Sejarah Singkat Pendidikan

Oleh: I Gst.Nyoman Suardeyasa

Permasalahan pendidikan agama Hindu tidak dapat dipisahkan dengan kajian histori dari pada sekolah tersebut, dalam kajian ini meskipun dalam ajaran Hindu terdapat sistem parampara yang sekarang lebih terkenal dengan sampradaya, namun istilah yang lebih umum digunakan adalah sekolah, seperti diungkapkan Wibowo (2008:1-2) bahwa:
“Institusi sekolah saat ini merupakan wahana yang dipergunakan sebagai tempat berlangsungnya proses pemupukan pengetahuan, keterampilan dan sikap guna mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seseorang. Sekolah tidak serta merta muncul dari ruang hampa, tetapi menjelma melalui pergulatan panjang dengan sosio-historisnya”.

Kata sekolah atau school, sejatinya berasal dari Bahasa Latin “scola” atau “scolae” yang dipergunakan sekitar awal abad XII, secara harafiah yang artinya waktu luang. Konon dahulu Yunani kuno menggunakan waktu luangnya untuk mengunjungi tempat para cerdik pandai atau orang yang memiliki hikmah (wisdom) yang dalam, guna menanyakan hal ikhwal kehidupan. Mulai dari permasalahan sosial, agama (kepercayaan), ilmu bahasa dan berpidato (orator), sastra, teknik perang dan segala macam pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Istilah yang dipergunakan adalah leisure devote to learning (waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar). Entah mengapa lama-kelamaan pelafalan schola bisa menjadi school dan dalam Bahasa Indonesia menjadi sekolah.

Selanjutnya dijelaskan Wibowo (2008:2-3) sebagai berikut:
“Sekolah modern pertama kali didirikan di Mesir Kuno sekitar tahun 3.000 hingga 500 BCE (Before Common Era), dilihat dari modelnya masih dalam bentuk yang sederhana, kegiatan pembelajaran tidak dilakukan di ruang-ruang kelas seperti sekolah modern sekarang, akan tetapi dilaksanakan di lapangan terbuka mirip kampanye atau rapat akbar saat ini. Sekolah di Mesir Kuno dipergunakan untuk mendidik calon-calon pegawai kerajaan dan para pendeta agama sang raja. Sekolah di Mesir Kuno ini bertahan cukup lama.

Selanjutnya sekolah modern di India berdiri sekitar tahun 1200 BCE, pengajar di sekolah tersebut adalah para pendeta agama Hindu dan Buddha, sementara materi yang diajarkan adalah Kitab Weda, ilmu pengetahuan, tata bahasa dan filsafat, bentuk sekolah pada masa itu tidak jauh beda dengan model sekolah di Mesir Kuno.

Di China sekolah formal pertama kali diperkirakan muncul pada masa kekuasaan Dinasti Zhou (770-250 BCE), pada masa itu pula muncul beberapa mahaguru ternama sekaligus para filosof Timur seperti Konfusius, Mesius, Laotzu dan sebagainya.

Sayangnya di Yunani lama-kelamaan semakin menyusut pengetahuannya dan menjadi ajang bisnis, karena ada penyelewengan dari kaum sofis yang difitnah menjual pengetahuannya, oleh karena itu sofis sekelas Socrates. Setelah itu Plato (387 BCE) murid Socrates mendirikan sistem pendidikan di kota Athena yang disebut Academy. Diikuti oleh Aristoteles dengan nama Lyceum, berikutnya Isocrates mengembangkan metode pendidikan yang diperuntukkan bagi para calon orator…”.

Kaum Yahudi tidak mau ketinggalan dengan kemajuan Yunani, kemudian mendirikan persekolahan disebut Sinagoga, dengan materi Kitab Taurat. Setelah Kristen di Yunani berkuasa menggunakan bangunan greja sebagai tempat pengajaran…, sekitar abad X-XI kaum Muslim mulai mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, dan filsafat dari persinggungan perdagangan dengan Bangsa Barat…”.

Sedangkan Ngurah (1997:22-23) menjelaskan sebagai berikut:
Menurut penelitian para ahli, secara umum dapat dikatakan bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia berasal dari India, berlangsung secara damai dan bertahap melalui kontak perhubungan dan perdagangan. Proses tersebut berlangsung dalam kurun waktu waktu yang amat panjang. Diawali dengan tukar menukar barang dagangan, kemudian kontak kebudayaan yang menyebar secara perlahan-lahan dari daerah pesisir hingga sampai masalah agama dengan mendirikan kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

Pidarta (1997:123,125,127)juga menjelaskan sebagai berikut:
“…pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan zaman penjajahan, sampai dengan pendidikan pada zaman kemerdekaan…pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan, yang berjuang melalui pendidikan. Mereka membina anak-anak dan para pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh pendidikan itu adalah Mohamad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Moh. Syafei mendirikan sekolah INS (Indonesisch Nederlandse School) di Sumatra Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayu Tanam. Maksud sekolah ini adalah mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa merdeka. Dengan berdirinya sekolah ini berarti ia menentang sekolah-sekolah Hindia Belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk menjadi pegawai-pegawai mereka saja.

“….tokoh pendidikan nasional berikutnya adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Sifat, sistem, dan metode pendidikannya diringkas ke dalam empat kemasan, yaitu azas Taman Siswa, Panca Dharma, adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang…”.

“…tokoh ketiga adalah Ahmad Dahlan yang mendirikan Organisasi Agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada perkembangan agama Islam…” perjuangan itu berlanjut hingga munculnya Dr. Wahidin dengan mendirikan organisasi Budi Utomo…”.

Pada masa reformasi tentu tidak harus meninggalkan idiologi pendidikan yang dititipkan oleh sejarah hingga muncullah Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional seperti dijelaskan oleh Nurdin (2005:2) sebagai berikut:
“…Tahun 1989…diberlakukan oleh pemerintah secara resmi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989, tentang sistem pendidikan nasional (UUSPN) yang telah disahkan dan diundangkan pada tanggal 27 Maret 1989 yang kemudian dijabarkan menjadi Surat Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara (Men-PAN) nomor 26 tahun 1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru dan lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah diumumkan secara resmi pada tanggal 15 Mei 1989. Dalam perkembangan sistem pendidikan nasional berikutnya kemudian lahit UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003…”.

Pada dasarnya Undang-undang sistem Pendidikan Nasional sebagai payung dari peraturan yang lainnya dan masih bersifat umum, dengan demikian dapat dijabarkan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini pemerintah dan pemerintah daerah dalam hal peningkatan mutu pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: