TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

TRI PREMANA SEBAGAI TEKNIK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

oleh: I Gusti Nyoman Suardeyasa *

(BAGI YANG MENG-COPY HARAP MENGKONFIRMASI KEPADA PENULIS, ARTIKEL INI MENJADI HAK MILIK BLOG INI. BAGI YANG MENJADIKAN SEBAGAI REFERENSI AHARAP MENCANTUMKAN NAMA PENULIS DAN ALAMAT BLOG INI)

TRI PREMANA dalam artikel ini diformulasikan dengan teknik APA.

Teknik APA (Agama-Pratyaksa-Anumana) dalam artikel ini berasal dari ajaran Tri Premana yang terdiri dari Agama Premana (Sabda Premana), Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Teknik APA ini disusun berdasarkan tingkat kesesuaian dengan siswa di tingkat sekolah dasar, yakni Agama Premana teridiri dari kecakapan siswa untuk mendengarkan dan mempercayai ajaran suci yang berasal dari Rsi atau orang-orang suci dalam agama Hindu; Pratyaksa Premana terdiri dari kecakapan siswa untuk mengamati langsung maupun tidak langsung yang dikemas melalui model / gambar tentang materi yang diajarkan; dan Anumana Premana adalah kecakapan untuk melakukan pembuktian terhadap gejala-gejala yang terjadi, atau materi pembelajaran yang diajarkan. Pustaka Suci Manawa Dharma Sastra XII.105 disebutkan:

 

Ketiga cara pembuktian, pratyaksa, anumana, dan sastra yang merupakan lembaga dari berbagai kebiasaan dan aliran filsafat harus difahami benar-benar olehnya yang ingin sempurna tentang ketepatpengertian terhadap hukum suci.

Berdasarkan atas pustaka suci tersebut, ada tiga cara dalam menemukan kebenaran ajaran Weda, yang disebut dengan Pratyaksa, anumana dan sastra agama. Dalam penjelasan Adiputra (2003:9) disebutkan Tri Premana sebagai tiga ukuran atau cara untuk mengetahui kebenaran Weda, yaitu:

Pertama, agama premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan meyakini ajaran atau pemberitahuan orang yang patut dipercaya, agama premana dibedakan menjadi dua yakni: a) Wedika, mendapatkan kebenaran dengan cara mempelajari Weda sastra suci; b) Laukika, mendapatkan kebenaran dengan cara meyakini pemberitahuan orang yang dapat dipercaya dari orang suci atau guru suci. Kedua, Anumana Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara menarik kesimpulan dari suatu peristiwa; contohnya: adanya asap tentu ada api, ada dunia tentu ada penciptanya, ada anak tentu ada ayah dan ibunya. Ketiga, Pretyaksa Premana, artinya mendapatkan kebenaran dengan cara mengamati secara langsung melalui alat indra atau batin. Contohnya: api itu diketahui panas karena dapat dirasakan panasnya saat mengenai indra kulit; garam itu diketahui rasanya asin saat dikecap oleh lidah.

Namun cara yang kedua dan ketiga memerlukan analisis yang lebih tinggi dibandingkan dengan mempercayai ajaran suci Weda, yang dibutuhkan adalah membaca pustaka suci yang sudah diterjemahkan dan diterapkan dalam buku teks pelajaran agama Hindu; pada cara / teknik anumana premana, kesalahan persepsi bisa terjadi oleh karena logika yang keliru, itu sebabnya logika yang benar menentukan juga persepsi yang benar terhadap suatu kebenaran; pratyaksa premana merupakan teknik perbandingan, logika perbandingan juga tergantung dari kemampuan indra dalam menangkap fenomena alam yang terjadi, mengenai hal-hal abstrak misalkan: Angin tidak terlihat tapi dapat dirasakan: Tuhan tidak dapat dilihat tapi ada, namun cara mengetahuinya harus dengan cara yang benar, kebenaran ini juga kembali kepada teknik agama Premana mempercayai pustaka suci yang sudah teruji kebenarannya. Untuk hal-hal yang dapat dilihat dan dapat dibuktikan dengan indra, kebenaran yang diperoleh dari anumana dan pratyaksa merupakan kebenaran fakta.

Ajaran Nyaya tentang empat sumber untuk mendapatkan kebenaran disebutkan Pendit (2007:11) adalah: Pratyaksa (persepsi), anumana (kesimpulan), upamana (perbandingan dan persamaan), sabda (wewenang dan testimoni). Nala dan Wiratmadja (2004:71-80) juga merinci adanya empat cara untuk mendapatkan kebenaran dalam ajaran agama Hindu, yakni:

Agama Premana, adalah kebenaran yang diperoleh dari kitab suci, dengan meyakini hal yang disampaikan dalam kitab suci; pratyaksa pramana, cara pratyaksa ini demikian luhurnya, dengan cara menyaksikan langsung kebenaran Tuhan dengan cara melihat langsung ataupun mendengar sabda suci Tuhan; anumana premana dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan, dari gejala-gejala alam yang diketahui kebenarannya; upamana premana kebenaran diperoleh dengan melakukan perbandingan.

Ajaran Premana dari Filsafat Nyaya (Nyaya Darsana) Nyaya Darsana didirikan oleh Ashaka Gotama, Nyaya menempati urutan pertama dalam keseluruhan sistem falsafah ortodoks India, karena ia seolah-olah berperan sebagai pendahuluan atau pintu pertama memasuki keseluruhan sistem falsafah India (Sarva Darsana Samgraha). Didasarkan pada penalaran secara analitik. Sebagai sistem falsafah yang didasarkan pada kitab Veda, Nyaya terus berkembang hingga abad ke-20. Tidak mengherankan apabila bergitu banyak wacana tertulis dilahirkan dari para filosof Nyaya. Arti etimologis Nyaya, ialah ’kembali’, maksudnya mencari kembali kebenaran melalui argumentasi. Falsafah Nyaya bersifat intelektual dan analitis. Vatsyayana mengembangkan sistem ini berdasarkan ajaran Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dalam bukunya Aksapada dan Dirghatapas. Buku Vatsyayana yang memuat ajaran falsafah Nyaya ialah Nyaya Bhasya (Ulasan Tentang Nyaya) (Pendit, 2007:1). Ajaran Nyaya menjelaskan 16 substansi:

(1) Pramana, menetapkan metode pengetahuan yang benar; (2) Prameya, menetapkan obyek pengetahuan yang benar; (3) Samsaya, mengajukan keraguan pada sesuatu yang dianggap
benar; (4) Dsrtanta, mengemukakan contoh yang benar; (5) Prayojana, menetapkan tujuan pengamatan secara benar; (6) Tarka, menggunakan argumentasi/hujah yang benar; (7) Siddhanta, menegakkan ajaran dan pengetahuan; (8) Awayawa, menetapkan tahapan-tahapan pengetahuan; (9) Nimaya, membuat ketentuan yang sesksama; (10) Vada, melakukan diskusi yang mendalam; (11) Jalpa, membantah yang tidak benar; (12) Vitanda melakukan kritik secara cerdas; (13) Hetva-bhasa, mencela cacat dan kekurangan dari penalaran; (14) Cala, memuat argumentasi; (15) Jati, ketanpatujuan; (16) Nigraha-sthana, mengiritik secara tuntas pengetahuan yang diperoleh selama ini (Pendit, 2007:3-10).

Namun secara umum pengetahuan dalam ajaran Nyaya dapat diterima seperti yang dikembangkan tokoh utama falsafah Nyaya ialah Vatsyayana. Menurut filosof ini, dunia di luar manusia merupakan keberadaan yang terpisah dari pikiran. Pengetahuan tentang dunia diperoleh melalui pikiran, dibantu oleh pengamatan dan pencerapan indra. Pengetahuan dapat disebut benar atau salah tergantung pada sarana yang dipergunakan dalam mendapat pengetahuan. Secara sistematis pengetahuan menyatakan empat keadaan: (1) Pramata atau si pengamat, yaitu keadaan jiwa, pikiran dan kesadarannya; (2) Prameya atau obyek yang diamati; (3) Pramiti atau hasil dari pengamatan, yang ditentukan oleh keadaan si pengamat dalam hubungannya dengan obyek yang diamati; (4) Pramana atau cara, kaedah, metode pengamatan atau model pendekatan yang digunakan (Pendit, 2007:2).

Menurut Vatsyayana, dalam mencapai kebenaran rasional tentang sesuatu hal, diperlukan bantuan 4 atau empat kaedah pengamatan: (1) Pengamatan langsung (pratyaksa pramana); (2) Penyimpulan (anumana pramana); (3) Perbandingan (upamana pramana); dan (4) Penyaksian (sabda pramana).

Tingkat sekolah dasar dapat kiranya cara kerja Catur Premana dapat disederhanakan lagi menjadi tiga yakni Agama Premana, Pratyaksa Premana, dan Anumana Premana. Pada tataran Agama Premana dipandang relatif mudah dibandingkan dengan tataran Pratyaksa oleh karena pada tahapan ini siswa sudah mulai diharapkan untuk mengamati dan melakukan pencatatan terhadap materi yang disajikan; sedangkan tataran Anumana Premana pada tataran ini siswa diharapkan sudah menggunakan analisis sebagai kecakapan yang lebih sulit dibanding tataran sebelumnya.

Diagram cara kerja teknik APA ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Pada Anumana Premana sudah dianggap analisis kritis secara logis terhadap suatu objek yang dikaji, sehingga aspek Anumana Premana merupakan penggabungan dari Anumana Premana dan Upamana Premana. Oleh karena kedua-duanya mendasarkan pada teknik analitik logis; Anumana Premana mendasarkan pada analisis hubungan sebab-akibat sehingga dapat diambil suatu kesimpulan dari hubungan sebab akibat tersebut; sedangkan upamana premana menerangkan kebenaran berdasarkan atas perbandingan atau perumpamaan, membandingkan antara satu objek dengan objek lainnya, sehingga dapat diumpamakan objek yang abstrak yang tidak dapat ditanggapi oleh alat indra biasa. Sehingga kedua-duanya dapat dikatakan sebagai teknik perbandingan, sebab membandingkan objek satu dengan objek lainnya, setelah itu diberikan argumentasi untuk mendapatkan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi.

Pada artikel ini, agama premana adalah sumber pertama yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjelaskan fenomena / gejala, sedangkan pratyaksa dan anumana adalah sumber kedua sebagai alat untuk menguatkan kebenaran yang ada dalam sastra-sastra agama, antara pratyaksa premana dan anumana premana satu sama lain sebagai teknik untuk memperoleh perbandingan-perbandingan sehingga ajaran agama dapat diterima secara logis dan analisis. Hal inilah yang disebut dengan Tri Premana dalam Artikel ini, Tri adalah tiga, premana adalah cara, artinya tiga cara untuk mendapatkan kebenaran, yang terdiri dari Agama Premana, dengan jalan mempercayai ajaran agama yang bersumber dari sastra-sastra suci, pratyaksa premana adalah teknik untuk mendapatkan kebenaran dengan cara mengobservasi kondisi suatu fakta, sedangkan anumana premana dilakukan dengan melakukan perbandingan, membuat kesimpulan dari hubungan sebab akibat, serta membandingkan objek satu dengan objek lainnya berdasarkan atas hukum yang berlaku umum di alam semesta.

* Penulis, I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag, M.Pd.H adalah salah satu Guru Agama Hindu di Kabupaten Buleleng.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, Rudia, 2003. Pengetahuan Dasar Agama Hindu. Jakarta: STAH Dharma Nusantara.

Nala, I Gusti Ngurah dan Adia Wiratmadja, 2004. Denpasar: Upada Sastra.

Pendit, S, 2007. Filsafat Hindu Dharma (Sad Darsana) Enam Aliran Astika (Orthodoks) Buku Kedua. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Pudja, I Gde, dan Tjok Rai Sudhartha, 2003. Manawa Dharma Sastra. Dirjen Bimas Hindu dan Budha Jakarta.

Konsepsi Ngaben

Konsepsi Ngaben

Jika dilihat dari pelaksanaannya yang berhubungan dengan Panca Yadnya, Ngaben merupakan salah satu dari lima jenis yadnya yang dilaksanakan, Oka Supartha (1978:16) menyebut Panca Yadnya yang terdiri dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Kelima yadnya tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, Dewa Yadya  adalah korban suci secara tulus ikhlas yang ditujukan kehadapan Hyang Widi Wasa dengan Segala manefestasinya yang dilaksnakan di tempat-tempat suci, seperti Sanggah atau Merajan, kahyangan Tiga, dang kahyangan Sad Kahyangan dan Kahyangan jagat. Kedua, Upacara Rsi Yajna adalah korban suci secara tulus ikhlas kepada Maha Rsi dengan jalan menobatkan seorang sulinggih atau pinandita dengan jalan melaksanakan upacara mediksa dan me-Dwijati, agar beliau dapat menjadi pemimpin agama yang bisa mengarahkan umatnya menuju kepada hal-hal yang positif, sesuai dengan ajaran agama Hindu. Ketiga, upacara pitra yajna adalah suatu korban suci secara tulus ikhlas kepada orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dengan melaksanakan upacara atiwa-tiwa, ngaben, mamukur, dan upacara ngeligihang  Dewa Hyang. Keempat, manusa yajna adalah suatu korban suci yang tulus ikhlas yang bertujuan untuk memarisudha dan membersihkan manusia secara lahir batin sejak manusia berada dalam kandungan sampai manusia meninggal dunia. Kelima, Bhuta Yajna adalah suatu korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas kepada para bhuta dalam wujud binatang dan tumbuh-tumbuhan serta terhadap makhluk yang dianggap lebih rendah daripada manusia agar tidak mengganggu manusia dalam kehidupannya atau dengan tujuan menjaga keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Secara umum di Bali dalam pelaksanaan Pitra Yadnya sering disebut dengan upacara Ngaben. Ngaben dalam pelaksanaan upacara Pitra Yadnya umat Hindu di Bali secara umum. Dalam menguraikan pengertian Ngaben perlu ditelusuri serta mengenai arti kata Ngaben. Di dalam istilah yang paling populer dari inti pelaksanaan upacara ini dikenal dengan sebutan upacara pengabenan. Interpretasi yang muncul terhadap kata ngaben sebagai bagian inti dari pelaksanaan Pitra Yadnya.

“Lontar Siwa Tattwa Purana” disebutkan “Atiwa-tiwa ingaranan Ngaben”. Artinya: atiwa-tiwa dinamai juga Ngaben. Kata ngaben menurut Kamus Bali Indonesia diartikan melaksanakan upacara pembakaran mayat untuk penyucian roh orang yang meninggal dan mengembalikan unsur-unsur badaniah kepada asalnya. Setelah mayat dibakar abunya dibawa ke laut (Tim Penyusun, 1993: 234). Istilah Ngaben dijelaskan sebagai berikut.

Ngaben sering pula disebut dengan atiwa-tiwa atau malebu, lebu artinya abu. Demikianlah ngaben berasal dari urat kata abu, kata abu mendapat akhiran “an” menjadi “abuan” menjadi “abon”, kemudian mengalami perubahan menjadi “ngabon”, untuk menghaluskan dengan eras onek (meta-mesis) untuk menghaluskan arti, “ngabon” menjadi “ngaben”. Upacara Ngaben pada umumnya dilakukan dengan membakar sawa sehingga menjadi abu, namun hakikat tujuannya tidak sekadar sampai hanya menjadi abu. Abu hanyalah wujud sekala (lahiriah) semata. Secara niskala (batiniah) Ngaben bertujuan untuk memusnahkan segenap jasad sawa sehalus-halusnya, sehingga wujud sawa dari benda yang wungkul menjadi unsur, elemen panca mahabhuta, yakni asal materi yang jauh lebih halus dari abu, terutama semua unsur mahabhuta kembali pada induk unsur masing-masing (Kaler, 1993 : 18-19).

Sedangkan pendapat lain mengungkapkan bahwa, Ngaben adalah merupakan upacara yang tergolong di dalam upacara Pitra Yadnya. Kalimat pitra yadnya terdiri dari suku kata pitra (pitara) dan yadnya. Pitra berarti bapak atau ibu leluhur yang terhormat. Yadnya berarti penyaluran tenaga atau dasar suci untuk keselamatan bersama atau pengorbanan. Jadi yang dimaksud pitra yadnya yaitu suatu penyaluran tenaga (sikap, tingkah laku, perbuatan) atau dasar ikhlas yang ditunjukkan kehadapan leluhur untuk keselamatan bersama (Putra, 1995 : 12).

Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa “ngaben” merupakan upacara pitra yadnya yang pada intinya dilakukan dengan membakar mayat orang yang meninggal dunia hingga menjadi abu, pengabuan tersebut dengan filosofi untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke bentuk yang lebih halus lagi yakni Panca Tan Matra dan bentuk yang lebih halus lagi.

Ngaben” yang dimaksud adalah kata “ngaben” yang merupakan Bahasa Bali berasal dari kata “Api”. kata api ini mendapat prefik sengau’ng’ dan sufik “an” sehingga kemudian menjadi “ngapian” Kata ngapian lalu menjadi sandi ngapen. Huruf P B W adalah satu warga sehingga berubah menjadi B. Dengan demikian kata ngapen menjadi ngaben yang artinya menuju api, api konkrit membakar jenazah (Wiana, 1998:33).

Ngaben secara umum diartikan sebagai proses mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta, dalam prosesnya terdapat pelaksanaan “ngabu” atau prosesi membakar sawa orang yang sudah meninggal. Mengenai jenis Ngaben dapat dibedakan menjadi tiga, yakni Sawa Wedana, Asti Wedana dan Atma Wedana. Pelaksanaan Sawa Wedana sering dikaitkan dengan upacara Ngaben dengan membakar langsung sawa setelah meninggal dunia; Asti Wedana merupakan upacara Ngaben yang dilakukan dengan mengubur terlebih dahulu atau serin disebut dengan mekingsan di Pertiwi, setelah itu baru dilakukan “ngasti” mengangkat kembali tulang yang masih tersisa di liang kubur untuk selanjutnya di bakar (dikremasi); atma wedana sering disebut sebagai upacara Ngaben dengan menggunakan simbol atma setelah pelaksanaan mengubur terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Kaler, I Gst Ketut, 1993. Ngaben: Mengapa Mayat Dibakar?. Yayasan Dharma Narada.

Mas Putra, Ny I Gusti A, 2001, Upacara Yadnya, Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Kehidupan Beragama Tersebar di Sembilan Kabupaten Dati II.

Tim Penyusun,1993. Kamus Bali-Indonesia. Pemda Bali.

Wiana, I Ketut, 1998. Berbakti pada Leluhur Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang. Surabaya: Paramitha.

 

Konsepsi Tradisi dalam Kebudayaan Bali

Menurut arti Kamus (Tim Penyusun, 2001:1208) kata tradisi diartikan sebagai 1) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 2) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Sedangkan kata tradisional sebagai bentukan kata dari “tradisi” artinya “sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun”.

Tradisi dalam bahasa Inggris disebutkan dengan tradition yang diartikan dengan kebiasaan, atau budaya. Kontjaraningrat (1985:1-2) menjelaskan bahwa budaya (tradisi) tersebut adalah seluruh (total) karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya, dan hanya dapat dicetuskan oleh manusia setelah melalui suatu proses belajar.

Koentjaraningrat (1985: 100) juga mengungkapkan bahwa wujud dari kebudayaan terdiri dari paling tidak tiga wujud yaitu: (1) kompleksitas dari gagasan, konsep dan pikiran manusia, (2) sebagai kompleksitas aktivitas dan, 3) berwujud sebagai benda. Demikian juga diungkapkan oleh Wiana (2002:10-11) tradisi dalam kitab suci Weda diartikan sebagai persepsi atau pandangan, patokan, patokan rohani atau juga berarti suatu wilayah. Dresta artinya persepsi yang sama mengenai patokan-patokan rohani dalam menata kehidupan dalam suatu wilayah tertentu. Secara sederhana disebutkan ada empat dresta yang telah dipegang oleh umat Hindu di Bali yakni; purwa dresta, loka dresta, desa dresta dan sastra dresta. Dalam istilah lain penggunaan dresta sering disebut dengan tri samaya yakni; atita, nagata dan wartamana. Atita adalah pandangan umat di masa lampau, nagata adalah harapan pada masa yang akan datang dan wartamana artinya prilaku yang harus diwujudkan sekarang. Di dalam kitab suci Manawa Dharmasastra, VII.10 juga dijelaskan:

Karyam so’veksya çaktimca

Deçakalañca tattvatah,

Kurute dharma siddhyartham

Viçvarupam punah punah

 

Terjemahan:

Setelah mempertimbangkan sepenuhnya tentang hakekat tujuan (Iksa), kekuatan/kemampuan (Sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan sastra yang dimiliki (Tattva) dia lakukan berbagai wujud perbuatan (Yajña) untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran) (Pudja & Tjok Rai Sudharta, 1997: 355).

Dharma yang melalui berbagai bentuk budaya umat, sehingga dharma tetap dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat. Berdasarkan atas sloka di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) iksa, berarti hakikat tujuan, aspek utama yang menjadi sasaran yang harus direalisasikan. Hakikat tujuan ini dikaitkan dengan tujuan beragama Hindu, sehingga tidak bertentangan dengan norma yang berlaku; (b) sakti merupakan kesadaran kemampuan, baik kemampuan Jñana (pengetahuan) maupun kemampuan BalaKosa (fisik – materiil) yang mendukung untuk merealisasikan cita – cita/tujuan itu; (c) desa, berarti tempat dimana suatu aktivitas dilaksanakan. Perbedaan tempat/daerah tentu akan mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama baik yang menyangkut tradisi maupun kaidah hukum positif yang berlaku; (d) kala, berarti waktu, sebagai aspek yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menerapkan ajaran agama sehingga tafsir terhadap ketentuan sastra tidak berlaku secara absolut dan tidak mengaburkan asas universal dari ajaran tersebut; (e) tattva, berarti filosofi atau pandangan/pengetahuan tentang kebenaran yang diyakini dan menjadi landasan sistem fikir dalam upaya pembudayaan ajaran agama yang dianut/diterapkan.

Tradisi diartikan sebagai prilaku atau kebiasaan masyarakat lokal yang dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu yang berlangsung lama, dan masih tetap diterima atau dilaksanakan hingga kini. Karena eksistensinya tersebut, sehingga bagi masyarakat setempat diyakini sebagai prilaku yang baik dan harus tetap dipertahankan, oleh karena sebagai ciri khas suatu daerah, selain itu juga oleh adanya nilai tertentu yang dianut oleh masyarakat pelaksana tradisi tersebut dalam hubungannya dengan prilaku, estetik, religius, pengetahuan, serta kreativitas berkesenian yang menjadi ciri khas kebudayaan mereka.

Daftar Pustaka

Koentjaraningrat, 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Pudja, Gede dan Tjok Rai Sudhartha, 1997. Kompendium Hukum Hindu, Manawa Dharma Sastra (Manu Smerti). Jakarta: Dirjen Bimas Hindu dan Buddha.

Wiana, I Ketut, 2002. Mengapa Bali di Sebut Bali?. Denpasar; Bali Post.

PUPNS_2015

Di penghujung tahun 2015, seluruh PNS di Negara ini sedang menjalani proses REGISTRASI ULANG PNS yang disebut dengan PENDAFTARAN ULANG PNS (PUPNS).  Namun seiring dengan perjalananya sejak diujicobakan di Akhir bulan Agustus 2015, dan dibuka resmi tanggal 1 September 2015 lalu, hingga tulisan ini diterbitkan, sudah banyak PNS yang melakukan registrasi ulang,

untuk kali ini, saya mencoba untuk menguraikan Data yang ada di webs PUPNS: PUPNS (http://epupns.bkn.go.id) khusus untuk GURU, setelah melakukan Registrasi biasanya guru kebingungan dengan isian data yang ada. YANG TERDIRI DARI 9 ITEM DATA YAKNI:

  1. DATA UTAMA
  2. DATA POSISI
  3. DATA RIWAYAT KELUARGA (BAPAK/IBU, ISTRI/SUAMI, ANAK)
  4. DIKLAT STRUKTURAL
  5. DIKLAT FUNGSIONAL
  6. RIWAYAT JABATAN
  7. RIWAYAT PEKERJAAN GURU
  8. DATA DOKTER
  9. DATA BPJS, BAPERTARUM, KARTU ELEKTRONIK

BERIKUT AKAN DITAMPILKAN CONTOH ISIAN DATA PUPNS UNTUK GURU DAN BEBERAPA JUGA MEMILIKI KESAMAAN DENGAN PNS UMUM LAINNYA

  1. DATA UTAMA
1 NIP BARU Isi dengan nip baru (18 digit) tanpa spasi sesuai konversi NIP
2 NAMA (sesuai SK CPNS) Isi dengan nama sesuai dengan SK CPNS
3 GELAR DEPAN Isi gelar depan bila memiliki gelar depan sesuai izasah
4 GELAR BELAKANG Isi gelar depan bila memiliki gelar depan sesuai izasah
5 TEMPAT LAHIR Isi dengan Kabupaten tempat lahir Saudara
6 TANGGAL LAHIR Isi dengan tgl lahir sesuai dengan SK CPNS (dd-mm-yyyy)
7 AGAMA Isi dengan agama saudara
8 JENIS KELAMIN Isi dengan jenis kelamin saudara (Pria/Wanita)
9 TMT CPNS Isi dengan TMT CPNS Saudara
10 TMT PNS Isi dengan TMT PNS Saudara
11 ALAMAT Isi dengan alamat sesuai dengan KTP Saudara
12 NIK (Nomor KTP) Isi dengan nomor KTP Saudara
13 NPWP Isi dengan nomor NPWP Saudara
14 KARPEG Isi dengan nomor Karpeg Saudara
  1. DATA POSISI (muncul secara otomatis)
1 INSTANSI INDUK Data ini akan muncul secara otomatis setelah Saudara mengisi riwayat jabatan pada menu riwayat jabatan PUPNS
2 LOKASI KERJA -sda-
3 SATUAN KERJA -sda-
4 UNIT ORGANISASI -sda-
5 JENIS JABATAN -sda-
6 NAMA JABATAN -sda-
7 TMT JABATAN -sda-
8 ESELON -sda-
9 TMT ESELON -sda-
  1. DATA RIWAYAT KELUARGA
    1. Isteri / Suami (isi dengan nama istri/suami saudara)
NO N A M A TEMPAT

LAHIR

TANGGAL

LAHIR

TANGGAL

NIKAH

PEKERJAAN KETERANGAN
1 2 3 4 5 6 7

 

  1. Anak. (isi semua nama anak saudara sesuai dengan Kartu Keluarga)
NO N A M A JENIS

KELAMIN

TEMPAT

LAHIR

TANGGAL

LAHIR

PEKERJAAN KETERANGAN
1 2 3 4 5 6 7
  1. Bapak dan Ibu kandung (isi nama bapak dan ibu kandung saudara)

NO

N A M A

Tempat Tanggal Lahir (TTL)

PEKERJAAN

KETERANGAN (hidup/almarhum)

BPJS

1 2 3 4 5 6
     Isi dengan nomor BPJS kalau punya
  1. RIWAYAT GOLONGAN (isi dengan golongan saudara dari sejak CPNS sampai saat ini)

NO

GOL

TMT GOL

NOMOR  SK

TGL SK

NOMOR PERTEK.  BKN

TGL PERTEK. BKN

*JENIS KP

MASA KERJA

TH BLN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Isi dengan nomor pertimbangan teknis dari BKN, silahkan dilihat pada konsideran sk pangkat saudara Isi dengan tgl pertimbangan teknis dari BKN, silahkan dilihat pada konsideran sk pangkat saudara

 

*Jenis KP (kenaikan pangkat) agar tulis: Reguler bila kenaikan pangkat regular; Pilihan(struktural) bila kenaikan pangkat karena eselonnya; Pilihan (fungional tertentu) bila kenaikan pangkat karena jabatan fungsional (guru,penyuluh,dst); Pilihan (penyesuaian ijazah) bila karena adanya penyesuaian ijazah.

 

 

  1. RIWAYAT PENDIDIKAN (isi dengan nama pendidikan saudara )

NO

JENJANG PENDIDIKAN NAMA PENDIDIKAN JURUSAN TGL LULUS NOMOR IZASAH NAMA SEKOLAH GELAR DEPAN GELAR BELAKANG
1 2 3 4 5 6 7
1 SD
2 SLTP
3 SLTA
4 D- I
5 D- II
6 D-III
7 D- IV
8 S 1
9 S 2
10 S 3
11 Spesialis I
12 Spesialis II
13 Profesi

………………

  1. DIKLAT STRUKTURAL (isi dengan riwayat diklat saudara pejabat struktural: Adum/Pim IV/III/II/dsb)

 

NO

NAMA DIKLAT

NOMOR  STTPL

TGL  STTPL

1 2 3 4
  1. DIKLAT FUNGSIONAL (isi dengan riwayat diklat fungsional Saudara)
NO TIPE DIKLAT JENIS DIKLAT NAMA DIKLAT

LAMANYA DIKLAT (JAM)

TGL DIKLAT NOMOR SERTIFIKAT INSTITUSI PENYELENGGARA
1 2 3 4 5 6 7 8
  1. RIWAYAT JABATAN (isi dengan riwayat Jabatan saudara, wajib diisi oleh semua PNS)
NO JENIS JABATAN UNIT ORGANISASI NAMA JABATAN

TMT JABATAN

TGL SK NOMOR SK

TGL PELANTIKAN

1 2 3 4 5 6 7
  • Jenis Jabatan agar ditulis: Fungsional Umum bagi staf; Fungsional Tertentu bagi Pejabat Fungsional (guru,penyuluh,dsb)dan Struktural bagi yang menjabat struktural.
  • Tulis nama jabatan Saudara pada kolom nama jabatan, contoh:

Fungsional Umum: caraka;bendahara;operator computer,dst

Fungsional Tertentu: Guru Pertama; Guru Muda;Penyuluh Pertanian Pertama;dst

Struktural: Kasubag;kabid;kepala dinas;dst

 

 

 

 

  1. RIWAYAT PEKERJAAN GURU (Khusus bagi PNS yang menjabat Fungsional Guru)

 

NO NAMA SEKOLAH INDUK (NEGERI)

NAMA SEKOLAH MENGAJAR (NEGERI/ SWASTA)

BIDANG STUDI (guru kelas/guru matematika/dst) MATA PELAJARAN

(guru kelas SD/matematika/fisika/dst)

TMT

MENGAJAR

JAM MENGAJAR PERMINGGU

TGL SK SERTIFIKASI GURU

1 2 3 4 5 6 7 8
 

1.

 

 

2.

 

3.

 

 

 

Contoh:

SMPN 3 Manggis

 

 

SMPN 1 Manggis

 

dst….

 

 

SMPN 3 Manggis

 

SMP Dharma Kirti Sengkidu

 

 

Guru Matematika

 

Guru Matematika

 

Matematika

 

 

Matematika

 

 

01-10-2011

 

 

01-02-2013

 

 

 

       24 jam

 

 

 

28-02-2015

 

  • Riwayat Guru hanya diisi oleh yang menjabat Fungsional Guru sampai saat ini. Bagi PNS dan CPNS yang mengajar sebagai guru namun saat ini tidak/belum diangkat sebagai fungsional guru Riwayat Pekerjaan Guru tidak boleh diisi (kosong).
  • Nama sekolah induk agar ditulis nama sekolah negeri yang menjadi tempat administrasi kepegawaian yang bersangkutan misalnya penerimaan gaji,dst
  • Kolom 7 dan 8 diisi bila  guru tersebut saat ini menerima tunjangan sertifikasi guru, bila tidak menerima atau belum sertifikasi maka kolom 7 dan 8 tidak perlu diisi (kosong).
  • Jam mengajar agar ditulis jam mengajar saudara saat ini sesuai SK pembagian tugas Jam mengajar.
  • Tgl SK sertifikasi guru adalah tgl SK sertifikasi yang diterima oleh guru bersangkutan pada saat ini sebagai dasar pengeluaran uang tunjangan sertifikasi guru.
  1. DATA DOKTER (Khusus yang menjabat sebagai dokter)
NO JENIS UNIT KESEHATAN NAMA UNIT KESEHATAN (Rumah Sakit/Puskesmas/dst) JENIS DOKTER (umum/gigi/spesialis) BIDANG SPESIALIS

KEMAMPUAN PENANGANAN PASIEN PERHARI

1 2 3 4 5 6
 Pilih unit kesehatan:

·        Rumah Sakit

·        Puskesmas

·        Poliklinik

·        Balai

·        Kantor kesehatan

 Isi nama unit kesehatan tersebut.

Misalnya: Puskesmas Kubu II,dst

  1. Data BPJS Kesehatan/Bapertarum/Kartu Pegawai Elektronik (KPE) (isi kuesioner ini sesuai pilihan yang tertera pada menu PUPNS)
  • BPJS KESEHATAN
a. Nomor Kartu Peserta:
b. Nama Peserta:
  • BAPERTARUM PNS
a. Apakah telah memiliki rumah? Ya/tidak
b. Apakah saudara pernah memanfaatkan layanan BAPERTARUM PNS?

bila jawabannya ya sebut jenis pemanfaatannya tersebut, misalnya sebagai uang muka KPR, dsb

Ya/tidak
  • KARTU PEGAWAI ELEKTRONIK (KPE)
a. Apakah telah memiliki KPE? Ya/tidak
b. Bagaimana kondisi KPE anda? Baik/rusak
c. Bagaimana pemanfaatan KPE tersebut? Atm/kartu belanja/dll

………………, ………………………..

Yang membuat,

( ………………………………. )

Catatan:

  1. Biodata ini hanya sebagai pedoman/referensi pada saat input data/entry data e-PUPNS
  2. Pengisian Biodata ini diketik dengan computer untuk menghindari kesalahan dalam pembacaan
  3. Sebelum dikirim wajib diverifikasi dengan dokumen yang sah

(SUMBER UTAMA: http://bkdkarangasem.wordpress.com)

SELAMAT MENCOBA

PERMOHONAN SK BERSAMA (TAMBAHAN JAM MENGAJAR DI SEKOLAH LAIN)

BAGI YANG MEMERLUKAN SK BERSAMA DALAM PEMENUHAN JAM MENGAJAR 24 JAM, BERIKUT CONTOH SURAT PERMOHONAN UNTUK MENCARI JAM TAMBAHAN DI SEKOLAH LAIN DOWNLOAD DISINI PERMOHONAN SK BERSAMA

PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG

DINAS PENDIDIKAN

SEKOLAH DASAR NEGERI 2 TEJAKULA

ALAMAT: Dusun Kajanan, Desa Tejakula, Kec.Tejakula, Kab. Buleleng.

SURAT PERMOHONAN

NOMOR  : 826 /  106 / Kepeg

Prihal          : Permohonan Surat Tugas Mencari Jam Tambahan di Sekolah Lain

Lampiran    : 1 (satu) gabung

Kepada

Yth. Kepala Dinas Pendidikan

Kabupaten Buleleng

Di –

Singaraja

Dengan hormat,

Dalam rangka pemenuhan beban kerja guru minimal 24 jam/minggu, sesuai Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 tentang Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan, maka saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                                          : I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag

NIP.                                                            : 19820417 200902 1 007

Tempat, Tgl Lahir                                       : Buleleng, 17-04-1982

Pangkat/Gol.Ruang                                    : Penata Muda Tk.I, III/b

Jabatan                                                       : Guru mata pelajaran

Bid, Studi yang diampu/ disertifikasi            : Pendidikan Agama Hindu

Jumlah Jam                                                 : 18 Jam

Unit kerja                                                    : SD Negeri 2 Tejakula

Alamat                                                        : Desa Tejakula Kec, Tejakula, Kab, Buleleng.

Mengajukan permohonan Surat penugasan untuk melaksanakan tugas di sekolah lain yaitu SD Negeri 1 Tejakula sebanyak 6 jam tatap muka, sehingga dapat memenuhi beban mengajar 24 jam tatap muka,  sebagai bahan pertimbangan saya lampirkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Foto Copy Sertifikat pendidikan
  2. Foto Copy Surat Keputusan Kepala SD No. 2 Tejakula, Tentang Pembagian Tugas dalam kegiatan proses belajar mengajar Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015
  3. Foto Copy Surat Keputusan Kepala Sekolah SD Negeri 1 Tejakula, Tentang pembagian Tugas dalam kegiatan proses belajar mengajar Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015

Demikian surat permohonan ini kami ajukan dan atas perhatian Bapak saya sampaikan terima kasih.

Mengetahui                                                                         Tejakula, 10 Maret 2015

Kepala SD Negeri 2 Tejakula                                             Hormat Saya

Luh Metriasih, S.Pd                                                          I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag

NIP. 19661116 198801 2 002                                            NIP. 19820417 200902 1 007

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pendidikan Agama Hindu tahun PElajaran 2015/2016

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP) 1

 

  1. Nama Sekolah             : SDN 2 TEJAKULA
  2. Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Hindu
  3. Kelas / Semester          : I/1
  1. Standar Kompetensi    : 1.      Meyakini kemaha kuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) sebagai maha pencipta
  2. Kompetensi Dasar : 1.1     Menunjukkan contoh- contoh ciptaan Sang Hyang Widhi
  1. Indikator                     :
  • Menyebutkan sebutan Tuhan dalam agama Hindu (rasa ingin tahu)
  • Menyebutkan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) (Religius)
  • Menyebutkan contoh-contoh ciptaan Sang Hyang widhi (Tuhan) (komunikatif)
  • Menyebutkan ciri mahkluk hidup ciptaan Sang Hyang widhi (Tuhan) (mandiri)
  1. Alokasi Waktu : 3  X 35 Menit
  2. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran melalui penerapan strategi CTL diharapkan siswa meningkat prestasi belajarnya dan berkembang nilai karakter, rasa ingin tahu dan Religius, Komunikatif dan mandiri, dengan memiliki kemampuan:

  1. Mampu menyebutkan sebutan Tuhan dalam agama Hindu(rasa ingin tahu)
  2. Mampu menyebutkan sebutan Tuhan dalam agama Hindu(Religius)
  3. Mampu menyebutkan contoh-contoh ciptaan Sang Hyang widhi ( Tuhan ) (komunikatif)
  4. Mampu menyebutkan ciri mahkluk hidup ciptaan Sang Hyang widhi ( Tuhan ) (mandiri)
  5. Mampu menggambar ciptaan Sang Hyang Widhi (mandiri)
  6. Dapat menunjukkan minat belajar yang baik
  7. Dapat menunjukkan ahlak yang mulia
  1. Alat dan Bahan (Resources) pembelajaran : Laptop, Multi Media, LCD, Internet, Buku siswa dan LKS, Perpustakaan
  2. KKM : 70
  3. Materi Pembelajaran
  • Contoh-contoh ciptaan Sang Hyang Widhi yaitu : tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, matahari, bumi, bulan, bintang
  • Contoh kemahakuasaan Sang Hyang Widhi antara lain : menciptakan memelihara dan melebur isi alam, semua makhluk mengalami lahir hidup mati, dunia mengalami pagi siang sore dan malam, matahari selalu terbit di timur dan terbenam di barat.
  • Contoh benda hidup : manusia hewan dan tumbuhan.
  • Contoh benda tak hidup : batu, gunung
  1. Metode Pembelajaran

      Strategi         : CTL

Model           : Examples and examples

Metode         : Ceramah, diskusi

  1. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
  2. Pendahuluan
    • Guru mengawali dengan salam panganjali
    • Melakukan absensi
    • Benyanyi (Pelangi-pelangi)
    • Menyampaikan tujuan pembelajaran
  1. Kegiatan Inti

            Eksplorasi

  • Guru menyampaikan informasi materi pelajaran
  • Guru mengajak siswa untuk mengamati gambar simbul Hyang Widhi dan gambar-gambar makhluk ciptaanNya
  • Siswa mencari informasi melalui membaca buku refrensi

Elaborasi

  • Guru memfalisitasi siswa untuk berdiskusi tentang gambar-gambar di papan dengan teman
  • Guru membimbing siswa untuk memahami materi melalui gambar
  • Siswa diminta untuk menyampaikan pengetahuannya tentang gambar-gambar di papan
  • Guru memfasilitasi pendapat siswa sesuai pengetahuannya

Konfirmasi

  • Guru memberikan pemaparan lebih lanjut terhadap materi yang diajarkan
  • Guru memberikan layanan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar
  • Guru memberikan penguatan kepada siswa
  1. Kegiatan Penutup
    • Siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan materi
    • Merefleksikan kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung
    • Guru mengevaluasi kegiatan belajar
    • Guru memberikan tindak lanjut
  1. Penilaian
No Indikator tes Tehnik Bentuk insrtumen Instrumen
1 1.1.1 s/d 1.1.4 Tes Essay Terlampir
2 Keterampilan menggambar Non tes Lembar observasi Tunjukkanlah keterampilan menggambar ciptaan Sang Hyang Widhi!
3 Minat belajar Non tes Lembar observasi Tunjukkanlah aktifitas belajar yang baik pada saat pembelajaran!
4 Akhlak mulia Non tes Lembar Observasi Tunjukanlah akhlak yang baik pada saat berada di lingkungan sekolah!
5 Pengamatan Karakter Non tes Lembar Observasi Tujukkanlah penanaman nilai karakrer yang baik pada saat pembelajaran!
  1. Tes
INDIKATOR SOAL SOAL KUNCI JAWABAN
1.1.1

1.1.2

1.1.3

1.1.4

Menyebutkan sebutan Tuhan dalam agama Hindu Menyebutkan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan)   Menyebutkan contoh-contoh ciptaan Sang Hyang widhi (Tuhan)                     Menyebutkan ciri mahkluk hidup ciptaan Sang Hyang widhi  (Tuhan) 1.   Hyang Widhi Maha Esa artinya….

2.   Sebutan Tuhan dalam agama Hindu adalah….

3.   Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi antara lain…..

4.   Contoh-contoh ciptaan Sang Hyang widhi yaitu…..

5.   Ciri-ciri mahkluk hidup ciptaan Sang Hyang widhi adalah…..

1.    Tuhan itu hanya Satu

2.    Sang Hyang Widhi Wasa

3.    Sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur.

4.    Bumi, bulan, manusia, hewan, tumbuhan.

5.    Bernafas, tumbuh, berkembang biak

Penskoran:

NILAI DISKRIPSI JAWABAN
3 DIJAWAB SEMPURNA
2 DIJAWAB  KURANG  SEMPURNA
1 DIJAWAB SALAH
0 TIDAK MENJAWAB

NILAI   =       NILAI                                                           x 100

SMI (SKOR MAKSIMAL IDEAL )

     

Mengetahui

Kepala SDN 2 Tejakula

Luh Metriasih, S.Pd

NIP. 19661116 198801 2 002

Tejakula, 13 Juli 2015

Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu

I Gusti Nyoman Suardeyasa, S.Ag

NIP. 19820417 200902 1 007

Pengawas Penda Hindu Kec. Tejakula

I PUTU PARDANA, S.Pd

NIP. 19630726 200003 1 001

ETIKA HINDU: jawaban atas Permasalahan Dewasa ini

TUGAS

MATA KULIAH ETIKA HINDU

DOSEN: DR.DRS. I WAYAN BUDI UTAMA, M.SI

OLEH

ENDAH WIDIHASTUTI
NIM. 13.07.08.0526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HINDU INDONESIA
DENPASAR
2014

TUGAS MATA KULIAH
ETIKA HINDU
DOSEN: DR.DRS.I WAYAN BUDI UTAMA, M.SI

1. Mengapa kita mesti mempelajari dan menerapkan etika dalam kehidupan!
Karena kehidupan memerlukan standar tentang sebuah penilaian, mana yang benar mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, mana harus dan mana yang tidak layak dilakukan. Atau mana yang boleh dilakukan untuk kepentingan sendiri, namun tidak dapat dibawa ke khalayak ramai.
Pada posisi ini etika sangat diperlukan, jika saja etika tidak ada maka kekacauan terhadap sebuah standar akan terjadi. Moralitas tidak dapat tercapai, oleh sebab standar dari perbuatan tidak ditemukan, atau tidak ditetapkan, sehingga antara manusia satu dengan yang lainnya memiliki sebuah kesepahaman dalam melangsungkan kehidupannya, dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan koridor yang diharapkan.
Standar etika perlu dipelajari, oleh sebab standar etika mencirikan sarana-sarana yang benar dan salah untuk mencapai kebahagiaan dan kesenangan, berdasarkan pada pikiran yang benar dan sehat serta berdasarkan pengalaman. Seorang yang tidak religius bisa menjadi benar-benar etis karena standar pikiran yang benar dan sehat itu. Menjadi etis adalah menjadi manusia sejati, yaitu manusia yang semata-mata tidak dikendalikan oleh instink.
Seorang manusia dengan pemikirannya yang begitu berkembang memiliki pilihan-pilihan dan merefleksikan akibat-akibat dari pilihan-pilihan itu. Kapasitas berpikir dan kebijaksanaan ini telah memberi kebangkitan dalam praktik memilih. Dengan demikian dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan secara moral. Tidak sama dengan binatang, yang terlepas dari standar benar dan salah, karena binatang tidak memerlukan standar etika itu. Tetapi manusia dapat memilih sarana-sarana yang salah atau keliru dalam usahanya mencapai tujuan, dengan pikiran yang rasional, ia selalu dapat menggunakan kebebasanya memilih; manusia dapat saja melalaikan pilihan yang benar dan sehat itu, namun dia tidak akan berperan lagi sebagai umat manusia dalam masyarakat. Dengan mempelajari etikalah seorang manusia dapat menjadi manusia yang etis, dapat menghindarkan dirinya dari kesewenang-wenangan terhadap orang lain, serta dapat menggunakan standar yang dapat diakui bersama secara umum.

2. Mengapa kita terhadap semua tindakan dapat dilakukan penilaian etis!
Karena pada dasarnya setiap tindakan memiliki dua sisi, antara perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah. Jika perbuatan dapat dinilai dengan menggunakan standar etika, bersama-sama dapat melakukan kewajiban serta memenuhi hak-hak secara adil.
Seekor binatang tidak dapat melakukan penilaian etis terhadap lingkungan sekitar, sedikit kesempatan untuk dapat melakukan kesalahan dalam persepsinya. Ia tidak tampak memiliki banyak kapasitas untuk kesadaran kritis tentang dirinya begitu juga terhadap makhluk lain. Kerbau misalnya tidak merana karena tidak mampu memberi susu sebanyak yang diberi oleh saudara betinanya pada kandang yang lainnya. Kucing yang pendek tidak merasakan tertekan untuk menjadi seekor anjing Buldog. Demikian juga dengan Kuda tidak berlama-lama di rerumputan untuk mencoba terbang.
Dengan tidak memiliki persepsi diri yang memungkinkan ia dapat membandingkan dan menilai dirinya sendiri, maka seekor binatang tidak memiliki dasar untuk memiliki kesalahan pokok tentang dirinya. Ia tampak bebas dari begitu banyaknya kerumitan yang mengganggu manusia. Akan tetapi, manusia tidak memiliki kapasitas untuk melakukan kesalahan seperti itu. Dengan kesadaran dirinya tentang dirinya sendiri dan lingkungannya, ia memiliki pusat yang dapat membuat kesalahan tentang dirinya sendiri. Apabila dalam upaya memahami dirinya sendiri tidak mampu mengenalnya maka ia menilai dirinya sebagai sesuatu yang lain dari yang sesungguhnya, ia tidak dapat mengenal dirinya sendiri.
Kemampuan manusia untuk memberikan perbandingan, kesadaran untuk mengetahui sebuah objek mengakibatkan manusia memungkinkan untuk melakukan penilaian etis terhadap objek. Ia melihat etis atau tidaknya suatu objek oleh adanya standar etis dalam dirinya, untuk mengetahui batasan-batasan etis dalam dirinya serta etis dan tidaknya dalam lingkungan itu.
Standar itu dapat berbentuk etis bagi dirinya sendiri, etis dalam sebuah kelompok, juga etis dalam suatu kondisi tertentu, serta etis dalam hal yang lebih luas lagi. Orang ke-Timuran memungkinkan memiliki nilai etis bagi masyarakatnya, misalkan dalam nilai etis masyarakat Bali dan Jawa pada saat “makan” tidak diperkenankan untuk membuang ludah, makan saat berdiri, atau kelompok lain makan dengan duduk sementara diri sendiri makan dengan berdiri. Penilaian etis bagi diri sendiri ditemukan dengan penilaian etis dalam kelompok itu.
Prilaku meludah saat sedang jamuan makan akan menjadi salah dalam prilaku etis, dengan demikian prilaku makan dalam kelompok tertentu dapat diberikan penilaian etis terhadap sikap dan prilaku makan dalam kelompok itu. Prihalnya, alasan yang mengakibatkan meludah saat dalam kelompok sedang jamuan makan, menimbulkan persepsi mengundang pengertian yang “jorok”, tidak sopan, kurang bertata krama.
Sementara meludah saat makan sendirian, mungkin tidak menjadi penilaian etis bagi dirinya sendiri. Bagi dirinya sendiri prilaku meludah saat sedang makan, mungkin karena kepentingan saat itu adalah terganggunya tenggorokan karena terjadi radang tenggorokan, sehingga perlu dengan segera untuk mengeluarkan ludah saat sebelum makan, supaya tidak tertelan ikut masuk larut dalam makanan. Disamping itu juga, keperluan kesehatan itu memberikan peluang untuk melakukan itu, sehingga tidak terjadi penilaian etis terhadap dirinya sendiri.

3. Coba jelaskan, mengapa kata hati bisa keliru dalam memberikan pertimbangan!
Sebab sebuah kata hati terkadang tidak dapat memberikan pemahaman terhadap sebuah benda atau suatu keadaan / masalah. Ketika melihat suatu benda / keadaan tapi tidak mengenalnya “apa itu”?, dapat mengambil benda tersebutuntuk sesuatu tujuan yang lain dari “apa itu”. Kegagalan dalam melihat objek “apa itu” menimbulkan kesalahan, demikian juga halnya dengan kesalahan memandang hakikat benda tersebut. Apabila Seluruh objek tidak dapat ditangkap dengan baik, maka hanya ketidak tahuan bukan sebuah kesalahan, kekurang sempurnaan melihat objek mengakibatkan sebuah kesalahan dalam memberikan pertimbangan. Objek yang tidak dapat seluruhnya ditangkap oleh panca indra tidak pernah menjadi sumber kesalahan atas pemahaman terhadap objek tersebut.
Contohnya ketika melihat benda dalam kegelapan atau keremangan senja hari, mengakibatkan gagal mengidentifikasikan bahwa objek yang dilihat adalah sebuah “daun pisang”, dengan menyimpulkan dalam persepsi sementara sebagai orang dengan bertubuh tinggi hitam dari kejauhan yang melambaikan tangannya. Memori yang tertanam dalam pikiran, mengakibatkan sebuah persepsi terhadap sebuah paranoid yang tidak beralasan. Oleh karena dapat melihat objek namun gagal mengidentifikasi objek sebagai benda yang tidak berbahaya atau yang tidak menakutkan, maka telah dimiliki sebuah kesalahan yang mengakibatkan sebuah persepsi rasa takut.
Sementara seseorang yang tidak memiliki penglihatan tidak cukup bagus dan orang yang memiliki penglihatan yang jelas, melihat benda yang sama sedikit memiliki kesalahan dalam persepsinya. Ia tidak mendapatkan kesulitan, bagi yang memiliki penglihatan yang tidak begitu bagus, tidak dapat melihat benda itu. Sebaliknya yang memiliki penglihatan yang jelas, dapat melihat benda dalam remang-remang mengakibatkan tidak mempersepsikan benda yang dilihat sebagai benda yang menakutkan, sehingga tidak perlu untuk melakukan aktivitas menghindar dari benda tersebut. Kedua-duanya memiliki sedikit kesalahan dalam mempersepsikan benda tersebut. Sangat sedikit pengaruhnya untuk memberikan kesalahan terhadap benda tersebut, ia tidak memiliki persepsi apa-apa tentang benda tersebut, jadi keduanya melewati sebuah benda dengan tanpa hambatan, yang satu dengan ketidaktahuan total yang satunya dengan pengetahuan total tentang benda tersebut.

4. Dalam kitab Sarasamuccaya terdapat beberapa sloka yang mendiskreditkan perempuan, seperti memilik nafsu seksual tinggi sering serong dan sebagainya. Mengapa bisa muncul Sloka seperti itu dan apa makna dibalik sloka maksud dilihat dari perspektif etika!
Kitab Sarasamuscaya adalah tuntunan bagi mereka yang sudah meliwati Grhasta Asrama, atau tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama, apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka.
Khusus mengenai wanita, demikian dianggap ‘berbahaya’ bagi kedua Asrama itu, misalnya seperti apa yang diuraikan dalam sloka: 424 sampai 442 Pustaka Sarasamuccaya. Sebagai berikut:

424. Ri sakwehing kinaragan, tan hana amadana stri, ring agong denya gawe kapapan, apayapan sangkaning hala ikang stri ngaranya, matangnyan singgahana ikang stri ngaranya, kangenangenanya tuwi, tinggalakena juga ya.
Diantara sekian banyak yang dirindukan, tidak ada yang menyamai wanita di dalam membuat kesengsaraan; apalagi memperolehnya dengan cara yang jahat; karenanya singkirilah wanita ini, meskipun hanya angan-angan, hendaklah ditinggalkan saja.

425. Apan ika gati rasika molah ring grama, stri hetunika, mangkana ikang krayawikrayagati masangbyawahara, dening stri jugeka, sangksepaniking stri ngaranya, sangkaning prihati juga ya, matangnyan haywa jenek irika.
Adapun mereka yang ingin berdiam di dalam desa, adalah wanita yang menyebabkannya demikian pula orang yang mau berjual beli dan berdagang, adalahwanita pula yang menyebabkannya; pendeknya yang disebut wanita itu merupakan pangkal prihatin saja; oleh karenanya, janganlah tertambat kepadanya.

426. Apan ikang stri teka asih agalak matanya, ling nikang kamuka, wastuning apusapus tambalung, sangkalaning mudha juga ya, kadyangganing jala, puket, payang, an hinanaken bandhana pangalap iwak, mwang kadi kurunganing manuk, an hinahaken panjaranikang manuk.
Sebab wanita itu, menyebabkan datangnya cinta, matanya yang galak-pikir doyan asmara; merupakan alat pengikat, rantai pembelenggu si bodoh; sebenarnya itu seperti misalnya jala, pukat, pajang, adalah diadakan untuk alat penangkap ikan, dan sangkar burung itu diadakan adalah untuk memenjarakan burung.

427. Nang pati, nang pracandanila, angin adrs tan pangkura, nang sang hyang mrtyu, nang wadawanala, apuy ahulu kuda, ri dasaring patala, nang landeping kuwakuwa, nang kalakuta wisa, nang wyalasarpa, nang prakupitagni, apuy dumilah katara, paturunan ika kabeh, yatika stri ngaranya, pilih salah sikinika kabeh, tattwanikang sinanggah stri.
Maut pracandanila, yaitu angin yang luar biasa kencangnya dewa maut wadawanala; yaitu api berkepala kuda di dasar bumi, tajamnya pisau cukur, bisa atau racun kalkula, ular berbisa, prakupitagni, yaitu api berkobar-kobar dengan dahyasnya; kesemuanya itu adalah wanita dinamakannya; pun salah satu dari kesemuanya itu sesungguhnya disebut pula wanita.

428. Tatan hana tan yogya parana, dening stri ngaranya, tan yogya mara irika, apan mamangke gatingku, kunang ika, mamangkana gatinya, mamangkana katwanganya, Tatan katekan wiweka mangkana, ikang stri ngaranya; mara jug aya, mwang tan wruh ta ya ring atuha rign anwam, tatan huninga ya ring surupa lawan wirupa, jalu-jalu ta pwa iki, mangkana juga lingnyan tetaken raganya.
Tidak ada yang tidak patut akan didatangi oleh wanita; tidak patut aku pergi kesitu, sebab keadaanku begini; akan dia itu, keadaannya begitu, patut dihormati; tidak mempunyai pertimbangan demikian wanita itu; sebaliknya dia pergi saja dan tidak memikirkannya, apakah sianu itu orang muda atau orang tua, ia tidak menghiraukannya, apakah tampan atau buruk, ah, laki-laki ini, demikian saja pikirnya, pada waktu nafsu berahi itu datang.

429. Sangksepaniking stri, durasara juga ya, tan kawenang sinengkeran, yadyapin sinengkeran, winarah ring maryada yakti, apan tan sangka ripamatihyan winarah, matangnyan anukula pakatonanya ri jalunya, kunang prasiddha karananya ri denyan tan kinarya juga, nora mujukmujuki ya, pilih dening takutnya kunang, pilih paribhawa kunang, karananyam mangkana.
Kesimpulannya, wanita itu umumnya bertingkahlaku buruk, tidak dapat dibatasi; meskipun telah dibatasi, dan kepadanya telah diberi ajaran-ajaran yang benar; namun sebab ia bukan karena patuh waktu dinasehati, hanya tampaknya saja tunduk terhadap suaminya; sebab sesungguhnya ia berbuat demikian agar dia jangan digarap (disakiti) lagi; juga sang suami jangan lagi membujuk-bujuknya; mungkin karena takut disiksa, maka ia berlaku demikian (terhadap suaminya).

430. Yadyapin ikang kawruh bhagawan sukra, mwang ikang aji kawruh bhagawan sukra, mwang ikang aji kawruh bhagawan Wrhaspati, dadya ika kalih memana kawasa niyatanika bhyasan, sarisari lolyan kayatnakena, kunang buddhining stri, wekasning durgrahya juga ya, tar kenenaku kakawasanya, yadyapin lolyan sarisari kayatnakena, hrtcalya mata sanghulun, umapa ta kuneng tekapan ika sang wwang rumaksa ya.
Biarpun Ilmu pengetahuan Bhagawan Sukra dan Bhagawan wrhaspati dapat keduanya itu, dengan tiada begitu sukar dikuasai dengan jalan mengulang-ulanginya, sehari-hari harus digiatkan dan diusahakan; sebaliknya pikiran wanita itu adalah sangat sulit untuk dimengerti, tidak dapat dipastikan bahwa ia akan datang dikuasai, biarpun sehari-hari dengan giat diusahakan; dengan penuh kekecewaan sesungguhnya hamba;apa nian cara orang menjaga akan dia.

431. Tan pakabsuran mata sang hyang apuy ngaranira, yadyapin sahananing kayu, satumuwuh ring bhurmandala, yan tibakena ri sira, iweng tan trptyanira, mangkin wrddhi uga dilahnira denika, mangkana tang tasik, tan pakawaregan uminum wwai ring lwah, mangkana sang hyang mrtyu, tan pakabsuran umangan huripning sarwabhawa, mangkana tikang stri ngaranya, tan pakabsuran juga raganya ring sargga.
Tidak ada puas-puasnya api itu, biarpun segala rupa pohon kayu, semua yang tumbuh dimuka bumi ini dijatuhkan kepadanya, pasti tidak akan menjadikan kepuasannya, bahkan semakin besar saja nyalanya, oleh kesemuanya itu; demikian pula laut itu tidak kenyang-kenyang meminum air dari sungai-sungai, demikian pula sang maut tidak puas-puasnya mencaplok jiwa semua makhluk; maka demikianlah si wanita itu tidak ada kepuasan nafsu birahinya akan persetubuhan.

432. Tan hentya mala dosanikang stri yan warnan, yadyapin hana wwang alidaha sewu, mayusa ta ya satus tahun, haywa ta ya salah gawe, dosaning stri kewala warnananya, iwong tan hentya, akantang katekan pati.
Tidak akan henti-hentinya jika dosa wanita itu diceritakan, bilamana ada orang yang berlidah seribu dan berusia seratus tahun serta tidak melakukan pekerjaan lain, melainkan hanya dosa wanita itu saja yang diceritakannya, pasti tidak akan berakhirceritanya sampaijangkanya datang dicaplok maut.
433. Lawan ikang stri ngaranya, apuy mangba padanya, kunang ikang jalu-jalu ngaranya, pada lawan minak ika, kalinganya yawat ikang jalu-jalu sakta aparek irikam niyata syuh drawa durbala ya, yapwan apageh ikang wwang ring sistacara; tan kawesa denikang stri, niyata nirwikara ya apageh ring hayu.
Dan wanita itu adalah bara sesamanya, sedang si pria itu sama halnya dengan minyak, artinya apabila birahi pria itu datang mendekat kepada si wanita, pasti akan hancur lebur, tidak bergaya; sebaliknya jika orang tetap berlaku arif bijaksana, tidak terkuasai hatinya oleh wanita, niscara ia tetap selalu dalam keadaan selamat.

434. Tattwanikang stri ngaranya, sulap, bancana juga ya, makawak krodha, kimburu, matangnyan dinohan ika de sang pandita, tan hana pahinya lawan amedhya, bibhatsa, wastu campur.
Sesungguhnya wanita itu tak ada lain dari pada sulap, berbahaya, berwujud kemarahan, cemburu; oleh karena itu maka dijauhkan oleh sang pandita, sebab tiada bedanya dengan sesuatu yang tidak suci (untuk digunakan kurban kebaktian), sesuatu yang menjijikkan, sesuatu yang kotor.

435. Swabhawaning strii ta kang magawe hala ring wwang, lara prihati pinuharanya, murungaken sarwakarya, enget pwa sang pandita, matangnyar yatna juga sira dumohing stri
Kebiasaan wanitalah yang berbuat bencana kepada orang; duka cita dan prihatin ditimbulkan olehnya serta membatalkan segala kerja; sadarlah sang pandita akan hal itu; karenanya, selalu berusaha menjauhi wanita.

436. Hana ta awayawa ngka rywakning stri, atyanta ring bibhatsa, wekasning kararemah, yogya kelika, yukti singgahana, haywa ta mangkanan, rapwa tan ya kajenek nikang wwang, harsa akung alulut juga ya irika, an mangkana ikang wwang, ndya ta kunang dumeh ya wairagya.
Adalah suatu alat pada tubuh si wanita sangat menjijikkan dan sangat kotor; mestinya dibenci, dan dijauhi, jangankan dapat demikian, untung sekali, jika orang yang tidak sampai lekat, rindu birahi dan cinta kasmaran pada alat tersebut; orang yang bersikap demikian, apakah mungkin tidak terikat pada asmara.

437. Apan ngke ring manusaloka, ika sang pandita, wicaksana tuwi, tan hana sira tan dine kasmala, kinawasaken denya awayawaning stri, kulit sasulpiting kidang, pramananya.
Sebab didunia ini sang pandita sungguhpun cukup bijaksana, tiada luput beliau dari pada noda, dikuasai oleh alat yang ada pada tubuh wanita, yaitu kulit yang berukuran sebesar jejak kaki kijang.

438. Ri tengah nikang kulit sasulitning kidang, hana ta kani, menga tan keneng waras, pinaka hnuning mutra, lawan rah, hibekan haringet, lawan sarwa mala, ya ta angdde wulangun iriking rat, muda wuta tuli ya denya.
Di tengah-tengah kulit sebesar kaki/kijang, terdapatlah luka menganga yang tak pernah sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni dan darah, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegilaan, buta dan tuli karenanya.

439. Ika tang kani, sinuhan sarisari, ndatan trbis juga ya, tan rubuh pinggirnya, tatan kena ring jero, kalih ikang anuhan juga durbala, hilang saktinya, hilang masnya.
Luka itu digangsir selalu, tapi tidak ada yang rapuh, tidak ambruk pinggirnya, malahan alat penggangsirnya yang menjadi lemah, hilang kekuatannya lenyap, kekayaannya.

440. Atyanta ring bibhatsa ikang kani ling mami, ametwaken sarwa malaning sarira, kawaranan dening kala marwuduk lwat-lwat, yatikamuhara kung trsna lulut irikang rat, ascarya mata kami, tan sipi karika bancananikang loka an mangkana.
Terlalu menjijikkan luka itu, menurut pendapat hamba; mengeluarkan segala macam kotoran badan; luka itu diselubungi oleh semacam jerat burung (bahasa Bali, Tampus) yang berlemak lagi a lot, itulah yang menyebabkan birahi, terikat cinta asmara di dunia ini; heran sesungguhnya hamba bukan alang kepalang bencana di dunia ini.

441. Matangnyandohana juga stri ikang ngaranya, tan rengon ujarujarnya, nguniweh tan pidengarakena sabisikbisiknya, hayweningetinget rupanya, nguniweh yan pamudagliga, apan kawulatanika, karengwani sabdanika, ya amuhara pangawesaning raga.
Oleh karena itu hendaklah dijauhi wanita itu; jangan didengarkan kata-katanya, apalagi segala bisik-bisiknya, jangan dipandang wajahnya, apalagi ia telanjang bulat, sebab akan tampak itu, dan terdengar perkataannya, itulah yang menyebabkan merasuknya nafsu birahi.

442. Haywa tatan yatna, haywa rakwa-rakwa angucapa rwarwan ibunta, wwang sanakta, anakta kuneng, apan aglis juga pangawecanikang indriyalolya ngaranya, yadyan sang pandita tuwi kakarsana sira denya.
Jangan tidak berhati-hati, jangan bersenda gurau, bercakap-cakap berduaan dengan ibu anda, saudara anda, anak anda, karena cepat benar menyusup pengaruh indriya (nafsu birahi itu) meski sang pandita sekalipun tertarik olehnya.

Jadi dapat diulas bahwa ajaran dalam Sarasamuccaya adalah jalan kelepasan yang tidak membenarkan seorang pandita untuk terikat oleh keduniawian, tresna terhadap wanita. Palagi cara memperoleh wanita itu dengan cara yang tidak baik, misalkan dengan cara memperkosa, mengambil istri orang lain, menggauli saudara kandung, ibu, bahkan anak perempuannya.
Berdasarkan atas pandangan etis-nya, etika seorang pandita yang menjaga kesucianya agar tetap memperhatikan standar yang diberikan dalam pustaka suci ini, sehingga dapat dengan teguh menjalankan dharmanya sebagai orang suci, orang yang disucikan dan sudah sepantasnya lepas dari ikatan keduniawian sebagai tujuan utama sang pandita.

Sedangkan untuk mereka yang akan menuju ke Grhasta Asrama, atau yang sudah berada di Grhasta Asrama, dalam memandang/ menilai seorang wanita, pedomannya adalah Manawa Dharmasastra Buku ke-3 (Tritiyo dhayah) mulai pasal 4 dst. Terutama pasal 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, di mana dinyatakan betapa mulia dan pentingnya peranan seorang wanita sebagai Ibu Rumah Tangga. Bahkan jika dalam keluarganya seorang wanita tidak dihargai, maka kehancuran akan melanda keluarga tersebut.
Oleh karena itu dalam proses belajar Agama, sebaiknya meminta tuntunan seorang Nabe (guru) yang mampu memberikan bahan-bahan pelajaran apa yang patut ditekuni, sesuai dengan tahapan kehidupan Catur Asrama.

5. Dalam kitab Bhagawad Gita juga ditemukan sloka dimana Kresna menganjurkan Arjuna membutuhkan saudara-saudaranya korawa termasuk gurunya. Apa maksud sloka dimaksud bila dilihat dari sudut pandang etika Hindu!
Latar belakang peperangan Brata Yudha dilalui dengan kisah yang panjang, tidak dengan serta merta melakukan perjanjian perang yang mengorbankan ribuan bala tentara dan harta kekayaan kerajaan. Pihak Korawa dan Pandawa sejak kecilnya telah dimulai bibit-bibit percekcokan, sering kali pihak Korawa berbuat yang ingin mencelakai pihak Pandawa, hingga pada peristiwa Rumah Kardus (laksa graham) yang sengaja dibuatkan dengan alasan untuk melaksanakan pemujaan terhadap leluhurnya Pandu di tempat tersebut. Peristiwa itu sangat menyedihkan para Pandawa, sebelumnya juga para pandawa dipermalukan dengan mempergunakan permainan dadu hingga Seluruh kerajaannya habis sebagai taruhan, termasuk dipermalukannya Drupadi istri para Pandawa di depan balairung kehormatan, sebagai ciri runtuhnya moralitas bangsa.
Perkataan Veda sebagai standar moralitas sudah tidak diindahkan lagi, banyak kejahatan terjadi, oleh karena tingkah polah para pimpinan mereka (Korawa) yang membuat cara yang tidak layak untuk mendapatkan kekuasaan, harta serta wanita. Kata-kata sang Rsi Bhisma, Dona, Kripa, widura dan penasehat kerajaan lainnya tidak diindahkan lagi, bahkan semakin meraja lela. Pesan terakhir untuk perdamaian telah disampaikan oleh Krisna sebagai penegak dan Kebenaran itu sendiri tidak juga diindahkan, sehingga peperangan tidak terelakkan lagi.
Meskipun pertempuran tersebut merupakan pertikaian antar dua keluarga dalam satu dinasti, namun juga melibatkan berbagai kerajaan di daratan India pada masa lampau. Pertempuran tersebut terjadi selama 18 hari, dan jutaan tentara dari kedua belah pihak gugur. Perang tersebut mengakibatkan banyaknya wanita yang menjadi janda dan banyak anak-anak yang menjadi anak yatim. Perang ini juga mengakibatkan krisis di daratan India dan merupakan gerbang menuju zaman Kaliyuga, zaman kehancuran menurut kepercayaan Hindu.
Pada bagian awal Bhagawadgita sebagai inti ajaran dari Mahabarata, menjelaskan “dharma Ksetre Kuru Ksetre”, bahwa medan daratan Kuru Ksetre adalah medan dimana dalam tujuan utamanya adalah menegakkan standar moralitas yang ada, menegakkan kebenaran di atas ketidak benaran yang dilakukan oleh Korawa, sehingga Kebenaran itu memang harus ditegakkan, meskipun sudah tidak ada jalan perdamaian / perundingan lagi, sebab memang jalan itu adalah jalan revolusi yang mengesankan sekaligus menyedihkan sepanjang jaman.

%d blogger menyukai ini: