Sang Nandaka dan Prabu Singa Terkena Rajapisuna

Diterjemahkan dari Ni Diah Tantri
Original Title: ”Sang Nandaka Muah Prabhu Singa Kapisuna

Sang Nandaka dan Prabu Singa Terkena Rajapisuna
Terjemahan: IGN.Suardeyasa

Terserita di hutan Malawa ada seekor lembu jantan, bernama Nandaka. Yang menjadi raja di hutan itu adalah Sang Prabu Singa. Abdinya adalah anjing yang ada di hutan tersebut. Sebagai patih bernama Sambada, Si Nohan dan si Tatit. Sang Nandaka dan Prabu Singa, berteman baik. Sang Nandaka memenuhi hidupnya dengan ajaran Kepanditaan.
Sang Prabu Singa setiap hari mempelajari petuah kebajikan mengikuti yang dilakukan Sang Nandaka setiap hari memakan rumput, berhenti membunuh, berhenti memakan daging. Oleh sebab itu para anjing merasa kesulitan karena berhenti memakan daging, karena tidak bisa memakan rumput, alang-alang dan daun-daunan, dilaksanakanlah rapat di bawah sebuah pohon kayu Kalikuku.
I Tatit berbicara kepada Patih Sambada, menjelaskan abdi semuanya merasakan kesengsaraan, kurus kering. Menjawab sang Patih Sambada sambil tersenyum ”hai kamu semuanya, jika dipikir-pikir, persahabatan antara Prabu Singa dengan Sang Nandaka tidaklah kuat. Oleh karena berbeda rumpun berbeda juga makananya, artinya lain rumpun lain tujuannya. Sekarang saya mencari akal supaya Sang Prabu Singa berhenti bersahabat dengan Sang Nandaka. Sampai disana, para anjing menjadi gembira mendengarnya, lalu rapat itupun dibubarkan.
Dengan perhitungan hari baik (wariga-dewasa), Si Sambada sembunyi-sembunyi menghadap kepada Sang Nandaka, yang sedang melakukan yadnya sesa di bawah pohon bringin. Si Sambada cepat-cepat bersembah sujud dihadapan Sang Nandaka ”oh Sang Pandita tentang persahabatan Sang Pandita dengan Sang Prabu Singa tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Akan tetapi maafkan!, sekarang Sang Prabu Singa menyesali diri, oleh karena menjadi sahabat Sang Pandita, dia ingat dengan kewajibannya sebagai rajanya binatang. Sang Prabu berkata ”sekarang saya tahu dengan sebabnya Si Lembu, perilakunya jahat mengaku-ngaku sebagai orang bijaksana. Biarpun Si Lembu bertanduk tajam, tubuhnya besar, tidak sulit saya membunuhnya”.
Begitu kata-kata Si Sambada mengadu kepada Sang Pandita, lalu dia pamit. Tidak diceritakan perjalanannya, Si Sambada lalu menghadap baginda Prabu Singa, memohon ”Sang Raja Mregepati (rajanya binatang) maafkan hamba, hamba dapat menghadap kepada Sang Nandaka. Beliau mengatakan prilaku Sang Prabu sangat keliru. Begitu kata-kata beliau ”engkau Sambada ku beri tahu, tentang prilaku jelek Sang Singa. Tidak sama sekali memiliki rasa kasihan, dikalahkan oleh rasa rakus. Itu patut dipikirkan Sang Prabu, agar jangan Sang Prabu lalai!, cepatlah putuskan persahabatan dengan Sang Nandaka. Sang Prabu Singa menoleh kesana kemari, sambil berpikir ”tiada gunanya aku sayang dengan Nandaka! Sekarang kewajiban aku memang berperang melawan Sang Nandaka”.
Sang Prabu lantas bangkit, berjalan cepat diiringi oleh Si Sambada, Si Nohan, Si Tatit dan para anjing semuanya, menuju tempat Sang Nandaka.
Sesampainya di hadapan Sang Nandaka, Sang Prabu menggeram memperlihatkan gigi-giginya, lalu menerkam Sang Nandaka. Darahnya muncrat, Sang Nandaka membalas menanduk, tembus masuk ke dalam lambung Sang Prabu Singa. Akhirnya kedua-duanya sama-sama mati, sama-sama kuat dalam perkelahian itu.
Nah, perhatikan baik-baik pisuna itu, karena pisuna lebih tajam dari pedang, bisa merusak persahabatan, keluarga, banjar dan desa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: