UPACARA PITONAN DI KELURAHAN JUWANGI KECAMATAN JUWANGI KABUPATEN BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH (KAJIAN SOSIORELIGIUS HINDU)

Oleh: Endah Widihastuti, S.Pd.H

ABSTRAK

Masyarakat hanya melihat upacara Pitonan sebagai sebuah tradisi semata bukan sebagai ajaran Hindu. Pelaksanaan upacara tersebut juga masih belum diteliti oleh para ahli, sehingga amat penting untuk mengkaji proses pelaksanaannya, dengan harapan dapat memperjelas proses dan tahapan-tahapan pelaksanaan dari upacara yang unik tersebut sesuai dengan ajaran Hindu. Uniknya pelaksanaan dari upacara Pitonan di Kelurahan Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali Jawa Tengah yakni tetap dilaksanakan oleh umat yang tidak beragama Hindu, akan tetapi dengan tata cara yang berbeda, dengan menggunakan doa sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
Berdasarkan hal tersebut masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah proses pelaksanaan Upacara Pitonan; (2) Apakah fungsi upacara Pitonan dalam kehidupan sosioreligius; dan (3) Aspek pendidikan agama Hindu apakah yang terkandung dalam Upacara Pitonan pada kehidupan sosioreligius warga Kelurahan Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah?.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam masalah Upacara Pitonan pada masyarakat Hindu di Kelurahan Juwangi dan implikasinya terhadap aspek sosial, religius dan pendidikan keagamaan Hindu pada masyarakat pelaksana upacara tersebut. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memahami hal sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui pelaksanaan upacara Pitonan; (2) Untuk mengetahui fungsi upacara Pitonan dalam kehidupan sosioreligius; (3) Untuk mengetahui aspek pendidikan agama Hindu dalam upacara Pitonan pada kehidupan sosioreligius warga Kelurahan Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah.
Teori yang digunakan dalam mengkaji permasalahan adalah teori Sturktural, Fungsionalisme dan Teori Perkembangan; pendekatan penelitian yang dilakukan adalah kualitatif, lokasi penelitian di Kelurahan Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah; instrument penelitian adalah peneliti sendiri dengan menggunakan bantuan alat pengumpul data; jenis data adalah data kuantitatif dan kualitatif, yang bersumber dari hasil observasi lapangan, keterangan langsung dari subjek penelitian, data sekunder diperoleh dari sumber penjelas buku-buku; data dikumpulkan dengan observasi, dan wawancara; analisis data dilakukan dengan deskriptif, interpretative dan kualitatif; pengujian keabsahan data dilakukan dengan triangulasi.
Hasil penelitian ini adalah: Rangkaian upacara Pitonan di Kelurahan Juwangi Kecamatan Juwangi, terdiri dari; Sungkeman adalah simbol dari rasa hormat, siraman simbol dari pembersihan, sesuci adalah nunas tirtha pawitra agar diberikan keselamatan, pecah pamor dan sigaran sebagai simbol kelahiran anak, brojolan sebagai simbol agar anak yang lahir lancar dan selamat, nyampingan sebagai doa agar anak nantinya memiliki sifat yang berbudi luhur, luwaran simbol untuk memutuskan ikatan antara sang calon ibu dengan sang calon anak, kembulan simbol kebersamaan, rencakan sebagai rasa kebersamaan dengan se-dharma Hindu, dan rujakan-dhawetan sebagai simbol pelajaran untuk memiliki jiwa dagang wiraswasta. Upacara Pitonan pada kehamilan umur tujuh bulan, perhitungan pengambilan hari menggunakan perhitungan wariga Jawa. Upacara Pitonan dilaksabakan di halaman rumah yang di-pitoni.
Fungsi upacara Pitonan di Kelurahan Juwangi terdiri dari: fungsi sosial kesetiakawanan sosial sebagai perekat jalinan antara sesama umat Hindu dan fungsi tenggang rasa saling hormat-menghormati; fungsi religius sebagai media untuk menguatkan sraddha dan bhakti umat Hindu; dan wujud penghormatan terhadap atman yang ada dalam kandungan sang ibu.
Aspek pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam Upacara Pitonan pada kehidupan sosioreligius warga Kelurahan Juwangi adalah aspek tattwa sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, pembersihan badan dan pengaruh buruk, kepercayaan akan adanya karma phala dan punar bhawa dalam Hindu, tujuan mencapai mukti. Aspek susila, seperti rasa malu, menciptakan anak yang berbudi luhur, berani, dan mampu melindungi sesama umat manusia. Aspek pendidikan prenatal: membantu perkembangan fisik janin, dan membantu mendukung perkembangan mental janin dengan rangsangan-rangsangan positif seperti doa dalam upacara Pitonan tersebut.

Sumber: Skripsi IHD Negeri Denpasar tahun 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: