Kajian Upacara Beliatn Dalam Perspektif Pendidikan Etika, Studi Ritus Di Desa Mangkupum, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan

Oleh: SOHARSONO, Tahun 2005.

ABSTRAK

Sebelum ajaran agama Hindu yang menganut Monoteisme dan Monisme masuk dan berkembang di Indonesia, penduduk pribumi memiliki sistem kepercayaan yang disebut Animisme dan Dinamisme. Kepercayaan ini masih dilaksanakan dan diyakini sampai saat ini. Kepercayaan Animisme dan Dinamisme dapat kita lihat diantaranya pada etnis Dayak Desa Mangkupum yang masih menjalankan cara penyembuhan penyakit dalam bentuk upacara (ritual) yang disebut Beliatn. Jika dikaitkan dengan ajaran panca yadnya dalam agama Hindu maka, upacara Beliatn tergolong dalam upacara Manusia Yadnya. upacara Beliatn hanya dilakukan oleh suku Dayak yang masih menganut agama Hindu Kaharingan. Pelaksanaan upacara Beliatn oleh suku Dayak Hindu Kaharingan di Desa Mangkupum selama ini hanya dipahami sebagai suatu keyakinan yang turun temurun dalam bentuk tradisi dan kebiasaan yang membudaya, tanpa pemahaman akan makna religius sesungguhnya termasuk nilai sosialnya. Karena penelitian secara ilmiah terhadap upacara Beliatn belum banyak dilakukan sampai yang bersifat esensial.
Berdasarkan hal tersebut, permasalahan yang dirumuskan adalah; bagaimana pelaksanaan upacara Beliatn ditinjau dari segi sarana, tempat dan waktu, dan pemimpin upacara, apa saja rangkaian upacara Beliatn, pendidikan etika apa saja yang ada pada pelaksanaan upacara Belitan dan bagaimanakah persepsi suku Dayak Hindu Kaharingan terhadap aspek pendidikan etika dalam upacara Beliatn.
Untuk mendapatkan data penelitian digunakan beberapa metode yaitu; identifikasi lokasi penelitian, penentuan subyek, dan pendekatan subyek. Dalam mengumpulkan data digunakan beberapa cara;“pengamatan (observasi) suatu cara untuk memperoleh data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek penelitian dengan menggunakan metode observasi tidak berstrukrur dan metode observasi kwasi partisipan; wawancara merupakan cara pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang informan untuk mendapatkan penjelasan mengenai permasalahan yang sedang dibahas dengan menggunakan metode wawancara tidak berstruktur; dan studi pustaka suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara membaca buku-buku, diktat-dikta yang ada kaitannya dengan permasalahan yang diangkat”.
Data yang telah ada, kemudian diolah dengan teknik; metode Deskriptif, pengolahan data dengan cara menyusun secara sistematis untuk mendapatkan kesimpulan menyeluruh dari pokok-pokok permasalahan; dan Analisis kualitatif yaitu menggunakan cara mengamati, memahami, dan menafsirkan setiap fakta dan hipotesa, dengan menggunakan pendekatan empiris dimana gejala yang ada terjadi secara wajar tanpa menimbulkan gejala baru. Setelah semua langkah di atas diselesaikan maka langkah berikutnya menyusun hasil penelitian.
Melalui hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan yang menjadi pokok permasalahan. Pelaksanan upacara Beliatn menggunakan sarana upacara berupa benten saji, perlengkapan upacara dan alat musik, serta dalam pelaksanaanya dipimpin oleh seorang Mulukng dibantu seorang penggadikng bertugas mengatur sarana upakara/sesajen pada saat upacara berlangsung. Rangkaian upacara Beliatn terdiri dari; upacara Ngontah (upacara awal), Besurah (penyeraha banten), upacara Netungkal (pembersihan), upacara Metanja (tarian sakral), dan upacara Ngator (upacara akhir). Ritual dalam bentuk upacara Beliatn selain untuk menyembuhkan penyakit, juga sebagai media penanaman nilai pendidikan etika yang mereka sebut dengan adat wolupm.
Pada upacara Beliatn etika/adat wolupm dapat diidentifikasi, pada saat proses pelaksanaan tergolong (etika upacara); keyakinan yang mendalam tergolong (etika religius); cara mereka menjalankan tergolong (etika sosial kemasyarakatan). Dari ketiga unsur etika yang terkandung dalam upacara Beliatn tertanam ajaran Hindu yaitu konsep Tri Kaya Parisuda meliputi; manacika (pikiran), wacika (perkataan), kayika (perbuatan) dan konsep Tri Hita Karana yaitu; parahyangan (hubungan antara manusia dengan Tuhan) , pawongan (hubungan antara manusia dengan manusia), palemahan (hubungan antara manusia dengan alam lingkungan).
Upacara Beliatn dipersepsikan oleh masyarakat Dayak, sebagai jalan untuk penyembuhan penyakit, sebagai penghormatan kepada para leluhur diwujudkan dalam bentuk pemberian sesaji; dan sebagai wahana untuk melatih mengendalikan diri terhadap hawa nafsu, agar mendapat keseimbangan hidup yang selaras, serasi dan seimbang baik secara vertikal maupun horisontal seperti konsep Tri Hita Karana dalam ajaran agama Hindu.

WKMH Sulra Adakan Dharma Wacana di Muna “Upacara Banyak Dipertanyakan”

Dharma wacana kali ini dilaksanakan 14-15 Agustus 2009, di Desa Sukadamai Kecamatan Kambara Kabupaten Muna, yang dibawakan oleh Prof.IB.Gunada dan Drs. IB.Buda Yoga, M.Si, kegiatan ini pertama di Muna.
Semangatnya dari pelaksanaan pengabdian masyarakat di tahun 2005 lalu, kali ini pengabdian masyarakat dipusatkan di satu lokasi, dengan harapan agar dapat lebih menyatu dengan masyarakat.
Menurut ketua WKMH ketika ditemui Media Hindu setelah usai kegiatan tersebut mengatakan kegiatan pembukaan Dharma Wacana dan Dharma Pasraman ini dihadiri oleh PHDI Provinsi diwakili oleh Duta Dharma Provinsi Sulawesi Tenggara K.Dharma Parsua, PHDI Kabupaten Muna, PHDI Kecamatan Kambara, PHDI Desa Sukadamai, Peradah dan para undangan kurang lebih 150 orang.
Kegiatan ini dibuka oleh PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara yang diwakili oleh K.Dharma Parsua, S.Ag, setelah itu dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari PHDI Kabupaten dan Kecamatan.
Dharma Wacana dan Dharma Tula yang dibawakan oleh Prof. IB.Gunada dan IB.Buda Yoga yang direkomendasikan dari Pemerintah Daerah Provinsi Bali disambut antusias oleh masyarakat di Kecamatan Kambara Kabupaten Muna tersebut.
Materi yang disampaikan oleh Prof.IB.Gunada terbilang masih umum dan mengglobal, sedangkan materi IB.Buda Yoga banyak menyangkut hal upacara yang ada di Bali, acara yang dimulai dari pkl 17.00 diakhiri pada pukul 23.00 waktu setempat.
Antusias masyarakat mengenai materi Dharma Wacana dan Dharma Tula ini adalah mengenai pelaksanaan upacara-upacara agama Hindu di Bali agar dapat disesuaikan dengan kondisi di Kabupaten Muna tersebut.
Kadek Yogi sebagai ketua organisasi menyampaikan susah senangnya dengan diberikan kepercayaan melaksanakan pengabdian masyarakat ini dengan dukungan Pemerintah Daerah Provinsi Bali, Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, Dirjen Bimas Hindu.
Sambungnya lagi, meskipun dalam perjalanan sempat mengalami hambatan, kapal boot yang ditumpangi panitia dari Kendari ke Muna mengalami kebakaran, namun dapat diselamatkan oleh petugas kapal, dengan semangat yang penuh akhirnya kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat Hindu di Muna sejak bertahun-tahun ini dapat terselesaikan.
Ada hal yang menarik dari pelaksanaan kegiatan ini, para pembicara dan panitia dapat membaur penuh rasa kekeluargaan dengan masyarakat Hindu di Kecamatan Kambara tersebut, para pembicara sempat bermalam di rumah PHDI Kecamatan bersama-sama dengan Duta Dharma dari provinsi Sulawesi Tenggara.
Mereka diajak untuk menikmati rasa kekeluargaan masyarakat Hindu yang masih alami, buah-buahan yang segar, daging babi yang segar, dan dapat berdialog langsung dengan masyarakat yang mengais kehidupan di daerah rantauan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga diisi dengan Dharma Pasraman, yang dimulai pada 15.00 keesokan harinya, pesertanya dari tingkat SD-SMA se kabupaten Muna, jumlah peserta 150 orang, materi pasraman. Tattwa Hindu, dibawakan oleh Kadek Yogiarta. Etika yowana Hindu dibawakan oleh Gede Mustika, S.Ag, yoga asanas dibawakan Ayu Sunia Wati, upakara dan ulat-ulatan dibawakan oleh Kadek Suwerta, acara ini dilaksanakan sampai pukul 23.00. ditutup secara resmi oleh 22.00 oleh Bendahara PHDI Kabupaten Muna.

Keterangan Gambar:
Dari Kiri Ke Kanan, Kadek Suwerta Ketua Panitia Pengabdian Masyarakat, Ketut Mariati, S.Ag Moderator, K.Dharma Parsua, S.Ag Duta Dharma Provinsi Sulawesi Tenggara, Prof.IB.Gunada Pendharma Wacana, Drs. IB.Buda Yoga, M.Si pendharma wacana, Ketua PHDI Kecamatan Kambara, Mangku Pura Desa di Desa Sukadamai.
SUMBER: http://www.mediahindu.net

Mimamsa Darsana

Oleh
I GN.Suardeyasa

Sebagian besar yang dibahas dalam buku-buku agama Hindu adalah Purwamimamsa, yang umum disebut dengan Mimamsa saja. Kata mimamsa menurut Ngurah (1997:125-126) diartikan “sebagai penyelidikan yang sistematis yang pertama terhadap Weda. Purwamimamsa secara khusus mengkaji bagian weda, yakni kitab Brahmana dan Kalpasutra, sedangkan bagian yang lain (Aranyaka dan Upanisad) dibahas oleh Uttawa Mimamsa yang populer dengan nama Wedanta. Purwamimamsa sering disebut dengan karma mimamsa, sedangkan uttara mimamsa sering disebut dengan jnana mimamsa. Rsi Jaimini sebagai pendirinya, sumber ajarannya adalah keyakinan akan kebenaran dan kemutlakan upacara dalam kitab suci Weda (brahmana kalpasutra). Sumber ajaran terulis Mimamsa adalah Jaimini sutra yang disistematisir oleh sabara Swamin. Dua murid jaimini yang berbeda pandangan mengembangkan Mimamsa yakni Kumarila Battha dan Prabhakara”.
Download Saja Gratis Kok…….!!!<a href="TUGAS DARSANA S2“>

%d blogger menyukai ini: