Model Pembelajaran Hindu

Kajian Model Pembelajaran Tri Semaya pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar
Oleh: IGN.Suardeyasa

Abstrak

Latar belakang penelitian ini, seiring kondisi Bali yang telah mengalami krisis pada berbagai segi, berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang dicatat oleh WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) terjadi defisit air yang terus meningkat mencapai 7,5 miliar m3/tahun dan diperkirakan tahun 2015 mencapai 27,6 miliar m3/tahun. Bali krisis listrik, dengan kapasitas 450 MW dan dipasok 200 MW (44,14 %) dari Jawa, pemakaian beban listrik titik puncak 332 MW atau masih tersisa sekitar 118 MW lagi, namun pertumbuhan pemakaian mencapai rata-rata cukup tinggi pertahunnya yaitu 14,5 % sehingga kedepannya akan habis terpakai. Demikian juga dengan eksploitasi lahan, hutan, laut yang terpetak-petak dan pengrusakan alam yang semakin meraja lela, mengkhawatirkan bagi Bali, juga tingkat polusi udara, perubahan iklim (climate change) di Bali semakin tinggi yang segera harus mendapatkan resolusi, terutama dalam bidang pendidikan agama Hindu yang dapat mengendalikannya melalui aspek ajaran-ajarannya khususnya Tri Sëmaya yang dijadikan misi SMA Negeri 8 Denpasar, namun perlu dikaji terlaksananya dan digunakannya ajaran ini dalam mendesain pembelajaran di SMA Negeri 8 Denpasar.

Sehingga masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar?; (2) bagaimanakah kendala yang dihadapi dalam melaksanakan model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar? dan; (3) Bagaimanakah upaya yang dilakukan dalam menanggulangi kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar?

Teori untuk mengkaji permasalahan adalah teori konstruktivis, pembelajaran untuk membangun konsep awal siswa, siswa belajar bermakna, bekerja sama, dan belajar aktif serta kreatif, teori konvergensi, teori orientasi nilai untuk mengkaji kendala dan upaya-upaya pembenahan kualitas out put SMA Negeri 8 Denpasar. SMA Negeri 8 Denpasar sebagai lokasi penelitian, jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Jenis data penelitian terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif, yang bersumber dari data primer berasal dari data observasi, wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari data studi kepustakaan dan dokumentasi. Peneliti sendiri sebagai subjek penelitian dengan membuat instrument, kajian model pembelajaran Tri Sëmaya, dan SMA Negeri 8 Denpasar sebagai objek dipilih berdasarkan kajian empirik, informan ditentukan secara snow balling sampling, data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan coding, editing, klasifikasi, cross cek data, telaah, reduksi dan menyimpulkan data.

Hasil penelitian ini adalah: model pembelajaran Tri Sëmaya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar, dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Pada tahapan perencanaan menyesuaikan kerangka Tri Sëmaya dengan materi pelajaran, menyesuaikan indicator keberhasilan, tujuan pembelajaran, sumber dan alat pelajaran, serta metode pembelajaran. Pada tahapan sintaks pembelajaran, guru memberikan informasi terkait dengan materi susila yang dibahas, siswa bekerja sama (cooperating) mencari konsep Tri Guna dan Dasa Mala dalam sumber-sumber susastra Hindu seperti Bhagawan Dhomya dan Bambang Ekalawya, menghubungkannya (relating) dengan kondisi kekinian (wartamana) berdasarkan pengalaman siswa sendiri (experiencing), mengaplikasikan (appliying) nilai-nilai Tri Guna dan Dasa Mala dalam ceritra tersebut, guru dapat menguatkan dan mentransfer pengetahuan tambahan untuk menuju masa depan (nagata) yang lebih baik. Tahapan evaluasi, soal-soal yang disediakan disesuaikan dengan materi untuk mengembangkan daya Tri Sëmaya siswa. Tahapan evaluasi, soal-soal yang disediakan disesuaikan dengan materi untuk mengembangkan daya Tri Sëmaya siswa.

Kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya di SMA Negeri 8 Denpasar (1) pada kendala internal jasmani siswa dan mental siswa seperti kurangnya motivasi, minat dan bakat siswa dalam belajar agama Hindu; dan (2) kendala eksternal adalah lingkungan dan alat belajar yang dialami oleh guru mata pelajaran pendidikan agama Hindu.Upaya dalam menanggulangi kendala pelaksanaan model pembelajaran Tri Sëmaya di SMA Negeri 8 Denpasar, (1) pada tingkat kelas (pembelajaran) guru melakukan peningkatan motivasi siswa secara kontinyu, melakukan remedi, melaksanakan bimbingan dan konseling serta melakukan pelaporan terhadap pihak orang tua; (2) pada tingkat institusi, memberikan bea siswa meningkatkan prestasi guru mata pelajaran, dan merealisasikan program kerja tahunan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa pada tataran kognitif seperti dharma wacana (pidato keagamaan), cerdas cermat, olimpiade Hindu, pada tingkat psikomotor kematangan keterampilan keagamaan, dengan melihat celah-celah kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup masa depan sesuai dengan ajaran Tri Sëmaya.

Sumber:

Kajian Model Pembelajaran pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri 8 Denpasar, Thesis Pasca Sarjana IHD Negeri Denpasar, 2009.

TAKE HOME Mata Kuliah : Studi Agama Hindu

Oleh: I Gst. Nyoman Suardeyasa, S.Ag
Dosen : Drs. I Wayan Miartha, M.Ag
(Sri Mpu Jaya Acaryananda)

1. Apa itu theology pembebasan serta aplikasinya dalam kehidupan social masyarakat Hindu di India maupun di Bali?

Theology pembebasan dapat dijelaskan sebagai sistem kepercayaan yang berusaha untuk membendung usaha-usaha pembodohan terhadap posisi Tuhan yang tidak dapat digambarkan, menyebutkan Tuhan untuk kepentingan duniawi yang hanya membuat kesengsaraan. Dengan pembebasan terkait dengan usaha penyelamatan manusia dari kemiskinan, kesengsaraan, kemelaratan yang tidak pernah tuntas.

Aplikasinya dalam Hindu baik di India maupun di Bali, telah dikenal dengan konsepsi moksa yang berarti bukan sorga bukan neraka, juga bukan ayatanasthana seperti yang disebutkan dalam Kakawin Adi Parwa V (PJ. Zoetmulder). Intinya setiap orang akan memiliki kedudukan sama dapat mencapai pembebasan dengan cara berbuat baik, dalam pandangan Hindu pembebasan dapat dicapai baik selama hidup maupun setelah meninggal dunia, dengan menjalankan Samadhi, ketenangan yang super dapat diperoleh, seperti juga kematian yang begitu membahagiakan tidak ada beban yang dirasakan, meninggal dunia dengan tersenyum dan kebahagiaan yang tiada tara karena bertemu dengan Tuhan.

Meskipun untuk mencapai pembebasan tersebut pribadi sifatnya, akan tetapi dapat direaktualisasi bahwa pembebasan dapat dicapai dalam dunia dengan pengentasan kemiskinan, pendidikan yang membebaskan manusia dari kesesatan pemikiran intelektual yang tidak berbudi. Pembebasan berlaku jagadhita, dan moksa, kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Pembebasan di dunia dicapai dengan penyeimbangan tiga bagian dari catur purusha artha sebagai teori tujuan hidup, yakni dilandasi dengan dharma, untuk menyeimbangkan pencapaian kama dan mencari kesejahteraan hidup (artha).

2. Spiritualitas adalah pola agama post modern ritualitas adalah pola agama tradisional bagaimana Hindu menyelaraskan kedua fenomena beragama ini?

Hindu menganut pola memberikan kebebasan kepada umat untuk membudayakan ajaran agama, sehingga ajaran tersebut dapat benar-benar mengakar pada umat, dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hindu menjamin adanya umatnya untuk menginterpretasi sesuai dengan kemampuannya asal saja tidak bertentangan dengan Sruti yang menjadi payung. Hindu juga membagi pola ritualistic untuk umat yang masih berkisar pada tataran bhakti dan karma marga, sedangkan pada jalan jnana dan raja yoga dapat dianggap sebagai dua pola yang lebih mengutamakan spiritual.

Sejak jaman dahulu sesungguhnya Hindu sudah mengalami dua pola keberagamaan tersebut, jadi tidak heran dengan adanya kedua pola keberagamaan tersebut. Keduanya juga dapat terintegrasi dan berjalan sama-sama sekaligus dengan selaras.

3. Sistem ritual yang diterapkan dalam Hindu senantiasa menganut faham rekontruksi reaktualisasi terhadap kosmos yang dianggap telah mengalami degradasi. Konsep/ajaran apa yang dipakai untuk menciptakan kembali dunia yang hilang tersebut, jelaskan!

Beberapa tokoh Hindu seperti Ngakan Putu Putra dalam bukunya “Tuhan Upanisad: Menyelamatkan Masa Depan Manusia” menyebutkan kembali ke patheisme, pantheisme dalam arti yang sesuai dengan ajaran yang tertera dalam teks-teks Upanisad yang mengacu pada Catur Weda Samhita.

Pentheisme secara konsep menganjurkan manusia untuk mewujudkan Tuhan berserta kekuatannya bersama-sama seru sekalian alam. Dewa-dewa berada dalam kekuatan alam tersebut, seperti misalkan pada Matahari yang menguasai adalah Dewa Surya. Di dalam air penguasanya sering diwujudkan dengan Dewa Wisnu atau Narayana, di dalam Udara sering diwujudkan dengan Dewa Bayu.

Keberadaan Tuhan dalam kekuatan Tuhan tersebut, menentukan prilaku manusia terhadap alam semsta beserta segala isinya. Konsep ketuhanan ini menurunkan konsep-konsep yang lainnya seperti tattwam asi, yang menganjurkan mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri, menyayangi semua alam dan segala isinya dengan ajaran ahimsa.

Berdasarkan konsepsi tersebut juga dalam tradisi masyarakat di Bali ada berbagai macam upacara tumpek yang hadirnya setiap enam bulan sekali, dalam upacara tersebut misalnya tumpek wariga dalam hubungannya dengan upacara wana kertih tentunya adalah usaha konservatif untuk melestarikan alam, dengan begitu akrab untuk memberikan penghormatan dengan “namaste” menganggap semua makhluk adalah atman-atman yang suci.

4. Teologi Hindu senantiasa mengalami pembaharuan dari zaman ke zaman sesuai dengan kebutuhan, dengan demikian Hindu terkesan agama yang tidak final, bagaimana pendapat saudara!

Hindu menyediakan bermacam-macam cara yang ditempuh oleh umat manusia untuk menyembah Tuhan, melakukan hubungan pribadi dengan Tuhan. Kebebasan inilah yang tetap dipelihara oleh Hindu, sehingga Hindu dapat dikatakan kumpulan dari berbagai macam cara menyembah Tuhan.

Mengenai theology Hindu terkesan belum final, itu sebenarnya karena ditinjau dari perspektif orang-orang Barat dan mazab-mazab teorinya, pemahaman tentang Tuhan oleh manusia Hindu sesuai dengan kemampuan atau tingkat spiritual manusia tersebut, sehingga terwujud dari yang sedehana menjadi yang lebih abstrak. Bentuk-bentuk ketuhanan dalam Hindu menurut Titib dapat dijelaskan dengan beberapa bentuk Ketuhanan antara lain:

a. Anemisme

Anemisme merupakan keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini dikuasai oleh roh yang berbeda-beda pula. Pandangan ini tetap ada dalam Hindu, menjadi dasar dari keyakinan adanya roh/atman dalam manusia, binatang dan tumbuhan serta benda mati sekalipun. Kepercayaan ini tidak dapat dipisahkan dari Hindu, perkembangan Hindu di nusantara ini berlangsung dengan damai karena anemisme masyarakat nusantara pada waktu itu tetap diterima dengan baik.

Keyakinan ini dalam Hindu akhirnya dipupuk dengan sebuah slogan yang terkenal “Tattwam asi”, bahwa engkau adalah dia. Yang dipandang memiliki kesamaan sifat kesucian adalah sang atman yang berada dalam badan wadag. Akan tetapi pandangan ketuhanan Hindu bukan anemisme, pandangan ini hanyalah sebagian keyakinan dari Hindu. Karena Hindu adalah gabungan dari berbagai tingkat filsafat.

b. Dinamisme

Dinamisme adalah keyakinan terhadap adanya kekuatan-kekuatan alam, kekuatan alam ini dapat berupa makhluk (personal) ataupun tanpa wujud. Tuhan juga disebut sebagai supernatural power (kekuatan alam yang tertinggi). Pandangan dinamisme masih sangat diperlukan dalam pemahaman ketuhanan dalam Hindu, Tuhan dalam Hindu dapat mengambil wujud apa saja sesuai dengan kehendak dan jamannya. Kekuatan Tuhan yang tidak terbatas dapat turun sebagai Awatara, berwujud manusia, setengah manusia (manusia berkepala singa), berwujud kurma (kura-kura) dan sebagainya. Tuhan dinyatakan memiliki kekuatan supranatural dapat mengadakan apa saja yang dikehendaki seperti mengatur alam semesta sehingga tidak kacau balau, termasuk juga menciptakan alam semesta beserta segala isinya.

c. Totemisme

Totemisme adalah keyakinan dengan adanya binatang keramat, yang sangat dihormati. Binatang tersebut diyakini memiliki kesaktian. Umumnya adalah binatang mitos, juga binatang tertentu di alam ini yang dianggap keramat. Pandangan Hindu terhadap manusia dan alam semesta sebagai sama-sama ciptaan Tuhan, bukan dihadiahkan untuk diekploitasi tanpa ada usaha untuk memelihara dan melestarikannya.

Pandangan ini terdapat dalam Hindu, hewan yang disucikan sebagai anugrah dari Tuhan adalah lembu yang dianggap sebagai pertiwi dapat memberikan penghidupan pada manusia. Hal ini dijumpai dalam Bhagawata Purana perjalanan hidup Sri Krsna sebagai penyayang lembu. Krsna sebagai penyayang lembu disebut Gopala.

Hewan yang lain yang digambarkan sebagai kendaraan dari para dewa sebagai manifestasi dari Tuhan, misalkan; dewa Brahma kendaraannya angsa, Siwa kendaraan-Nya lembu, wisnu kendaraan-Nya burung Garuda, dewi Durga kendaraan-Nya singa dan sebagainya, binatang tersebut dikeramatkan oleh umat Hindu seperti layaknya lembu.

d. Polytheisme

Polyteisme merupakan keyakinan dengan adanya banyak Tuhan. Wujud Tuhan berbeda-beda sesuai dengan keyakinan manusia. Pandangan yang masih melekat dalam Hindu dari umat lain, bahwa Tuhan dalam Hindu itu banyak. Sesungguhnya Hindu hanya mengenal Tuhan yang satu akan tetapi diwujudkan dengan banyak nama, agama apapun pasti mewujudkan Tuhan dengan banyak sebutan sesuai dengan kemahakuasaan-Nya. Misalkan, Tuhan maha penyayang, maha pencipta, maha pengasih, penyayang, pengampun, pemurah dan sebagainya. Penyebutan Tuhan dalam Hindu sesuai dengan manifestasi-Nya, misalkan Tuhan sebagai pencipta diberi sebutan Brahma, sebagai pemralina (penyeimbang) disebut Siwa dan seterusnya.

e. Natural Polytheisme

Ketuhanan dalam bentuk natural polytheisme percaya dengan adanya banyak Tuhan sebagai penguasa berbagai aspek alam, misalnya; Tuhan Matahari, angin, bulan dan sebagainya. Unsur dari pandangan ketuhanan polyteisme terdapat dalam Hindu, tetapi sesungguhnya Tuhan dalam Hindu tidak seperti yang disebutkan oleh bahasa manusia.

Dalam Hindu mengenal dewa surya, Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai penguasa matahari, Dewa Baruna manifestasi Tuhan dalam tugas-Nya sebagai penguasa laut. Sesungguhnya telah dijelaskan dalam kitab Upanisad bahwa Tuhan itu “neti, neti, neti” bukan ini, bukan ini dan juga bukan ini. Hanya manusialah yang menyebut dengan banyak nama.

f. Henoteisme /Katenoisme.

Bentuk ketuhanan/keyakinan ini diungkapkan oleh Max Muller yang diungkapkan Titib dalam bukunya Pengantar Weda untuk DII. Keyakinan ini menunjukkan adanya dewa tertinggi, mengatasi segalanya. Akan tetapi pada masa berikutnya dewa tersebut digantikan oleh dewa yang lain.

Teori ini dibuktikan dengan ketuhanan dalam kitab-kitab Purana. dalam Siwa Purana, Siwa menjadi Dewa tertinggi, Brahma dan Wisnu muncul dari tubuh Siwa. Begitupun dalam Wisnu Purana menyebutkan bahwa segala yang ada ini adalah berasal dari Wisnu (Narayana), hal ini dijelaskan dalam proses penciptaan alam semesta dalam Padma Purana.

g. Pantheisme

Pandangan Pantheisme bahwa Tuhan disebutkan (immanent) di alam semesta, segala-galanya dikuasai oleh Tuhan. Pandangan Pantheisme ternyata masih dijumpai dalam beberapa kitab lokal Hindu di nusantara, diantaranya adalah kitab Panaturan. Dalam kitab ini menjelaskan secara lengkap proses penciptaan alam semesta beserta segala isinya atas anugrah dari Ranying Hatalla Langit. Ketiga raja yang dianugrahi gajah bakapak bulau, disabdakan oleh Ranying Hatalla bahwa salah satu raja diantaranya akan mengisi bumi ini dan Ranying Hatalla memberikan sabda untuk tetap melaksanakan upacara memisek dan upacara tiwah.

Mengapa ketuhanan dalam Panaturan dinyatakan Pantheisme, karena semua anugrah yang diberikan kepada manusia dan alam semesta selalu atas berkah Tuhan Ranying Hatala Langit tiada dua-Nya, dan segala-galanya adalah Tuhan Ranying Hatalla Langit. Pandangan ketuhanan pantheisme Hindu di Kalimantan Tengah telah ditulis dalam ulasan singkat dalam majalah Media Hindu edisi Juni 2006. Dan sekali lagi perlu diperjelas inilah Hindu yang menerima berbagai pandangan keyakinan, tetap menjadi literatur Hindu yang utama.

h. Monoteisme

Pandangan keyakinan monotheisme bahwa Tuhan itu hanya satu. Bentuk dari keyakinan ini dibagi atas dua bagian yakni:

1) Monotheisme Transcendent.

Keyakinan yang memandang Tuhan berada di luar jangkauan ciptaan-Nya. Tuhan maha luhur dan tidak terjangkau oleh akal manusia. Tuhan dalam Hindu tidak dapat dibayangkan keberadaan-Nya, karena tidak dapat melihat Tuhan maka pdiperlukan kepercayaan terhadap apa yang dituturkan oleh orang-orang suci yang dapat dipercaya tentang Tuhan. Tuhan terpisah dari ciptaan-Nya misalkan disebutkan Tuhan berada di langit, Tuhan berada di kahyangan, Tuhan berada di air suci kehidupan (aying kaharingan) dan sebutan tempat yang suci lainnya.

2) Monotheisme Immanent

Keyakinan ini memandang Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya, Tuhan berada di luar dan sekaligus berada di dalam ciptaan-Nya. Pandangan ketuhanan monotheisme immanent terdapat dalam kitab-kitab Upanisad, seperti diungkapkan; “Wyapi wyapaka nirwikara “, Tuhan ada dimana-mana dan tidak terpengaruh oleh ciptaan-Nya. Mantra dalam kitab Upanisad ini menyatakan bahwa Tuhan dapat berada di luar tubuh manusia dan berada di dalam tubuh manusia, di luar tubuh manusia sebagai Tuhan yang transcendent dan berada dalam tubuh manusia disebut dengan atman.

i. Monisme

Keyakinan Monisme memandang Tuhan merupakan hakekat alam semesta, Esa dalam segala segalanya berada dalam yang Esa. Hal inilah yang disebutkan dalam kitab Upanisad sebagai “Sarwan Kalwidam Brahman”, segala-segalanya adalah Tuhan.

Disimpulkan bahwa pandangan ketuhanan dalam Hindu memiliki tingkatan, dari tingkatan terendah hingga tingkatan tertinggi, kesemuanya itu adalah sebuah proses untuk memahami Tuhan yang satu. Menurut Titib pandangan ketuhanan dalam Hindu adalah Monotheisme dan monisme, akan tetapi seperti telah dijelaskan bahwa pandangan tersebut tetap melekat dalam masyarakat Hindu.

5. Dalam aspek psikologi ada yang dikenal dengan religius literacy apa dan bagaimana religius literacy ciri-cirinya dan aplikasinya dalam kehidupan?

Salah satu tantangan terpeting dalam kehidupan pluralisme agama untuk saling mengenal satu dengan yang lainya adalah mengembangkan religious literacy. Yang dimaksud dengan religious literacy adalah sikap terbuka dan mengenal nilai-nilai agama lain. Sikap melek agama lain (Purnomo, 2003:11).

Religius letaracy diparalelkan dengan jagat pendidikan, pada gilirannya nanti diharapkan dapat membuat setiap umat beragama semakin sadar akan identitas keagamaan dan keimanan dalam semangat keterbukaan, penghargaan, dan penghormatan agama serta iman orang lain (Purnomo, 2003:12).

Religius letaracy akan membuka dialog, kerja sama, simbiosis mutualis sekaligus menghimpun sinergi untuk memperjuangkan kesejahteraan, keadilan dan kedamaian. Raimundo Pannikar religious beragama ditentukan oleh kemampuan untuk mengembangkan sikap melek agama lain (Purnomo, 2003: 14).

Pertama berkait dengan proses membumikan agama yakni problem kemiskinan, kebodohan dan penindasan. Kedua problem fundamentalis radikalisme yang menurutnya pemahaman atas teks, doktrin atau konsili yang rigidformalism. Ketiga manipulasi agama yang merambat ke wilayah politik, sehingga agama dijual demi kepentingan politik partai-partai yang berbasis agama. Kritik-profetik-kreatif agama terhadap masyarakat, kesadaran, pengertian, kepekaan, pengetahuan tentang keadaan masyarakat yang sebenarnya (Purnomo, 2003:16,19).

DAFTAR PUSTAKA
Majalah Media Hindu edisi Juni 2006.
Purnomo, Aloys Budi, 2003. Membangun Teologi Inklusif-Pluralistik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Putra, Ngakan Putu, 2007. Tuhan Upanisad: Menyelamatkan Masa Depan Manusia. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suardeyasa, I Gusti Nyoman, 2006. Diktat Kuliah Agama Hindu. Universitas Mahendradatta Denpasar.
Titib, I Made, 1997. Pengantar Weda untuk D III. Jakarta: Hanuman Sakti
Zoetmulder, PJ., 2005. Adi Parwa Berbahasa Kawi. Surabaya: Paramita.

Swami Bhaskarananda: Teori Mengenai Asal dari Bangsa Indo-Arya

Terjemahan: I Gst.Nyoman Suardeyasa

Sangat sulit untuk mencapai keputusan yang pasti tentang rumah yang asli Indo-Aryans. Ada kontroversi pantas dipertimbangkan antar sarjana tentang dari mana mereka datang.
Karena banyak dekade ahli arkeologi, ahli antropologi, ahli bahasa-bahasa dan sejarawan sudah dengan bebas atau secara bergabung berusaha untuk menemukan rumah asli dari bangsa Indo-Arya. Melalui risetnya mereka sudah mengembangkan berbagai teori tetapi belum mampu mencapai suatu kesimpulan umum.

Umumnya dipercaya bahwa nenek moyang dari bangsa Indo-Arya bukanlah berasal dari India, tetapi berpindah tempat dari beberapa daerah lain. Menurut beberapa sarjana, seperti Gafurov, mereka datang dari Asia Pusat. Menurut Tilak, nenek moyang bangsa Indo-Arya datang dari Arctic.

Memikirkan secara mendalam nenek moyang dari Indo-Aryans paling mungkin datang dari daerah di mana Lithuanians bertempat tinggal (hidup)”untuk sedikitnya lima ribu tahun”.
Bongard-Levin berpendapat sama bahwa rumah nenek moyang dari Aryans berasal dari daerah bagian tenggara Eropa antara Dnieper dan pegunungan Ural. Beberapa orang mengatakan migrasi itu menyangkut Indo-Aryans ke India mungkin dimulai sekitar 1700 B.C. dan berlanjut hingga 1200 B.C.

Bagaimanapun, Swaamii Vivekaananda, salah satu dari eksponen Hinduism yang terbesar, percaya bahwa Indo-Aryans adalah berasal dari India, dan tidak pernah datang dari mana-mana lagi.

Bangsa Arya dan Gotra Mereka
Waktu jaman kuno Aryans adalah orang-orang yang gemar pengembara. Mereka belum membentuk suatu masyarakat urban. Mata pencariannya bergantung dan kekayaan mereka sebagian besar pada penghasilan lembu. Mereka secara tetap menggembalakan lembu mereka dari landasan satu ke yang lain.

Pada musim tertentu lembu perlu perlindungan dari gangguan cuaca yang tidak menentu. Selama suatu musim dingin atau musim hujan lembu bertahan mencari tempat perlindungan.
Suatu tempat perlindungan untuk lembu disebut suatu gotra di dalam Bahasa Sansekerta. Tempat perlindungan ini relatif kecil dalam jumlah, banyak Indo-Aryan keluarga-keluarga boleh meletakkan lembu mereka pada tempat perlindungan yang sama atau gotra.

Sebagai hasilnya, lembu pada salah satu keluarga tertukar (berselisih) dengan keluarga-keluarga yang lain dan dijadikan milik di atas kepemilikan mereka. Untuk memecahkan perselisihan seperti itu, para supervisors menetapkan untuk bertindak sebagai hakim dan memberi keadilan pada putusan yang sudah diambil.

Rsi इनी diberkati dengan moral agung dan kebaikan rohani. Mereka ditetapkan sebagai supervisors oleh karena karakter diagungkan mereka dan disebut gotra-pati, maksudnya Tuhan atau Penguasa Gotra itu. Sebagian dari mereka dikenali kemudiannya secara spiritual telah diterangi jiwanya.

Diantaranya Gotrapati yang sangat dimuliakan adalah Shandilya, Bharadvaja, Kashyapa dan yang lainnya, mereka dianggap sebagai para Rishi atau para orang bijaksana.
Suatu ketika salah satu dari kaum Aryan atau keluarga jumpa seseorang kepunyaan kaum bangsa Arya atau keluarga yang lain, ia memperkenalkan diri mereka sendiri dengan menggunakan nama Gotrapati-nya misalnya Shandilya atau Bharadvaja.

Keturunan bangsa Arya ini, sekarang disebut Hindus, membawa tradisi yang sama dan menggunakan Gotrapatis sebagai nama untuk mengidentifikasi diri mereka. Masing-masing adalah Hindu, oleh karena itu, diharapkan untuk ingat nama Gotra dari nenek moyangnya.
Untuk menghindari perkawinan tertutup, perkawinan antara anggota Gotra yang sama terlarang. Tetapi, sejak banyak berabad-abad sudah banyak ditinggalkan, kebiasaan itu tidaklah diikuti dengan strik (keras).

Sejarah Hinduism
Hinduism adalah satu agama utama di dunia. Ada hampir 720 juta umat Hindu hari ini. Sebagian besar berada di India, tetapi populasi cukup besar juga tinggal di Negeri Nepal, Mauritius, Fiji, Afrika Selatan, Sri Lanka, Guyana, Indonesia (Bali) dan beberapa yang lain negara-negara.
Hinduism oleh kebanyakan diperkirakan, berusia beberapa ribu tahun dan merupakan pegangan sumber yang paling jaman kuno dari kehidupan agama dunia1.

Mencari umur yang tepat, bagaimanapun, sukar untuk menentukan – walaupun dikenal lebih tua dari Aliran Jain, Buddhism, Kekristenan, dan Islam. Beberapa sarjana percaya bahwa Zoroastrianism, juga salah satu agama yang paling tua di dunia, sumber utama dari kitab Injil yang mana diperkirakan Hinduism telah datang2.

Nenek Moyang dari Hindu dan Agama Mereka
Nenek moyang dari Hindus dikenal sebagai Aaryas. Kemiriban Bahasa Inggris dari bahasa Sansekerta kata Aarya adalah Aryan, atau Indo-Aryan. Aaryas menyebut agama mereka Aarya Dharma-the agama bangsa Aarya. Kata Hinduism dengan sepenuhnya tidak dikenal mereka. Kata Dharma, dalam konteks ini, arti agama atau tugas-tugas religius3. Bahasa Sansekerta, kepunyaan keluarga bahasa Indo-European, menjadi bahasa dari bangsa Indo-Arya.

Bangsa Arya juga menyebut agama mereka Maanava Dharma, atau Agama Manusia, artinya bahwa itu bukanlah suatu agama yang eksklusif menyangkut bangsa Arya, tetapi dimaksud untuk keseluruhan umat manusia. Nama Yang lain adalah Sanaatana Dharma- Agama Abadi, menggambarkan kepercayaan mereka agama yang didasarkan pada beberapa kebenaran abadi.

Nama Hinduism kemudian banyak disebut-sebut। Salah satu negeri tetangga, Persia, mempunyai suatu perbatasan umum dengan India jaman kuno, yang mana pada waktu itu dikenal sebagai Aaryaavarta- daratan bangsa Arya. Perbatasan Umum antara Persia dan India jaman kuno menjadi sungai Indus, menarik kembali Bahasa Sansekerta, Sindhu.

Bangsa Persia tidak bisa melafalkan Hindhu dengan tepat; mereka melafalkannya Hindu. Mereka juga disebut bangsa Arya, hidup di sebelah lain sungai Sindhu, Hindus; begitu agama bangsa Arya dikenal sebagai Hinduism.

Kebenaran Supersensuous – Basis Hinduism
• Dari mana alam semesta datang, dan bagaimana?
• Jika ada Pencipta, apa yang Ia Suka? Bagaimana hubungan yang diciptakan dan Pencipta?
• Apa yang terjadi kepada kita ketika kita mati?
• Pakah kita ada setelah kita mati?
• Apakah kita ada sebelum kelahiran kita?

Pertanyaan seperti itu sudah menantang pikiran manusia sejak awal peradaban. Bahkan mereka yang mempunyai pikiran yang paling cerdas belum menemukan jawaban yang definitive terhadap pertanyaan ini.

Apapun juga jawab mereka sudah menemukan yang didasarkan pada semata-mata spekulasi. Tetapi beberapa orang suci yang diterangi, dengan bantuan pikiran khusus mereka yang dibersihkan, menemukan jawabannya dan sudah membuat mereka mengenal kita. Jawaban ini secepatnya direkam di dalam buku yang dikenal sebagai kitab suci4.

Kitab suci, menurut Hinduism, adalah unik di dalam kemampuan mereka untuk mengungkapkan kebenaran tidak bisa diketahui oleh rata-rata pikiran tidak murni. Perbedaan antara suatu “tidak murni” dan “murni” pikiran dapat diterangkan oleh analogi berikut.
Es, air dan uap air-semua memiliki unsur bahan kimia yang sama. Sekalipun begitu mereka sangat berbeda di dalam keagungan kekayaan mereka. Secara relatif dikatakan, es mempunyai paling sedikit kebebasan di antara ke tiga; dengan susah pindah gerakkan.

Air mempunyai lebih kebebasan; dengan mudah mengalir dan menyebar. Uap air mempunyai jumlah maksimum kebebasan. Tidak hanya dapat seperti itu secara bebas yang menyebar ke tiap-tiap arah, tetapi menjadi tak kelihatan, itu juga yang paling sulit dipisahkan dari yang ke tiga. Itu dapat menjangkau dimana bukan es bukan juga jangkauan air.

Begitu juga pikiran manusia. Suatu pikiran tidak murni, tak peduli bagaimana kecerdasan, mempunyai banyak pembatasan. Itu tidak bisa mengetahui apapun di luar daerah persepsi perasaan (pengertian) atau apa yang di luar kepalsuan dunia waktu dan ruang.

Itu tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi momen yang berikutnya atau apa yang terjadi di waktu yang lalu. Kebenaran metafisis, seperti pengetahuan keberadaan Tuhan atau alam baka, adalah di luar lingkup pikiran seperti itu.

Tetapi ketika pikiran yang sama itu dibersihkan atau diubah melalui disiplin rohani ke dalam suatu pikiran luar biasa, itu dapat melampui penghalang perasaan dunia dan menjangkau perbatasan paling jauh dari dunia waktu dan ruang itu.

Itu kemudian bisa memandang kepalsuan di luar daerah dari perasaan. Memperoleh kemampuan luar biasa. Semua menjadi diketahui; dapat mengetahui semua peristiwa dari yang lampau, kini dan masa depan.

Orang suci asli yang mengalami pikiran murni seperti itu. Dengan bantuan pikiran orang suci itu dapat mengenali kebenaran tentang Tuhan, jiwa, ciptaan, dan lain lain kebenaran seperti itu disebut supersensuous5 atau kebenaran metafisis. Hinduism, seperti agama utama lain dari dunia, didasarkan pada kebenaran seperti itu yang ditemukan oleh pikiran murninya para orang bijaksana.

Pendiri
Hinduism mempunyai pembedaan yang unik tidak mempunyai pendiri. Orang boleh ingin tahu bagaimana bisa suatu agama tanpa pendiri. Yang abadi dan kebenaran sepersensous menemukan teluk orang India jaman kuno oleh para orang bijaksana menjadi pondasi bagi Hinduism.

Para orang bijaksana ini lebih menyukai untuk tinggal tanpa nama sebab yang disadari bahwa Kebenaran ini harus selalu hidup, sama halnya hukum gravitasi telah hidup ketika mereka ditemukan oleh Newton.

Para orang bijaksana juga merealisasikan kebenaran yang abadi ini telah datang dari Tuhan, sumber yang sama dari datangnya segala yang ada. Kebenaran diungkapkan oleh Tuhan, para orang bijaksana menyebutnya apaurusheya-.bukan buatan tangan manusia.

Setelah tidak memiliki pendiri yang dikenal memberi Hinduism adalah suatu keuntungan tertentu di atas agama lain. Suatu agama yang dimengerti pendiri secara spesifik, itu akan sulit untuk mengikuti evolusi Hinduism yang telah mengalaminya banyak kali pada ribuan tahun lalu.

Berbagai orang suci dan Penjelmaan Tuhan pada jaman yang berbeda sudah nampak, memainkan peran individu mereka, dan Hinduism memperkaya dengan pengajaran mereka.
Dengan menginterpretasikan kembali teks kitab suci lebih awal mereka membuat agama relevan dengan perubahan waktu dan masyarakat. Mereka juga sudah memberi kebenaran kepada skrip melalui pengalaman rohani mereka sendiri.

Manapun agama jaman kuno dapat dibandingkan atap dari suatu rumah tua. Kecuali jika atap secara teratur dibersihkan, mengumpulkan sarang laba-laba dan debu secepatnya menjadi tak dapat dipakai.

Dengan cara yang sama, jika suatu agama tidak bisa dibaharui atau dibersihkan dari dari waktu ke waktu, akan tidak berguna lagi dan tidak bisa menghubungkan lagi untuk mengubah jaman dan masyarakat.

Tetapi ini tidak terjadi dalam Hinduism. Keberuntungan, pada periode berbeda, banyak orang suci asli dilahirkan di India sudah membersihkan, memperbaiki dan merevitalisasi Hinduism dan membuatnya relevan kepada jaman mereka. Ini mungkin yang mengakibatkan Hinduism tidak mempunyai suatu pendiri.

Disadur dari “The Essentials of Hinduism: A Comprehensive Overview of the World,s Oldest Religion. Penulis, Alumnus IHDN Denpasar dan Studi S2 di Kampus yang Sama.

SUMBER: Majalah Media Hindu Edisi 79, September 2010. Halaman 44-45.

GENERASI MUDA HINDU DALAM GUGON TUWON: Peluang dan Tantangan ke Depan*

Oleh: I Gst. Nyoman Suardeyasa_

“Secara histories, bila ingin memahami apa level pendapatan seseorang, semua dilakukan dengan bertanya dari negara mana ia datang. Di masa depan, ini tidak akan lagi benar, sekaliknya akan bertanya apa level pendidikan yang dicapainya” (Bill Gates Microsoft Corporate, Media Hindu Edisi 51 2008 hal. 20).

Jika bertanya, jika orang yang perpendidikan tentu mampu berbuat baik.
“yadyapin sangcaya ketang wwang ri hananing paraloka, mwang phalaning cubhacubhakarma, tathapin mangkana, aryakena jug ikang acubhakarma, ling sang hyang agama” (Sarasamuchaya sloka 111).

“Biarpun sangsi kiranya orang akan adanya dunia lain (akhirat), dan akan adanya hasil perbuatan baik maupun buruk, kendatipun demikian, hendaklah ditinggalkan saja perbuatan buruk itu demikian tersebut dalam ajaran agama”
(Kadjeng, 2006:60).

A. Pendahuluan
Kehidupan negara maupun masyarakat Indonesia adalah berifat pluralistic atau majemuk, karena terdiri dari banyak suku bangsa, dimana setiap suku bangsa memiliki identitas budaya sendiri-sendiri. Bahkan mereka memakai agama sebagai identitas etnik, sebagaimana terlihat pada etnik Bali, Aceh dan lain-lainnya.

Menunjukkan jumlah suku bangsa di Indonesia mencapai sekitar 656 suku bangsa. Mereka tersebar pada berbagai wilayah Indonesia, dan kecenderungan setiap suku bangsa terkonsentrasi pada lokalitas tertentu, seperti etnik Bali di pulau Bali, etnik Jawa di pulau Jawa, etnik Sasak di pulau Lombok, dan lain-lainnya.

Namun kemajuan prasarana dan sarana transportasi, ditambah lagi dengan adanya daya tarik dari daerah tujuan, dan daya tolak dari daerah asal, berserta proses migrasi berantai, maka migrasi etnik dari kampung halamanya ke daerah lainnya, menjadi sesuatu yang sulit dibendung.
Karena itulah, Bali misalnya semula merupakan tanah hunian atau lokalitas etnik Bali, tidak lagi hanya dihuni oleh etnik Bali, melainkan juga menampung pula etnik lainnya, seperti Jawa, Madura, Batak, Minangkabau, Bugis, Sasak dan lain-lainnya.

Mereka datang ke Bali tidak saja membawa budaya etnik, tetapi juga agama, seperti Islam, Kristen, Katolik, dan lain-lainnya. Mereka bermukim di kota bahkan banyak pula yang merembes ke desa (wikiepedia.com).

Gejala ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan bahwa Bali semakin lama tampak semakin multietnik dan multiagama. Orang Bali secara etnisitas memang merupakan satu kesatuan, namun kalau deicermati, mereka berdiferensiasi.

Misalnya atas dasar wangsa, soroh dan lain-lainnya. Masing-masing soroh mendirikan perkumpulan soroh, dimana hal ini telah muncul sejak tahun 1930-an yang dipelopori oleh keluarga besar Bhujangga Waisnawa, kemudian disusul oleh warga-warga lainnya.
Berkenaan dengan konflik itu solidaritas kesorohan maupun kewangsaan dengan jengah bisa menghidupkan guna memperebutkan suatu sumber daya, misalnya sumber daya ekonomi, kekuasaan sosial dan lain-lainnya, sehingga konflik menjadi bertambah luas.

Beberapa permasalahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa aspek yakni: tresna bhuwana (cinta alam), salunglung sabayantaka paras-paros sarpanaya (filantrophy), jagadhita (pembebasan dunia-emansipasi).

Pada aspek ini Bali masih lemah, akan tetapi ada sebuah fenomena yang masih menjadi batu sandung bagi perkembangan dan kemajuan generasi muda Hindu, yakni adanya gugon tuwon yang sudah tidak bisa dirubah dan cenderung kaku “nak mule keto”.

Pada kondisi seperti itu, desa pakraman membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang handal dan mampu professional dalam menghormati alam semesta, berdana punia, emansipasi terhadap umat.

B. Generasi Muda Hindu dalam Gugon Tuwon: Peluang dan Tantangan
Gugon tuwon adalah dua kata yang dirangkai menjadi sebuah kata yang sulit dipahami maknanya, kadang ada yang memberikan arti berasal dari kata “gugu” dan “tuhu”, dalam bahasa Bali gugu=dapat dipercaya dan tuhu=tahu, pandai, bijaksana. Makna kata itu kira-kira “percaya pada kebenaran (yang tahu)”.

Maka dalam sebuah episode cerita panca tantra yakni berjudul “Gugon Tuwon” memperlihatkan seorang anak-anak yang percaya kepada kata-kata sang yogin meskipun itu sebenarnya “dibohongi”, karena kesombongannya “pura-pura tahu tentang kebenaran”, menganggap anak-anak tidak dapat berbuat dan menemukan pembebasan.

Sang yogin yang setiap hari selalu melakukan japa dan memuja nama suci Tuhan, setiap hari membersihkan diri untuk memuja Tuhan, berbeda dengan si Tuwon yang setiap harinya hanya mengembala sapi, selalu kotor karena harus memandikan sapinya akan tetapi dengan ketulusan hati, melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Pada suatu ketika I Tuwon mengikuti yang dilakukan oleh sang yogin tanpa banyak bertanya apa maksudnya?, mengapa demikian?, untuk apa demikian? “pokoknya dilakukan sajalah dengan keyakinan akan menemukan Tuhan”, dengan keyakinan yang dimilikinya I Tuwon melakukan meditasi hingga larut dalam alam Siwa, dan datanglah Ida Bathara dalam wujudnya yang sempurna.

Dengan penuh kegirangan I Tuwon membuka matanya dan bertanya kepada Ida Bathara, mau kiranya untuk diikat dengan tali sapi ini untuk kemudian menunjukkannya kepada sang yogin bahwa I Tuwon berhasil melihat Ida Bathara. Sang yogin yang tidak mencapai pembebasannya, tidak dapat melihat kebenaran itu ada disekitarnya.

Demikianlah cerita singkat Gugon Tuwon yang dapat kiranya melandasi apa maksud dari permasalahan Gugon Tuwon pada era sekarang ini. Berdasarkan hal itu, Gugon Tuwon bermakna sebagai berikut:

1. Sraddha (Teguh pada Keyakinan Agama)
Pemaknaan Gugon Tuwon dewasa ini cenderung terkait dengan beberapa aspek yakni, sraddha, tanggung jawab, tekun, pembebasan (jagadhita), ajeg Bali. Pada aspek sraddha jelas sekali bahwa, di era multikultur sekarang ini dituntut generasi muda yang tebal keyakinannya.

Dasarnya jika seseorang tidak memiliki keyakinan (mudah terombang-ambingkan) apalagi pada era globalisasi sekarang ini, akan mudah tergerus pindah agama. Bagaimana mungkin melakukan suatu aktivitas yang tanpa keyakinan, sebagai contoh, “melakukan mesaiban setiap hari, jika tidak atas dasar keyakinan akan adanya Tuhan di mana”.

Demikian juga dalam aktivitas keberagamaan “melakukan ngayah di banjar adat, jika tidak atas dasar keyakinan untuk membangun Hindu, kerja tanpa pamerih itu tidak akan berjalan sesuai dengan ajaran agama”, dengan demikian dasar keyakinan agama itu penting adanya, baik dalam aktivitas kerja (ekonomi-bisnis) maupun etos menuntut ilmu.

Sraddha dalam Hindu bukan disebutkan terdapat ada lima (panca sraddha) itu merupakan rumusan yang mutlak bagi Hindu, yakni Brahman, atman, karma phala, punarbhawa, dan moksa. Pertanyaannya saya dan semuanya adalah “mengapa percaya kepada yang tidak terlihat”.

पुस्तक Suci Sarasamuchaya sloka 111 menjawab “yadyapin sangcaya ketang wwang ri hananing paraloka, mwang phalaning cubhacubhakarma, tathapin mangkana, aryakena jug ikang acubhakarma, ling sang hyang agama”.

“Biarpun sangsi kiranya orang akan adanya dunia lain (akhirat), dan akan adanya hasil perbuatan baik maupun buruk, kendatipun demikian, hendaklah ditinggalkan saja perbuatan buruk itu demikian tersebut dalam ajaran agama” (Kadjeng, 2006:60).

Jadi jelaskan bahwa meskipun tidak yakin adanya hal yang bersifat abstrak, tapi berbuat baik dan benar itu mutlak, inilah inti dari keyakinan itu. Aplikasinya, setiap jiwa adalah Tuhan, sehingga sifat-sifat Tuhan harus dihargai pada diri manusia, sifat-sifat Tuhan tidak saja ada pada diri orang tua akan tetapi pada guru, teman diskusi, dan anak-anak sekalipun dapat dijadikan pelajaran.

Ini dapat diwujudkan dalam kisah Mahabarata, bagaimana Bambang Ekalawya karena kayakinannya akan kebenaran, menggunakan patung Drona (sang guru) untuk belajar sendiri tentang pengetahuan “memanah”, hingga dapat menyaingi Arjuna dan Karna. Jelas sekali Bambang Ekalawya penuh dengan keyakinan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan kebenaran tersebut.

2। Bertanggung Jawab
Gugon Tuwon tidak saja bermakna “yakin”, akan tetapi juga melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Generasi muda adalah harapan bangsa, harapan keluarga, harapan kekasih, dan harapan semua orang untuk membangun bangsa.

Pada pundak generasi mudalah negara, bangsa, kemajuan desa pakraman dititipkan di masa mendatang, jika generasi muda tidak menjaga stabilitas tanggung jawab, sebagian besar orang Bali akan punah dari peredaran, Bali tidak lagi menjadi Bali, atau istilah lainnya “Bali pulau seribu Masjid, seribu Gereja”.

Tanggung jawab dalam desa pakraman itu penting sekali, lihat saja bagaiamana masa tidak enak di Bali pada tahun 1960-an, ribuan masyarakat Hindu di Bali migrasi ke luar daerah Bali, alangkah menderitanya mereka pada waktu itu, harus meninggalkan sanak saudara-tanah kelahiran, dan leluhur.

Generasi di Bali sekarang termasuk masih lebih enak, dalam arti semasa kecilnya masih sering mendapatkan nasi beras, atau bahkan disuapi. Tapi bagaimana dengan mereka sewaktu kecilnya di daerah transmigrasi? Yang ada sarapan nasi jagung aruan (jagung lotok), tapi mereka melaksanakannya tanggung jawab melaksanakan ajaran agama dengan penuh tanggung jawab.

Berbagai tantangan dan hambatan dilalui, hingga kini akses telah terbuka lebar, hutan sepi banyak nyamuk, banyak binatang buas, sudah menjadi sahabat. Bisa kita lihat keberhasilan “nayaka kita di Bali” bapak Made Mangku Pastika, beliau dulu transmigrasi ke daerah Bengkulu (Sumatra sana).

Semasa kecilnya sangat menderita, memelihara sapi, menjual koran, mengajar sampai aktivitas yang hampir tidak dapat dipercaya dengan posisi beliau sekarang ini, tantangan bagai tantangan dihadapi beliau mulai dari ditugaskan di Nusa Tenggara, Irianjaya, dan tugas-tugas kenegaraan lain yang lumayan berat, hingga kembali menjadi putra daerah Bali sejati, Kapolda Bali dan sekarang Gubernur Bali (Sumber, Majalah Media Hindu).

Demikian juga dalam Mahabarata, Sang Bima sewaktu diberikan tugas mencari tirtha kamandalu di dasar laut, yang sekiranya “tirta itu” sama sekali tidak terbayangkan oleh Drona dan Korawa, menjadi benar-benar ada dan menjadi maksiat bagi Bima, inilah tanggung jawab dan keyakinan merubah yang imposible menjadi possible.

3. Tekun Menuntut Ilmu
Pada era modern seperti sekarang ini, ilmu pengetahuan dan agama adalah senjata yang paling hebat. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan rumus Tri Semaya, melihat sejarah di masa lalu (atita), menyesuaikan dengan masa kini (wartamana), dan memperhatikan aktuaisasi dimasa mendatang (nagata).

Misalkan saja, belajar dari kisah Mahabarata bahwa judi mabuk-mabukan itu tidak baik hingga mempertaruhkan istri sendiri, dan mempertaruhkan harga diri. Judi dan tajen dalam konteks kekinian adalah “menjual harga diri orang Bali dimata dunia”, hanya karena kesenangan semata.

Sesungguhnya desa adat merupakan matra bagi agama Hindu untuk mewujudkan dimensi pendidikan agama Hindu, lebih-lebih dengan terbitnya undang-undang tentang desa pakraman, akan lebih memperjelas lagi tanggung jawab desa pakraman yang didalamnya terdapat matra-matra pendidikan agama Hindu, seperti truna-truni, perkumpulan PERADAH desa, Sabha Yowana, dan lain sebagainya yang dapat memupuk berbagai hal positif bagi generasi muda Hindu।

Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya dapat diperoleh dari hasil studi pada perguruan tinggi, akan tetapi berbagai terobosan telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengisi ruang-ruang “generasi muda Hindu di banjar adat”. Seperti program lounching “e-banjar dari PT. TELKOM”. Sayangnya masih belum banyak begitu luas sosialisasinya, dan cenderung berlalu bagi sedikit orang.

Pengetahuan, pada dasarnya terdiri dari kerangka kognitif, apektif, dan psikomotor, dalam agama Hindu mengkristal menjadi ajaran tattwa, susila, dan upacara. Pada sudut sarana dan prasarana pendidikan mengkristal menjadi desa pakraman (sekarang ini) sebelumnya berbentuk pedukuhan.

Bahkan undang-undang sistem Pendidikan Nasional no 20 tahun 2003 telah mengijinkan pendidikan dimulai di rumah, di masyarakat, dan di sekolah pada jalur pendidikan informal (dalam keluarga), jalur pendidikan non formal (di desa adat) dan jalur pendidikan formal (di sekolah), dan kesemuanya secara umum dalam ajaran agama Hindu disebut dengan pasraman.

Berdasarkan hal itulah nantinya (berdoa saja) Parisada Bali memperjuangkan untuk membuat sekolah-sekolah Hindu dengan berbasis Banjar (desa pakraman), sarana dan prasarana banjar tidak akan pernah sepi dengan kegiatan generasi muda Hindu, dan ini murni menjadi tempat belajar agama Hindu nantinya.

Cobalah bertanya kepada Bill Gates seorang pengusaha sukses Microsoft Corporate yang mengatakan “secara histories, bila ingin memahami apa level pendapatan seseorang, semua dilakukan dengan bertanya dari negara mana ia datang. Di masa depan, ini tidak akan lagi benar, sekaliknya akan bertanya apa level pendidikan yang dicapainya” (Media Hindu Edisi 51 2008 hal. 20).

4. Pembebasan dapat Dilakukan oleh Generasi Muda
Moksa bagi generasi muda dapat menjadi konsep yang hampir tidak dapat dibayangkan dan sangat jauh, dije kaden to?, namun pembebasan itu telah dilukiskan dalam Sarasamuchaya 100 sebagai berikut:

“Samangke tan enak turunya, pratyekana, wwang alara, wwang atakut, wwang hana kegelengya, wwang umangenagen sakaryanya, wwang saraga kurang”.

“Yang lebih tidak enak tidurnya, ialah orang yang menderita sakit, orang yang ketakutan, orang yang dibenci, orang yang sedang memikir-mikirkan segala pekerjaannya, begitupun orang yang menderita cinta berahi” (Kadjeng, 2006:54).

Pembebasan yang dimaksudkan adalah bebas dari kemiskinan (baik fisik maupun mental), bebas dari penderitaan karena tidak pendapatkan pendidikan, dan bebas karena tidak mendapatkan layanan kesehatan (fisik maupun mental).

Ketiga akses ini memungkinkan untuk dimulai di desa pakraman, misalkan dengan membuat ceramah-ceramah, diskusi-diskusi di bale banjar tentang ketahanan hidup, dan berbagai keterampilan hidup dalam wujud pelatihan atau sejenisnya, ataupun mengadakan pengobatan gratis bagi masyarakat yang prasejahtera.

Pembebasan ini mungkin sekali dilakukan di desa adat, dan mengenai tudingan desa adat justru menghancurkan Hindu itu dapat ditolak dan ditangkal “tidak benar”, mereka yang mengatakan seperti itu karena belum pernah terjun di desa adat “mungkin”!.

C. Penutup
Simpulannya, prinsip Gugon Tuwon sesungguhnya adalah “prinsip untuk percaya terhadap yang patut dipercaya”, mempercayai kepada yang tuhu. Gugon Tuwon peluangnya besar sekali pada era sekarang ini, dapat dijadikan momen untuk mewujudkan kepercayaan/keyakinan dan keteguhan pada ajaran agama (Sraddha), memiliki rasa tanggung jawab baik personal maupun interpersonal, tekun menuntut ilmu pengetahuan karena pada era sekarang ini mustahil tanpa ilmu pengetahuan, serta melakukan perubahan untuk menuju pembebasan pada aspek kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun tantangannya juga cukup besar, yakni tidak seimbangnya antara tri kerangka dasar agama Hindu, cenderung pada respek terhadap susila dan upacara saja, aspek tattwanya sering diacuhkan.

Oleh sebab itu kedepannya disarankan agar para generasi muda Hindu mengejar ketinggalan, mengembangkan diri untuk tetap seimbang pada prilaku dan upacara serta mampu berdebat dan mendasarkan diri pada ajaran tattwa, sehingga makin kuatnya sraddha kepada ajaran agama Hindu.

Daftar Pustaka

Maswinara, I Wayan, 2001. Panca Tantra. Surabaya: Paramita.

http://www.wikiepedia.com/Bali

Majalah Media Hindu Edisi 51 Mei 2008. Jakarta: Media Hindu.

Undang-undang nomer 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Subramaniam, 2003। Mahabarata. Surabaya: Paramita.

* Materi disampaikan, dalam KKN Mahasiswa IHD Negeri Denpasar V tanggal 01 Maret 2009 di Desa Paguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara;

Sejarah Singkat Pendidikan

Oleh: I Gst.Nyoman Suardeyasa

Permasalahan pendidikan agama Hindu tidak dapat dipisahkan dengan kajian histori dari pada sekolah tersebut, dalam kajian ini meskipun dalam ajaran Hindu terdapat sistem parampara yang sekarang lebih terkenal dengan sampradaya, namun istilah yang lebih umum digunakan adalah sekolah, seperti diungkapkan Wibowo (2008:1-2) bahwa:
“Institusi sekolah saat ini merupakan wahana yang dipergunakan sebagai tempat berlangsungnya proses pemupukan pengetahuan, keterampilan dan sikap guna mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seseorang. Sekolah tidak serta merta muncul dari ruang hampa, tetapi menjelma melalui pergulatan panjang dengan sosio-historisnya”.

Kata sekolah atau school, sejatinya berasal dari Bahasa Latin “scola” atau “scolae” yang dipergunakan sekitar awal abad XII, secara harafiah yang artinya waktu luang. Konon dahulu Yunani kuno menggunakan waktu luangnya untuk mengunjungi tempat para cerdik pandai atau orang yang memiliki hikmah (wisdom) yang dalam, guna menanyakan hal ikhwal kehidupan. Mulai dari permasalahan sosial, agama (kepercayaan), ilmu bahasa dan berpidato (orator), sastra, teknik perang dan segala macam pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Istilah yang dipergunakan adalah leisure devote to learning (waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar). Entah mengapa lama-kelamaan pelafalan schola bisa menjadi school dan dalam Bahasa Indonesia menjadi sekolah.

Selanjutnya dijelaskan Wibowo (2008:2-3) sebagai berikut:
“Sekolah modern pertama kali didirikan di Mesir Kuno sekitar tahun 3.000 hingga 500 BCE (Before Common Era), dilihat dari modelnya masih dalam bentuk yang sederhana, kegiatan pembelajaran tidak dilakukan di ruang-ruang kelas seperti sekolah modern sekarang, akan tetapi dilaksanakan di lapangan terbuka mirip kampanye atau rapat akbar saat ini. Sekolah di Mesir Kuno dipergunakan untuk mendidik calon-calon pegawai kerajaan dan para pendeta agama sang raja. Sekolah di Mesir Kuno ini bertahan cukup lama.

Selanjutnya sekolah modern di India berdiri sekitar tahun 1200 BCE, pengajar di sekolah tersebut adalah para pendeta agama Hindu dan Buddha, sementara materi yang diajarkan adalah Kitab Weda, ilmu pengetahuan, tata bahasa dan filsafat, bentuk sekolah pada masa itu tidak jauh beda dengan model sekolah di Mesir Kuno.

Di China sekolah formal pertama kali diperkirakan muncul pada masa kekuasaan Dinasti Zhou (770-250 BCE), pada masa itu pula muncul beberapa mahaguru ternama sekaligus para filosof Timur seperti Konfusius, Mesius, Laotzu dan sebagainya.

Sayangnya di Yunani lama-kelamaan semakin menyusut pengetahuannya dan menjadi ajang bisnis, karena ada penyelewengan dari kaum sofis yang difitnah menjual pengetahuannya, oleh karena itu sofis sekelas Socrates. Setelah itu Plato (387 BCE) murid Socrates mendirikan sistem pendidikan di kota Athena yang disebut Academy. Diikuti oleh Aristoteles dengan nama Lyceum, berikutnya Isocrates mengembangkan metode pendidikan yang diperuntukkan bagi para calon orator…”.

Kaum Yahudi tidak mau ketinggalan dengan kemajuan Yunani, kemudian mendirikan persekolahan disebut Sinagoga, dengan materi Kitab Taurat. Setelah Kristen di Yunani berkuasa menggunakan bangunan greja sebagai tempat pengajaran…, sekitar abad X-XI kaum Muslim mulai mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, dan filsafat dari persinggungan perdagangan dengan Bangsa Barat…”.

Sedangkan Ngurah (1997:22-23) menjelaskan sebagai berikut:
Menurut penelitian para ahli, secara umum dapat dikatakan bahwa masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia berasal dari India, berlangsung secara damai dan bertahap melalui kontak perhubungan dan perdagangan. Proses tersebut berlangsung dalam kurun waktu waktu yang amat panjang. Diawali dengan tukar menukar barang dagangan, kemudian kontak kebudayaan yang menyebar secara perlahan-lahan dari daerah pesisir hingga sampai masalah agama dengan mendirikan kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

Pidarta (1997:123,125,127)juga menjelaskan sebagai berikut:
“…pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan zaman penjajahan, sampai dengan pendidikan pada zaman kemerdekaan…pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan, yang berjuang melalui pendidikan. Mereka membina anak-anak dan para pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh pendidikan itu adalah Mohamad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Moh. Syafei mendirikan sekolah INS (Indonesisch Nederlandse School) di Sumatra Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayu Tanam. Maksud sekolah ini adalah mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa merdeka. Dengan berdirinya sekolah ini berarti ia menentang sekolah-sekolah Hindia Belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk menjadi pegawai-pegawai mereka saja.

“….tokoh pendidikan nasional berikutnya adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Sifat, sistem, dan metode pendidikannya diringkas ke dalam empat kemasan, yaitu azas Taman Siswa, Panca Dharma, adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang…”.

“…tokoh ketiga adalah Ahmad Dahlan yang mendirikan Organisasi Agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada perkembangan agama Islam…” perjuangan itu berlanjut hingga munculnya Dr. Wahidin dengan mendirikan organisasi Budi Utomo…”.

Pada masa reformasi tentu tidak harus meninggalkan idiologi pendidikan yang dititipkan oleh sejarah hingga muncullah Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional seperti dijelaskan oleh Nurdin (2005:2) sebagai berikut:
“…Tahun 1989…diberlakukan oleh pemerintah secara resmi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989, tentang sistem pendidikan nasional (UUSPN) yang telah disahkan dan diundangkan pada tanggal 27 Maret 1989 yang kemudian dijabarkan menjadi Surat Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara (Men-PAN) nomor 26 tahun 1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru dan lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah diumumkan secara resmi pada tanggal 15 Mei 1989. Dalam perkembangan sistem pendidikan nasional berikutnya kemudian lahit UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003…”.

Pada dasarnya Undang-undang sistem Pendidikan Nasional sebagai payung dari peraturan yang lainnya dan masih bersifat umum, dengan demikian dapat dijabarkan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini pemerintah dan pemerintah daerah dalam hal peningkatan mutu pendidikan.

Pendidikan Masa Hindu-Buddha

Diposkan oleh Decka Alifando Setiawan A.K.A Hacker

Sistem pendidikan pada masa lalu baru dapat terekam dengan baik pada masa Hindu-Buddha. Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990).

Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.

Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan.

Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.

Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.

Berdasarkan keterangan yang terdapat pada kropak 632 yang menyebutkan bahwa ” masih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa nagara) yang tidak mampu mempertahankan kabuyutan atau mandala hingga jatuh ke tangan orang lain” (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 29, 39, Ekadjati, 1995: 67), dapat diketahui bahwa nagara atau ibu kota atau juga pusat pemerintahan, biasanya dikelilingi oleh mandala.

Dalam hal ini, antara mandala dan nagara tentunya mempunyai sifat saling ketergantungan. Nagara memerlukan mandala untuk dukungan yang bersifat moral dan spiritual, mandala dianggap sebagai pusat kesaktian, dan pusat kekuatan gaib.

Dengan demikian masyarakat yang tinggal di mandala mengemban tugas untuk melakukan tapa. Kemakmuran suatu negara, keamanan masyarakat serta kejayaan raja sangat tergantung dengan sikap raja terhadap kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, nagara perlu memberi perlindungan dan keamanan, serta sebagai pemasok keperluan yang bersifat materiil (fasilitas dan makanan), agar para pendeta/wiku dan murid dapat dengan tenang mendekatkan diri dengan dewata.

di Kamis, Mei 07, 2009
sumber: Genta Bayu Raharja
http://hardiknas8e.blogspot.com

MEMERIKSA ULANG PENDIDIKAN BERBASIS HINDU

tulisan ini cukup panjang. terdiri dr empat bagian. lebih detil silahkan simak Laporan Utama Media Hindu Edisi 12 Nopember-Desember 2004

Memeriksa Ulang Pendidikan Berbasis Hindu

Siapa yang tak kenal tokoh-tokoh Hindu dunia seperti Mahatma Gandhi, Swami Vivekananda, Swami Sivananda, Swami Dayananda Saraswati, Rabindranath Tagore atau yang paling kontemporer saat ini, Swami Agnivesh? Ya, mereka mampu mengusung pemikiran Hindu ke kancah dunia tak terlepas dari pemahaman mereka yang mendalam tentang Weda. Mempelajari Weda tak sekedar menghafal, membaca ataupun pandai bercas-cis-cus dalam bahasa Sansekerta. Lebih dari itu, mampelajari Weda mencakup sebuah sistem pendidikan. Di India, sistem pendidikan Hindu disebut gurukula atau ashram.
Nah, bagaimana dengan sistem pendidikan Hindu di negeri tercinta Indonesia ini? Melacak sejarah, telah lebih dari seribu tahun lampau, Hindu hadir di bumi nusantara. Namun, sampai saat ini, umat Hindu masih diributkan persoalan seputar upacara, upacara dan upacara. Alih-alih melahirkan tokoh yang “berkaliber” dunia, keadaan pendidikan Hindu masih jauh tertinggal dari “tetangga sebelah”. Ada apa ini? Apa yang salah dengan pendidikan Hindu selama ini? Mengapa umat Hindu Indonesia “hanya” pandai menari, mekidung dan membuat beraneka sesajian yang tak jelas maknanya? Mengapa pula para intelektual dan aktivis Hindu begitu kering wacana hingga tergagap-gagap menghadapi persoalan yang itu-itu saja? Tulisan ini disarikan dari hasil penelitian tesis Suryanto, M. Pd di Universitas Negeri Yogyakarta yang berjudul “Problematika Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Hindu di Indonesia : Sebuah Kajian dari Perspektif Pendidikan Hindu Tradisional Model Gurukula di India”.
Pendidikan merupakan konsep yang kerapkali disinggung dalam kebudayaan Weda, terutama dalam kitab-kitab Upanisad. Setidaknya ditemukan tiga kata yang bersepadan dengan makna pendidikan, yaitu siksh (belajar untuk melafalkan), adhyayana (pergi mendekati) dan vinaya (membimbing dengan cara tertentu). Vinaya secara harfiah berarti sebuah proses atau tindakan yang berusaha mengarahkan kecakapan-kecakapan dan kemampuan bawaan sejak lahir seseorang menuju arah tertentu. Singkatnya, pembentukan karakter. Mahatma Gandhi menegaskan bahwa pendidikan harus dilaksanakan secara menyeluruh, tidak dapat dilakukan secara terpisah antara pendidikan jasmani dan rohani. Adalah sebuah kesalahan besar apabila kegiatan pendidikan hanya dititiberatkan pada salah satu aspek.
Bagaimana sebenarnya sistem pendidikan Hindu itu? Sistem pendidikan Hindu tak dapat dilepaskan dari konsep dasar tatanan masyarakat kebudayaan Weda yaitu Catur Warna (brahmana, ksatria, waisya dan sudra) dan Catur Ashrama (dharma, artha, kama dan moksa). Tatanan masyarakat ini turut membentuk pola interaksi antarindividu maupun kelompok masyarakat. Lebih lanjut, juga membentuk cara pandang yang berbeda tentang “kebenaran yang mutlak”. Dalam hal ini, setidaknya terdapat enam aliran pemikiran atau cara pandang (sad dharsanam) yang berkembang di India. Yaitu, charvaka yang menekankan aspek material sebagai tujuan hidup, vaiseshika yang menekankan pada pengetahuan untuk merealisasikan diri, nyaya yang menekankan pada logika, mimamsa yang menekankan aspek ritual dan susila, sankhya yang menekankan pada proses dan berkembangnya alam semesta, dan wedanta yang menekankan pada hubungan atman dengan Brahman dan tentang bagaimana cara mencapai pembebasannya.
Konsep pendidikan Hindu tertuang dalam kitab-kitab upanisad. Upanisad berarti duduk dekat kaki guru. Duduk dekat untuk memperoleh pengetahuan yang rahasia. Rahasia? Ajaran-ajaran yang diberikan oleh guru kepada murid-muridnya tidak diberikan sembarangan. Dalam artian, siswa yang akan mendapat pengetahuan/ ajaran tersebut harus melewati beberapa prosesi yang telah ditetapkan oleh sang guru. Ketika tiba saatnya, maka sang guru akan memberitahu kepada murid yang telah dianggapnya memenuhi syarat tersebut. Pengamatan sang guru terhadap siswa yang akan dipilih dan memenuhi syarat dilakukan secara cermat, seksama dan terus-menerus sepanjang waktu. Dan hal ini hanya efektif dan efisien terjadi apabila sang guru dan para siswa tinggal bersama dalam sebuah “rumah”. Inilah yang disebut gurukula atau ashram. Guru berarti pendidik/ pengasuh sedangkan kula berarti tempat tinggal.
Lantas, siapa yang berhak dianggap sebagai guru itu? Guru atau acarya adalah orang yang secara rohani/ spiritual telah menginsyafi dirinya yang sesungguhnya dan mengajarkan Weda melalui kata-kata dan perbuatannya. Guru sudah tidak menaruh minat lagi terhadap hal-hal yang berkaitan langsung dengan kehidupan, sebab ia mengarahkan hidupnya kepada kehidupan di “dunia yang akan datang”. Dalam gurukula, sistem pewarisan pengetahuan, sekaligus pengalihan tongkat estafet kepemimpinan, diselenggarakan melalui sebuah garis perguruan yang disebut parampara. Di sini, seorang guru atau acarya menunjuk salah seorang muridnya untuk melanjutkan garis perguruan, tentu dengan persyaratan yang hanya diketahui dan ditentukan oleh sang guru.
Apa saja komponen sistem pendidikan Hindu model gurukula itu? Selain acarya/ guru, siswa/ brahmacari, dan ashram (tempat tinggal) yang telah disebutkan di atas, juga diperlukan kuil/ mandir, ruang kelas dan tentu saja materi/ kurikulum.
Lalu, apa sebenarnya tujuan diselenggarakannya pendidikan Hindu? Setidaknya ada enam pokok, yaitu pertama perlindungan diri. Fungsi utama pendidikan adalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang eksistensi kehidupan manusia. Pendidikan harus mampu membantu manusia untuk mengatasi segala permasalahannya. Kedua, meningkatkan kesejahteraan. Pendidikan seharusnya mampu mengatasi penderitaan, kemiskinan dan pemiskinan masyarakat menuju keadilan sosial dan kesejahteraan negara. Ketiga, pengembangan kompetensi fisik. Bagaimanapun juga kesempurnaan fisik sangat menunjang keberhasilan seseorang dalam memperoleh pendidikan. Keempat, terbentuknya disiplin mental yang kuat dan pencerahan batin, sebagai hasil dari proses panjang mempelajari kitab-kitab Weda. Kelima, pengembangan kepribadian. Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan potensi-potensi terpendam dalam diri seseorang. Keenam, terbentuknya semangat toleransi. Pendidikan mampu membebaskan manusia dari sifat-sifat buruk dan menyadarkan betapa pentingnya hidup bermasyarakat.
Bagaimana dengan metode atau kurikulum yang diajarkan? Kegiatan belajar di gurukula tergantung pada tiap-tiap pengelola gurukula tersebut. Namun, secara umum, rutinitas belajar diawali dengan berdoa pagi pada pukul 05.00 kemudian dilanjutkan dengan belajar di kelas hingga tengah hari. Lalu sembahyang siang dan belajar dilanjutkan kembali hingga kira-kira pukul 4 sore. Setelah itu, semua siswa diberi waktu untuk berolah raga, yoga atau aktivitas yang lain. Kira-kira saat matahari tenggelam, semua siswa dan guru berkumpul di kuil/ mandir untuk berdoa, kemudian makan malam dan belajar hingga pukul 10 malam. Selanjutnya istirahat.
Gurukula yang masih tradisional, seperti Gurukula Sringeri di India bagian selatan, mengajarkan siswanya untuk menghafal dan melafalkan ayat-ayat Weda dalam bahasa Sansekerta tanpa mengetahui artinya selama empat tahun pertama masa pendidikannya. Setiap pagi guru memberi pelajaran 20 varga (ayat) untuk dihafalkan dan dilafalkan dengan benar oleh setiap siswa hingga selesainya kitab yang dipelajari. Setiap akhir tahun diadakan ujian. Ujian dilakukan oleh guru dengan menyebut akar sebuah varga tertentu dan siswa harus melengkapinya. Padahal, untuk itu, siswa harus melengkapinya dengan 20 baris bahkan lebih. Jika gagal, siswa tidak boleh melanjutkan pendidikannya dan dikembalikan kepada orang tuanya. Bagi siswa yang lulus, boleh memilih spesialisasi pelajaran, apakah ingin mendalami Weda atau bahasa Sansekerta saja. Pada tahap ini, siswa baru diajarkan makna dan penafsiran suatu varga atau ayat. Untuk melatih dan meningkatkan kemampuan siswa, dibentuk pula kelompok-kelompok diskusi debat, ceramah dan lain sebagainya. Sistem pendidikan di Gurukula Sringeri ini “hanya” menghasilkan tenaga-tenaga pengajar Weda dan tidak menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat modern.
Sedikit berbeda dengan gurukula yang sudah modern, seperti Bhaktivedanta Gurukula and International School (BGIS), yang terletak di India bagian utara, selain mengajarkan materi “tradisional”, sejak tahun 2001, juga mengenalkan mata pelajaran seperti pada pendidikan modern pada umumnya. Karena itu, BGIS tak hanya diakui oleh pemerintah India, namun juga diakui oleh lembaga pendidikan di Inggris dan Amerika Serikat. Bukti nyatanya adalah bahwa lulusan BGIS dapat melanjutkan pendidikannya ke berbagai perguruan tinggi di kedua negara tersebut tanpa harus melalui tes seperti calon mahasiswa dari lembaga pendidikan yang lain.
Penanaman nilai-nilai moralitas kepada para siswa atau brahmacari diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Seperti kesederhanaan, toleransi, kerja keras, pengendalian diri, disiplin dan lain-lain. Hal itu diwujudkan dengan tidak diperbolehkannya siswa membawa uang tunai dalam jumlah besar, selalu mengenakan dhoti (sejenis sarung) dan cadar (kain polos panjang penutup tubuh bagian atas) serta tidak diperbolehkan mengenakan celana panjang, baju, sandal maupun sepatu ditambah lagi tidak diperbolehkan membawa alat-alat elektronik.
Nah, bagaimana dengan sistem pendidikan Hindu di Indonesia? Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli sejarah mengungkapkan bahwa pada zaman Majapahit terdapat lembaga pendidikan Hindu yang diselenggarakan oleh kerajaan bagi rakyat umum, yang bernama mandala. Penelitian yang dilakukan oleh Pigeaud (1938) terungkap bahwa setelah Islam masuk ke Indonesia, secara berangsur-angsur mandala diubah menjadi pesantren. Hal ini diperkuat oleh Koentjaraningrat, seorang ahli budaya Jawa, bahwa para wali mengadopsi sistem pendidikan yang ada pada masa pra-Islam itu menjadi pesantren, tanpa mengubah pola-pola yang telah ada sebelumnya. Pada masa Jawa-Hindu, mandala merupakan pusat kerohanian yang tersebar di semua kerajaan dan fungsinya untuk berkomunikasi dan mendidik rakyat umum melalui media seni dan budaya. Dalam pendidikan Hindu masa lampau, pendidikan dan latihan tidak hanya diberikan terbatas pada pengetahuan agama. Juga meliputi pengetahuan, keahlian, keterampilan praktis bagaimana hendaknya seseorang menjalani hidup ini dengan beriman kepada Tuhan.
Setelah Majapahit runtuh, maka Bali merupakan satu-satunya negeri yang mengayomi para penganut ajaran Weda. Untuk itu, tak salah jika melihat kembali perjalanan Hindu sampai di tanah Bali. Periode perkembangan Hindu di Indonesia (Bali) melalui beberapa periode yaitu zaman prasejarah (zaman Weda hanya terjadi di India, dan belum masuk ke Indonesia), zaman purana/ Bali Kuno, abad VII-X (mulai masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia), zaman Mpu Kuturan, abad X-XV (penataan kembali sekte-sekte di Bali), zaman Dang Hyang Nirartha, abad XV-XVI (masa kekuasaan Mjapahit) dan zaman kebangsaan atau kemerdekaan (penataan kelembagaan, PHDI).
Menarik menyimak apa yang dilakukan oleh Mpu Kuturan satu milenium yang lampau. Ketika tiba di tanah Bali, Mpu Kuturan melihat adanya pertentangan antarkelompok penganut Weda. Setidaknya ada sembilan sekte, yang masing-masing bersikukuh terhadap ajarannya. Sebagai orang yang mengetahui betul soal agama, dan ia tak ingin adanya kekacauan dalam masyarakat karena pertentangan tersebut, maka ia “menyatukan” kesembilan sekte tersebut. Akhirnya, terbentuklah masyarakat Hindu seperti saat ini di Bali. Tak cukup sampai di sini, Mpu Kuturan juga membangun konsep masyarakat Weda dengan membangun pakraman. Menurut Sutarya, dalam kata pengantarnya di buku Canangsari 1000 Tahun Mpu Kuturan: Inspirasi bagi Masyarakat Majemuk, pakraman sesungguhnya merupakan sebuah tatanan masyarakat Hindu Kuno, tatanan ini juga berkembang dalam tradisi Hindu di India.
Dalam tradisi India, tatanan seperti itu disebut grama. Dalam bahasa Bali, kata grama berubah menjadi krama. Kata krama ini mendapat awalan “pe” dan akhiran “an”. Awalan dan akhiran ini membentuk kata benda dalam bahasa Bali pakraman yang berarti penataan, yaitu penataan hidup bersama. Tatanan ini mengikat seluruh warga berada dalam pakraman, termasuk kesembilan sekte tersebut. Dalam sistem pakraman tidak dikenal adanya lapisan-lapisan sosial masyarakat yang disebut kasta, yang mempolarisasikan masyarakat pada golongan tinggi-rendah. Semua warga memiliki hak dan kewajiban yang sama. Menurut Sutarya, dalam tatanan ini diterapkan sistem warna, yaitu penggolongan masyarakat berdasarkan tugas dan kewajibannya, bukan berdasarkan asal kelahirannya. Belakangan, konsep pakraman ini disebut desa adat.
Tatanan masyarakat dalam bentuk pakraman yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan berlangsung dengan baik hingga abad XV. Kemudian, setelah itu, kekuasaan Majapahit mulai bercokol di Bali. Pada masa inilah pemerintahan feodalis Majapahit menanamkan sistem kasta kepada masyarakat Bali melalui utusannya, yaitu Dang Hyang Nirarta. Hal ini menyebabkan perlawanan dari penduduk Bali. Akibatnya, penduduk yang melakukan pemberontakan tersebut digolongkan ke dalam kasta atau wangsa terendah dalam struktur masyarakat ala Dang Hyang Nirarta. Belajar dari keruntuhan Majapahit, maka Mpu Kuturan membangun pura di sepanjang pesisir pulau Bali agar penduduk, yang tinggal di daerah tersebut, makin kuat keyakinannya sehingga mampu membendung arus kepercayaan baru “kaum pendatang”.
Diposting oleh i g n arya wijaya
sumber: http://igen-arya.blogspot.com

%d blogger menyukai ini: