Pengaruh Hidro Siklus terhadap Upacara Kematian

OLeh: IGN.Suardeyasa

Kali ini tidak akan berusaha untuk mencangkokkan sebuah faham yang sebagian besar telah dianut oleh masyarakat Hindu di Bali, ngaben demikian disebutkan, yang manfaatnya lebih cepat untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke Panca Tan Matra yang akhirnya mencapai moksa.

Pada masyarakat Hindu khususnya yang tergolong Bali Aga, masih banyak daerah yang tidak menerima ngaben secara utuh. Daerah Desa Les Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng (Bali Utara) yang memiliki upacara unik yang jarang ditemui di wilayah lainnya.

Salah satu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Les yang masih memegang tradisi adalah upacara metuunang, upacara ini sudah pernah ada yang meneliti lebih jauh, akan tetapi hanya secara empiris deskriptif semata, bahwa memang benar Desa Les melaksanakan upacara metuunang.

Bentuk upacara ini mencirikan kesederhanaan, sesuai dengan konsepsi namanya “metuun” yang berasal dari kata “tuwun” yang artinya turun, maksudnya menunduk tanpa menoleh ke kanan dan kekiri, sehingga tidak lagi upacara gede kesamping dari pada yang ke atas.

Gede kesamping dimaksudkan untuk mengungkapkan dana yang dikeluarkan untuk hanya bersenang-senang atau bukan pengeluaran dana inti dari upacara tersebut, sehingga menolak penuh “ngabehin” atau menghabiskan uang yang banyak. DOWNLOAD<a href="“>

2 Tanggapan

  1. apakah dalam hal ini mayat tidak dibakar….?

  2. ya…!! dalam pandangan saya, setra Desa Pakraman Les terdapat didaerah terbuka (ruang terbuka) kontak langsung dengan Matahari. Layaknya seperti di Trunyan, Sawa orang yang meninggal disenderkan begitu saja konon karena ada pohon Taru yang berbau harum inilah yang mengakibatkan sawa yang membusuk tidak berbau. Di Desa Les, Sawa tetap berbau tidak sedap seperti pada umumnya, namun cara menguburnya yang berbeda dari tradisi lainnya di Bali; kuburan dibuat seperti gudang dan langsung bersentuhan dengan tanah. Selesai itu ditutup kembali dengan menggunakan campuran (pasir, semen). Setelah itu ada proses Metuun, Nebas dan Nuntun Pitara. Secara alami, kontak dengan tanah (ibu Pertiwi) dan Pemanasan (Sang Hyang Surya) (konon dalam Veda-Veda Sang Hyang Agni yang digunakan untuk membakar sawa adalah salah satu dari tugas Sang Hyang Surya yang digantikan oleh Dewa Agni. Jadi Pandangan saya, sama saja dengan membakar (dengan api) tapi tidak keluar asap yang berlebihan (polusi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: