapat dilakukan apabila sudah suka-sama suka, dan ada syarat seagama. Ini mencirikan apabila masih berbeda agama yakinlah pasti ada yang dikonversi keagama (laki atau perempuan). Atau malah hanya dibawah tangan saja, setelah selesai upacara perkawinan masing-masing kembali keagamanya (kembali ke habitat masing-masing). Dalam arti undang-undang bisa diakali untuk mengesahkan perkawinan saja,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: