GENERASI MUDA HINDU DALAM GUGON TUWON: Peluang dan Tantangan ke Depan*

Oleh: I Gst. Nyoman Suardeyasa_

“Secara histories, bila ingin memahami apa level pendapatan seseorang, semua dilakukan dengan bertanya dari negara mana ia datang. Di masa depan, ini tidak akan lagi benar, sekaliknya akan bertanya apa level pendidikan yang dicapainya” (Bill Gates Microsoft Corporate, Media Hindu Edisi 51 2008 hal. 20).

Jika bertanya, jika orang yang perpendidikan tentu mampu berbuat baik.
“yadyapin sangcaya ketang wwang ri hananing paraloka, mwang phalaning cubhacubhakarma, tathapin mangkana, aryakena jug ikang acubhakarma, ling sang hyang agama” (Sarasamuchaya sloka 111).

“Biarpun sangsi kiranya orang akan adanya dunia lain (akhirat), dan akan adanya hasil perbuatan baik maupun buruk, kendatipun demikian, hendaklah ditinggalkan saja perbuatan buruk itu demikian tersebut dalam ajaran agama”
(Kadjeng, 2006:60).

A. Pendahuluan
Kehidupan negara maupun masyarakat Indonesia adalah berifat pluralistic atau majemuk, karena terdiri dari banyak suku bangsa, dimana setiap suku bangsa memiliki identitas budaya sendiri-sendiri. Bahkan mereka memakai agama sebagai identitas etnik, sebagaimana terlihat pada etnik Bali, Aceh dan lain-lainnya.

Menunjukkan jumlah suku bangsa di Indonesia mencapai sekitar 656 suku bangsa. Mereka tersebar pada berbagai wilayah Indonesia, dan kecenderungan setiap suku bangsa terkonsentrasi pada lokalitas tertentu, seperti etnik Bali di pulau Bali, etnik Jawa di pulau Jawa, etnik Sasak di pulau Lombok, dan lain-lainnya.

Namun kemajuan prasarana dan sarana transportasi, ditambah lagi dengan adanya daya tarik dari daerah tujuan, dan daya tolak dari daerah asal, berserta proses migrasi berantai, maka migrasi etnik dari kampung halamanya ke daerah lainnya, menjadi sesuatu yang sulit dibendung.
Karena itulah, Bali misalnya semula merupakan tanah hunian atau lokalitas etnik Bali, tidak lagi hanya dihuni oleh etnik Bali, melainkan juga menampung pula etnik lainnya, seperti Jawa, Madura, Batak, Minangkabau, Bugis, Sasak dan lain-lainnya.

Mereka datang ke Bali tidak saja membawa budaya etnik, tetapi juga agama, seperti Islam, Kristen, Katolik, dan lain-lainnya. Mereka bermukim di kota bahkan banyak pula yang merembes ke desa (wikiepedia.com).

Gejala ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan bahwa Bali semakin lama tampak semakin multietnik dan multiagama. Orang Bali secara etnisitas memang merupakan satu kesatuan, namun kalau deicermati, mereka berdiferensiasi.

Misalnya atas dasar wangsa, soroh dan lain-lainnya. Masing-masing soroh mendirikan perkumpulan soroh, dimana hal ini telah muncul sejak tahun 1930-an yang dipelopori oleh keluarga besar Bhujangga Waisnawa, kemudian disusul oleh warga-warga lainnya.
Berkenaan dengan konflik itu solidaritas kesorohan maupun kewangsaan dengan jengah bisa menghidupkan guna memperebutkan suatu sumber daya, misalnya sumber daya ekonomi, kekuasaan sosial dan lain-lainnya, sehingga konflik menjadi bertambah luas.

Beberapa permasalahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa aspek yakni: tresna bhuwana (cinta alam), salunglung sabayantaka paras-paros sarpanaya (filantrophy), jagadhita (pembebasan dunia-emansipasi).

Pada aspek ini Bali masih lemah, akan tetapi ada sebuah fenomena yang masih menjadi batu sandung bagi perkembangan dan kemajuan generasi muda Hindu, yakni adanya gugon tuwon yang sudah tidak bisa dirubah dan cenderung kaku “nak mule keto”.

Pada kondisi seperti itu, desa pakraman membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang handal dan mampu professional dalam menghormati alam semesta, berdana punia, emansipasi terhadap umat.

B. Generasi Muda Hindu dalam Gugon Tuwon: Peluang dan Tantangan
Gugon tuwon adalah dua kata yang dirangkai menjadi sebuah kata yang sulit dipahami maknanya, kadang ada yang memberikan arti berasal dari kata “gugu” dan “tuhu”, dalam bahasa Bali gugu=dapat dipercaya dan tuhu=tahu, pandai, bijaksana. Makna kata itu kira-kira “percaya pada kebenaran (yang tahu)”.

Maka dalam sebuah episode cerita panca tantra yakni berjudul “Gugon Tuwon” memperlihatkan seorang anak-anak yang percaya kepada kata-kata sang yogin meskipun itu sebenarnya “dibohongi”, karena kesombongannya “pura-pura tahu tentang kebenaran”, menganggap anak-anak tidak dapat berbuat dan menemukan pembebasan.

Sang yogin yang setiap hari selalu melakukan japa dan memuja nama suci Tuhan, setiap hari membersihkan diri untuk memuja Tuhan, berbeda dengan si Tuwon yang setiap harinya hanya mengembala sapi, selalu kotor karena harus memandikan sapinya akan tetapi dengan ketulusan hati, melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Pada suatu ketika I Tuwon mengikuti yang dilakukan oleh sang yogin tanpa banyak bertanya apa maksudnya?, mengapa demikian?, untuk apa demikian? “pokoknya dilakukan sajalah dengan keyakinan akan menemukan Tuhan”, dengan keyakinan yang dimilikinya I Tuwon melakukan meditasi hingga larut dalam alam Siwa, dan datanglah Ida Bathara dalam wujudnya yang sempurna.

Dengan penuh kegirangan I Tuwon membuka matanya dan bertanya kepada Ida Bathara, mau kiranya untuk diikat dengan tali sapi ini untuk kemudian menunjukkannya kepada sang yogin bahwa I Tuwon berhasil melihat Ida Bathara. Sang yogin yang tidak mencapai pembebasannya, tidak dapat melihat kebenaran itu ada disekitarnya.

Demikianlah cerita singkat Gugon Tuwon yang dapat kiranya melandasi apa maksud dari permasalahan Gugon Tuwon pada era sekarang ini. Berdasarkan hal itu, Gugon Tuwon bermakna sebagai berikut:

1. Sraddha (Teguh pada Keyakinan Agama)
Pemaknaan Gugon Tuwon dewasa ini cenderung terkait dengan beberapa aspek yakni, sraddha, tanggung jawab, tekun, pembebasan (jagadhita), ajeg Bali. Pada aspek sraddha jelas sekali bahwa, di era multikultur sekarang ini dituntut generasi muda yang tebal keyakinannya.

Dasarnya jika seseorang tidak memiliki keyakinan (mudah terombang-ambingkan) apalagi pada era globalisasi sekarang ini, akan mudah tergerus pindah agama. Bagaimana mungkin melakukan suatu aktivitas yang tanpa keyakinan, sebagai contoh, “melakukan mesaiban setiap hari, jika tidak atas dasar keyakinan akan adanya Tuhan di mana”.

Demikian juga dalam aktivitas keberagamaan “melakukan ngayah di banjar adat, jika tidak atas dasar keyakinan untuk membangun Hindu, kerja tanpa pamerih itu tidak akan berjalan sesuai dengan ajaran agama”, dengan demikian dasar keyakinan agama itu penting adanya, baik dalam aktivitas kerja (ekonomi-bisnis) maupun etos menuntut ilmu.

Sraddha dalam Hindu bukan disebutkan terdapat ada lima (panca sraddha) itu merupakan rumusan yang mutlak bagi Hindu, yakni Brahman, atman, karma phala, punarbhawa, dan moksa. Pertanyaannya saya dan semuanya adalah “mengapa percaya kepada yang tidak terlihat”.

पुस्तक Suci Sarasamuchaya sloka 111 menjawab “yadyapin sangcaya ketang wwang ri hananing paraloka, mwang phalaning cubhacubhakarma, tathapin mangkana, aryakena jug ikang acubhakarma, ling sang hyang agama”.

“Biarpun sangsi kiranya orang akan adanya dunia lain (akhirat), dan akan adanya hasil perbuatan baik maupun buruk, kendatipun demikian, hendaklah ditinggalkan saja perbuatan buruk itu demikian tersebut dalam ajaran agama” (Kadjeng, 2006:60).

Jadi jelaskan bahwa meskipun tidak yakin adanya hal yang bersifat abstrak, tapi berbuat baik dan benar itu mutlak, inilah inti dari keyakinan itu. Aplikasinya, setiap jiwa adalah Tuhan, sehingga sifat-sifat Tuhan harus dihargai pada diri manusia, sifat-sifat Tuhan tidak saja ada pada diri orang tua akan tetapi pada guru, teman diskusi, dan anak-anak sekalipun dapat dijadikan pelajaran.

Ini dapat diwujudkan dalam kisah Mahabarata, bagaimana Bambang Ekalawya karena kayakinannya akan kebenaran, menggunakan patung Drona (sang guru) untuk belajar sendiri tentang pengetahuan “memanah”, hingga dapat menyaingi Arjuna dan Karna. Jelas sekali Bambang Ekalawya penuh dengan keyakinan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan kebenaran tersebut.

2। Bertanggung Jawab
Gugon Tuwon tidak saja bermakna “yakin”, akan tetapi juga melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Generasi muda adalah harapan bangsa, harapan keluarga, harapan kekasih, dan harapan semua orang untuk membangun bangsa.

Pada pundak generasi mudalah negara, bangsa, kemajuan desa pakraman dititipkan di masa mendatang, jika generasi muda tidak menjaga stabilitas tanggung jawab, sebagian besar orang Bali akan punah dari peredaran, Bali tidak lagi menjadi Bali, atau istilah lainnya “Bali pulau seribu Masjid, seribu Gereja”.

Tanggung jawab dalam desa pakraman itu penting sekali, lihat saja bagaiamana masa tidak enak di Bali pada tahun 1960-an, ribuan masyarakat Hindu di Bali migrasi ke luar daerah Bali, alangkah menderitanya mereka pada waktu itu, harus meninggalkan sanak saudara-tanah kelahiran, dan leluhur.

Generasi di Bali sekarang termasuk masih lebih enak, dalam arti semasa kecilnya masih sering mendapatkan nasi beras, atau bahkan disuapi. Tapi bagaimana dengan mereka sewaktu kecilnya di daerah transmigrasi? Yang ada sarapan nasi jagung aruan (jagung lotok), tapi mereka melaksanakannya tanggung jawab melaksanakan ajaran agama dengan penuh tanggung jawab.

Berbagai tantangan dan hambatan dilalui, hingga kini akses telah terbuka lebar, hutan sepi banyak nyamuk, banyak binatang buas, sudah menjadi sahabat. Bisa kita lihat keberhasilan “nayaka kita di Bali” bapak Made Mangku Pastika, beliau dulu transmigrasi ke daerah Bengkulu (Sumatra sana).

Semasa kecilnya sangat menderita, memelihara sapi, menjual koran, mengajar sampai aktivitas yang hampir tidak dapat dipercaya dengan posisi beliau sekarang ini, tantangan bagai tantangan dihadapi beliau mulai dari ditugaskan di Nusa Tenggara, Irianjaya, dan tugas-tugas kenegaraan lain yang lumayan berat, hingga kembali menjadi putra daerah Bali sejati, Kapolda Bali dan sekarang Gubernur Bali (Sumber, Majalah Media Hindu).

Demikian juga dalam Mahabarata, Sang Bima sewaktu diberikan tugas mencari tirtha kamandalu di dasar laut, yang sekiranya “tirta itu” sama sekali tidak terbayangkan oleh Drona dan Korawa, menjadi benar-benar ada dan menjadi maksiat bagi Bima, inilah tanggung jawab dan keyakinan merubah yang imposible menjadi possible.

3. Tekun Menuntut Ilmu
Pada era modern seperti sekarang ini, ilmu pengetahuan dan agama adalah senjata yang paling hebat. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan rumus Tri Semaya, melihat sejarah di masa lalu (atita), menyesuaikan dengan masa kini (wartamana), dan memperhatikan aktuaisasi dimasa mendatang (nagata).

Misalkan saja, belajar dari kisah Mahabarata bahwa judi mabuk-mabukan itu tidak baik hingga mempertaruhkan istri sendiri, dan mempertaruhkan harga diri. Judi dan tajen dalam konteks kekinian adalah “menjual harga diri orang Bali dimata dunia”, hanya karena kesenangan semata.

Sesungguhnya desa adat merupakan matra bagi agama Hindu untuk mewujudkan dimensi pendidikan agama Hindu, lebih-lebih dengan terbitnya undang-undang tentang desa pakraman, akan lebih memperjelas lagi tanggung jawab desa pakraman yang didalamnya terdapat matra-matra pendidikan agama Hindu, seperti truna-truni, perkumpulan PERADAH desa, Sabha Yowana, dan lain sebagainya yang dapat memupuk berbagai hal positif bagi generasi muda Hindu।

Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya dapat diperoleh dari hasil studi pada perguruan tinggi, akan tetapi berbagai terobosan telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengisi ruang-ruang “generasi muda Hindu di banjar adat”. Seperti program lounching “e-banjar dari PT. TELKOM”. Sayangnya masih belum banyak begitu luas sosialisasinya, dan cenderung berlalu bagi sedikit orang.

Pengetahuan, pada dasarnya terdiri dari kerangka kognitif, apektif, dan psikomotor, dalam agama Hindu mengkristal menjadi ajaran tattwa, susila, dan upacara. Pada sudut sarana dan prasarana pendidikan mengkristal menjadi desa pakraman (sekarang ini) sebelumnya berbentuk pedukuhan.

Bahkan undang-undang sistem Pendidikan Nasional no 20 tahun 2003 telah mengijinkan pendidikan dimulai di rumah, di masyarakat, dan di sekolah pada jalur pendidikan informal (dalam keluarga), jalur pendidikan non formal (di desa adat) dan jalur pendidikan formal (di sekolah), dan kesemuanya secara umum dalam ajaran agama Hindu disebut dengan pasraman.

Berdasarkan hal itulah nantinya (berdoa saja) Parisada Bali memperjuangkan untuk membuat sekolah-sekolah Hindu dengan berbasis Banjar (desa pakraman), sarana dan prasarana banjar tidak akan pernah sepi dengan kegiatan generasi muda Hindu, dan ini murni menjadi tempat belajar agama Hindu nantinya.

Cobalah bertanya kepada Bill Gates seorang pengusaha sukses Microsoft Corporate yang mengatakan “secara histories, bila ingin memahami apa level pendapatan seseorang, semua dilakukan dengan bertanya dari negara mana ia datang. Di masa depan, ini tidak akan lagi benar, sekaliknya akan bertanya apa level pendidikan yang dicapainya” (Media Hindu Edisi 51 2008 hal. 20).

4. Pembebasan dapat Dilakukan oleh Generasi Muda
Moksa bagi generasi muda dapat menjadi konsep yang hampir tidak dapat dibayangkan dan sangat jauh, dije kaden to?, namun pembebasan itu telah dilukiskan dalam Sarasamuchaya 100 sebagai berikut:

“Samangke tan enak turunya, pratyekana, wwang alara, wwang atakut, wwang hana kegelengya, wwang umangenagen sakaryanya, wwang saraga kurang”.

“Yang lebih tidak enak tidurnya, ialah orang yang menderita sakit, orang yang ketakutan, orang yang dibenci, orang yang sedang memikir-mikirkan segala pekerjaannya, begitupun orang yang menderita cinta berahi” (Kadjeng, 2006:54).

Pembebasan yang dimaksudkan adalah bebas dari kemiskinan (baik fisik maupun mental), bebas dari penderitaan karena tidak pendapatkan pendidikan, dan bebas karena tidak mendapatkan layanan kesehatan (fisik maupun mental).

Ketiga akses ini memungkinkan untuk dimulai di desa pakraman, misalkan dengan membuat ceramah-ceramah, diskusi-diskusi di bale banjar tentang ketahanan hidup, dan berbagai keterampilan hidup dalam wujud pelatihan atau sejenisnya, ataupun mengadakan pengobatan gratis bagi masyarakat yang prasejahtera.

Pembebasan ini mungkin sekali dilakukan di desa adat, dan mengenai tudingan desa adat justru menghancurkan Hindu itu dapat ditolak dan ditangkal “tidak benar”, mereka yang mengatakan seperti itu karena belum pernah terjun di desa adat “mungkin”!.

C. Penutup
Simpulannya, prinsip Gugon Tuwon sesungguhnya adalah “prinsip untuk percaya terhadap yang patut dipercaya”, mempercayai kepada yang tuhu. Gugon Tuwon peluangnya besar sekali pada era sekarang ini, dapat dijadikan momen untuk mewujudkan kepercayaan/keyakinan dan keteguhan pada ajaran agama (Sraddha), memiliki rasa tanggung jawab baik personal maupun interpersonal, tekun menuntut ilmu pengetahuan karena pada era sekarang ini mustahil tanpa ilmu pengetahuan, serta melakukan perubahan untuk menuju pembebasan pada aspek kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun tantangannya juga cukup besar, yakni tidak seimbangnya antara tri kerangka dasar agama Hindu, cenderung pada respek terhadap susila dan upacara saja, aspek tattwanya sering diacuhkan.

Oleh sebab itu kedepannya disarankan agar para generasi muda Hindu mengejar ketinggalan, mengembangkan diri untuk tetap seimbang pada prilaku dan upacara serta mampu berdebat dan mendasarkan diri pada ajaran tattwa, sehingga makin kuatnya sraddha kepada ajaran agama Hindu.

Daftar Pustaka

Maswinara, I Wayan, 2001. Panca Tantra. Surabaya: Paramita.

http://www.wikiepedia.com/Bali

Majalah Media Hindu Edisi 51 Mei 2008. Jakarta: Media Hindu.

Undang-undang nomer 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Subramaniam, 2003। Mahabarata. Surabaya: Paramita.

* Materi disampaikan, dalam KKN Mahasiswa IHD Negeri Denpasar V tanggal 01 Maret 2009 di Desa Paguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: